
"Apa-apaan ini Ra? Mengapa wanita gila ini yang kamu pilihkan untukku?"
Masih dalam posisi berdiri dan dalam keadaan terkejut setengah mati, Hiro berteriak lantang sembari menunjuk-nunjuk ke arah Hana. Suaranya terdengar menggelegar dan memenuhi langit-langit ruangan yang seakan menjadi tanda jika lelaki itu benar-benar terkejut tiada tara. Bahkan bukan hanya keterkejutan saja, kilatan amarah terlihat jelas di netra lelaki itu.
"Hei, apa kamu bilang? Wanita gila? Siapa yang gila? Jangan-jangan kamu yang gila. Karena biasanya orang gila itu teriak gila kepada orang lain," timpal Hana yang mulai beranjak dari posisi duduknya. Kini ia berdiri tegap untuk berhadapan langsung dengan lelaki ini.
"Jelas kamu yang gila. Bermain sepatu sampai mengenai kepala security. Ingat, hanya orang gila yang melakukan hal semacam itu," jawab Hiro yang tidak ingin kalah. Apalagi kalah di depan wanita ini. Sungguh hal itu akan menjatuhkan harga dirinya.
"Itu karena kamu. Kamu yang sudah membuat patah kacamataku dan tidak mau menggantinya. Dasar lelaki tidak berakhlak dan tidak bertanggung jawab!"
Dua orang yang sebelumnya sudah saling bertemu itu masih saja terlibat dalam sebuah perdebatan yang entah kapan akan berakhir. Sampai-sampai mereka tidak menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang menatap mereka dalam tatapan penuh tanya. Siapa lagi jika bukan Nara.
Nara hanya bisa menatap dua manusia yang tengah ribut ini dengan sejuta pertanyaan yang muncul di dalam benak. Bahkan dari gestur sang kekasih dengan sahabatnya ini seperti menandakan bahwa keduanya memang sudah kenal lama.
"Stop, hentikan semua!" teriak Nara mencoba untuk mengakhiri perdebatan antara Hana dan Hiro. Benar saja, dua manusia yang tengah berdebat itu seketika membungkam mulut masing-masing.
Nara membuang napas lega. Pada akhirnya, keadaan yang sebelumnya terdengar begitu riuh dengan pertengkaran, kini kembali tenang dan hening.
"Sayang, duduklah!" titah Nara kepada Hiro. Wanita itu beralih untuk menoleh ke arah Hana. "Kamu juga silakan duduk kembali, Han."
Merasa sedikit lelah karena energi mereka terforsir untuk berdebat, Hana dan Hiro menuruti perintah Nara. Keduanya duduk di bangku masing-masing yang sudah tersedia.
"Ra, jika yang kamu maksud wanita inilah yang akan menikah denganku, sekali lagi aku tegaskan bahwa aku tidak mau. Aku sungguh tidak sudi menikah dengan wanita ini!" ucap Hiro membuka pembicaraan.
Hana hanya memandang sinis wajah lelaki ini. Bahkan sebelah bibirnya terangkat dan wajah wanita itu benar-benar terlihat sinis sekali.
"Idiihhh .... siapa juga yang mau menikah sama kamu? Daripada menikah sama kamu, mending aku menikah sama kucing!" seloroh Hana tak ingin kalah. Ucapannya ini sontak membuat Hiro semakin menampakkan wajah sinisnya.
"Ini sebenarnya ada apa? Mengapa aku lihat kalian seperti sudah saling mengenal? Apakah kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Nara yang nampaknya sudah tidak tahan dikungkung oleh rasa penasaran. Sedangkan Hana dan Hiro masih memilih untuk bungkam.
Dahi Nara berkerut dalam saat melihat tidak ada satupun antara Hiro dan Hana yang membuka suara. Bahkan melalui sorot mata dua manusia ini sama-sama memancarkan raut wajah kesal. Hal inilah yang membuat Nara semakin pusing saja.
"Sayang, coba ceritakan. Ada apa ini sebenarnya?" titah Nara kepada sang kekasih.
Hiro hanya bisa mengusap rambut dan wajahnya kasar. Dan lirih ia berkata, "begini ceritanya!"
***
"Ahahaha ... jadi seperti itu ceritanya? Astaga, sungguh tidak terduga ya!"
"Ya seperti itulah ceritanya. Sekali lagi aku tegaskan kepadamu Ra, aku tidak mau menikah dengan wanita gila ini. Lebih baik kamu mencari calon lain saja!"
