Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Kedatangan Tamu


Saat alarm berbunyi mereka bangun secara bersamaan, Agra langsung menghempaskan tangan Bintang.


Dia kasar sekali, gumam Bintang didalam hati, "aku kok bisa ada disini sih? Bukankah kita sudah mulai tinggal di rumahmu?" Tanya Bintang yang sepertinya belum ingat apapun.


"Kamu ceroboh, kamu kemarin diculik dan pingsan dari sore , kamu itu nyusahin," ucap Agra lalu bangun dan bergegas mandi, dia akan menyuruh asistennya untuk mengambilkan barang-barangnya, dia berniat tinggal di Apartemen Bintang karena disana lebih nyaman dan tenang.


Bintang kini sudah merasa segar kembali, Apakah semalaman dia menggenggam tanganku? Pikir Bintang.


Bintang pun memilih menyiapkan sarapan, setelah Agra keluar dari kamar mandi kini giliran dia mandi, sebenarnya ada kamar mandi lain, tapi perlengkapan mandi yang lengkap ada di kamar mandi yang dipakai Agra.


Bintang yang lupa membawa pakaian ganti, dia harus mengendap-ngendap melewati Agra yang ada di meja makan, ya .. jarak kamar mandi ke kamar Bintang memang harus melewati meja makan, namun sayang Bintang malah terpeleset dan membuat Agra menoleh karena mendengar sesuatu yang terjatuh.


"Hmm, ternyata kamu yang jatuh, aku kira benda penting," ucap Agra lalu melanjutkan acara makannya.


Oh astaga, ingin rasanya aku membuat laki-laki itu merasakan sakitnya jatuh terpeleset sama sepertiku, dan aku akan bersikap sama sepertinya, ya… aku menantikan karma itu datang, batin Bintang.


Sebenarnya Agra bukan tidak ingin menolong Bintang, namun dia tidak mau melihat hal yang seharusnya tidak dia lihat, hmm.. seharusnya aku boleh melihatnya aku kan suaminya, tapi aku tidak mau tergoda olehnya, pikir Agra.


Bintang berjalan dengan kaki sedikit pincang, kaki kanannya terasa sakit, dia berusaha mencari pakaian dan segera bersiap-siap.


"Sarapanku mana?" Tanya Bintang pada Agra, dia yang sudah berdandan cantik mulai merasa lapar.


"Aku kira semua yang ada disini tadi untuk suamimu," jawab Agra dengan santai.


"Astaga, lalu aku makan apa? Ini udah siang, dasar tidak tahu malu, sudah menginap gratis, menghabiskan makanan, sungguh keterlaluan," Bintang mengomel sambil membuat susu hangat untuk sarapannya.


Dia duduk dan meneguk air susu hangat itu sampai habis, "ayo kita berangkat..!" Ajak Bintang pada suaminya itu.


"Apakah cukup hanya dengan segelas susu?" Tanya Agra.


"Haha, lucu sekali, bukannya kamu yang menghabiskan sarapanku tadi, cepatlah aku sangat kuat, bahkan lebih kuat dari yang kamu bayangkan," Bintang menarik tangan Agra.


Kuat? Kemarin saja dia pingsan tak berdaya semalaman. Batin Agra


"Sebentar, itu koper milik siapa?" Tanya Bintang heran melihat beberapa koper di dekat pintu.


"Itu punya suamimu, dan harus dibereskan nanti sepulang kerja," ucap Agra dengan santainya.


"Apa?" Bintang kaget karena tiba-tiba pria itu ingin tinggal di Apartemennya, yang benar saja? Batin Bintang.


Agra berlalu pergi meninggalkan Bintang yang masih terpaku menatap koper-koper besar itu. Namun sesegera mungkin Bintang menyusul Agra yang telah lebih dulu menuju parkiran.


Sebenarnya dia ingin berteleportasi, namun dia tidak mau membuat lelaki itu curiga, dia akan berusaha menjadi manusia pada umumnya dihadapan semua orang, dan mulai berbaur dengan manusia.


