Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Satu Nama


Lisna yang tubuhnya tertahan oleh Boy dan Ben, dia benar-benar tidak bisa kemana-mana.


Bintang mencoba menulis teks pesan di ponselnya, lalu membiarkan Lisna membacanya.


Aku tahu kamu sedang berada dalam pengawasan seseorang, atau mungkin ada penyadap suara di sekitar sini, kamu bisa menjawab pertanyaanku dengan mengetik disini, dan kamu bisa berpura-pura terus menerus melawan kami..!


Lisna membacanya, dia terkejut karena Bintang bisa tahu apa yang dia pikirkan, dia memang sedang dalam keadaan tertekan dan BOS nya selalu tahu apa yang dia lakukan, entah ada mata-mata atau penyadap suara.


Kenapa dia bisa tahu? Aku sebenarnya sudah tidak mau terlibat lagi, tapi aku terlanjur masuk didalamnya, dan aku berpihak pada kubu yang salah, aku sebenarnya tidak mau melakukan aksi kejahatan itu, batin Lisna.


Lisna mengangguk setuju, dia masih berusaha memberontak, lalu dia menyempatkan mengetik satu nama di ponsel milik Bintang.


Setelah itu, Lisna berakting mengusir mereka semua.


"Kalian pergilah dari sini! Aku tidak mau membahas masalah racun itu, dan aku tidak akan mengatakan apapun, bukankah nenek itu masih sehat, bukankah aku yang meminum racunnya? Bukankah aku yang celaka, jadi kalian pergilah!" Teriak Lisna.


Mereka pun melangkahkan kaki keluar dari rumah Lisna, Agra meninggalkan sejumlah uang di rumah itu bahkan ibu Lisna tahu dan mereka menerima uang itu.


Langit yang terkejut dengan teriakan Lisna, bahkan dia mulai menangis, dengan segera Bintang menjauh dari rumah itu.


Setelah mereka sampai di penginapan, Agra mulai bertanya dan penasaran dengan apa yang istrinya lakukan tadi.


"Sebenarnya apa yang tadi kamu lakukan? Bahkan kamu menyuruhku menyimpan uang itu," Tanya Agra.


"Itu sebagai tanda terimakasih saja," jawab Bintang.


"Untuk apa? Bahkan dia yang berusaha meracuni nenekku," protes Agra.


"Aku tahu, tapi dia memberitahuku siapa Bosnya, itu imbalan untuk dia karena menjawab pertanyaanku," jawab Bintang.


"Dia tidak mengatakan apapun," ucap Agra heran.


Lalu Bintang memperlihatkan ponselnya, disana tertulis satu nama yang bisa membuat Agra langsung mengepalakan tangannya.


"Apa dia orangnya?" Tanya Agra.


"Sepertinya begitu, tentu kamu kenal, rasanya aku pernah mendengar nama itu," ucap Bintang sambil mengingat-ngingat.


"Ya, aku mengenalnya, dan aku pernah menceritakan dia padamu, waktu itu hanya sekilas saja," jawab Agra.


"Jadi, selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Bintang.


"Kita cari anaknya dulu, nanti juga ayahnya muncul," ucap Agra dengan pikirannya yang kacau.


Bintang hanya bisa menunggu keputusan suaminya, menunggu langkah yang diambil suaminya, untuk saat ini dia akan menikmati liburannya disini beberapa hari.


Bintang dan Langit masih bisa menikmati liburan itu, berbeda dengan Agra yang sibuk menelpon kesana kemari, dia sibuk dengan pekerjaanya.


Beruntung karena sinyal disini masih lumayan bagus, kalau tidak.. Agra pasti sudah memilih pulang.


"Sayang, apakah kamu tidak bisa meninggalkan ponselmu sehari saja? Dan fokuslah pada liburan ini..!" Keluh Bintang.


"Tidak bisa sayang, ini masalah racun kemarin, sebentar lagi aku menemukan posisi mereka, maaf kan aku ya, sebentar saja, beri suamimu ini waktu..! Oke?" Tanya Agra.


Bintang pun mengangguk, dia tidak boleh egois, bukankah dia juga ingin masalah racun itu cepat selesai.


***


"Ga, kenapa kalian berlibur tahap mengajak kami?" Tanya Lolita sang ibu.


"Mamah, ini sebenarnya bukan liburan, tapi bekerja sambil berlibur, hehe …," jawab Agra.


"Kami dari kemarin bolak-balik kesini untuk melihat Langit, tapi dia tidak ada," ucap Darmaja.


"Iya Pah, maaf…," jawab Agra.


"Ditelepon juga gak diangkat, padahal nomormu aktif, bilang sja kalau kalian tidak mau diganggu, hmm…," keluh nenek Gina.


"Ah nenek bukan begitu, waktu nenek menelpon memang Agra sedang tidak memegang ponsel Nek," jawab Agra.


"Alasan," protes nenek Gina.


Akhirnya suasana kembali membaik saat Langit bisa mencairkan suasana.


Lolita dan Darmaja masih memeperlakukan Bintang sepeprti biasanya, berbeda dengan nenek Gina yang masih bersikap dingin.


Ibu kenapa? Seperti sedang marah pada Bintang, batin Lolita yang dapat didengar oleh Bintang.


Bintang menghembuskan nafas panjangnya, dia memang belum bisa membuat sang nenek kembali bersikap baik.


.


***


Nenek Gina mengajak Agra untuk berbicara berdua saja, dia ingin membahas kejadian pesta itu tanpa diketahui Lolita dan Darmaja. Mereka berbicara diruang kerja khusus milik Agra.


"Ga, bagaimana hasil penyelidikan kamu, ada kemajuan?" Tanya nenek Gina.


"Ada Nek, berkat Bintang aku bisa mengetahui siapa dalang dibalik semua ini," jawab Agra.


"Siapa Ga, apa Farhan lagi?" Tanya nenek Gina penasran.


"Hmm, bukan… tapi ya, bisa jadi," jawab Agra.


Nenek Gina merasa bingung dengan jawaban Agra, rasanya da dipermainkan oleh cucunya itu.


"Sudahlah, nenek tahu kamu belum mendapatkan jawabnnya, kamu hanya asal menebaknya, membuat nenek kesal saja," ucap nenek Gina yang membalikan badannya, dia berniat segera pergi dari ruangan itu.


"Hermawan Nek, om Hermawan…," ucap Agra segera, dia tidak mau menyembunyikan hal ini.


Nenek Gina membalikan badannya, "apa kamu yakin dia? Astaga kenapa orang itu mengganggu kehidupanku lagi?"


"Aku yakin Nek, karena nama ini didapat dari wanita itu, wanita yang ada dipesta kemarin," jawab Agra.


"Kamu cari keberadaan dia, nenek perlu bertemu dan berbicara empat mata dengan dia..!" Ucap nenek Gina.


"Baik Nek," jawab Agra.


Ya meski membutuhkan waktu lama, aku akan berusaha menemukan dia, pikir Agra.


Bersambung …..