Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku

Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku
TMKS 10. Mundur



Hana menatap sendu tubuh lelaki yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Entah sudah berapa lama lelaki yang ia cintai ini tidak membuka mata. Ia seakan begitu nyaman berada di alam bawah sadarnya dan enggan untuk meraih kesadarannya.


Hana meraih telapak tangan Ndaru untuk kemudian ia letakkan di pipi. Telapak tangan ini terasa begitu dingin seakan tidak ada denyut nadi yang mengaliri. Keadaan seperti inilah yang semakin menggerus hati.


"Maafkan Hana, Ayah!"


Hana berucap lirih sembari mengecup buku-buku jemari Ndaru. Hatinya semakin berdenyut nyeri jika teringat akan apa yang baru saja ia lakukan. Menandatangani sebuah kontrak pernikahan dengan kekasih sahabatnya sendiri.


"Hana sadar bahwa apa yang telah Hana lakukan ini akan membuat Ayah kecewa dan murka. Namun saat ini Hana tidak tahu harus melakukan apa Yah. Hana seakan menemukan jalan buntu."


Air mata Hana semakin mengalir deras dari bingkainya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya sang ayah jika sampai mengetahui pernikahan kontrak yang ia jalani. Pernikahan yang seharusnya suci tapi dikotori dengan kontrak konyol seperti ini. Sungguh, situasi seperti ini tidak sedikitpun terlintas di dalam benaknya selama ini.


Cerita-cerita di novel online yang sering ia baca tentang pernikahan kontrak justru ternyata ia jalani sendiri. Entah bagaimana akhir dari semua ini. Bahagia kah? Atau justru berakhir sengsara?


Hana yang larut dalam lamunan dan juga kesedihannya, tiba-tiba dibuat kaget dengan jemari sang ayah yang bergerak pelan. Hana menatap lekat telapak tangan Ndaru dan beralih menatap wajah sang ayah. Wanita itu sampai menajamkan indera penglihatannya untuk memastikan jika yang ia lihat ini bukanlah halusinasi. Bola mata Ndaru bergerak-gerak meskipun kelopak mata lelaki itu masih dalam keadaan terpejam.


"Ayah?" lirih Hana saat melihat sang ayah berusaha meraih kesadarannya.


Perlahan kelopak mata Ndaru terbuka dan lelaki itu sedikit memincing kala cahaya lampu ruangan terasa begitu menusuk kornea mata.


Ndaru menoleh ke samping kanan. Lelaki itu mencoba tersenyum meskipun bibirnya masih terhalang oleh ventilator.


"Hana, putriku!"


Dengan suara lirih dan terbata, Ndaru mencoba untuk menyerukan nama sang putri. Entah sudah berapa lama ia tidak melihat paras cantik putrinya ini namun rasa-rasanya begitu lama sekali. Hingga membuat setetes kristal bening meluncur dari matanya.


"Ayah .... Akhirnya Ayah sadar juga. Hana sungguh sangat bersyukur Yah."


Ndaru ikut menganggukkan kepala. "Ayah juga sangat bersyukur karena masih diberikan kesempatan hidup untuk bisa melihatmu menikah Nak."


Hati Hana mencelos. Rasanya sungguh nyeri di ulu hati jika saat ini sang ayah membahas perihal pernikahan. Karena sejatinya pernikahan itu memang akan segera terlaksana namun dalam keadaan serba terpaksa.


Hana mencoba untuk tersenyum. Memupus kegamangan yang mungkin tersirat di wajahnya. "Ayah jangan terlalu memikirkan hal-hal yang berat terlebih dahulu ya. Jika memang sudah saatnya Hana bertemu dengan jodoh Hana, Hana pasti akan menikah."


"Ayah masih sabar menunggu, Nak. Ayah hanya ingin melihatmu hidup bahagia bersama suamimu."


Lagi-lagi Hana dibuat miris dengan ucapan Ndaru. Namun ia mencoba untuk tetap tenang menanggapinya.


Hana beranjak dari posisi duduknya, bermaksud untuk menemui dokter yang menangani kondisi sang ayah. "Hana panggil dokter dulu ya Yah untuk memeriksa keadaan Ayah."


***


Di kafetaria rumah sakit, Hiro tengah menyeruput secangkir kopi espresso yang ia pesan. Sejak sang kakek anfal dan dirawat di rumah sakit ini, kopi espresso inilah yang menjadi teman setianya menghabiskan waktu di sini.


Lain halnya dengan Nara. Wanita itu tengah menikmati satu gelas jus strawberry nya. Jus strawberry yang ia pesan tanpa gula dan tanpa susu demi untuk menjaga postur tubuhnya agar tetap ideal. Meskipun sesekali wanita itu menyipitkan mata, merasakan sensasi rasa asam yang berasal dari buah strawberry itu sendiri.


"Kamu yakin ingin bertemu dengan kakekku?" tanya Hiro di sela-sela seruputannya.


Nara mengangguk mantap. Saat ini ia, Hiro dan Hana harus bergerak cepat agar semua bisa berjalan sesuai dengan rencana.


"Tentu saja Sayang. Aku akan menemui kakekmu secara langsung untuk memberitahukan bahwa saat ini antara aku dan kamu sudah tidak lagi ada hubungan apapun."


