
Bintang yang merasa ada yang aneh dengan telinganya itu, dia memilih pergi ke kamarnya, dia merebahkan tubuhnya dia ingin tidur untuk sejenak, berharap saat dia bangun dia bisa merasa lebih baik.
Agra sempat mengintip sebentar, dia kembali lagi saat melihat istrinya tertidur, dia tidak mau mengganggu istirahat Bintang, dia mengambil bingkisan dari neneknya dan menyimpannya, siapa tahu suatu saat benda ini akan berguna, ya… itu harapanku, pikir Agra.
Saat malam tiba, Agra tidak melihat Bintang keluar dari kamarnya, sementara dia belum makan sejak sore, Agra berniat membangunkan istrinya dan menyuruhnya makan.
Ceklek
"Ini sudah malam, apa kamu tidak lapar?" Tanya Agra sambil sedikit menggoyangkan tubuh Bintang.
"Hmm, iya… ," Bintang pun bangun dia berjalan perlahan dengan tenaga yang masih belum terkumpul.
"Siapa yang masak?" Tanya Bintang yang sudah mencuci muka dan tangannya bahkan dia sudah menggosok giginya.
"Ini online, hehe … ," jawab Agra jujur.
Mereka pun menikmati makan malam mereka, Bintang mendengar bisikan lagi. Aku berharap dengan perhatian kecilku dapat membuatnya yakin untuk menerimaku menjadi suaminya, aku tidak masalah jika dia bukan manusia sepertiku, yang penting dia baik dan kita bisa membina rumah tangga yang bahagia.
Tunggu, itu seperti suara Agra, tapi dia sama sekali tidak bicara apapun? Apa benar Agra tahu kalau aku bukan manusia? Batinnya.
Bintang yang ingin memastikan, dia mengajak Agra bicara lagi, hingga dia bisa mendengar lagi bisikan Agra yang lain.
"Emm, nenek kamu baik ya, tapi kenapa kamu tidak sedekat itu dengan ayah dan ibumu?" Tanya Bintang yang memulai pembicaraan lain.
"Aku memang lebih dekat dengan nenekku dari pada dengan mereka," jawab Agra lalu diam.
Andai kau tahu, aku bahkan membenci ibuku, karena ibuku hanya bisa menekanku saja tanpa tahu seberapa keras aku telah berusaha, dan disaat aku sudah berhasil, dia sama sekali tidak bangga padaku, untuk perhatian kecil saja aku tak mendapatkannya sedari kecil.
Bintang bisa mendengar dengan jelas isi hati Agra, dia menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya, jadi aku bisa mendengarkan isi hatinya? Tapi jika benar, darimana dia tahu kalau aku bukan manusia? Aku harus memastikan kekuatan baruku ini.
"Kamu kenapa?" Tanya Agra melihat tingkah Bintang yang sedikit aneh.
"Aku gapapa, oh ya… apa kamu percaya jika didunia ini ada makhluk lain selain manusia, misalnya alien yang tinggal di planet lain?" Tanya Bintang dengan serius.
"Hmm, aku percaya, dan mereka pun sama-sama makhluk hidup." Agra
"Kalau kamu bertemu mereka apa yang kamu lakukan?" Bintang
"Emm tergantung." Agra
"Tergantung bagaimana maksudnya?" Bintang
"Kalau makhluk itu jahat dan menyerang, ya aku serang balik, kalau dia baik dan berbaur seperti manusia biasa, ya… kita terima saja kehadiran mereka, mereka juga punya hak untuk hidup." Agra
"Kalau aku salah satu dari mereka, bagaimana?" Tanya Bintang mencoba memancing Agra.
Agra sedikit terkejut, namun dia berusaha bersikap sebiasa mungkin, "tidak masalah, aku yakin kamu makhluk yang baik." Agra
Apa dia tahu kalau aku berpura-pura tidak tahu jati dirinya? Apa aku langsung tanyakan saja ya.. padanya? Pikir Agra
Apa benar Agra tahu dan menerima keadaanku? Apa aku tanyakan saja padanya secara langsung? Pikir Bintang.
