Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Sisi Lain


Mereka memutuskan untuk kembali ke kantor, karena Agra ingin menyelesaikan sesuatu pekerjaan yang belum selesai disana.


Akhirnya aku jadi bekerja setengah hari, pikir Bintang yang kini berjalan di belakang Bos nya itu.


Bintang membantu Agra, dia memberikan sedikit masukan untuk proyek kali ini. Meski Bintang ingin mengambil kesempatan agar bisa bersentuhan, namun sepertinya Agra sedang serius sekali, Bintang tidak mau membangunkan macan yang sedang tertidur, eh.. sedang bekerja.


Dia kembali ke ruangannya, dia tidak mau mengganggu Agra.


Saat jam pulang tiba, baru saja Bintang berniat pulang dengan taksi, dia belum yakin dengan kekuatannya sehingga dia tidak mau mengambil resiko saat melakukan teleportasi.


Baru saja dia membuka pintu, Bos dinginnya itu mengajak Bintang untuk menemaninya ke suatu tempat.


"Baik Pak," jawab Bintang, sepertinya aku harus memanfaatkan momen ini untuk mencharger kekuatanku, pikir Bintang.


Selama perjalanan, mereka tampak canggung dan saling diam, hari ini Agra menaiki mobilnya disertai dengan sopir pribadinya sehingga Bintang tidak perlu menyetir mobil untuknya. Mereka duduk di kursi belakang berdua tanpa bersuara.


Bintang sebenarnya ingin tahu kemana dia akan dibawa oleh Agra, namun dia enggan menanyakan hal itu karena sikap Agra yang acuh dan wajahnya yang terlihat fokus dengan ponselnya. Bintang memilih melihat jalan dari kaca mobil, melihat banyaknya manusia dan mereka bahagia bersama keluarganya.


Dia melihat ibu dan anak yang sedang makan dipinggir jalan, meski begitu si anak kelihatan senang, bahkan disuapi oleh sang ibu.


Iri, iya.. Bintang iri karena dia tidak punya keluarga disini, dia bahkan kini merindukan keluarganya di planet tempat dia tinggal, tak terasa air mata Bintang menetes.


Agra menyadari itu, dia seakan merasa ikut sedih, hatinya menyuruhnya untuk menghibur Bintang, menghapus air mata gadis itu, namun egonya melarangnya, dia pun berpura-pura tidak melihat Bintang menangis.


"Ayo, kita sudah sampai..!" Agra menyuruh Bintang turun.


Bintang menghapus air matanya dan turun dengan wajah yang seperti biasa, wajah datarnya. Apa dia mau bertemu klien lagi? Pikir Bintang.


Mereka Sampai di sebuah cafe, Agra duduk dan memesan satu gelas kopi.


"Duduklah..!" Agra


"Baik Bos," jawab Bintang lalu duduk.


"Pesanlah makanan, dan temani aku..!" Ucap Agra.


Bintang mengambil menu dan memilih makanan dan minuman, dia kan bisa makan bersama keluarga, tentu itu lebih menyenangkan, daripada meminta sekretaris menemaninya, ini kan diluar jam kantor. Batin Bintang


"Kamu tidak usah khawatir, aku akan memberikan gaji lembur kalau kamu bersedia menemaniku diluar jam kantor," ucap Agra yang seakan tahu isi pikiran Bintang.


Aku tidak butuh uang, aku hanya butuh…. Hmm, sudahlah aku tidak mungkin jujur padanya, batin Bintang.


Bintang akhirnya hanya mengangguk kecil, setidaknya dia memiliki banyak kesempatan untuk berkontak fisik dengan CEO muda itu.


Setelah kopi itu habis Agra mengajak Bintang menuju tempat lain, Bintang melihat aura Agra sedikit berbeda, ya .. dia melihat wajah Agra yang suram. Dia lebih mengerikan sekarang, dia akan membawaku kemana lagi? Bukannya manusia yang disaat kalut banyak pikiran, mereka akan melakukan hal aneh dan nekat, Pikir Bintang.