Hiro sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ia harus menikah dengan wanita bernama Hana ini. Wajahnya sungguh tidak cantik sama sekali apalagi ada kacamata yang menghiasi. Postur tubuhnya pun juga tidak masuk ke dalam kriterianya sama sekali. Di matanya, Hana persis seperti seorang wanita yang tidak pandai merawat diri.
Hana masih berupaya untuk menahan amarahnya meskipun rasa-rasanya sudah berkumpul di ujung kepala. Namun ia harus bisa menjaga sikap agar tidak terlihat begitu rendah di depan Hiro dan Nara. Ia akan mengikuti kemana alur pembicaraan ini.
"Tunggu sebentar Ro, apa yang membuatmu tidak mau menikah dengan Hana? Dia sahabatku sewaktu SMA, jadi aku tahu persis jika Hana adalah wanita baik-baik. Akupun juga yakin jika kakekmu bisa menerima Hana," ucap Nara memberikan sebuah pemahaman kepada kekasihnya ini.
"Dia ini selain perilakunya yang aneh, wajahnya pun juga jelek sekali, Ra. Apa kamu tega, membiarkan aku bersanding dengan itik buruk rupa seperti ini? Aku malu Ra. Malu di depan relasiku!" teriak Hiro, meluapkan isi hatinya.
"Hei, jaga mulutmu ya. Jika aku itik buruk rupa, kamu sendiri apa? Dasar sok kecakepan. Padahal kamu itu persis seperti kodok kudisan!" timpal Hana yang juga tak mau kalah untuk ikut mengejek lelaki menyebalkan ini.
Jika sudah berbicara tentang fisik, rasa-rasanya Hana tidak terima. Di matanya, menghina sesama manusia, sama dengan menghina ciptaan Tuhan. Padahal setiap manusia itu sudah diciptakan dalam bentuk dan rupa yang paling sempurna.
"Hahaha ... Sudah ya, tenang semuanya, tenang!" Nara menautkan pandangannya ke arah Hiro. "Ro, sebenarnya aku memilih Hana untuk menjadi istri kontrakmu bukan tidak beralasan. Aku bisa mencarikanmu wanita yang jauh lebih cantik, tapi pilihanku jatuh kepada Hana."
Dahi Hiro mengernyit. "Maksud kamu? Jika kamu bisa mencarikan wanita yang jauh lebih cantik, mengapa tidak kamu pilihkan wanita cantik itu untukku? Mengapa malah justru itik buruk rupa ini?"
Hiro sungguh tidak habis pikir jika Nara malah justru memilih Hana. Padahal wanita itu tidak menarik sama sekali. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana malunya dia jika semua relasinya bertemu dengan itik buruk rupa ini.
Hana hanya bisa mengurut dada. Sekuat tenaga ia mencoba untuk tidak memberikan ruang bagi emosi yang sudah meletup-letup di dasar hati. Ia harus berhati-hati. Sedikit saja ia melakukan kesalahan, hal ini pasti akan merugikan dirinya. Mau kemana lagi ia akan mendapatkan bantuan biaya rumah sakit untuk sang ayah.
Sungguh, panggilan itik buruk rupa benar-benar merendahkan harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita. Ingin rasanya Hana membungkam mulut Hiro dengan sampah karena ucapan-ucapan lelaki ini sudah persis seperti sampah. Namun, susah payah harus ia pendam sendiri ketika sadar jika ia harus mengikuti alur permainan ini.
Nara tersenyum penuh arti. Ia tatap lekat wajah Hiro dan Hana secara bergantian. "Aku memilih Hana untuk menjadi istri kontrakmu karena hal itu tidak terlalu beresiko Ro!"
"Beresiko? Beresiko apa lagi Ra? Please jangan bertele-tele seperti ini!" ucap Hiro mengingatkan.
Nara menyunggingkan seutas senyum di bibirnya. Saat ini ia harus bisa bersikap santai agar misinya ini bisa berjalan sesuai dengan rencana.
"Dengan menjadikan Hana sebagai istri kontrakmu, aku yakin bahwa kamu tidak akan pernah jatuh cinta kepada Hana. Jadi aku memilih Hana yang wajahnya biasa-biasa saja bahkan di bawah standar ini, karena aku yakin jika Hana bukanlah wanita yang sesuai dengan kriteriamu yang bisa membuatmu jatuh cinta."
.
.
.