
Agra membalikkan badannya memunggungi Bintang, sementara wanita itu tak bisa berbuat banyak, dia takut kalau Agra malah akan membencinya saat tahu identitasnya yang sebenarnya, Bintang masih menata hatinya, dia belum sanggup menghadapi kenyataan pahit kedepannya.
Mereka pun tertidur dengan saling membelakangi.
***
Tak terasa sudah seminggu berlalu, sudah saatnya mereka kembali dengan rutinitas kerjanya.
Setelah kejadian malam itu, Agra mulai cuek dan mengabaikan Bintang, begitupun sebaliknya, mereka menikmati liburannya masing-masing. Dikala Agra berenang, maka Bintang diam di kamar sambil mendengarkan musik.
Saat Agra keluar mencari udara sejuk dan pemandangan indah, maka Bintang akan mengikutinya tapi dengan jarak yang lumayan jauh. Mereka sudah jarang berkomunikasi, namun Agra tetap menepati janjinya, dia akan menggenggam tangan Bintang semalaman di malam tertentu.
Setelah melewati perjalanan panjang akhirnya mereka pun sampai di Apartemen Bintang, wanita itu begitu merindukan tempat tinggalnya, dia berpikir untuk berbelanja pakaian dan juga bahan-bahan makanan mengingat dia meninggalkan Apartemennya cukup lama.
"Kamu mau kemana?" Tanya Agra saat melihat Bintang melangkahkan kakinya mendekati pintu.
"Aku hanya ingin ke minimarket di bawah, tidak jauh kok, dan hanya sebentar aku membutuhkan bahan makanan, kamu mau dibeliin apa?" Tanya Bintang.
"Oh, tidak perlu, pergilah..!" Ucap Agra.
Agra duduk termenung, dia mengingat kejadian dipulau itu, dia merasa baru pertama kali ditolak perempuan, apakah ketampanan ku mulai berkurang seiring bertambahnya usia? Batin Agra lalu bangkit mencari cermin di dinding.
"Kurasa aku masih tampan dan mempesona, lalu kenapa Bintang tidak mau menerimaku?" Gumamnya pelan sambil menatap wajahnya di depan cermin.
***
Sementara di tempat lain, lebih tepatnya minimarket yang ada di dekat Apartemen Bintang, terlihat Bintang sedang memilih bahan-bahan memasak yang segar, dia juga membeli beberapa makanan instan, tak lupa juga cemilan manis.
Saat dia sudah selesai dan berniat kembali, untuk kedua kalinya dia mendapatkan serangan, dia dibius lagi dari arah belakang dan berhasil dibawa kabur oleh seseorang.
"Akhirnya dapat juga," ucap Meira, dia lekas mengikat tangan dan kaki Bintang.
Bintang dibawa ke tempat yang cukup jauh, bahkan tempat itu jauh dari tengah kota agar Agra kesulitan menemukan istrinya.
Bintang disekap di ruangan yang gelap, saat dia sadar dia malah tersenyum misterius. Aku diculik lagi? Oh astaga, memangnya mereka mengincar apa sih? Batin Bintang.
Ceklek
Pintu terbuka, bahkan Meira menyalakan lampu minyak yang menempel di dinding.
"Kamu sudah sadar hah?" Tanya Meira dengan sangat kasar.
"Hmm, memangnya apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Bintang.
"Aku ingin nyawamu, sebentar aku akan membuatmu menderita terlebih dahulu, aku akan membuat wajahmu rusak, hahaha…," Meira tertawa senang, kini dia memegang pisau tajam yang hampir saja mengenai pipi mulus Bintang.
"Kenapa kamu tidak takut? Kau pikir aku main-main hah?" Meira melihat jika tidak ada rasa takut Dimata Bintang, membuatnya merasa sangat kesal.
"Hmm, lakukan saja jika kau mampu!" Ucap Bintang menantang Meira.
Membuat Meira semakin murka, dia berniat langsung menyayat pipi Bintang, namun Bintang segera menghentikan waktu.
"Rasanya aku ingin menyayat pipimu juga, tapi aku masih memiliki hati yang baik, berterima kasihlah padaku..!" Ucap Bintang yang berhasil melepaskan ikatan di kaki dan tangannya, dia berlalu pergi, melewati penjaga dengan mudahnya.
