
Malam itu Bintang tertidur sambil memeluk Langit, dia merasa butuh dukungan, dia ingin tidur ditemani seseorang, dia merasa tubuhnya sudah benar-benar lemah namun dengan memeluk Langit dia berharap bisa bertahan sampai ayah Langit kembali.
Malam itu akhirnya Bintang tertidur, beruntung Lintang tidak rewel, sepertinya dia mengerti akan keadaan sang ibu , dia hanya bangun beberapa kali saja lalu tertidur lagi.
Ketika pagi datang, Bintang perlahan membuka matanya, dia merasa badannya lebih baik, bahkan terasa segar seperti biasanya dia bangun pagi hari di hari-hari sebelumnya saat masih ada Agra.
"Kenapa bisa begini? Apa karena semalaman aku memeluk Langit?" Gumam Bintang pelan.
Dia memandang wajah bayi mungilnya itu, dia kecup keningnya, "selamat pagi sayang."
"Selamat pagi juga sayang…," terdengar suara seseorang dibelakang Bintang, suara yang dia kenali.
Deg
Dia membalikan badannya dan melihat Agra yang sudah berdiri disana, Bintang terkejut, dia memeluk suaminya erat-erat, kemudian dengan segera dilepaskan lah pelukan itu.
"Kamu jahat, kenapa kamu membuatku khawatir dan pulang tidak memberitahuku?" Protes Bintang.
"Maafkan aku sayang karena pulang terlambat, ternyata urusanku disana memerlukan waktu lebih lama, dan semalam aku tidak tega membangunkanmu, akhirnya aku hanya memelukmu dari arah belakang agar kamu merasa lebih baik," ucap Agra menjelaskan.
Jadi bukan karena Langit, hmm… pikir Bintang.
"Oh, pantas saja tubuhku merasa lebih baik, makasih karena telah pulang disaat yang tepat," ucap Bintang.
"Terimakasih juga karena telah bertahan untuk menungguku, menunggu suamimu yang tampan ini, kamu pasti sangat tergila-gila padaku sampai tubuhmu lemah begitu memikirkan ku," goda Agra.
"Hahaha … anggap saja begitu agar kau senang," jawab Bintang sambil memalingkan wajahnya, namun Agra langsung memeluknya erat, lebih erat dari sebelumnya, bahkan dia menggelitik tubuh Bintang.
"Hahaha … lepaskan..! Aku tidak ingin memebangunkan Langit," protes Bintang.
Suara tawa bintang membuat sang nenek merasa lega, nenek Gina yang berniat melihat baby L, dia malah menguping sebentar dengan membuka pintu itu sedikit, dan mendengar suara tawa cucunya, syukurlah… batin nenek Gina.
***
Saat siang hari, Agra begitu serius berada di ruangan kerjanya, dia dihampiri nenek Gina yang sepertinya menaruh curiga pada cucunya itu.
"Nenek, ada apa Nek?" Tanya Agra.
"Nenek hanya ingin berbincang-bincang saja denganmu," jawab Nenek Gina sambil tersenyum, dia duduk di sofa.
Agra pun menghampiri sang nenek, dia tahu kalau ada sesuatu yang serius yang akan dibahas neneknya, karena jarang sekali neneknya itu menghampirinya disaat dirinya sendirian.
Agra duduk di sofa juga tepat disebrang sang nenek, mereka saling berhadapan.
"Apakah sedang ada masalah dengan perusahaanmu?" Tanya nenek Gina.
"Hmm, aku bisa mengatasinya Nek, Nenek tidak usah khawatir..!." Agra
"Apa semua ini ada hubungannya dengan anak itu?" Tanya sang nenek curiga.
"Sepertinya dia mempunyai dendam mendalam padaku Nek, karena dia tidak ada bosannya mengganggu kehidupanku," jawab Agra kesal.
Bintang yang ada dibalik pintu tentu saja bisa mendengar percakapan mereka dengan sangat jelas, dia bisa mendengar isi hati mereka dikala dekat, tapi untuk jarak jauh dia hanya bisa mendengar jika mereka saling berbicara.
Bintang menebak jika orang itu orang yang saat ini dia pikirkan, dia berpikir untuk ikut andil dan mencoba membantu suaminya.
Aku harus mencari tahu lebih banyak lagi tentang orang itu, pikir Bintang.
***
Sebulan berlalu Agra semakin sibuk, dia akan lebih banyak menghabiskan waktunya diruang kerjanya, sesekali dia akan mengajak bermain Langit, menggendongnya sebentar lalu kembali untuk lembur.
Agra sangat dibuat sibuk dengan berbagai maslah baru dieprusahaannya.
Bintang yang tahu dan mengerti, dia sama sekali tidak protes, dia bahkan sering mendatangi Agra di ruang kerjanya untuk sekedar mengingatkan suaminya untuk makan bahkan mengajaknya makan bersama.
Agra keluar dari ruangan kerjanya, menemui anaknya untuk melepaskan penat, karena dengan melihat Langit tersenyum membuatnya bisa melupakan beban pikirannya meski sementara.
"Sayang, apakah Langit sudah bangun?" Tanya Agra.
"Dia bangun, memangnya kenapa?" Tanya Bintang.
"Aku ingin menggendongnya, mengajaknya ke taman depan Mansion sayang, cuacanya juga mendukung," ucap Agra.
Agra pun menggendong Langit, ditemani bintang di sampingnya, mereka duduk kursi taman.
"Sayang, kapan baby L bisa berjalan? Aku sudah tidak sabar mengajaknya berlarian disana," tanya Agra sambil menunjuk ke arah taman yang luas.
"Hahaha …. , Dia baru saja mau belajar merangkak sayang, kamu sabarlah sebentar lagi..!" Ucap Bintang sambil tertawa.
"Hmm, kamu benar, aku penasaran apakah Langit memiliki kemampuan sepertimu?" Tanya Agra.
"Entahlah, tapi aku berharap dia seperti ayahnya," jawab Bintang penuh harap.
"Tapi itu keren sayang, kalau anak kita punya kekuatan dan bisa melindungi dirinya sendiri itu lebih baik, aku lebih berharap jika dia seperti ibunya," ucap Agra sambil membayangkan hal itu.
"Iya aku tahu, tapi…. Aku tidak mau kalau dia sampai tidak bisa bertahan lama dengan iklim dan udara di bumi," ucap Bintang sambil menunduk.
Agra yang tidak pernah memikirkan hal itu, dia merasa bersalah karena telah salah berbicara, dia merangkul sang istri dengan sebelah tangannya karena sebelah lagi digunakan untuk menahan tubuh baby L, kini dia juga memiliki harapan yang sama untuk Langit kedepannya.
Suasana haru itu berubah saat Agra mendapatkan panggilan telepon yang mengharuskannya pergi sesegera mungkin ke suatu tempat.
"Sayang ada apa?" Tanya Bintang.
"Aku hanya pergi sebentar, kamu diamlah di rumah bersama nenek, aku akan kembali secepatnya," ucap Agra berpamitan, dia bahkan menyempatkan diri untuk mengecup kening baby L.
Bintang mengangguk pelan, dia hanya berdoa supaya semuanya baik-baik saja.
Bersambung….