Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Makan Bersama


Saat tangan kecil Bintang menyentuh pipi Agra, lelaki itu merasakan sensasi lembutnya tangan gadis itu, bahkan bisa mencium wangi dari tangan Bintang, membuat jantungnya berdetak lebih kencang.


Deg


Agra mulai membuka matanya secara tiba-tiba, dia langsung terduduk dan membuat Bintang terjungkal ke belakang karena terkejut, gadis itu seperti maling yang ketahuan mencuri.


"Kamu lagi ngapain?"tanya Agra yang pura-pura tidak tahu.


"Sa-saya tidak sedang melakukan apapun, saya hanya berniat memebangunkan Bapak, tidur di sofa kan tidak enak bisa bikin badan pegal-pegal juga," ucap Bintang dengan alasannya.


"Oh, ya sudah tunjukan kamarku!" Ucap Agra lalu berdiri.


"Apa?" Ucap Bintang dengan nada tinggi, dia benar-benar tidak habis pikir dengan bos nya itu.


"Hmm, aku hanya bercanda, aku akan pulang, dan aku harap besok kamu dapat bekerja lagi jika masih membutuhkan pekerjaan itu!" Ucap Agra berlalu pergi dari Apartemen Bintang, sementara gadis itu masih mematung karena merasa dipermainkan oleh Bosnya.


***


Pagi itu Bintang bangun kesiangan, ponselnya menampilkan banyak sekali panggilan tak terjawab dari Agra, dia seharusnya datang ke rumah Agra sejak pukul 5 pagi.


Astaga, aku benar-benar lupa kalau harus mengurusnya seperti bayi. Pikir Bintang 


Dia mencoba mengirim pesan dan mengatakan jika dia masih sakit, dia izin lagi, jikapun Agra memecatnya, dia bisa bekerja sebagai karyawan biasa di sana atau mencari jalan lain agar bisa bertemu dengan lelaki dingin itu.


Bodo amat deh, aku lagi malas berurusan dengan lelaki itu hari ini, Batin Bintang.


Dia mulai tertidur lagi, Bintang membiarkan perutnya yang lapar dan memilih tidur kembali. Cahaya matahari kini menembus jendela kamarnya, dia memaksakan diri untuk mencuci muka, menggosok gigi dan pergi untuk sarapan yang bahkan bukan sarapan lagi, sudah waktunya makan siang.


Bintang makan dengan lahapnya, dia mencoba mengambil air yang tak terjangkau, dia menggerakkan gelas itu namun gelas itu hanya bergeser 3 centimeter saja.


"Ayolah..! Aku haus," keluh Bintang menatap gelas yang tak mau bergerak lagi, Bintang berdiri dan langsung mengambil gelas itu dengan tangannya sendiri, tanpa menggunakan kekuatannya lagi.


"Kenapa sih? Apa kekuatanku hilang karena telat sarapan? Atau aku butuh sentuhan lelaki itu lagi? Ya ampun sepertinya aku tidak bisa menjauh darinya," keluh Bintang lalu dia melangkah dengan lesu menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya dan memikirkan cara agar bisa bertemu dengan Bos nya itu, dia menyesal karena hari ini tidak masuk kerja.


Pucuk dicinta yang pun tiba, ada pesan dari Agra yang masuk ke ponsel Bintang.


(Cepatlah datang ke restoran xxxx jika kau masih ingin tetap bekerja sebagai sekretaris ku!) Bos Menyebalkan


(Siap Bos.) Bintang


Bintang segera mengganti pakaiannya, dia tidak berani berteleportasi karena takut jika dia malah nyasar ke tempat yang salah bahkan tidak dikenalnya.


Siang itu Bintang pergi menggunakan taksi dan akhirnya sampai di Restoran yang ditujunya. Dia bisa melihat Agra yang sedang duduk dengan segelas minuman, dia terlihat sedang menunggu seseorang. Apa dia menungguku? Atau dia menunggu klien dan tidak mau menghadapinya sendirian? Batin Bintang.


"Duduklah..!" Agra memberi perintah dengan menggerakan jari telunjuknya.


"Iya Tuan," Bintang pun duduk dengan rasa bingung, dia tidak tahu sebenarnya itu acara apa.


Bintang disuruh memilih menu makanan yang dia mau pesan, mereka pun makan bersama, tanpa kata dan tanpa obrolan apapun, Agra begitu fokus pada makanannya.


Apa hari ini aku bisa menyentuhnya? Batin Bintang sedang gelisah.


Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh tangan Bintang, menariknya agar bisa menjauh dari tempat duduk yang seharusnya miliknya.


"Sedang apa kau disini? Ini kan acara makan kita bertiga," tanya Meira dengan tatapan kesal.


"Sudahlah, aku yang menyuruhnya kemari, aku tahu kalau kalian akan terlambat datang." Agra


"Meira kan harus tampil cantik dan sempurna di depanmu Ga, jadi dia harus berdandan dulu," Ucap Kania, ibu Meira.


"Hmm, iya Tante, tapi aku tidak suka membuang waktuku yang berharga." Jawab Agra dengan ketus, dia sebenarnya tidak mau datang kesini, tapi sang ibu memaksanya.


"Bintang, kamu duduk disini saja..!" Ucap Agra pada Bintang dan menunjukan kursi di sebelahnya.


Namun Kania yang tidak mau sekretaris Agra itu mendekati calon menantunya, dia memilih duduk di dekat Agra bersama sang anak, sementara Bintang duduk di seberang Agra.


Padahal aku hanya ingin menyentuhnya untuk mengembalikan kekuatanku, aku sama sekali tidak tertarik dengan lelaki sepertinya. Pikir Bintang kesal melihat tingkah kedua wanita yang kini ada dihadapannya.


Dua wanita itu seperti mencari muka, bahkan mereka tak henti-hentinya saling memuji agar Agra tertarik masuk ke dalam keluarga mereka.


Ck, mereka ini berisik sekali. Batin Agra


Bintang yang mulai tidak nyaman, rasanya dia ingin pergi, namun tidak bisa karena Agra memperhatikannya, dia tidak mau kalau sampai dipecat, dia masih membutuhkan pekerjaan ini, maksudnya dia masih membutuhkan sentuhan Bos nya itu, karena kalau mengenai uang, Bintang tidak kesulitan sama sekali.


Bintang yang dihina, kini mulai geram, dia seperti wanita yang miskin yang membutuhkan pekerjaan, dia seperti wanita yang minim pendidikan, padahal dia adalah dosen yang terkenal di kampus.


"Maaf ya Bu, saya masuk ke perusahaan dengan kerja keras saya, dengan kemampuan saya, dari cara ibu membicarakan saya, menuduh tanpa bukti, sepertinya anda merasa terancam dengan kehadiran saya yang memang jauh lebih baik dari anak anda, hmm…," ucap Bintang dengan percaya diri, membuat Karin emosi dan bertindak barbar.


Namun Meira yang tidak mau merasa malu karena tingkah ibunya, dia pergi membawa ibunya menjauh dari keramaian terutama dari Bintang yang telah membuat ibunya naik pitam.


Agra hanya tersenyum singkat mengagumi gadis cantik pemberani di hadapannya.


Kenapa dia semakin membuatku penasaran? Batin Agra.


Bersambung…