"Lalu, setelah itu apa yang harus aku lakukan?"


Hiro menunduk dalam. Mencoba mencerna apa yang menjadi rencana sang kekasih. Ingin rasanya ia berontak karena dalam situasai seperti ini dirinya lah yang lebih banyak dirugikan. Apalagi dia harus menikah pura-pura dengan itik buruk rupa bernama Hana.


"Apakah sudah benar langkah yang kamu ambil ini Ra? Apa tidak ada jalan lain selain jalan seperti ini?"


Hana mengulas sedikit senyumnya. Ia meraih telapak tangan Hiro dan ia kecup dengan intens.


"Percayalah padaku bahwa ini hanya sementara, Sayang. Anggap saja ini semua adalah pengorbanan cinta. Setelah dua ratus hari, kita pasti akan menjadi sepasang suami istri."


Bak dihipnotis, Hiro bahkan tidak bisa lagi membantah perkataan Nara. Lelaki itu hanya membisu tak tahu harus berkata apa. Namun hati kecil lelaki itu berbisik.


Ah tidak masalah jika aku menjalani pernikahan kontrak sialan ini. Toh, ini semua hanya dua ratus hari dan aku yakin jika tidak akan pernah jatuh cinta pada itik buruk rupa itu.


***


Hiro menghela napas panjang dan ia hembuskan perlahan kala raganya berdiri di depan pintu ruang rawat Ichiro. Tangan lelaki itu nampak ragu antara ingin membuka tuas pintu atau tidak. Namun Nara yang berada di sampingnya, bergegas memegang lengan tangannya. Wanita itu tersenyum manis sekali seraya mengangguk pelan. Seakan menjadi sebuah isyarat bahwa jalan ini merupakan jalan terbaik yang ada.


"Ayo kita masuk Ro. Nanti aku akan memberitahu kakek bahwa hubungan kita sudah berakhir. Semoga kakek semakin percaya bahwa kita memang sudah tidak ada hubungan apapun."


Tanpa berucap apapun, tangan Hiro terulur untuk membuka tuas pintu di hadapannya ini. Ia memasuki ruang rawat Ichiro di mana di sana sudah ada Kenji dan juga Ayumi yang tengah berbincang hangat bersama Ichiro.


Netra-netra yang berada di ruangan ini seketika mengarah ke arah Hiro. Namun tiba-tiba saja raut wajah Ichiro berubah. Netra lelaki berusia senja ini begitu tajam menatap Nara.


"Ro, mengapa kamu membawa wanita itu kemari? Suruh dia pergi dari sini. Kakek tidak ingin melihatnya lagi!" ucap Ichiro dengan nada tegas, tidak menginginkan keberadaan Nara.


Ayumi dan Kenji juga terlihat terkejut setengah mati. Mereka tidak habis pikir dalam keadaan genting seperti ini, sang anak berani-beraninya membawa Nara datang kemari. Ayumi dan Kenji benar-benar khawatir akan kondisi sang ayah jika sampai bertemu dengan Nara.


"Ro, mengapa kamu tidak paham situasi? Mengapa kamu malah membawa kekasihmu ini?" tanya Kenji.


"Papa, Mama, Kakek. Aku ingin berbicara satu hal. Ini semua berhubungan dengan jalinan cintaku bersama Nara," ucap Hiro sedikit kalem berupaya untuk memenangkan hati keluarganya.


"Ceh, apakah tujuanmu datang kemari dengan membawa wanita ini untuk meruntuhkan benteng pertahanan Kakek? Jika memang itu yang menjadi tujuanmu, lebih baik kamu bawa keluar lagi wanita ini. Karena sampai kapanpun Kakek tidak akan pernah membrikan restu."


"Tapi Kek..."


Nara kembali memegang lengan tangan Hiro. Sedangkan sorot mata wanita itu tidak lepas dari tubuh Ichiro yang masih terbaring di atas hospital bed.


"Namun kenyataannya, saya datang kemari bukan untuk meminta Kakek agar merestui hubungan saya dengan Hiro. Namun justru sebaliknya," ucap Nara dengan hati-hati.


"Apa maksudmu? Cepat katakan dan jangan bertele-tele!"


Nara tersenyum getir. Sedemikian rupa, ia berupaya untuk bersandiwara agar bisa meneteskan air mata. Benar saja, layaknya seorang ratu drama wanita itu sanggup mengumpulkan bulir-bulir bening di pelupuk mata.


"Saya sadar bahwa saya memang bukan wanita yang baik untuk Hiro karena saya tidak bisa mengesampingkan profesi saya sebagai seorang model. Dan ketika saya mendengar bahwa Kakek menginginkan Hiro cepat-cepat menikah, saya memutuskan untuk mengakhiri hubungan saya dengan Hiro."


Nara menjeda sejenak ucapannya dan mengambil selembar tisu dari dalam tas yang ia bawa. Wanita itu mengusap air mata yang sudah jatuh dari bingkainya.


"Kek, mulai hari ini saya memilih untuk mundur. Mundur dari mencintai Hiro. Dan saya persilahkan Hiro untuk menikah dengan wanita yang sesuai dengan kriteria Kakek!"


.


.


.