Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Untuk Kedua Kalinya


Bintang begitu khawatir, dia menunggu sampai Agra mengabarinya, dia menunggu sampai malam, dia bahkan belum tidur padahal sudah tengah malam.


Bintang pun memulai mengirim pesan lebih dulu, meski dia sebenarnya tidak ingin mengganggu suaminya yang sedang sibuk.


(Sayang, sebenarnya ada apa? Apa ada hal genting? Kapan kamu kembali, aku membutuhkan energi mu.) Bintang


Setelah menunggu sekitar 10 menit, ternyata ada balasan juga.


(Maaf ya, bagian belakang Mansion kita tadi kebakaran, aku berusaha mengamankan barang penting dan berkas-berkas, untungnya memang apinya tidak terlalu besar dan tidak menyebar luas karena segera dipadamkan, besok aku akan datang ke villa, kita akan  tinggal disana selama masa perbaikan.) Agra


Bintang tidak menyangka ada kejadian seperti itu, padahal mereka meninggalkan Mansion dalam keadaan baik-baik saja.


Bintang pun berusaha tidur dengan memeluk Langit, dia akan menunggu kedatangan Agra esok hari untuk mengisi energinya.


***


Keesokan harinya Darmaja dan Lolita datang lebih dulu, sementara Agra belum terlihat sama sekali, nenek dan kakek Langit juga tidak tahu mengenai kebakaran itu.


"Kenapa Agra tidak memberitahu papah?" Tanya Darmaja.


"Mungkin karena Agra menganggap bisa menyelesaikannya sendiri Pah," jawab Lolita.


"Bukannya Langit masih beberapa hari lagi dia akan kembali bersekolah? Kalian tinggal di Mansion papah saja..!" Ucap Damaja pada Bintang.


"Nanti aku bicarakan lagi ya Pah sama ayahnya Langit," jawab Bintang, dia tidak mau mengambil keputusan sendiri.


Tak berselang lama Agra datang dan nenek Gina juga baru keluar dari kamarnya, mereka berkumpul dan menikmati sarapan bersama, sarapan pagi yang menjelang siang, hehe…


Setelah selesai makan Agra dan Bintang saling berpegangan tangan, namun tangan mereka tersembunyi di bawah meja.


Mereka mengobrol bersama sambil mengisi energi Bintang, Lolita yang sempat melihat adegan itu, dia merasa iri karena keromantisan Agra, ya… karena Darmaja tidak seromantis itu, sementara nenek Gina hanya melihat sejenak lalu mengabaikannya, dia sudah tahu mereka sedang mentransfer energi.


Langit begitu menikmati liburannya, bahkan dia tidak mau pulang, namun mengingat sekolah Langit juga penting, Agra menyuruh mereka untuk sementara waktu tinggal di Mansion milik Darmaja, karena lebih dekat dengan sekolah Langit.


"Kenapa tidak di Mansion nenek saja Ga,?" Protes nenek Gina.


"Nek, biar lebih dekat," jawab Agra.


"Mau jauh, mau dekat, kan sama-sama naik mobil, gak akan ada bedanya," keluh nenek Gina.


Karena tidak mau masalah semakin rumit akhirnya Agra memutuskan jika mereka akan tinggal di Mansion nenek Gina.


"Padahal jual saja Mansion Nenek, nenek kan bisa tinggal bersama ayah dan ibu..!," keluh Agra.


"Tidak, disana banyak kenangan nenek dan kakekmu," jawab nenek Gina.


Agra seketika diam, dia lebih baik memang diam karena akan kalah jika berdebat dengan sang nenek yang keras kepala.


***


Liburan pun telah usai, Langit hanya liburan beberapa hari di villa, dia sama sekali belum merasa puas, selama diperjalanan kemarin dia terus merengek tak mau pulang.


Namun pagi ini dia sudah rapi, saatnya dia berangkat ke sekolah, diantar oleh Bintang dan salah satu sopir keluarga.


Mereka berpamitan pada nenek Gina dan berlalu pergi, namun nenek Gina merasa tidak enak hati, dia hanya bisa berdoa agar mereka baik-baik saja.