***


Hari ini tidak berbeda jauh dengan hari sebelumnya, Bintang sibuk diperintah ini dan itu, Agra juga fokus karena dia memang lelaki pekerja keras.


Sampai akhirnya mereka bisa pulang ke Apartemen, Bintang sangat malas harus membereskan baju-baju Agra yang banyak, apalagi dia harus menggunakan tangannya, dia tidak bisa menggunakan kekuatannya.


Bintang minum terlebih dahulu lalu mengambilkan Agra minum, membuat Agra mengomel tak jelas karena menurutnya Bintang itu terlalu lama mengambil air minum. Dia cerewet sekali, keluh Bintang dalam hati yang berlalu pergi untuk merapikan baju suaminya itu.


Sebenarnya dia ingin tidur sendirian, namun dia butuh sentuhan tangan Agra, Bintang bingung dan akhirnya dia memutuskan untuk membuat jadwal tidur bersama. Dia memereskan baju Agra dikamar lain.


"Apa ini?" Tanya Agra heran karena Bintang memberikannya kalender dengan sebagian tanggal telah ditandai oleh gadis itu.


"Ini, tenang syaratku saat malam, aku ingin melakukannya hanya dua kali sehari, aku tidak mau kalau setiap malam tidur denganmu," keluh Bintang.


"Hmm… oke," jawab Agra meski lelaki itu memiliki rasa curiga namun dia enggan menanyakannya.


Malam ini Agra tidur dikamar lain, mereka tidur terpisah, ya ... mereka bukan sepasang pengantin sungguhan.


Bintang memang belum terbiasa, namun dia akan mencoba menerima lelaki itu, tapi dia ingin Agra yang mulai membuka hatinya dan menerima Bintang dengan tulus, bukan Bintang yang seperti memaksa Agra tidur bersamanya, wanita itu hanya ingin mencharger kekuatannya saja.


Bintang tidak mau Agra memandangnya sama seperti wanita lain, yang mengincar kekayaan Agra dan berusaha keras menjebak lelaki itu.


Aku hanya terpaksa, aku tak punya pilihan lain karena nyawa ku kini bergantung padanya, mungkin aku dan dia butuh waktu untuk saling mengenal karena tak kenal maka tak sayang, pikir Bintang.


Malam ini Bintang tidur sendirian, dia hanya butuh dua hari sekali di charge Agra, karena dia pun jarang menggunakan kekuatannya sekarang.


***


Hari ini adalah hari libur, pagi itu mereka masih berada didalam kamar, mereka masih tertidur menikmati selimut hangat dipagi yang dingin.


Terdengar bel pintu berbunyi namun Bintang enggan membukanya. "Aku tidak punya teman, siapa juga yang datang ke Apartemenku, paling manusia yang ingin menemui Agra, biarkan saja lah, aku ngantuk," keluh Bintang lalu tertidur lagi.


Agra yang terganggu dengan suara itu, dia mulai berjalan sambil berpegangan pada dinding karena matanya belum sepenuhnya terbuka.


"Siapa sih yang datang pagi-pagi begini? Kemana si Bintang, apa dia tidak mendengar suara ini?" Keluh Agra tanpa melihat layar monitor.


Saat lelaki itu membuka pintu dia benar-benar terkejut, Kenapa dia bisa tahu aku ada disini? Untuk apa dia kemari? Astaga, ini benar-benar mimpi buruk, batin Agra.


Wanita itu langsung tersenyum dan memeluk Agra, mereka kini duduk di sofa, Agra mendengarkan setiap kata yang diucapkannya wanita itu meski Agra tidak tahu kapan wanita itu berhenti bicara.


"Mana istrimu?" tanya wanita itu sambil melihat sekeliling ruangan itu.


"Sepertinya masih tidur," jawab Agra.


"Sepertinya? dia kan istrimu, harusnya kamu tahu dengan pasti dia sedang apa," wanita itu menatap Agra dengan tatapan curiga.


Deg


Agra baru menyadari kalau dia salah bicara.


Bersambung…