Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Kebohongan


"Hmm, kebetulan memang kemarin Agra ikut Devan karena sekalian Nek, tapi ternyata Devan ada operasi dadakan, jadi kami diantar sampai ke depan Mansion saja Nek, hehe…," jawab Bintang belasan, maafkan aku Devan karena membawa-bawa namamu, batin Bintang.


"Oh, benar begitu?" Tanya sang nenek lagi.


"Iya Nek," jawab Bintang.


Tak berselang lama akhirnya mereka sampai di parkiran Rumah Sakit, Bintang dan nenek memilih segera masuk meninggalkan langit bersama Fitri dan Deni.


Mereka menuju ruangan yang kemarin ditempati wanita itu, namun ternyata wanita itu tidak ada, apa dia dipindahkan? Pikir Bintang.


Setelah dicek ditanyakan kepada resepsionis, ternyata wanita itu dipindahkan ke Rumah sakit lain oleh keluarganya.


"Mengingat kondisinya yang kemarin, tidak mungkin dia dipulangkan, sepertinya dia memang dipindahkan ke Rumah Sakit lain, apa kita hubungi Agra saja ya?" Tanya nenek Gina.


"Sebaiknya begitu Nek, pasti Agra bisa menemukan wanita itu," jawab Bintang.


Mereka pun berlalu pergi berniat pulang, namun lagi-lagi Bintang melihat Meira, "Nek, aku ke toilet sebentar ya, Nenek duluan aja..!" Ucap Bintang pada sang nenek.


"Baiklah… jangan lama-lama..!" Ucap nenek Gina.


"Iya Nek," jawab Bintang berlalu masuk lagi ke bagian dalam Rumah Sakit.


Dia mencari keberadaan Meira, siapa tahu kan kalau wanita itu sebenarnya masih ada di Rumah Sakit ini dan disembunyikan identitasnya, pikir Bintang.


Bintang mencari Meira, melihat ke semua arah hingga dia bisa menemukan wanita itu sedang duduk menunggu panggilan.


Bintang pun duduk di belakang Meira dengan jarak yang lumayan jauh, dia memperhatikan wanita itu.


Bintang tidak bisa mendengarkan isi pikiran Meira karena terlalu banyak orang disini, yang terdengar nanti pasti suara kebisingan semua orang saja.


Meira masuk ke dalam ruangan pemeriksaan, membuat Bintang merasa heran, "apa dia sedang sakit?" Gumam Bintang.


Namun untuk memastikannya, Bintang akan menunggu Meira dan menanyakannya secara langsung, dia akan mencoba membaca isi hati dan pikiran wanita itu.


Setelah 15 menit berlalu akhirnya Meira keluar, Bintang mengikutinya beberapa langkah lalu menarik tangan wanita itu.


Meira berbalik menghadap Bintang, "kamu, apa-apan sih?" Keluh Meira.


"Hmm, aku hanya perlu menanyakan sesuatu padamu," ucap Bintang.


"Aku tidak punya waktu," jawab Meira kesal.


"Tapi ini cuma sebentar," pinta Bintang.


Meira pun duduk dengan rasa kesal, mau apa lagi sih dia? Aku sudah tidak pernah mengganggu hidupnya, pikir Meira yang jelas terdengar oleh Bintang.


"Tentang kasus pesta kemarin, ada wanita yang mencoba meracuni nenek, apa itu ulah suamimu? Ya .. mengingat dia memang dendam terhadap keluarga kami," ucap Bintang to the point.


"Hahaha, mana aku tahu, dia memang suamiku tapi bukan berarti aku tahu segalanya tentang dia, sudahlah aku mau pulang, aku sibuk," jawab Meira lalu bangkit.


"Tunggu dulu Mey, apa suamimu benar-benar ada diluar negeri?" Tanya Bintang sambil menahan tangan Meira.


"Aku rasa tidak, tapi aku tidak tahu dia ada dimana sekarang," jawab Meira menghempaskan tangan Bintang.


Bintang pun membiarkan Meira pergi, dia merasa kalau Meira memang tidak berkomplot dengan Farhan suaminya, Bintang memilih kembali dan pulang.


"Kamu ko lama sekali sih, apa kamu ada masalah pencernaan?" Tanya nenek Gina.


"Iya Nek, aku sakit perut Nek, maaf ya, hehe…," jawab Bintang sambil tersenyum.


***


Mereka akhirnya sampai di Mansion, ternyata disana sudah ada Devan yang sedang bersama Agra, mereka mengobrol sambil minum teh.


Tiba-tiba Devan datang menggendong Langit, "om bawakan oleh-oleh dari luar negeri buat kamu sayang, emm.. ternyata kamu tumbuh lebih cepat," ucap Devan.


Deg


Bintang terkejut, dia takut kalau sang nenek tahu dia berbohong.


"Wah, terimakasih om baik," ucap nenek Gina kemudian membuka bingkisan itu dan memberikannya pada Langit.


"Kamu baru pulang dari luar negeri Van? Berapa lama kamu disana?" Tanya nenek Gina.


Sementara Bintang mulai cemas dengan pertanyaan sederhana itu namun jawaban Devan sangatlah penting.


"Tiga hari Nek, makanya aku kemarin tidak bisa datang ke acara om Darmaja, tolong sampaikan permintaan maaf saya ya Nek..!" Ucap Devan yang mampu membuat kaki Bintang mendadak lemas.


"Liburan kok tiga hari, sebulan dong Van..!," Ucap sang nenek menggoda Devan.


"Ah Nenek, aku bukan liburan, aku kerja juga Nek disana," jawab Devan.


Devan memberikan Langit pada Bintang, sepertinya Langit ingin ASI karena dia mulai rewel, Bintang membawa Langit ke kamarnya, meninggalkan tiga orang disana yang asyik berbincang-bincang.


***


Keesokan harinya, nenek Gina yang masih menginap di Mansion Agra, dia seperti mengabaikan Bintang, bertanya seperlunya dan menjawab seperlunya.


Bintang tidak mendengar apapun didalam hati dan pikiran neneknya, aku harus bagaimana? Aku juga belum membicarakan hal ini pada Agra, batin Bintang.


Langit diajak ke taman depan sambil disuapin makan oleh nenek Gina, ada Fitri juga disana.


Nenek Gina lebih banyak berbicara dengan Fitri daripada Bintang, membuat Alien Cantik itu merasa sedih.


Aku harus bagaimana? Jika aku jujur, apa nenek akan percaya? Apa dia akan mengusirku dan menolak keberadaan ku? Pikir Bintang.


Nenek Gina melewati Bintang dan dia berkata, "aku tidak suka orang yang berusaha membohongiku dan menipuku, menganggap aku wanita tua yang bodoh."


Deg 


Bintang memegang tangan nenek Gina, menghentikan langkahnya, dia ingin menjelaskan sesuatu.


"Nek, aku minta maaf…, sebenarnya—," ucap Bintang yang masih ragu-ragu, dia bingung, benar-benar merasa serba salah.


Bersambung…