Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Baby L


Kania yang mendengar suara berisik, dia keluar dari kamarnya, dia kaget melihat anak gadisnya ditangkap polisi, dia memegang tangan Meira seolah tak rela, dia berusaha menahan anaknya agar tidak dibawa pergi, berbeda dengan suaminya yang tanpa ekspresi melihat kejadian itu di depan matanya.


"Pah tolong Meira dong!" Ucap Kania pada suaminya.


Pak Wira tetap diam, dia tidak bisa melakukan apapun saat ini, dia membiarkan mereka pergi membawa Meira.


Kania bahkan berlari sampai ke mobil polisi itu, menahan pintu mobil yang akan membawa Meira, "mah… tolongin Meira..!" Ucap Meira sedih.


"Iya sayang, kamu pasti baik-baik saja," ucap Kania mencoba menenangkan sang anak, hingga akhirnya Meira dipaksa masuk dan pergi begitu saja.


Kania terduduk ditanah sambil menangis, dia tak kuasa menahan rasa sedihnya, pak Wira membantu istrinya bangkit, "dia akan baik-baik saja mah, biarkan dia merenungi kesalahannya, jangan dimanja terus..!"


"Tapi Pah, dia pasti tidak akan betah tinggal di penjara, kalau Meira sakit bagaimana?" jawab Kania.


"Biar nanti papah pikirkan caranya agar bisa membebaskan Meira, kamu juga harus berusaha menyelesaikan masalah ini, dengan siapa Meira membuat masalah dan Mamah harus mengajak mereka berdamai..!" Pak Wira


Kania mengangguk, dia dipapah oleh suaminya masuk ke dalam rumah.


***


Keesokan harinya mereka datang ke kantor polisi, ternyata pak Wira tidak bisa membebaskan Meira kali ini, bahkan dengan cara curang pun tetap tidak bisa, ternyata mereka berurusan dengan tiga orang sekaligus, Agra, Lolita dan Gina.


Mereka pulang dengan rasa kecewa, "bagaimana ini Pah?" Tanya Kania.


"Papah juga tidak tahu, memang ini kesalahan Meira, ini sudah termasuk pembunuhan Mah, kasusnya berat dan orang-orang yang melaporkannya juga orang-orang berpengaruh, mereka pasti tidak mau Meira sampai lolos, Mamah coba saja bertemu dengan Lolita, bukannya dia sahabat Mamah?" Pak Wira memberikan solusi lain.


"Tapi Mamah malu Pah, bagaimana bisa mamah meminta mereka melepaskan Meira begitu saja, apalagi ini mengenai nyawa," ucap Karin.


"Kalau begitu, mamah ajukan imbalan saja pada mereka ,siapa tahu mereka setuju," usul Pak Wira.


"Mereka sudah kaya Pah, sebaiknya kita cari lawan yang seimbang untuk melawan mereka..!" Ucap Karin.


"Maksudnya?" Tanya Wira.


"Nanti juga papah tahu," ucap Karin yang terburu-buru masuk ke dalam mobil, dia duduk sambil berpikir, dia memainkan ponselnya dan mengabaikan suaminya.


Rencana apa yang Mamah pikirkan? Semoga itu tidak menambah masalah ini semakin rumit, pikir Wira.


***


Sementara di Apartemen Bintang, sudah ada Lolita dan Darmaja, mereka datang untuk menemui sang cucu yang kini telah diberi nama.


"Jadi, siapa nama cucu Oma yang ganteng ini?" Tanya Lolita pada Agra sambil menggendong bayi itu.


"Namanya Langit Mah, karena Bintang begitu menyukai langit dan selalu memandang langit siang dan malam," ucap Agra menjelaskan.


Bintang hanya tersenyum, dibalik senyumnya itu dia menyimpan kesedihan yang mendalam, dia memandang langit bukan karena suka, tapi dia merindukan planetnya, dia merindukan keluarganya, dia ingin kembali ke angkasa menembus langit yang indah, namun itu hanya angan-angan sekarang, karena dia tidak tahu caranya pulang.


Aku tidak apa-apa, aku sekarang juga punya keluarga, ada suami, anak, ibu dan ayah mertua juga nenek, aku hanya berharap ibu dan ayahku disana baik-baik saja, batin Bintang.


"Bagus sekali, nama panggilannya apa dong?" Tanya Lolita.


"Elang Mah," jawab Agra.


"Hahaha, dari langit kok jadi nama burung, yang benar dong Ga..!" Ucap Lolita.


"Iya, kan ELangit, bener kan Mah?" Tanya Agra sambil berpikir.


"EL aja sayang, kan huruf pertamanya memang dari huruf L," Bintang kini bersuara, dia tidak mau anaknya dipanggil elang karena dia lebih suka nama langit, dia lebih suka anaknya dipanggil el saja.


"Nah itu baru bagus, memang Agra tidak pandai memilih nama," protes nenek Gina yang membuat semua orang tertawa kecuali Agra yang diam namun jauh di lubuk hatinya dia tak menerimanya.


Padahal nama elang lebih bagus, burung elang dilangit, pikir Agra.


Bintang yang bisa mendengarnya, dia menatap tajam ke arah suaminya.


"Hmm, iya nama el sangat bagus, lebih bagus daripada elang," ucap Agra yang tidak mau istrinya itu marah.


Membuat nenek Gina tertawa karena sikap Agra yang takut pada istrinya.


Pak Darmaja juga sekarang lebih banyak bicara, bahkan tertawa mengajak main cucunya, membuat Agra sangat bersyukur atas kehadiran buah hatinya yang mampu menyatukan semua keluarganya, membuat suasana yang dulu kaku menjadi harmonis dan hangat.


Bintang juga merasakan kebahagian yang dirasakan suaminya, terpancar jelas dari wajah Agra yang tersenyum tanpa disadari namun dapat terlihat oleh Bintang. Senyuman yang tulus dari hati sang suami.


Tak berselang lama mereka mendapatkan laporan jika Meira telah ditangkap polisi, membuat nenek Gina merasa senang.


"Akhirnya dia ditahan juga, Nenek merasa lega," ucap Nenek Gina sambil mengusap punggung tangan Bintang.


"Iya Nek, syukurlah…," jawab Bintang sambil tersenyum.


"Kalian pindah saja ke mansion Papah, biar Papah bisa liat cucu papah setiap hari..!" Pinta Darmaja.


"Kami nyaman tinggal disini Pah, " jawab Agra.


"Tapi ini tidak adil Ga, Nenek bisa menginap disini dan Mamah gak bisa ikut menginap," keluh Lolita yang tahu jika kamar disini hanya ada dua.


"Mamah kan bisa tidur bersama Nenek..!" Jawab Agra datar, namun Lolita dan Gina saling memandang satu sama lain, mereka enggan tidur bersama, mereka pasti akan canggung sekali.


Namun demi sang cucu, Lolita akhirnya setuju, keputusannya itu membuat semua orang tercengang.


Nenek Gina juga tak mampu menolak karena dia juga merasakan rindu pada baby L, rindu yang sama.


Untuk kesekian kalinya baby L menyatukan orang-orang disekitarnya.


***


Seminggu berlalu, Meira kini bebas dari penjara, kabar itu pun sampai di telinga Agra, membuat nenek Gina murka, "siapa yang berani mengeluarkannya? Berani sekali dia berurusan denganku?" Teriak nenek Gina.


"Nenek tenanglah..! Jangan sampai darah tinggi Nenek kumat," ucap Agra menenangkan sang nenek.


Agra juga merasa marah, dia akan mengurus Meira untuk kesekian kalinya.


Bersambung….