
Setelah memastikan jika minuman dingin itu diminum oleh Bintang, Meira kembali ke ruangannya, dia berharap akan ada keributan yang terjadi di sana, setelah 10 menit menunggu namun keadaan kantor tampak normal seperti biasanya.
Meira melihat Bintang dan Agra kini sedang fokus dengan layar laptopnya, mereka sedang berada di ruangan CEO dengan keadaan baik-baik saja bahkan sesekali Bintang bercanda.
Aku yakin tadi dia meminumnya, tapi kenapa dia baik-baik saja? Pikir Meira
Sebelumnya memang wanita jahat itu mencampurkan obat penggugur kandungan pada air minum Bintang, dia yakin jika mangsanya telah masuk jebakannya, dia berharap Bintang kehilangan bayinya.
"Aku sakit perut, aku ke toilet dulu ya?" Ucap Bintang pada Agra sambil memegangi perutnya, dia pergi ke kamar mandi yang ada di ruangan suaminya.
"Perutku tidak nyaman," keluh Bintang yang keluar dari kamar mandi, dia kembali duduk di dekat sang suami.
"Kamu kenapa? Seperti orang gelisah," tanya Agra melihat Bintang yang duduk dengan tidak tenang.
"Aku hanya merasa tidak nyaman saja, perutku sedikit sakit, aku kira ingin buang air, ternyata tidak," ucap Bintang yang terlihat bingung.
"Apa kandunganmu bermasalah? Sebaiknya kita pulang sekarang dan memanggil Devan ke Apartemen," ucap Agra yang bahkan kini dia telah berdiri, dia kini memegang tangan istrinya untuk mengajaknya pergi.
"Tapi, aku tidak apa-apa, cuma sedikit sakit saja, kamu terlalu berlebihan sayang," ucap Bintang menahan tangan sang suami.
Namun Agra yang keras kepala dan khawatir dia akhirnya pulang lebih awal membawa Bintang ke Apartemennya untuk diperiksa, kepergian mereka membuat Meira curiga.
"Apa obatnya mulai bekerja?" Ucap Meira saat melihat mereka keluar dari ruangan dan terlihat terburu-buru pergi. Meira tampak senang dan tersenyum sepanjang waktu.
***
Sesampainya di Apartemen, Agra langsung membopong Bintang dan membaringkannya di atas tempat tidur.
"Aku tidak apa-apa sayang…," ucap Bintang meyakinkan suaminya namun nihil, itu sama sekali tidak membuat Agra tenang.
Terlihat Agra mondar-mandir menunggu kedatangan Devan, Kenapa dia lama sekali? keluh Agra didalam hatinya.
"Perjalanan dari sana kesini kan lumayan jauh, kamu yang sabar dan jangan mengomel terus..!" Ucap Bintang yang bisa mendengar suara hati suaminya itu, karena kekuatannya yang baru dia terkadang selama seharian tidak bisa mendengar suara hati suaminya ataupun orang lain.
Dikala dia bisa mendengar suara hati semua orang, itu sangat mengganggu telinganya, karena memang sangat berisik.
"Hmm, aku mengomel dalam hati sayang, aku tidak berisik dan mengganggumu," jawab Agra tanpa berpikir lebih jernih.
"Tapi aku mendengarnya sayang, tunggulah sebentar lagi, aku yakin aku tidak apa-apa, rasa sakitnya juga sudah hilang," jawab Bintang.
Benar juga, kamu mendengar aku mengomel meski dalam hati, pikir Agra.
Akhirnya orang yang ditunggu pun datang, Devan langsung memeriksa istri sahabatnya itu, dia mengatakan jika tidak ada masalah serius, detak jantung sang bayi juga normal, dia hanya menyarankan untuk mengurangi makanan pedas dan asam yang membuat perut Bintang tidak nyaman.
Agra merasa lega, dia kini duduk disamping istrinya, mengelus kepala sang istri dan mencium keningnya.
Syukurlah kamu baik-baik saja, batin Agra yang bisa didengar Bintang, membuatnya tersenyum.
Devan berniat pulang karena tugasnya sudah selesai, namun Agra mengajaknya bermain game untuk melihat kemampuan mereka di masa sekolah dulu apakah masih sama atau tidak.
Bintang hanya sebagai penonton, dia senang melihat suaminya bersikap kekanak-kanakkan seperti itu, melihat Agra yang dijitak oleh Devan karena kalah, begitupun sebaliknya.
Kini mereka berdua sedang berguling, berusaha saling menindih, Bintang hanya tertawa tanpa berniat memisahkan mereka.
