
Hana menunduk lemas sesaat setelah kedatangan Taka dengan membawa berita yang cukup membuat tubuhnya bergetar hebat. Tidak ia sangka jika ada musibah yang tengah dialami oleh Taka. Musibah yang datang secara tiba-tiba dan mungkin tidak pernah ia duga sebelumnya.
Hana yang sebelumnya berharap bisa meminta bantuan kepada Taka, namun pada kenyataannya semua sirna. Tidak mungkin ia meminta bantuan pemilik warung tenda ini di saat sedang mengalami musibah seperti itu.
"Mbak Hana!"
Suara lembut seorang perawat membangunkan Hana dari pikirannya sendiri. Hana sedikit tersentak dan mulai beranjak dari kursinya.
"Iya Sus, ada apa?"
Suster itu hanya tersenyum simpul. Seraya memberikan selembar kertas. "Ini copy an tagihan rumah sakit Mbak. Mbak Hana diminta untuk segera menyelesaikannya ke bagian kasir."
Hana tersenyum getir kala menerima kertas itu. Pada akhirnya tiba saatnya bagi dirinya untuk melunasi segala kewajibannya.
"Baik Sus, terima kasih. Nanti aku akan ke kasir untuk menyelesaikan pembayaran."
"Baiklah kalau begitu Mbak. Terima kasih untuk kerjasamanya. Kalau begitu saya permisi."
Perawat itu kembali melenggang pergi meninggalkan ruangan Ndaru. Sedangkan Hana masih begitu lekat menatap lembaran kertas yang berada di tangannya. Hatinya semakin berdenyut nyeri saat melihat barisan angka yang tertera di lembaran itu. Deretan angka yang begitu fantastis yang baru kali ini ia lihat.
Hana menghela napas dalam dan perlahan ia hembuskan. Setelah hati dan juga pikirannya berperang dan sama-sama tidak mau mengalah, akhirnya ia berani untuk membuat satu keputusan.
Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menerima tawaran dari Nara. Saat ini hanya Nara yang bisa membantuku keluar dari kepelikan hidup ini.
***
Hana setengah berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit di siang hari ini. Ia harus bergegas menemui Nara karena untuk saat ini hanya Nara lah satu-satunya orang yang bisa menolongnya.
Bughh!!!
"Aaawwwwhhh!!!"
Hana memekik kesakitan kala dengan tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang kala berbelok di salah satu lorong rumah sakit. Bahkan wanita itu sampai tersungkur karena begitu kerasnya menabrak tubuh orang ini.
"Sialan! Kalau jalan itu pakai mata dong. Lihatlah, kopiku tumpah semua!"
Pandangan Hana kabur karena minus lima yang menyerangnya. Ia meraba-raba di sekitar tubuhnya yang tersungkur, mencari benda paling penting di dalam hidupnya. Sepersekian detik, wanita itu berhasil menemukan kaca matanya. Gegas, wanita itu memakai kacamata yang sudah ia temukan.
"Apa kamu bilang? Pakai mata? Kamu kali yang tidak pakai mata. Bisa-bisanya menabrakku. Apa kamu tidak lihat kalau ada orang di sini?" teriak Hana yang begitu kesal karena ulah lelaki yang menabraknya. Ia tidak rela jika harus disalahkan seperti ini.
Lelaki dengan postur tubuh tinggi dan tegap itu mengibas-ibaskan kemeja yang basah karena tumpahan kopi. Rahangnya sedikit mengeras seperti menahan amarah dan rasa kesal. Ia pun mendongak dan menatap wanita berkacamata yang berdiri di depannya ini.
"Lihatlah pakaianku, basah terkena kopi. Aku tidak mau tahu, kamu harus mengganti rugi atas kerugian yang sudah aku alami ini!"
Bola mata Hana terbelalak. "Apa, ganti rugi? Di sini jelas-jelas aku yang dirugikan karena sudah jatuh sampai tersungkur di atas lantai dan ...."
Ucapan Hana terpangkas kala merasakan sedikit aneh dengan kacamata yang ia pakai. Perlahan, wanita itu melepas kacamatanya dan...
"Aaaaaaa.... Kacamataku patah!" Hana memperlihatkan kacamatanya yang patah itu di hadapan si lelaki. "Lihatlah, di sini jelas aku yang paling banyak mengalami kerugian. Jadi, bukan aku yang seharusnya mengganti rugi, tapi kamu!"
"Ceh, kacamata fantasi murahan seperti itu saja minta ganti rugi. Ogah!" ucap si lelaki kekeuh dalam pendiriannya.
"Apa? Murahan?" Hana menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap lelaki ini yang sungguh tidak beradab sama sekali. "Asal kamu tahu ya, aku membeli kacamata ini dari hasil tabunganku sendiri. Dan perlu kamu ketahui juga, aku memakai kacamata ini karena memang ada masalah dengan penglihatanku bukan untuk sekedar bergaya."
"Oohhh pantas saja jalan sempoyongan sampai nabrak orang, ternyata hampir buta?" kelakar si lelaki sembari mengayunkan tugkai kakinya.
