Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku

Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku
TMKS 17. Pesta



Di sebuah ballroom hotel bintang tujuh nampak begitu ramai dengan lalu lalang para tamu undangan. Jika siang tadi di acara pernikahan para tamu undangan mengenakan pakaian serba putih, kini di malam hari ini mereka datang dengan mengenakan pakaian serba hitam. Bukan untuk menghadiri prosesi pemakaman loh ya, namun konsep dari si pemilik acara memang seperti itu.


Seluruh raja-raja di dunia bisnis berkumpul menjadi satu, memenuhi undangan dari salah seorang konglomerat yang ada di negeri ini.


"Ayah benar-benar tidak menyangka jika Ayah bisa menyaksikan ini semua Nak. Ayah yang sudah sejak lama memimpikan bisa melihatmu menikah, ternyata Tuhan mengabulkannya. Hari ini Ayah bisa melihatmu hidup bahagia bersama suamimu."


Dengan duduk di sebuah kursi roda, Ndaru menemani sang putri yang tengah dirias oleh salah satu MUA terkenal di kota ini. Sejak acara pernikahan sang putri siang tadi hingga saat ini, lelaki paruh baya itu tiada henti menyunggingkan senyum seakan mengabarkan kepada dunia bahwa hari ini ia teramat bahagia. Bahagia karena bisa mengantarkan sang putri sampai di gerbang pernikahan. Di gerbang inilah yang akan menjadi awal bagi sang putri untuk hidup bersama pendamping hidupnya.


Hana tersenyum tipis. Entah mengapa hatinya selalu saja berdenyut nyeri saat melihat wajah sang ayah yang berbinar bahagia dengan pernikahan yang ia jalani. Padahal sejatinya pernikahan ini hanyalah pernikahan konyol yang terikat oleh sebuah kontrak.


"Seperti janji yang pernah Hana ucapkan, Hana akan membahagiakan Ayah. Dan ini merupakan salah satu bukti bahwa Hana bisa mewujudkan mimpi-mimpi Ayah yakni melihat Hana menikah."


"Terima kasih Nak. Tidak ada kebahagiaan bagi seorang ayah selain bisa melihat anaknya menikah. Ayah berdoa untukmu semoga pernikahanmu dengan Hiro ini langgeng."


Senyum penuh ironi terbit di bibir Hana. Bagaimana tidak, jika setelah enan bulan pernikahan ini akan berakhir. Ia sampai tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika sampai sang ayah tahu tentang pernikahan sialan ini.


"Hana, apakah sudah siap? Sebentar lagi kamu dan Hiro harus menemani kakek untuk memberikan sambutan."


Ayumi nampak tergopoh-gopoh memasuki ruang makeup menantunya ini. Sejak tadi, wanita paruh baya itu juga terlihat sibuk sendiri untuk memastikan semua acara berjalan dengan lancar. Meskipun sudah berusia hampir lima puluh tahun, namun wanita itu masih tetap terlihat begitu enerjik.


"Sudah Ma. Hana sudah siap!"


"Baiklah kalau begitu, ayo kita ke ballroom!"


Hana berjalan dengan digandeng oleh Ayumi sedangkan kursi roda milik Ndaru didorong oleh Tarjo. Mereka berjalan menuju ballroom di mana Ichiro dan Hiro sudah berdiri di sana untuk memberikan sambutan.


Hana sedikit gugup kala semua mata tertuju kepadanya di saat ia memasuki area ballroom ini. Namun sebisa mungkin ia bersikap tenang sehingga kegugupan itu tidaklah kentara. Dan kini, ia berdiri di samping Hiro yang sudah berada di sana lebih dahulu.


Senyum lebar terbit di bibir Ichiro. Pria berusia senja itu sangat tidak menyangka jika malam ini sang cucu menantu terlihat begitu cantik sekali. Ternyata gaun warna hitam jauh membuat kecantikan wanita itu kian terpancar.


"Nah perlu Anda-anda ketahui semua bahwa wanita cantik ini adalah cucu menantu saya. Dialah nantinya yang akan menjadi partner hidup cucu tunggal saya hingga hanya maut yang dapat memisahkan," ucap Ichiro memberikan sambutan.


Riuh suara tepuk tangan terdengar menggema memenuhi sudut-sudut ruangan. Para tamu seakan turut berbahagia melihat kebahagiaan Hiro dan juga Hana.


"Tidak hanya itu saja. Mulai detik ini, Kasogi corporation, resmi saya berikan untuk cucu saya Izanagi Akihiro sekaligus mengangkatnya menjadi direktur utama perusahaan itu."


