
"Tapi sungguh, kamu terlihat tampan dan juga berhati mulia, Nak. Seumur hidup Bapak, baru pertama kali Bapak bertemu dengan pemuda tampan dan berbudi baik sepertimu ini. Entah apa yang terjadi jika sampai kamu tidak memberikan bantuan untuk biaya operasi Bapak."
Ndaru tiada henti memuji ketampanan dan kemuliaan hati Hiro yang membuat Hiro semakin bangga pada dirinya sendiri. Namun hal itu berbanding terbalik dengan Hana. Wanita itu seakan tidak terima jika sang ayah terlalu memuji orang asing yang baru saja ia kenal.
Ini ayah juga kenapa malah tiada henti memuji kodok kudisan ini? Kalau seperti ini bisa-bisa ia semakin jumawa dan menganggap tinggi dirinya.
"Sudahlah Paman, jangan terlalu memuji seperti itu. Bisa-bisa kepala saya membesar dan bertambah diameternya," ucap Hiro seraya tergelak pelan.
"Kamu ini bisa saja Nak," ucap Ndaru sembari mengusap air mata yang keluar karena tertawa. "Oh iya, apakah kamu ini adalah teman istimewa putri Bapak?"
Iuuuhhh Pak, kalau tidak dalam keadaan terpaksa, aku tidak mau jadi orang istimewa putrimu ini. Putrimu terlalu biasa untuk aku yang tampan dan sempurna, Pak.
Hiro tersenyum kikuk setelah memuji dirinya sendiri di dalam hati. "Bisa dikatakan seperti itu Paman. Maka dari itu, saya datang kemari untuk menjemput Hana. Saya ingin mengajak Hana bertemu secara langsung dengan keluarga besar saya."
"Sungguh Nak? Apa itu semua tidak terlalu cepat? Bukankah baru dua minggu kalian bertemu?"
Lebih cepat akan lebih baik, Pak. Dengan begitu pernikahan kontrak yang akan aku jalani dengan putrimu ini bisa segera berakhir. Dan setelah itu aku bisa menikahi gadis yang aku cintai.
Hiro tersenyum tipis. Ia berusaha mati-matian untuk bersikap se natural mungkin agar ke-manipulatif-annya ini tidak tersirat di raut wajahnya.
"Tidak ada namanya yang terlalu cepat Paman. Saya merasa sangat cocok dan nyaman dengan putri Paman. Sudah waktunya pula bagi saya menikah mengingat usia saya yang sudah memasuki dua puluh delapan tahun. Maka dari itu saya ingin segera menikahi Hana."
Hoooeeeekkkk .... Oh ya Tuhan, aku sungguh mual dan ingin muntah mengatakan hal itu. Cocok, nyaman? Iuuhhhh ogah sekali ya Tuhan...
Hana yang mendengar dan mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Hiro juga hanya membuatnya berbisik di dalam hati.
Ternyata si kodok kudisan ini pandai berakting juga. Aku rasa dia layak untuk jadi artis sinetron. Buktinya dia bisa membuat ayah begitu terkesima dan berdecak kagum dengan sandiwaranya.
"Ya Tuhan, Bapak sungguh sangat bahagia mendengarnya Nak. Semoga Tuhan senantiasa memberkati hubungan kalian ya."
"Aamiin Pak."
"Nak, sekarang lekaslah ganti pakaian. Segera berangkat untuk menemui keluarga besar nak Hiro ini, semoga keluarga nak Hiro bisa menerimamu dengan baik dan dengan tangan terbuka," titah Ndaru kepada Hana dengan disisipi oleh doa-doa dan juga harapan.
"Baik Yah, Hana ganti pakaian terlebih dahulu!"
Hana melenggang pergi meninggalkan teras untuk berganti pakaian dan bersiap-siap. Sedangkan Hiro dan Ndaru terlihat larut dalam obrolan mereka.
***
"Suti .... Suti ... Suti!!!!"
Teriakan Ichiro terdengar menggema memenuhi seluruh penjuru ruangan. Suti, si pemilik nama yang dipanggil-panggil oleh sang majikan, gegas meninggalkan pekerjaannya dan segera memenuhi panggilan Ichiro. Setelah mencari di mana asal sumber suara itu, akhirnya Suti menemukan Ichiro di ruang tengah.
"Iya Tuan, siap!" ucap Suti setelah berhadapan langsung dengan Ichiro.
"Ckkckkkckkk ... Main siap, siap saja. Apa sudah tahu apa yang ingin aku perintahkan?" tanya Ichiro sembari berdecak pelan. Asisten rumah tangganya ini sungguh terlampau bersemangat, padahal belum tahu apa yang menjadi perintah.
"Hehehe ... belum Tuan. Saya belum tahu. Ada apa Tuan? Apa ada sesuatu yang harus saya kerjakan?"
"Kamu sedang apa Suti? Apakah sedang sibuk?"
Suti menganggukan pelan. "Iya Tuan, saya sedang berada di taman belakang, membantu Tarjo memangkas tanaman."
"Hmmmmmm ... Kamu ini kebiasaan. Memangkas tanaman bukanlah jobdeskmu. Mengapa kamu kerjakan?" protes Ichiro.
Suti hanya tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tiada gatal. "Hehehe iya Tuan, saya minta maaf. Saya merasa bosan Tuan, karena pekerjaan saya hanya memasak. Jadi, setelah pekerjaan saya selesai saya ikut membantu yang lainnya."