Bintang mengangguk, dia seperti sedang dihipnotis saja, menuruti semua yang diperintahkan CEO muda itu, bukankah dia alien yang sombong dan tidak membutuhkan manusia dalam hidupnya? Ya… semua berubah, karena sekarang dia seperti ponsel yang selalu membutuhkan Agra sebagai chargerannya.


Agra mulai bernyanyi, suaranya yang fals membuat Bintang ingin tertawa, "ffttt…, suaranya parah sekali, kupingku sampai sakit," keluh Bintang yang untung saja tidak terdengar oleh Agra saking kerasnya suara musik itu.


Namun semakin lama, suara Agra berubah menjadi serak, "apa dia menangis?" Gumam Bintang.


Rasa penasaran itu membuat Bintang menghampiri Agra, benar saja lelaki itu sedang menyanyi sambil menangis.


"Kamu gapapa?" Tanya Bintang.


"Aku gapapa, kamu pura-pura saja tidak melihatku, duduklah kembali di sana, kamu hanya bertugas menemaniku, bukan menggangguku..!" Agra merasa malu menangis di hadapan Bintang, namun dia juga tidak bisa menahan air matanya, dia pun duduk dan meneguk minuman ber@lkohol.


Sementara Bintang duduk memperhatikan Bos nya itu, dia menangis? Aku tidak salah lihat kan?, Bintang membiarkan Bosnya melakukan apapun tanpa menyentuh atau menegurnya.


Hingga Agra mulai mabuk berat, dan dia mulai seperti orang gil@, membuat Bintang terpaksa mendekatinya, membantu tubuh Bos nya berdiri, karena kini Agra tidur dilantai sambil menangis dan mengeluarkan semua rasa sakit hatinya.


"Nadia…, kamu kembali sayang?" Ucap Agra sambil membelai pipi Bintang, memebuat alien cantik itu terkejut, dia mematung karena bingung, dia membiarkan Agra menyentuhnya karena itu sangat bermanfaat untuknya.


Akhirnya kekuatanku penuh, batin Bintang.


Agra mulai menunjukan sikap yang aneh, karena panik, Bintang melakukan teleportasi. Teleportasi diaktifkan, aku ingin kami berpindah tempat ke Apartemenku, di–.


Belum juga bintang menyelesaikan kalimatnya, Agra menyebutkan kata ranjang. Membuat Bintang spontan mengatakan ranjang dan membuat mereka mendarat di ranjang Apartemen alien itu.


"Kenapa malah mendarat disini sih?" Keluh Bintang yang kini ada diatas tubuh Agra, dan mereka sekarang berada di atas ranjang yang sama.


"Nadia tolong jangan tinggalkan aku lagi..! Aku menderita tanpamu, aku lemah tanpamu, aku sungguh tak percaya saat semua orang mengatakan jika kamu sudah tiada, buktinya kamu sekarang datang padaku, aku merindukanmu sayang..!" Agra menatap dalam-dalam wajah Bintang yang dianggapnya Diana karena mabuk.


"Sepertinya dia menganggapku wanita lain, yang jelas wanita itu pasti sangat dicintainya, sepertinya manusia ini memendam cinta yang dalam, bahakn kehilangan wanita itu hingga membuatnya terluka," gumam Bintang.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di pipi mulus Bintang, membuat pipi mereka merona, jantung mereka berdetak kencang, Bintang bingung antara ingin menolak namun ini kesempatan yang sangat bagus untuk kekuatannya, Bintang pun berpura-pura menjadi wanita yang bernama Nadia, dia seolah pasrah. 


Cup


Kecupan kini mendarat di bibir Bintang, kecupan singkat namun Agra kini tersenyum lebar, Dia tampan jika tersenyum. Batin Bintang


Saat Bintang ingin mengecup bibir Agra lagi, Agra mulai menutup matanya, ya… dan dia tertidur pulas dengan posisi memeluk Bintang yang masih menindihnya.


"Kurasa kekuatanku sudah penuh, haruskah aku melepaskan pelukan ini?" Gumam Bintang bingung.


Bersambung …