
"Ini Fenina, sekretaris baru Bos, dia yang membantu pekerjaan saya selama Bos tidak ada," jawab Maxim.
"Oh, ada apa?" Tanya Agra kini pada Fenina.
"Saya hanya ingin menanyakan masalah rapat bulanan hari ini Pak," ucap Fenina ragu, dia seakan segan berbicara dengan Bos nya yang terlihat dingin.
"Ok, biar kali ini aku yang memimpin rapatnya," ucap Agra.
Maxim dan Fenina pun keluar dari ruangan Agra, mereka langsung mempersiapkan berkas untuk rapat hari ini.
***
Sebulan berlalu, Fenina sekarang lebih sering mengunjungi Langit, dia begitu menyukai anak kecil, memang tujuan utamanya untuk memberikan beberapa dokumen, namun jika kebetulan ada Langit, tentu dia akan merasa senang dan mengajaknya bermain.
Agra yang melihat momen itu membiarkan Fenina, karena Langit sepertinya nyaman dengan wanita itu, dia bahkan mulai bercerita tentang kegiatannya disekolah pada Fenina, seakan dia terbuka pada wanita itu, padahal pada ayahnya saja dia tidak pernah bercerita sepanjang lebar itu.
"Sayang, lagi apa?" Tanya Agra.
"Lagi cerita aja Pah sama Tante Fenina, lagi curhat, hehe…," ucap Langit sambil tersenyum.
"Emm, Langit… sebaiknya kamu tanya dulu sama Tante Fenina, apa dia punya kesibukan lain, siapa tahu Tante Fenina mau pulang..!" Ucap Agra.
"Tidak apa-apa kok Pak, saya senang dengan anak kecil, Langit juga anak yang menggaskan," jawab Fenina.
"Hmm, hmm…," ucap Lolita yang baru saja datang bergabung dengan mereka.
"Sepertinya Fenina cocok Ga jadi ibu sambung Langit," ucap Lolita yang membuat Agra dan Fenina terkejut.
"Mamah apa-apaan sih, gak enak kan sama Fenina," ucap Agra.
"Ibu sambung itu apa Nek?" Tanya Langit yang penasaran.
"Hmm, Langit sebaiknya kamu mandi sekarang, ini sudah sore, Tante Fenina juga mau pulang, ya kan?" Tanya Agra melirik pada Fenina.
Wanita itu mengangguk dan pamit pada semua anggota keluarga, Fenina merasa tidak enak karena dia sama sekali tidak bermaksud menggantikan ibunya Langit, dia juga tahu kalau ibu Langit sedang pengobatan diluar negeri menurut apa yang dia dengar dari kabar yang beredar luas.
Setelah kepergian Fenina dan Langit pergi mandi, Agra mulai berbicara serius pada ibunya itu.
"Mah, lain kali jangan bicara seperti itu lagi. .!" Ucap Agra.
"Tapi kan Ga, Langit itu butuh sosok seorang ibu, Bintang juga sama sekali tidak memberi kabar, tidak ada kepastian, sementara Langit tumbuh tanpa sosok ibu, Mamah lihat Langit senang dan nyaman bersama Fenina, apa salahnya kamu menikahi dia," ucap Lolita.
Lolita pun mengangguk setuju, setidaknya Langit akan menjadi lebih baik dengan adanya Fenina , dan dengan jawaban Agra ini Lolita tahu kalau Agra masih setia menunggu Bintang.
***
Disekolah Langit akan diadakan acara hari ibu, semua siswa disarankan datang bersama sang ibu ketika hari itu tiba.
Tentu saja Langit merasa bingung, dia sedih karena semua teman-temannya akan datang bersama sang ibu, dia melamun sepanjang perjalanan pulang.
Sesampainya di Mansion, Langit langsung menuju kamarnya, Bahkan dia tidak mendengar sapaan dari nenek Gina, ada apa dengannya? Pikir nenek Gina.
Nenek Gina yang khawatir, dia menghampiri Langit ke kamarnya.
Ceklek
"Langit…," ucap nenek Gina memanggil cicitnya.
"Iya Nek, aku disini," jawab Langit.
"Kamu kenapa sedih begitu?" Tanya nenek Gina.
"Aku tidak bisa membawa ibu keacara hari ibu besok disekolah Nek," jawab Langit sedih.
"Hhmm, sabar ya sayang..! Bagaimana kalau kamu pergi bersama Tante Fenina saja?" Tanya nenek Gina.
"Apa boleh Nek?" Tanya Langit.
"Hmm, boleh sayang, Tante Fenina pasti senang kamu mengajaknya kesekolah," jawab nenek Gina sambil tersenyum.
"Tapi kan Nek, dia bukan ibuku," keluh Langit.
"Gapapa sayang, ibumu kan masih sakit dan belum pulang, biar Tante Fenina yang nemenin kamu, nanti nenek akan menelepon dia, kamu mau ya?" Tanya nenek Gina.
Langit mengangguk.
"Senyum dong, kan besok kamu jadi pergi bersama Tante Fenina..!" bujuk nenek Gina.
Langit pun tersenyum kecil, dia memeluk nenek Gina sangat erat, dia tidak mampu menyembunyikan kesedihannya, tetap saja Fenina tidak bisa menggantikan sang ibu dihatinya.
Bersambung...