Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Harus Mendapatkannya


Bintang kini berada disamping Agra, dia menatap dalam-dalam lelaki itu, dia mengagumi ketampanan CEO muda itu, ternyata dia lebih tampan ketika tertidur, karena jika dia bangun aura dinginnya lebih kuat mengalahkan ketampanannya, batin Bintang.


Bintang pun mengambil selimut menyelimuti tubuh Agra, namun saat dia berniat pergi dan tidur ditempat lain, Agra menarik tangannya hingga gadis itu kini berada di pelukan lelaki itu, "Nadia, temani aku tidur, aku kedinginan..!" Guamam Agra pelan, dia membawa Bintang masuk kedalam selimut, memeluknya erat-erat.


"Dia masih saja menganggapku orang lain," keluh Bintang, namun dia juga merasa nyaman dipelukan Agra karena rasa hangat dan energinya terasa penuh, mereka akhirnya tertidur di satu ranjang yang sama dan saling berpelukan.


***


Saat pagi datang, Agra bangun lebih dulu, kepalanya terasa berat, dia kaget saat melihat ada orang lain yang tidur bersamanya.


"Siapa dia? Apa aku dijebak wanita matrealistis?" Gumamnya pelan.


Dia memeriksa bajunya yang masih lengkap, dia mengira akan mendapati dirinya tanpa sehelai benang. Astaga, apa aku mengharapkan itu terjadi?


Karena rasa penasaran, Agra memeriksa wanita itu, menyingkirkan beberapa helai rambut diwajahnya dan kini dia melihat Bintang sekretarisnya yang tidur dengannya, Aku akui kamu memang cantik dan menarik, tapi aku masih harus waspada karena belum tahu tujuanmu. Batin Agra


Agra memilih pergi dari tempat itu, meninggalkan Bintang yang masih tertidur dan menganggap jika ini tidak pernah terjadi, meski bayangan Bintang kini selalu ada dalam pikirannya.


***


Tak berselang lama, Bintang mulai mencari guling besarnya yang hangat namun dia tidak bisa menemukannya, dia pun bangun dan mendapati kamarnya yang ternyata hanya ada dirinya saja.


"Kemana dia pergi? Semalam itu nyata kan?" Gumam Bintang sambil mengingat kejadian malam itu. Kini dia termenung di kamarnya, dia merasa kalau dia memang sangat membutuhkan sosok Agra, dia harus membuat lelaki itu selalu ada disampingnya.


"Aku hanya membutuhkan sentuhannya saja, mana mungkin aku menyukai manusia," gumamnya pelan lalu bergegas pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap bekerja.


Dia berangkat di jam kantor pada umumnya, dia berpikir untuk tidak datang ke rumah Agra, karena semalam dia telah mengurusi majikan besarnya itu seperti bayi. Ya .. ku rasa dia tidak akan marah.


Sesampainya di kantor, banyak mata lelaki yang memandang ke arah Bintang, mengagumi gadis itu, kecantikannya memang mencuri perhatian banyak orang, namun Bintang tak peduli, dia bersikap dingin, melewati mereka tanpa tersenyum sedikitpun.


"Buat apa cantik kalau sombong," ucap salah satu karyawan wanita.


"Haha, paling oplas dia," jawab yang lainnya.


"Eh, wajar kalau dia sombong karena dia punya sesuatu yang bisa disombongkan, dia cantik dan cerdas," ucap salah satu karyawan lelaki menghampiri mereka.


"Jaga mata anda, bukankah Anda punya istri dirumah!" Balas karyawan wanita yang membuat pria itu diam.


Pagi itu banyak yang merendahkan dan memuji Bintang, mereka saling melempar kata-kata, namun Bintang sendiri bahkan tak peduli, ya… apa yang mereka lakukan itu hanya sia-sia.


***


Bintang duduk di kursinya, mengeluarkan semua alat kerjanya. Namun dia malah terbayang kejadian semalam saat Agra mabuk. "Apa dia ditinggal mati oleh kekasihnya dulu? Aku harus bisa membuatnya jatuh cinta padaku agar dia selalu bisa aku manfaatkan..!" Gumam Bintang pelan.


Ceklek


Bintang mengangguk pelan, memangnya aku ini tempat sampah apa? kenapa dia membelinya kalau tidak suka? Aku mampu kok membeli makanan apapun, dasar menyebalkan.


Agra keluar dari ruangan Bintang namun dia mengintip sedikit dari jendela, dia ingin melihat apakah Bintang memakan makanan darinya. Namun Bintang membiarkan makanan itu tak tersentuh, dia mulai fokus dengan laptopnya.


"Apakah makanan dariku tidak bisa menggugah seleranya?" Gumam Agra bingung lalu kembali ke ruangannya.


Bintang yang kesal karena kelakuan Agra yang seakan merendahkannya, dia tanpa sadar melampiaskan amarahnya pada makanan di sampingnya, dia bekerja sambil makan, ya… dia memakan semuanya sampai habis.


"Astaga, kenapa aku malah menghabiskannya, harusnya kan aku membuangnya, kenapa aku malah menjadikan perutku ini benar-benar tempat sampahnya?," Keluh Bintang dengan rasa bingung menatap makanan yang tak disadarinya kini telah habis.


Bintang yang haus, dia pun pergi membuat teh hangat, dia melakukannya sendiri, dia tidak mau menyuruh orang lain melakukannya.


"Hey anak baru, kamu jangan so cantik!" Ucap Hani karyawan wanita yang merasa iri pada Bintang.


Bintang memang bisa mendengar, namun dia mengabaikan wanita itu, manusia selalu saja mencari masalah denganku. Pikirnya 


"Hey… apa kau tuli hah?" Bentak Hani 


Namun Bintang hanya fokus dengan minumannya, saat Hani berniat ingin mendorong Bintang, Agra datang. "Bintang, buatkan aku kopi juga ya, dan segera antarkan keruanganku!" 


Bintang menoleh dan mengangguk, dia atasanku sekarang dan dia bebas memerintahkan, sabar..! Batin Bintang.


Hani yang tadinya diam saat ada Agra, dia mulai beraksi kembali, dia mencerca Bintang, menghinanya terus menerus, menuduhnya wanita yang mengincar Agra dan kekayaannya.


Karena Hani sangat berisik, Bintang menghentikan waktu, menempelkan lakban di mulut wanita itu agar dia bisa diam. Bintang pun berlalu pergi, meninggalkan wanita itu yang mungkin saja nanti akan merasakan kebingungan dan ketakutan.


***


Bintang memberikan kopi pesanan Agra, dia melihat CEO muda itu sangat berbeda dengan semalam, jika malam Bosnya itu seakan seperti kucing manja yang butuh perhatian dan kini saat matahari sudah muncul maka dia seketika berubah menjadi macan tak tersentuh.


Bintang menatap dalam-dalam pria yang ada di depannya, membuat Agra kini menyadari kalau dia sedang diperhatikan, dia merasa tidak nyaman, dia tidak fokus bekerja.


"Kembalilah ke ruangannya!" Ucap Agra yang mampu membuat lamunan Bintang buyar seketika, meski tampan tetap saja dia menyebalkan, batin Bintang lalu keluar dari ruangan itu dengan kesal.


Tiba-tiba ponsel Agra berdering, "Ya… ada apa?" ucap Agra.


"Sudah aku katakan jika aku tidak mau," Agra mulai kesal.


Tut..


Sambungan terputus bersamaan dengan ponsel Agra yang kini hancur karena dibanting olehnya.


Bersambung…