Sejatinya Suti benar-benar bersyukur bisa bekerja di kediaman Ichiro di mana setiap pekerjaan dipegang oleh satu orang. Bagian memasak, bagian bersih-bersih rumah, bagian mencuci, bagian menyetrika, bagian taman, kolam ikan, kolam renang, penjaga pintu depan, masing-masing dipegang oleh satu orang. Tak heran jika di rumah Ichiro ini banyak sekali penghuninya. Persis seperti tempat pengungsian.
"Sekarang, tinggalkan pekerjaan Tarjo. Mulailah memasak. Masak yang banyak, lezat dan istimewa!" titah Ichiro tegas.
"Ckkcckkckkk ... meskipun tidak ada acara, kamu tetap harus masak yang banyak bukan? Kamu lupa berapa total penghuni rumah ini?" tanya Ichiro dengan seringai bercanda.
"Iya juga ya Tuan?" tanya Suti mulai paham dengan maksud ucapan Ichiro. "Tapi mengapa harus istimewa dan lezat, Tuan?"
Ichiro yang sebelumnya menatap wajah Suti, kini berpindah ke lain sudut dengan tatapan menerawang. Ada lengkungan lebar di bibir lelaki itu yang seakan menunjukkan bahwa dia sedang berbahagia.
"Sebentar lagi akan ada tamu spesial yang datang. Aku ingin memberikan jamuan yang paling istimewa. Maka dari itu masaklah yang banyak dan istimewa, jangan sampai mengecewakan. Mengerti?"
Masih ada beberapa pertanyaan yang berkutat di benak Suti akan siapa gerangan tamu istimewa itu. Namun ia mencoba untuk tidak banyak bertanya. Toh nantinya dia pasti juga akan mengetahui jawabannya.
"Siap Tuan, saya mengerti!"
"Ya sudah, sekarang kerjakan!"
"Siap laksanakan!"
Suti, wanita yang masih berusia tiga puluh lima tahun itu begitu bersemangat untuk melakukan pekerjaannya kali ini. Biasanya jika raut wajah sang Tuan terlihat bahagia seperti itu, akan ada bonus besar yang diberikan. Bagi Suti, bekerja di rumah ini sungguh menyenangkan sekali.
***
Sepasang manusia yang berada di dalam mobil sedan berwarna putih itu sama-sama terdiam, tak bersuara sama sekali. Untuk membunuh rasa bosan duduk berduaan dengan masing-masing orang yang dianggap musuh, mereka fokus dengan aktivitasnya fokus pada kemudinya, sedangkan Hana fokus pada ponsel yang berada di genggaman tangannya.
"Apakah kamu tidak mempunyai pakaian yang jauh lebih baik daripada yang kamu pakai ini?"
Akhirnya, setelah sekian lama keadaan di dalam mobil ini seperti lubang kubur yang sepi, kini sedikit lebih ramai dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Hiro. Sepertinya lelaki itu juga tidak betah jika terlalu lama berdiam diri.
"Memang ada apa dengan pakaian yang aku pakai? Aku rasa ini adalah pakaian yang bagus," jawab Hana singkat tanpa menoleh sedikitpun ke arah Hiro.
Rok plisket warna moka dan kemeja panjang kotak-kotak dengan warna senada pula adalah outfit yang Hana pilih untuk bertemu dengan keluarga Hiro siang hari ini. Bagi Hana, pakaian itu merupakan pakaian terbaik yang ia punyai.
"Ckkckkkckkk ... Ternyata selera fashionmu itu amburadul dan rendah sekali. Apa tidak bisa kamu memilih pakaian yang jauh lebih modis daripada ini. Kalau yang kamu pakai ini sungguh kampungan sekali," cibir Hiro.
Hana sedikit tersinggung dengan ucapan Hiro. Ia yang sebelumnya fokus dengan layar ponsel kini ia beranikan diri untuk mencondongkan tubuhnya ke tubuh Hiro.
"Hati-hati kalau bicara. Kamu tidak tahu bagaimana perjuanganku untuk bisa membeli pakaian ini. Kamu tidak tahu aku bahkan sampai menahan lapar untuk bisa membeli pakaian baru. Jangan sembarangan kamu mengatakan kampungan!"
"Tapi kamu bisa kan, memilih model pakaian yang sesuai dengan postur tubuhmu? Kalau seperti ini kamu sepertinya memang buta fashion. Padahal saat ini banyak sekali pakaian simpel dan murah namun tetap terlihat mahal. Sedangkan pakaian yang kamu pakai ini sungguh kampungan sekali."
Emosi dalam diri Hana semakin terpantik. "Coba katakan lagi!"
"Kampungan!"
"Lagi!"
"Kampungan, kampungan, kampungan, kampungan!"
Hana mengayunkan tangannya bermaksud untuk memberikan pukulan di lengan tangan Hiro namun....
Ckkiiiiiitttttttt......
Cup!
Dunia seakan berhenti sejenak kala bibir Hana menempel dengan sempurna di pipi Hiro, setelah Hiro menginjak pedal rem secara mendadak. Kedua bola mata sepasang manusia itu sama-sama membulat sempurna. Mencoba menelaah dan meresapi apa yang sebenarnya sedang terjadi.
.
.
.