"Aw sakit, sayang… tolong aku..!" Teriak Agra yang kini berada dibawah Devan, tertindih oleh badan temannya yang berat.
"Haha, aku hanya penonton saja," jawab Bintang.
Setelah lelah bergulat, mereka diam dan melampiaskan semua kekesalan pada makanan yang ada di depan mereka, Bintang menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat mereka seperti orang kelaparan.
"Ternyata kamu tidak sehebat dulu Ga," ucap Devan.
"Hahaha… lucu sekali," sindir Devan.
Bintang meletakan gelas dengan sedikit keras, membuat keduanya kini diam dan makan dengan tenang.
Hari sudah malam, Devan pamit pulang, Aku bahagia melihatmu Ga, melihatmu bahagia bersama istrimu, kamu menjadi Agra yang dulu yang ceria dan mengasyikan, batin Devan.
Bintang yang mendengarnya pun ikut senang, dia menilai jika Devan adalah teman yang tulus.
"Sana pulang, ini sudah malam, jangan mengganggu acara suami istri..!" Ucap Agra sambil mendorong tubuh Devan ke arah pintu.
"Hahaha, iya iya, aku cukup tahu diri kok," ucap Devan yang berlalu pergi.
Setelah pintu tertutup, Agra langsung nggendong Bintang menuju kamar mereka.
****
Keesokan harinya sepasang suami istri itu sudah tiba di kantor, pagi itu mereka sangat bahagia dan ceria, ya karena semalam mereka menghabiskan malam yang romantis dan bahagia.
Energi Bintang juga terisi penuh, tiba-tiba dia melihat sosok wanita yang dia benci datang menghampirinya, membuat suasana hatinya berubah jelek.
"Ga, kemarin kamu kok pulang duluan?" Tanya Meira pada Agra tanpa mempedulikan Bintang.
Kamu? Seharusnya dia bertanya mengatakan kata kalian, kan aku juga pulang duluan bareng Agra, dasar caper, batin Bintang kesal.
"Emm, kemarin perut Bintang sakit," jawab Agra dengan mata yang fokus pada laptopnya.
Dia sakit perut? Berarti dia meminum obat dariku, tapi kenapa dia tidak keguguran? Batin Meira.
Bintang yang bisa mendengar isi hati Meira, dia jelas terkejut, matanya membulat dan dia sangat emosi, dia berdiri dari tempat duduknya dan langsung menampar Meira.
Plak
"Kamu ini apa-apaan hah? Dasar wanita bar-bar, lihat dong Ga istrimu itu sangat liar!" Teriak Meira sambil memegangi pipinya.
Agra jelas kaget, dia tidak tahu alasan Bintang menampar Meira namun dia yakin tidak mungkin istrinya menampar tanpa sebab.
Agra berdiri menghampiri Bintang, "kamu kenapa? Kamu yang sabar ya..! Jangan marah-marah dulu..!" Ucap Agra yang berusaha menenangkan Bintang.
Namun Bintang semakin marah, jelas terlihat dari keinginannya untuk menampar Meira lagi, dia memberontak dan tak terkendali.
Agra menahan tangan Bintang, "Meira sebaiknya kamu pergi dari ruangan ku! Cepat, sekarang!" Perintah Agra.
"Tapi Ga…," Meira
"Ayo cepat! Aku akan menenangkannya dulu," ucap Agra yang kini memeluk bintang dari arah belakang, mencoba menahan emosi wanita yang dipeluknya.
Kenapa Bintang menjadi kasar begini? Dia kenapa? Dia seperti makhluk lain yang mengerikan, Batin Agra.
Tentu saja Bintang dapat mendengar apa yang Agra katakan, dia kini memandang Agra dengan tatapan sedih, "kamu menganggapku makhluk yang mengerikan? Apa itu penilaianmu terhadapku? Apa kamu tahu apa yang aku dengar dari hati Meira, dia berusaha menggugurkan kandunganku, memberikanku obat kemarin, makanya aku sakit perut, dan kamu malah mengataiku makhluk mengerikan hah?" Bintang marah dan sedih.
"Aku tidak bermaksud mengatakan itu sayang…," Agra mulai membela dirinya, dia lupa kalau Bintang bisa mendengar suara hati manusia.
Tiba-tiba Bintang menghilang, berteleportasi entah kemana, membuat Agra menyesal dan kini dia duduk di lantai menyalahkan dirinya sendiri.
Dia bangkit berniat menghampiri Meira saat itu juga.
Awas kau ya! Batin Agra.
Bersambung ….