Bintang diam, dia bahkan membiarkan makanannya yang belum habis, dia bingung harus mengatakan apa lagi, menurut Bintang suaminya itu tipe lelaki yang tidak mempermasalahkan perbedaan ras atau yang lainnya, tapi .. dia berpikir belum tentu Agra akan menerimanya juga kan.
***
Di Tempat lain, lebih tepatnya di sebuah restoran, terlihat ibu Lolita yang sedang makan malam bersama Meira.
Meira begitu dekat dengan ibunya Agra, mereka mempunyai pemikiran yang sama, hobby yang sama, mereka cocok jika mereka benar-benar menjadi menantu dan mertua.
"Dia memang sulit diatur, sudah ada tempat nyaman, malah memilih tinggal di apartemen kecil milik wanita itu, Tante rasa wanita itu membawa pengaruh buruk untuk Agra." Lolita
"Bener tuh Tante, memang dia itu wanita miskin yang memanfaatkan Agra saja, memang sekarang mereka tinggal disana, siapa tahu nanti malah istrinya itu ingin menguasai semua harta milik Agra," ucap Meira mempengaruhi Lolita.
"Kamu benar, coba saja kalau dia menikah dengan kamu, perusahan kita bisa saling bekerja sama, Agra mendapatkan pendamping yang sederajat, cantik dan elegan kaya kamu," puji Lolita.
Meira tampak senang, dia akan berusaha merebut Agra yang tampan itu.
Dua wanita itu menikmati makan malam dengan membahas Bintang dan Agra sebagai topik utama, mereka juga mempunyai rencana bersama untuk membuat Agra membenci Bintang.
***
Hari semakin larut, jam menunjukan pukul 11 malam namun Bintang belum bisa tidur, dia masih memikirkan bisikan-bisikan yang sempat dia dengar.
Dia membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar itu.
Tok
Tok
Tok
Itu pasti Agra, aku lupa kalau malam ini jadwal kami tidur bersama, aku juga membutuhkan energi yang banyak karena aku merasa ada yang aneh dengan tubuh ini. Pikir Bintang
Wanita itu berjalan perlahan menuju pintu.
Ceklek
Tanpa berbicara, Bintang kembali membalikan badannya, dia tidak perlu mempersilahkan Agra untuk masuk ke dalam kamarnya karena mereka sudah terbiasa.
Namun tiba-tiba Agra memeluk Bintang dari arah belakang.
Deg
Dia kenapa? Dan jantungku kenapa? Batin Bintang.
Bintang sedikit memberontak, "diamlah, sebentar saja, aku nyaman memeluk tubuhmu, wangi tubuhmu membuatku rileks," ucap Agra yang semakin mempererat pelukannya, membuat wanita itu tidak bisa melakukan apapun.
Semakin hari aku semakin nyaman berada disampingmu, aku selalu mengkhawatirkanmu, aku tidak bisa jauh darimu, apa aku mulai mencintaimu? Tapi... kamu selalu menghindar, padahal aku menerima apapun keadaanmu, meskipun kamu adalah makhluk asing yang entah dari mana asalnya, aku sungguh tak peduli, batin Agra.
Deg
Aku bisa mendengarnya, aku bisa mendengar isi hatinya sekarang, jadi… jadi dia tahu kalau aku bukan manusia, sejak kapan? Batin Bintang.
Bintang membalikan tubuhnya, sehingga sekarang mereka saling berhadapan satu sama lain.
Deg
Agra nampak kaget, namun nalurinya menuntun bibirnya menyentuh bibir Bintang.
Cup
Sekilas bibir itu saling menyatu namun kini Bintang menghindar, menjauhkan wajahnya agar ada jarak diantara mereka.
"Apa kamu tahu siapa aku sebenarnya?" Tanya Bintang dengan menatap kedua bola mata Agra.
Bersambung …