Bintang akhirnya bisa keluar dari rumah kecil itu dengan selamat, saat dia berniat berteleportasi dia mengurungkan niatnya karena tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dengan cemas.
(Penghentian waktu yang dilakukan Bintang memang tidak mencakup semua wilayah bumi dia hanya mampu menghentikan waktu di sekitar tempat dimana dia berada)
"Kamu gapapa kan?" Tanya Agra yang masih memeluk Bintang dengan rasa khawatir dan nafas yang terengah-engah.
Flashback
Hingga akhirnya dia menemukan dimana keberadaan Bintang dan langsung pergi ke tempat itu bahkan dengan menggunakan helikopter pribadinya.
Flashback off
"A-aku gapapa, kenapa kamu bisa tahu aku ada disini?" Tanya Bintang heran.
"Itu hal mudah bagi seorang Agra, sebaiknya kita cepat kembali sebelum penculiknya menyita waktu kita," ajak Agra menaiki helikopternya dengan dibantu alat pengaman.
Padahal lebih cepat jika berteleportasi, keluh Bintang di dalam hatinya.
Perjalanan mereka tempuh dengan cepat, setelah mereka sampai di Apartemen, Agra mendadak cerewet menanyakan keadaan Bintang, membuat wanita itu kini harus berbaring diranjang dan tidak boleh melakukan apapun.
"Apa kau lapar? Aku akan mengambilkan makanan untukmu, diamlah disitu, jangan kemana-mana..!" Ucap Agra lalu pergi mengambil makanan, bahan tanpa mendengar jawaban dari Bintang terlebih dahulu.
Bintang yang lapar, dia ingin sekali memakan makanannya dengan lahap dan cepat, namun Agra bersikeras menyuapi istrinya.
"Aku bisa sendiri, aku bukan anak kecil," protes Bintang.
"Jangan berisik, makan saja..!" Ucap Agra yang terus menyuapi istrinya, meski Bintang terus saja protes.
Agra bertindak dengan cepat, dia langsung melaporkan kasus ini ke kantor polisi, bahkan dia dengan mudah mendapatkan banyak bukti yang akan menyeret Meira ke penjara.
"Kamu tidak usah khawatir, aku akan pastikan orang yang menculikmu akan masuk penjara," ucap Agra pada Bintang.
"Hmm, iya… terimakasih." Bintang
Malam itu Agra menemani Bintang semalaman dengan menggenggam tangan istrinya itu. Padahal aku tidak apa-apa,dia sangat berlebihan, batin Bintang.
Agra tidur lebih dulu, Bintang menatap Agra dengan tersenyum, dia merasa senang mempunyai seseorang yang melindunginya.
***
Keesokan harinya mereka mendapatkan kabar kalau Meira ditangkap, media sosial pun ramai dengan berita itu karena Meira adalah anak salah satu pebisnis yang terkenal.
Agra tersenyum puas, dan Bintang hanya menatap Meira dengan rasa sedih. Manusia rela melakukan apapun demi cinta, meski itu menyakiti orang lain bahkan menyakiti dirinya sendiri, sungguh miris. Pikir Bintang
Setelah kejadian itu Agra benar-benar mengekang istrinya, tidak memperbolehkannya bekerja lagi bahkan untuk keluar Apartemen saja harus bersama Agra.
Sore itu mereka pergi berjalan-jalan, menikmati suasana keramaian dan membeli beberapa cemilan di pinggir jalan, sebenarnya Agra tidak terbiasa, namun dia memaksakan diri karena Bintang menginginkannya.
Mereka menyempatkan mampir di supermarket, Bintang melihat sosok yang dikenalnya ada disebrang sana.
Bukannya itu Meira?, Apakah aku salah lihat? Tapi itu benar dia, bukannya dia dipenjara ya? Pikir Bintang.
"kamu liatin apa?" tanya Agra lalu melihat tepat ke arah dimana istrinya begitu fokus melihat sesuatu.
"Meira, hmm... pasti anak manja itu dikeluarkan oleh ayahnya yang so kaya itu," gumam Agra pelan yang masih bisa didengar oleh Bintang.
"Aku harus memperketat pengawalanmu," ucap Agra lagi.
"Apa? bukankah kamu sudah melakukannya?" protes Bintang.
"Setelah melihat Meira, seprtinya aku lebih khawatir padamu," ucap Agra yang mampu membuat hati Bintang sedikit tersentuh sekaligus kesal.
Bersambung…