Perlahan lelaki itu melenggang pergi meninggalkan Hana yang masih berada di dalam mode terpaku. Wanita itu masih mencoba untuk memahami ucapan si lelaki menyebalkan itu.
"Dasar lelaki tidak punya akhlak. Awas saja kamu!"
Hana melepas sepatu kets yang ia pakai. Tanpa basa-basi ia lempar ke arah punggung lelaki menyebalkan yang masih berada tidak jauh dari tempatnya.
"Aaaahhhhh .... Kerjaan siapa ini??!!"
Tubuh Hana dibuat terperanjat seketika saat mendengar teriakan itu. Bibirnya menganga lebar ketika melihat bahwa sepatu yang ia lempar bukannya mengenai punggung si lelaki menyebalkan tapi malah justru mengenai kepala security rumah sakit.
"Mati aku, salah sasaran!" ucap Hana penuh keterkejutan. Gegas, ia berbalik punggung agar tidak ketahuan.
Lelaki menyebalkan yang juga mendengar teriakan security ikut menoleh ke arah sumber suara. Ia berjalan menghampiri si security.
"Ada apa Pak? Kok teriak seperti itu?"
Si security sedikit membungkukkan tubuh dan memungut sepatu yang baru saja mengenai kepalanya.
"Ini loh Mas, ada yang melempar kepala saya dengan sepatu ini!" ucap si security sembari menunjukkan sepatu itu.
Si lelaki menyebalkan melihat lekat sepatu yang ditunjukkan oleh security. Pandangan matanya pun mengedar ke segala penjuru. Mencoba mencari tahu siapakah pemilik sepatu ini.
Senyum seringai muncul di bibir si lelaki menyebalkan saat manik matanya menangkap sosok seorang wanita yang terlihat begitu mencurigakan. Pandangannya pun tertuju pada kaki wanita itu.
"Nah Pak, sekarang saya tahu siapa pemilik sepatu ini."
"Hah, serius Mas? Siapa memang?"
"Ayo ikut saya Pak!"
***
Ruangan ini terasa begitu dingin, meskipun pendingin ruangan masih berada dalam mode off. Hening, tidak ada yang berucap sama sekali. Hana duduk di sebuah kursi dengan kepala menunduk, sedangkan si lelaki menyebalkan dan si security berdiri sembari menyenderkan punggung mereka di dinding.
"Jadi, apakah sepatu ini milik Anda, Mbak?"
Si security bertanya dengan nada retoris. Tanpa bertanya pun sejatinya ia sudah bisa mendapatkan jawaban. Namun ia begitu penasaran ada dendam apa wanita di depannya ini sampai-sampai melemparkan sepatu ke arahnya.
Hana hanya bisa menunduk dalam. Kali ini tidak ada yang dapat ia lakukan selain mengakui bahwa ia yang telah melempar kepala security itu dengan sepatunya. Karena bukti sudah semakin jelas, ditambah sebelah kakinya yang telanjang tak beralaskan sepatu.
"I-iya Pak, sepatu itu memang milik saya. Tapi saya salah sasaran."
Si security semakin dibuat penasaran. "Salah sasaran? Jadi yang menjadi sasaran Anda ini sebenarnya siapa?"
"Dia Pak. Lelaki menyebalkan itu yang menjadi sasaran saya. Karena dia kacamata saya patah dan itu sangat merugikan bagi saya," ucap Hana sambil menunjuk ke arah lelaki menyebalkan itu. Sedangkan yang ditunjuk hanya tersenyum tipis dan bersikap santai.
"Ckkckkckkk .... Mbak, lain kali kalau ada masalah antar suami-istri harus diselesaikan secara baik-baik dan kalau bisa di selesaikan di dalam kamar. Jangan di tempat umum apalagi rumah sakit seperti ini. Tidak baik Mbak."
Si security berujar dengan bijak. Ia memberikan wejangan kepada Hana yang ia anggap sedang berseteru dengan suaminya agar dapat menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi di dalam kamar saja.
Si lelaki menyebalkan itu terhenyak. "Masalah antar suami istri? Maksud Bapak siapa?"
Kini giliran si security yang mengerutkan dahi. Di matanya, sepasang manusia yang sedang berseteru ini adalah pasangan suami-istri karena keduanya terlihat sangat serasi.
"Loh, bukannya Mbak dan Mas ini sepasang suami-istri? Betul kan perkataan saya kalau segala permasalahan yang ada di dalam rumah tangga harus di selesaikan di dalam kamar? Karena setelah permasalahannya selesai, kalian berdua bisa langsung bermesraan dengan tidur bersama!" ucap si security dengan santai. Bahkan, ia juga memberikan sebuah petuah yang sangat berharga untuk keharmonisan pasangan suami-istri ini.
Sepasang netra Hana dan Hiro sama-sama terbelalak dan membulat sempurna. Bahkan bibir mereka sama-sama menganga lebar di waktu yang bersamaan.
"Apa???" teriak Hana dan si lelaki menyebalkan itu bersamaan laksana paduan suara. Keduanya sungguh dibuat terkejut oleh ucapan security ini.
.
.
.