Perjalanan mereka sedikit terhambat, jalanan yang mereka lalui macet parah, namun Langit ingin segera sampai di sekolah, dia tidak mau kalau sampai terlambat.


Pak Diman pun mengambil jalan lain, jalan alternatif yang jarang diketahui orang. Awalnya lancar, tidak ada kendala, sampai ada beberapa preman yang meminta mereka turun.


Bintang sedikit khawatir, dia tidak bisa menggunakan kekuatannya berkali-kali karena dia tahu itu akan membuat badannya lemah. Dia harus bisa memanfaatkan situasi dan hanya menggunakan kekuatannya sekali saat keadaan benar-benar genting.


"Non, sebaiknya jangan keluar, kasih saja mereka uang, siapa tahu kita bisa lewat..!" Ucap pak Diman.


"Oke, oke," jawab Bintang, dia merogoh tasnya dan mengambil beberapa lembar uang kertas, dia tidak membawa banyak uang.


Namun sepertinya preman itu tak terima, dia menggedor jendela, bahkan berniat memecahkan kaca mobil dengan batu.


Kalau saja ada Boy dan Ben yang jago beladiri, batin Bintang.


Karena mereka ketakutan, dan meski di dalam mobil juga mereka tetap celaka, akhirnya mereka menuruti apa yang diperintahkan para preman itu.


Mereka turun dari mobil, "apa yang kalian inginkan?" Tanya Bintang.


"Mobil itu," jawab salah satu dari mereka.


Bintang pun mengangguk pada pak Diman, membiarkan preman itu mengambil kunci dan mengambil mobil itu agar mereka selamat.


Kemudian mereka berjalan kaki menyusuri jalan, berharap sampai ditempat yang ramai, di tempat yang banyak dilalui kendaraan, namun sepertinya masih jauh, ponsel mereka pun bahkan diambil oleh preman tadi.


Naas, entah bagaimana ceritanya, ada mobil yang melaju kencang yang mengarah ke arah mereka.


Bintang tidak punya pilihan lain selain berteleportasi, "tidak….," Teriak Bintang, kedua tangannya memegang tangan Langit dan tangan pak Diman.


Bintang memikirkan satu tempat, dia mengaktifkan teleportasi dan mereka sampai di sana, Pak Diman masih menutup matanya, Langit mulai membuka mata dan bertanya, "Mah, kenapa kita ada disini?"


Pak Diman tiba-tiba pingsan, dia sepertinya tidak menyadari kalau dia selamat dan berpindah tempat.


Nenek Gina yang datang dari arah dapur dia dikagetkan dengan kembalinya mereka secara tiba-tiba, apa jangan-jangan Bintang menggunakan kekuatannya lagi? Pikir nenek Gina.


Dia berlari menghampiri Bintang, nenek Gina berhasil menangkap tubuh Bintang yang pingsan.


"Nek, Mamah kenapa?, Mah… bangun Mah…! Hiks…" Langit mulai menangis.


Nenek Gina benar-benar panik, dia takut kejadian masa lalu terulang lagi, dia segera menelpon Agra dan juga Devan.


***


Devan tiba lebih dulu, dia langsung memasang berbagai alat, termasuk oksigen.


"Nek, Bintang kenapa bisa seperti ini?" Tanya Devan.


"Nenek tidak tahu, tapi sepertinya dia mengalami hal yang sama dengan kejadian beberapa tahun lalu," jawab nenek Gina.


Langit tertidur di samping ibunya, dia sepertinya lelah menangis sampai dia ketiduran.


Sementara Pak Diman sudah siuman, dia masih seperti orang bingung, dia juga sedikit ketakutan karena membayangkan mobil itu menabrak dirinya, namun setelah diberi obat penenang pak Diman pun tertidur dan istirahat.


Akhirnya Agra datang, dan untuk kesekian kalinya Agra terpuruk melihat istrinya terbaring lemah tak sadarkan diri sementara dia tidak bisa melakukan apapun.


"Nek, Bintang kenapa lagi Nek?" Tanya Agra lirih.


"Sepertinya dia menggunakan kekuatannya lagi Ga," jawab sang nenek yang lupa dengan kehadiran Devan disana.


Kekuatan, kekuatan apa? Pikir Devan.


Bersambung…