Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Hampir Saja


Hari itu Agra menikmati waktu berkumpul dengan keluarga, dia memerintahkan Maxim untuk mencari tahu tentang Hermawan.


Bintang pergi memasak untuk mengisi waktunya, karena Langit sedang asyik dengan kakek dan neneknya.


Tiba-tiba nenek Gina datang memperhatikan Bintang, wanita itu kaget dengan kedatangan sang nenek yang tiba-tiba hingga membuat jarinya tak sengaja teriiris pisau.


"Aduh…," keluh Bintang.


Nenek Gina yang melihat kejadian itu, dia menyuruh Fitri untuk mengambilkan kotak P3K.


"Tidak usah Nek, ini hanya luka kecil," ucap Bintang.


"Tapi tetap saja harus diobati agar tidak infeksi, darahnya juga menetes," ucap sang nenek.


Bintang mulai khawatir, karena itu hanya luka kecil dan tubuhnya akan mampu menutup luka itu dengan sendirinya, dia tidak memerlukan kotak P3K itu.


Fitri datang dengan kotak itu, Bintang langsung mengambilnya, "Biar aku saja Nek, aku bisa sendiri kok."


Nenek Gina merasa curiga, dia memperhatikan Bintang terus menerus, "ya sudah, coba nenek lihat kamu menggunakan kotak P3K itu sendiri, kalau tidak bisa nanti biar nenek bantu."


Bagaimana ini? padahal lukaku pasti sudah sembuh dan tak berbekas, pikir Bintang.


Nenek Gina langsung merebut jari Bintang yang ditutupi itu, "kamu jangan keras kepala, biar nenek yang obati saja, nenek masih peduli padamu," ucapnya sambil melihat seberapa dalam luka itu.


Betapa terkejutnya nenek Gina melihat tidak ada luka sama sekali di jari Bintang, jarinya mulus, dia membolak-balik tangan Bintang karena merasa tak percaya.


"Kenapa bisa begini? Bukannya tadi ada luka dan mengeluarkan darah?" Tanya nenek Gina.


"Mmm… itu, sepertinya nenek salah lihat, aku juga kira jariku terluka, ternyata tidak, hehe…," Bintang beralasan.


"Jelas-jelas tadi nenek lihat jarimu meneteskan darah, bahkan beberapa tetes, coba jelaskan pada nenek, bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya sang nenek menatap Bintang dengan serius.


Namun kedatangan Lolita membuat Bintang bisa melarikan diri, dia pergi karena Lolita bilang kalau Langit mulai rewel karena ingin ASI, dia sengaja datang untuk memanggil Bintang.


Untunglah, aku selamat, pikir Bintang.


Sementara di dapur, nenek Gina mengomel pada Lolita karena berhasil mengganggunya dan membuat Bintang bisa melarikan diri, namun ibu Agra itu tidak mengerti dengan apa yang diucapkan mertuanya, dia hanya diam tanpa berkata apapun.


Orang tua memang selalu begitu, keras kepala dan selalu seenaknya, menyebalkan, batin Lolita yang kesal pada mertuanya.


****


Sore itu mereka akhirnya pulang meninggalkan Mansion Agra, meski nenek Gina masih penasaran, namun dia terpaksa harus kembali ke Mansionnya untuk melakukan sesuatu padahal dia ingin menginterogasi Bintang malam itu juga.


Bintang menceritakan kejadian di dapur pada Agra, "bagaimana ini? Nenek semakin curiga padaku?"


"Hmm, itu kan bukan kesengajaan, ku rasa besok juga nenek lupa, bukankah orang tua seperti itu?" Tanya Agra.


"Hmm, nenekmu berbeda, dia sangat teliti, dia tidak terpengaruh dengan umurnya yang tua," jawab Bintang, dia masih merasa gelisah dengan nenek Gina yang sekaan menyelidikinya terus.


"Kalau kamu jujur saja, bagaimana?" Ucap Agra yang mampu membuat Bintang kaget.


"Tidak, aku tidak mau, aku pasti langsung diasingkan oleh nenekmu," ucap Bintang dengan yakin.


"Ayolah..! Nenekku tidak sekejam itu," bujuk Agra.


***


Keesokan harinya Agra pergi bekerja seperti biasanya, Bintang dan Langit pun menunggu di Mansion, ingin rasanya dia keluar untuk sekedar berbelanja bahan makanan, namun Agra melarang mereka pergi tanpa dirinya, mengingat Farhan sering melakukan kejahatan kepada keluarga mereka.


Namun kedatangan nenek Gina hari ini membuat mereka bisa pergi keluar Mansion, Agra memberi izin kepada mereka karena nenek Gina memaksa, tentu dengan Boy dan Ben yang ikut juga.


"Kita mau kemana Nek?" Tanya Bintang yang sedikit ragu, dia masih memberi jarak antara dia dan sang nenek karena takut rahasianya terbongkar.


"Bukankah kamu mau berbelanja? Ya kita belanja saja, belanja cemilan untuk Langit, membeli buah-buahan segar, nenek ingin membuat salad buah," jawab nenek Gina.


Bintang mengangguk sambil tersenyum, setidaknya dia tahu kalau dia tidak akan dibawa ke tempat aneh.


Bintang menjadi sedikit gelisah saat bersama nenek Gina, dia takut sang nenek merencanakan sesuatu untuk mengetes dirinya.


***


Selama berbelanja di supermarket tidak ada yang aneh, Bintang pun menikmati waktu berbelanja, dia bahkan menyempatkan mampir di wahana permainan anak, Langit begitu menyukai tempat yang ramai, dia begitu senang.


Setelah beberapa jam berlalu, kaki mereka mulai lemas karena terlalu lama berbelanja, untung saja perut mereka sudah terisi makanan karena mereka menyempatkan makan bersama disana.


"Nenek sepertinya menyerah, kita pulang sekarang ya?" Tanya nenek Gina pada Bintang.


"Ah, iya Nek … aku juga sudah lelah, bahkan Langit sudah tidur, hehe…," ucap Bintang.


"Kamu benar," jawab nenek Gina.


Mereka menuju parkiran, kebetulan mobil mereka ada di luar halaman, tidak diparkir di bagian dalam.


Nenek berjalan perlahan, dia sepertinya kelelahan, tiba-tiba ada pengguna motor yang membawa motor dengan kencang, motor itu mengarah ke badan sang nenek, sekaan motor itu memang sengaja mengincar nenek Gina.


Bintang panik, benar-benar panik, dia terpaksa menggunakan kekuatannya, dia menghentikan waktu, lalu berteleportasi membuat sang nenek dan dirinya kini berada di dalam mobil.


Syukurlah, yang penting nenek selamat, untuk penjelasannya, biarlah itu urusan nanti. Pikir Bintang.


Dia membuat waktu berjalan seperti biasanya, motor itu menabrak pohon, dan nenek juga seakan terkejut, dia berteriak di dalam mobil.


"Tidak …..," ucap sang nenek.


"Nenek kenapa?" Tanya Bintang.


"Bukannya tadi nenek hampir tertabrak motor?" Tanya nenek Gina heran.


"Nenek dari tadi disini, nenek tertidur sebentar, mungkin nenek bermimpi," jawab Bintang.


"Benarkah?" Tanya nenek Gina tidak yakin.


Namun Boy yang sedari tadi di dalam mobil, dia pun merasa heran, "maaf Nyonya, sejak kapan kalian ada di dalam mobil?".


Deg


Oh astaga aku melupakan dia, bagaimana ini? Pikir Bintang.


Bersambung …..