
Disebuah rumah yang sederhana, Bintang berbarig lemah diatas ranjang, dia bangun kemudian duduk ditepi ranjang.
"Ini Nak, minumlah dulu..!" Ucap Bu Wati.
"Terimakasih Bu, saya ada dimana?" Bintang kebingungan mendapati dirinya bukan di Apartemen yang ada dibayanngannya saat berteleportasi.
"Kamu gak usah khawatir, disini aman kok, tadi Ibu sama Bapak gak sengaja melihat kamu yang pingsan, lalu kami membawa kamu pulang, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Bu Wati.
"Saya hanya sedikit lemas saja Bu, terimakasih karena sudah menolong saya," ucap Bintang dengan tulus, dia teringat jika dia memang salah tempat saat berteleportasi menggunakan kekuatannya yang lemah, dia juga teringat ponselnya, namun ternyata dia tidak bisa menemukan ponsel itu di sakunya.
"Bu, apakah Ibu melihat ponsel saya?" tanya Bintang.
"Tidak, apa mungkin terjatuh?" Jawab Bu Wati yang malah balik bertanya kepada Bintang.
Bintang mencoba mengingat kejadian sebelumnya namun tidak mengingat sesuatu lagi tentang handphonenya, dia kini pasrah menunggu sampai bisa ditemukan oleh Agra sang suami.
"Bu, apa disini ada kendaraan yang bisa membawa saya pulang?" Tanya Bintang.
"Tidak Nak, paling hanya sepedah itu, disini itu pedesaan terpencil, rumah kami dengan tetangga pun berjauhan, sangat sulit untuk sampai ke kota, kami pun hidup disini hanya mengandalkan hasil panen, kolam ikan juga, kami juga beternak ayam, itik dan kambing," jawab Bu Wati.
Astaga, bagaimana ini? Keadaanku yang lemah dan sedang hamil, aku tidak memungkinkan untuk pergi jauh, apalagi hanya dengan sepedah itu.
Bintang termenung, dia benar-benar membutuhkan sentuhan suaminya, dia butuh energinya kembali.
***
Seminggu berlalu, Bintang yang semakin lemah hanya bisa berbaring ditempat tidur, dia bed rest selama kehamilannya ini, meski dia malu karena merepotkan bu Wati dan suaminya, tapi dia tidak punya pilihan lain, bu Wati juga memaklumi keadaan Bintang yang lemah dengan kehamilan mudanya.
Aku begitu senang melihat pasangan suami istri ini, meski hidup sederhana tapi mereka terlihat bahagia, mereka tidak sepertiku yang bergantung pada ponsel, mesin cuci, kulkas, mereka benar-benar menikmati hidup mereka berdua, batin Bintang.
"Aku semakin merindukannya," guamam Bintang pelan membayangkan suaminya.
Karena bu Wati belum dikaruniai anak di usianya yang sudah menginjak 45 tahun, dia begitu tulus merawat Bintang, menganggapnya sebagai anaknya sendiri.
"Kamu beruntung Nak bisa mengandung, kamu harus menjaganya dengan baik, kamu tidak usah membantu ibu, ibu sudah terbiasa bekerja sendiri, kamu diam saja karena ibu juga tahu kehamilan kamu lemah..!, badanmu juga sepertinya belum membaik, tapi disini memang tidak ada dokter, jika sakit ya.. harus ke kota, sabar dulu ya Nak..!" ucap bu Wati sambil melihat ke arah Bintang yang sedang berbaring.
"Iya Bu, terimakasih karena selama ini telah menjaga saya," ucap Bintang sambil tersenyum, dia bersyukur bisa dipertemukan dengan manusia yang baik hati.
Bu Wati mengangguk pelan dan tersenyum memandang Bintang.
***
Sementara di sebuah Apartemen, Agra berbaring sambil memeluk guling, sudah satu Minggu ini dia tidak nafsu makan ataupun melakukan aktivitas seperti biasanya.
"Ga, kamu harus makan! Kalau kamu sakit gini, terus siapa yang berjuang mencari istrimu?" Ucap Devan menasehati temannya sebagai seorang teman bukan dokter, meski dia baru saja memeriksa keadaan temannya itu atas permintaan nenek Gina yang mengkhawatirkan cucunya.
Dia hanya minum beberapa gelas teh manis hangat dan beberapa lembar roti saja, dia seperti yang sedang kehilangan arah dan tujuan hidup tanpa kehadiran istrinya.
"Iya aku tahu, tapi sebaiknya kamu makan dulu, lalu kita cari Bintang bersama-sama..!" Bujuk Devan.
"Aku tidak mau makan, belum ada kabar baik dari orang-orang ku," jawab Agra menolak.
"Tapi Ga, kamu juga harus berjuang sama seperti istrimu yang mungkin diluar sana sedang berjuang bertahan hidup agar bisa bertemu denganmu." Devan
Agra bangkit setelah mendengar lerkataan Devan, dia akhirnya mau makan dan setelah itu dia pergi ke parkiran untuk mulai mencari istrinya dengan kekuatannya, mengandalkan dirinya sendiri.
Devan ikut, bahkan dialah yang menyetir mobil karena khawatir dengan keadaan Agra yang masih lemas.
"Apa aku bisa menemukannya? Ini sudah seminggu berlalu," gumam Agra pelan.
"Kamu harus optimis Ga! Kamu gak boleh menyerah sebelum menemukannya, entah dalam keadaan selamat atau… hmm," ucap Devan yang tidak tega jika harus melanjutkan ucapannya yang mungkin saja akan membuat temannya itu semakin sedih, tapi bukankah kita harus mempunyai pemikiran dengan berbagai kemungkinan?.
"Iya, aku mengerti," jawab Agra.
Agra melihat ke arah ponselnya terus menerus, berharap ada info tentang istrinya, sementara Devan menyetir ke arah sekitar jurang, dimana Bintang menghilang, titik dimana terakhir kali ponsel Bintang terdeteksi.
Namun ternyata jalanan sangat macet, membuat Agra ketiduran di mobil.
"Semoga saja tidak ada kabar buruk, baru kali ini aku melihat Agra kembali percaya pada wanita, bahkan membina rumah tangga dengan banyak impian dimasa depan," ucap Devan sambil memperhatikan Agra yang tertidur pulas dari kaca spion.
Menyebalkan, bahkan ini sudah satu jam berlalu, kenapa masih macet? Keluh Devan dalam hati.
"Bintang….," Teriak Agra yang mengagetkan Devan.
"Astaga, kamu bikin kaget aja," protes Devan.
"Hah, hah…, aku mimpi tentang dia, Ayo sebaiknya kita ke tempat dimana ada air terjun di sekitar tempat kemarin..!" Agra bahkan berkeringat karena mimpinya itu.
"Kemarin?, Dekat jurang?" Tanya Devan.
"Iya daerah terpencil setelah tempat itu, pokoknya kita cari lebih jauh lagi!" Perintah Agra.
"Baiklah, tapi kita tunggu sampai antrian mobil ini berakhir," ucap Devan menatap ke depan yang masih berjejer panjang mobil-mobil yang bahkan berisik karena saling membunyikan klakson.
"Kita terjebak macet? Astaga," keluh Agra yang seperti orang frustasi, dia mengacak-ngacak rambutnya, aku berharap kamu benar-benar ada disana seperti di dalam mimpiku, batin Agra.
Bersambung ….