Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Meira Bebas


Meira kini berada di rumahnya, meski dia telah bebas tapi dia tidak merasakan kebahagiaan.


Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk, kamar yang begitu dia rindukan karena selama seminggu terakhir dia hanya tidur dilapisi tikar tipis, kulitnya pun tidak terawat, berat badannya menurun meski itu hanya berlangsung selama seminggu.


Ceklek


Karin masuk perlahan, dia menghampiri Meira, dia duduk di sisi ranjang, "makan dulu Mey..!" Ucap Karin sambil mengelus rambut anaknya itu.


"Aku tidak lapar Mah," jawab Karin.


"Nanti kamu sakit, apa kamu gak rindu sama masakan Bi Rani yang enak-enak?" Karin mencoba membujuk anaknya itu.


"Nanti aja Mah,"  jawab Meira yang malas, dia hanya ingin berbaring saja tanpa melakukan apapun.


"Yaudah, nanti kamu makan ya, jangan sampai kamu sakit..! Mamah mau lanjutin kerjaan Mamah dulu," ucap Karin berlalu pergi, dia harus memberikan waktu pada anaknya.


***


Malam pun tiba, Meira sudah mau makan, dia bahkan melakukan ritual mandi yang lama saat sore hari, dia mandi sambil memikirkan perkataan sang ayah.


Kini dia duduk di balkon, "apa kebebasanku harus ditukar dengan kebahagiaanku?" Gumam Meira pelan.


Sebelum dia dibebaskan, ayahnya memberikan syarat pada Meira, gadis itu harus menikah dengan pria yang membebaskannya, tentu saja Meira tidak mau, karena dia hanya menginginkan Agra, namun dia terpaksa menyetujuinya karena tidak punya pilihan lain.


Pak Wira bilang jika pria itu pria kaya dan berkuasa, maka akan sangat menguntungkan jika dia mendapatkan menantu lelaki sepertinya.


Lelaki itu bernama Fandi, dia adalah anak dari pengusaha sukses bernama Hermawan (adik tiri Darmaja). Meira tidak pernah mengenal sosok lelaki itu, dia tidak mau dijodohkan karena menurutnya Agra lebih baik dari Fandi.


Tiba-tiba Karin menghampiri Meira, dia berpesan jika akan ada tamu penting dan menyuruh anak satu-satunya itu bersiap-siap.


"Apa yang datang adalah keluarga lelaki itu Mah? Aku tidak mau menemui mereka," ucap Meira kesal.


"Jangan gitu dong sayang, nanti papamu marah, lagi pula setidaknya kamu harus memberikan ucapan terimakasih pada mereka karena telah membebaskanmu..!" Karin mencoba membujuk anaknya, dia tidak mau melihat suaminya nanti memarahi sang anak sementara dia tidak bisa membantu membela dan melakukan apapun.


Meira mengalah, dia berganti pakaian dan memoles sedikit wajahnya, dia keluar dari kamar dengan rasa malas saat diberi tahu kalau tamu itu telah tiba.


Saat dia melihat lelaki yang dijodohkan dengannya dia semakin kesal, Dia terlihat tua, dia lebih pantas jadi ayahku, keluh Meira dalam hati.


Dia duduk dengan senyum terpaksa, namun ada lelaki yang baru datang, sepertinya dia ikut menumpang ke toilet sebentar, usianya tidak beda jauh dari Agra.


"Maaf saya terlambat," ucap lelaki itu kemudian ikut bergabung bersama mereka, disana juga telah ada Wira dan Karin.


Jadi yang mana yang akan jadi suamiku? Batin Meira.


Meira tampak diam, Karin menyenggol lengan sang anak gadisnya.


"Eh iya Mah," jawab Meira.


"Kamu jangan banyak ngelamun Mey..!" Bisik Karin.


***


Sementara di tempat lain ada sang ayah yang dibuat kerepotan, dia baru saja ingin merebahkan tubuhnya namun ternyata sang istri memintanya bergantian menjaga baby L.


Bukannya ada Fitri disini yang bisa menjaga dia? Batin Agra.


"Hmm, dia anakmu Ga, dia juga ingin dijaga oleh ayahnya, ditemani oleh ayahnya, bukankah kamu mau menjadi sosok Ayah yang hangat?" Jawab Bintang yang bisa mendengar keluhan sang suami, dan Agra lupa dengan kemampuan istrinya itu.


"Hehe, iya maaf sayang…," Agra.


Bintang yang lapar, dia mengisi perutnya terlebih dahulu, dia makan dengan buru-buru karena dia tidak mau meninggalkan bayinya terlalu lama.


"Pelan-pelan makannya..!" Ucap nenek Gina yang baru keluar dari kamarnya.


"Iya Nek, hehe…," Jawab Bintang, namun masih saja makan dengan cepat, membuatnya tersedak dan langsung minum.


Nenek Gina menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Bintang, "kamu makan saja dengan tenang, serahkan Baby L pada nenek, Agra dan Fitri..!" Ucap Nenek Gina yang berharap Bintang bisa makan lebih tenang dan menikmati waktu istirahatnya.


Namun tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh dan pecah dari arah kamar, membuat dua wanita itu membulatkan matanya dan berlari menuju kamar.


Bintang melihat pecahan gelas di bawah sana, terlihat suaminya itu sedang membersihkan pecahan kaca itu.


"Biar saya saja tuan yang membersihkan," ucap Fitri yang baru saja datang.


Bintang mendekati Agra, "kamu kenapa sayang?" 


"A-aku gakpapa…," jawab Agra, namun matanya seolah sedang berada ditempat lain, dia menjawab namun tidak fokus pada wajah Bintang.


Dia kenapa?, aneh sekali, Pikir Bintang.


Agra terlihat melamun, dia seperti syok dan mendapatkan kabar buruk.


Bersambung ….