
Meira yang enggan masuk ke kamar pengantin, dia memaksakan dirinya, dia langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang cukup tertutup, baju tidur dengan lengan dan baju panjang.
Aku harap dia merasa kelelahan dan tidak membahas tentang malam pengantin, batin Meira.
Ceklek
Ternyata pintu terbuka, membuat jantung Meira berdetak lebih kencang, bukan karena dia senang dan merasakan debaran cinta, namun dia gelisah bercampur takut.
"Lepaskan! Kenapa kau terus memaksaku? Bukankah aku bilang aku belum siap?" Teriak Meira saat tangannya ditarik oleh Farhan.
"Haha, aku suamimu, aku berhak atas semua milikmu, karena milikmu itu milikku juga," ucap Farhan sambil tertawa , dia terus mendekat pada Meira hingga membuat wanita itu terpojok di dinding.
Di luar dugaan, Farhan tidak sebaik dan sepolos wajahnya, dia memperlakukan Meira bukan seperti memperlakukan seorang istri, namun dia melakukan malam pengantin itu dengan sesuka hati tanpa memikirkan perasaan Meira, tanpa memperdulikan rasa sakit Meira.
Sepertinya ini adalah malam yang paling mengerikan yang pernah aku alami, ini lebih buruk daripada seminggu menginap di penjara, pikir Meira.
Kini dia terbaring lemah diranjang, ditariknya selimut itu, dia menangis dalam diam.
***
Kehidupan Bintang dan Agra semakin berwarna setelah kehadiran Langit, mereka menjadi lebih sibuk, mereka sangat tidak sabar melihat Langit tumbuh besar.
"Sayang kau beli apa? Apa itu mainan untuk Langit?" Tanya Bintang.
"Iya aku membelikannya sepedah agar nanti aku bisa mendorongnya dan mengajarinya bermain sepeda sampai pandai," jawab Agra sambil mengelus-ngelus sepeda itu.
"Kamu ini, sekarang saja Langit belum bisa merangkak, masa sudah kamu suruh naik sepedah sih…," protes Bintang.
"Ini buat nanti sayang, aku hanya tertarik ingin membelinya setelah melihatnya, lucu saja ketika aku membayangkan Langit naik diatasnya, memangnya kamu tidak sepertiku? Buktinya banyak baju-baju Langit yang besar bahkan untuk usia satu dan dua tahun di lemari," jawab Agra.
"Hmm, itu kan baju, lagi pula pasti terpakai dan hanya dalam hitungan bulan saja kok," jawab Bintang yang membela diri.
"Jangan bertengkar, kalian sama saja, makanya kalian berjodoh," ucap nenek Gina yang sebenarnya dari tadi telah mendengar percakapan mereka.
"Hehe, iya nenek benar juga, Nenek mau kemana dengan koper-koper itu?" Tanya Agra.
"Nenek mau pulang ke mansion, rasanya sudah terlalu lama nenek menginap, nenek tidak mau mengganggu waktu kalian," nenek Gina.
"Nenek, padahal aku lebih senang nenek ada disini," ucap Bintang.
Nenek Gina hanya tersenyum, dia tidak akan merubah keputusannya, yang pasti dia akan datang menjenguk bayi tampan itu sesering mungkin.
"Nenek juga senang tinggal bersama kalian," jawab Nenek Gina lalu memeluk Bintang dan berniat pulang hari itu.
Bintang juga tidak bisa melarang nenek Gina dan dia juga tidak bisa tinggal di mansion itu lagi, dia lebih nyaman tinggal di Apartemennya meski tidak besar, namun baginya cukup dan Apartemen itu menyimpan banyak kenangan selama dia tinggal dibumi.
Tiba-tiba bel pintu berbunyi, Fitri membukakan pintu karena dia melihat wanita yang dia kenal.
Ceklek
Semua orang memandang ke arah pintu, mereka pikir akan ada Lolita dan Darmaja yang datang mengingat tidak banyak keluarga yang akan datang berkunjung, namun betapa terkejutnya mereka saat melihat dua orang itu masuk.
Nenek Gina memandang dengan tatapan tajam, apalagi pada lelaki itu, "Nenek pulang dulu ya, disini tiba-tiba rasanya panas sekali," ucap sang Nenek lalu mencium kening cicitnya, berjalan melewati dua tamu yang tak diundang itu.
Sudah lama aku tidak melihatnya, kenapa dia muncul disini? Biarlah, aku tidak mau tensiku naik cuma gara-gara dia, batin Nenek Gina yang kini sudah berada di lift untuk turun ke lantai bawah.
Sementara suasana di dalam Apartemen tampak mencekam, "ada apa kau kemari?" Tanya Agra.
"Haha, harusnya kamu senang mendapatkan kunjungan dariku, aku membawa kado untuk bayimu, iya kan sayang?" Tanya Farhan pada Meira.
Meira mengangguk pelan, Bintang melihat keanehan dari sikap wanita itu, dia kenapa? Tidak biasanya dia pendiam seperti itu, batin Bintang.
Mereka mengeluarkan dua kado yang terbungkus rapi, "ini kado untukmu, bukan untuk papamu, karena pasti tak akan kuat, hmm…," ucap Farhan sambil mendekat ke arah Langit.
Tangan Agra refleks menghalangi Farhan menyentuh buah hatinya sebagai perlindungan diri.
"Tenang saja, aku hanya memberikan kado saja, aku bukan pengecut yang hanya berani pada anak kecil," ucap Farhan.
Ternyata dia lebih menakutkan dari yang aku pikirkan, batin Meira yang bisa didengar oleh Bintang.
Bintang menunggu isi hati Farhan, namun ternyata lelaki itu tidak mengatakan apapun.
Agra masih menatap dengan waspada, dia enggan berbicara banyak pada lelaki itu.
"Seharusnya ada ucapan terimakasih yang aku dengar," ucap Farhan.
"Terimakasih kadonya," ucap Bintang yang mewakili Agra, dia tahu kalau Agra tidak akan mengatakannya.
Meski sikap Agra menunjukan ketidaksukaannya namun dua tamu itu tampak nyaman dan tidak berniat pulang, sementara Agra bingung cara mengusir mereka, haruskah aku mengusirnya dengan cara menyeret mereka keluar? Pikir Agra.
Namun Bintang menggelengkan kepalanya, dia tidak mau memperkeruh suasana.
Hingga dua puluh menit berlalu akhirnya mereka pamit, aku tidak suka melihat dia bahagia, aku pastikan dia mengalami apa yang aku alami, ucap Farhan di dalam hatinya.
Deg
Apa maksudnya? Aku jadi ingin tahu masa lalu mereka? Apa ada kesalahpahaman yang terjadi? Pikir Bintang.
Bersambung ….