Suara tepuk tangan kembali riuh terdengar. Hiro juga tiada henti menyunggingkan senyum karena pada akhirnya apa yang sudah ia berikan untuk Kasogi corporation berbuah manis yaitu dengan diangkatnya ia menjadi direktur utama perusahaan itu. Sungguh seperti mimpi. Karena secepat ini ia mendapatkan kepercayaan seperti ini dari sang kakek.


"Bagaimana Hiro? Apakah kamu berbahagia?" tanya Ichiro dengan senyum yang juga tiada memudar.


"Tentu Kek. Hiro sangat berbahagia. Hiro berjanji akan bekerja jauh lebih keras lagi untuk bisa memajukan perusahaan."


Ichiro tersenyum penuh arti. "Berterima kasihlah kepada Hana. Karena kehadiran Hana lah yang semakin membuat Kakek percaya bahwa kamu memang benar-benar bisa diandalkan!"


"Itu sudah pasti Kek. Hiro tahu apa yang harus Hiro lakukan untuk berterima kasih kepada Hana!"


"Lalu, apakah kamu bisa melakukan satu hal untuk Kakek?" tanya Ichiro dengan seringai di bibir. Entah apa yang dipikirkan oleh lelaki berusia senja itu.


"Apa itu Kek? Katakan saja. Hiro akan melakukannya!"


"Bagaimana semua? Kira-kira apa yang harus cucu saya ini lakukan untuk mengungkapkan rasa cinta yang ia miliki untuk istrinya ini?"


Para tamu yang hadir saling bertatap netra. Mereka saling berbisik satu sama lain hingga...


"Cium ... Cium .... Cium ...!!"


Ichiro tergelak. "Bagaimana? Apakah kamu mau melakukan itu?"


Tubuh Hana dan Hiro sama-sama terperanjat. Ia tidak menyangka jika berciuman lah yang diminta oleh sang kakek.


Hiro mencondongkan wajahnya di wajah Hana yang sontak membuat Hana reflek menjauhkan wajahnya.


"Psssttt ... Jangan seperti itu. Kita harus melakukan ini agar tidak ketahuan. Ayo dekatkan wajahmu!" bisik Hiro.


"Tapi aku tidak bisa berciuman di tempat umum seperti ini. Aku malu. Lagipula dalam kontrak yang kita buat, tidak boleh ada sentuhan fisik," ucap Hana memberikan argumentasi.


"Sudah, lupakan sejenak kontrak itu. Saat ini kita harus meyakinkan Kakek agar tidak curiga dengan sandiwara kita."


Hana berusaha mati-matian untuk mencerna kalimat Hiro. Namun tetap saja, otaknya seperti tidak bisa untuk menangkapnya.


Tak ingin berlama-lama lagi. Hiro melancarkan aksinya. Ia memangkas jarak dengan mendekatkan wajahnya di wajah Hana hingga kini jarak keduanya hanya tinggal beberapa inchi saja. Dan...


Cup...


Sebuah kecupan lembut dari Hiro mendarat di bibir Hana. Tubuh Hana terpaku dan membeku menerima serangan seperti ini. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Namun seketika ia teringat akan adegan-adegan ciuman yang sering ia baca di novel online. Ia pun membuka sedikit bibirnya untuk membiarkan lidah Hiro memasuki rongga mulutnya.


"Uwaaaoowwwwww .... So sweet sekali!" teriak para tamu undangan. Mereka juga seakan larut dalam keromantisan yang ditampakkan oleh pasutri baru itu.


Entah apa yang terjadi, tubuh Hana seperti memberikan respon yang baik akan apa yang Hiro lakukan. Bahkan wanita itu sampai memejamkan mata, merasakan sensasi rasa yang baru kali ini ia rasakan. Wanita itu sungguh merasakan kenyamanan atas ciuman yang diberikan oleh Hiro kepadanya.


Jangan lengah Hana. Ingat ini semua hanyalah sandiwara!


Hati kecil Hana berbisik untuk memberikan sebuah peringatan agar wanita itu tidak terbuai akan apa yang dilakukan oleh Hiro. Hiro melakukan ini semua juga karena desakan dari sang kakek.


Sekian menit mencium intens bibir Hana, Hiro mengakhiri ciumannya. Ia mencoba tersenyum manis sembari mengusap bibir Hana dengan jemarinya meskipun di dalam hati ia merasakan sesuatu yang sulit untuk ia ungkapkan.


Namun tiba-tiba senyum itu hilang saat ekor matanya menangkap salah satu bayangan seorang wanita yang berdiri di sudut ruangan. Wanita itu tengah menatap tajam ke arahnya. Hiro bisa merasakan ada rasa cemburu yang terpancar dari sana. Hingga membuat lelaki itu merasa sangat bersalah.


"Nara!"


.


.


.