
Taksi online warna biru itu membawa tubuh Hana menuju sebuah optik yang berada tidak jauh dari pusat kota. Sejenak, ia biarkan dirinya hanyut dalam keheningan sembari mengingat-ingat apa yang baru saja ia alami.
Sebuah kejadian yang tidak pernah ia duga sama sekali akan menghampiri hidupnya. Menabrak laki-laki sombong dan songong yang tidak mau mengakui kesalahannya bahkan tidak mau bertanggung jawab atas kerugian yang telah ia lakukan.
Hana membuang napas kasar. Ia menatap nanar kacamata yang sudah patah menjadi dua. Mau tidak mau ia harus pergi ke optik untuk mencari kacamata baru dan itu artinya ia harus mengeluarkan uang lagi untuk sesuatu yang seharusnya tidak ia beli saat ini. Sungguh sebuah pemborosan, pikirnya.
Membeli kacamata dengan lensa minus yang lumayan tinggi pastinya juga harus merogoh kocek yang cukup dalam juga. Uang yang bisa ia gunakan untuk membeli makan di saat menunggui sang ayah, harus ia keluarkan untuk sesuatu yang sebenarnya tidak penting jika kacamata miliknya ini tidak patah.
Hana mengulas senyum penuh kegetiran. Ia teringat betapa sulit hari-hari belakangan ini untuk ia jalani. Menjadi pengangguran, tidak mendapatkan pemasukan, tabungan semakin menipis, bahkan untuk makan pun terkadang ia diberi jatah oleh perawat yang ada di rumah sakit. Sungguh menyedihkan bukan?
"Mbak sudah sampai!" ucap sang driver sembari menepikan mobilnya di bahu jalan.
Ucapan driver taksi online membangunkan Hana dari lamunan panjangnya. Ia kembali menatap ke arah luar jendela mobil. Terlihat beberapa ruko berdiri di tempat ini.
"Pak, tunggu sebentar bisa? Saya ada perlu di optik ini. Setelah itu Bapak antarkan saya ke suatu tempat lagi."
Driver taksi online itu nampak sejenak berpikir. Dari raut wajahnya seperti menimbang-nimbang ucapan Hana.
"Tenang Pak, nanti saya bayar double."
Seperti mengetahui akan kegelisahan sang driver, Hana memberikan sebuah statment untuk memupus rasa gelisah itu. Benar saja raut wajah driver taksi online ini terlihat berbinar seketika. Seakan benar-benar bersyukur karena Hana bisa membaca pikirannya.
"Baiklah Mbak, saya tunggu."
Hana menganggukkan kepala. Perlahan, ia turun dari mobil dan memasuki optik. Mencari kacamata baru untuk mengganti kacamatanya yang telah patah karena lelaki yang ia anggap menyebalkan itu.
"Huh, aku sumpahin kamu tidak akan laku seumur hidupmu wahai lelaki menyebalkan!"
Hana mengurut dadanya untuk melepaskan belenggu emosi yang menguasai diri. Ia mencoba untuk mengembalikan mood nya yang sudah hancur dari beberapa saat yang lalu. Tepatnya setelah menabrak tubuh lelaki menyebalkan itu.
Tidak hanya itu saja. Ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut security juga turut membuat Hana semakin frustrasi. Bagaimana tidak frustrasi jika security itu tetap menganggap ia dan si lelaki menyebalkan adalah pasangan suami istri? Meskipun sudah dijelaskan berkali-kali, namun security itu kekeuh menganggapnya istri dari si lelaki menyebalkan.
Dengan penuh keterpaksaan, Hana menarik sudut bibirnya. Mencoba tersenyum manis di depan karyawati optik yang sudah menyambutnya dengan ramah.
***
"Astaga Hiro .... Apa yang terjadi kepadamu? Mengapa pakaianmu kotor seperti ini?"
Ayumi yang sedang menyuapi Ichiro memekik keheranan kala sang putra datang dengan pakaian yang sedikit berantakan. Terlebih warna cokelat yang ada di kemeja yang dikenakan, sungguh terlihat kontras sekali.
Hiro menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang rawat sang kakek. Entah untuk keberapa kali ia membuang napas kasar seperti seseorang yang tengah membuang segala beban di dalam dada.
"Aku baru saja ditabrak oleh wanita gila, Ma. Entah bagaimana ceritanya dia tiba-tiba ada di depanku dan menabrakku. Alhasil pakaianku kotor seperti ini karena tumpahan kopi."
Dahi Ayumi berkerut dalam seakan kurang begitu yakin dengan perkataan sang anak. "Wanita gila? Memang ada orang gila berkeliaran di rumah sakit ini Ro? Ini rumah sakit umum, bukan rumah sakit jiwa. Mana bisa wanita gila berkeliaran di sini?"
Hiro mengendikkan bahu. "Entahlah Ma. Mungkin dia baru saja lepas dari rumah sakit jiwa dan kesasar di rumah sakit ini." Hiro beranjak dari posisi duduknya. Ia berjalan ke arah ranjang sang kakek. "Bagaimana keadaan Kakek hari ini? Apa jauh lebih baik?"
Ichiro tersenyum manis di depan anak dan cucunya. Lelaki itu termasuk salah satu makhluk Tuhan yang awet muda. Meskipun usianya sudah menginjak senja namun gurat-gurat ketampanan Ichiro masih terlihat jelas.
"Kakek sudah merasa jauh lebih baik, Ro. Lihatlah, Kakek makan habis banyak hari ini," ucap Ichiro sembari menunjuk ke arah piring di tangan Ayumi.
"Syukurlah. Kakek harus banyak makan agar bisa segera pulih dan bisa segera pulang," kata Hiro sedikit lega seraya memberikan nasihat. Baginya, jika banyak nutrisi yang masuk ke dalam tubuh, maka kondisi sang kakek akan jauh lebih cepat untuk pulih.
"Apa kamu mau Kakek cepat sembuh, meskipun hanya makan sedikit?" tanya Ichiro dengan tawa lirih.
"Memang bagaimana Kek?"
"Segeralah cari calon istri dan segera pertemukan Kakek dengannya. Dengan begitu Kakek pasti akan segera sembuh."
Ichiro menggelengkan kepalanya. "Tidak Ro, Kakek tetap tidak setuju jika kamu menikah dengan Nara. Nara bukanlah wanita baik-baik Ro."
"Tapi Kek, Hiro tidak bisa. Hiro hanya mencintai Nara. Dan Hiro hanya akan me...."
Uhuukkk.... Uhukkkk... Uhukkkk...
"Papa!"
"Kakek!"
"Aaahhh .... dadaku sakit sekali!"
Ayumi dan Hiro sama-sama memekik kala melihat Ichiro yang tiba-tiba tebatuk dan mengeluh jika dadanya terasa sakit. Ibu dan anak itu merapatkan tubuhnya ke tubuh Ichiro untuk bisa melihat dengan seksama apa yang sedang dialami oleh Ichiro.
"Ro, cepat panggil dokter kemari. Mama khawatir akan keadaan kakekmu Ro!" titah Ayumi.
Ichiro memegang lengan tangan Ayumi seraya menggeleng pelan. "Tidak perlu, Yumi. Biarkan aku seperti ini saja daripada melihat cucuku tetap kekeuh menikahi Nara."
Hiro terhenyak seketika. "Kek ... Jangan bicara seperti itu, Hiro sungguh tidak bisa..."
"Sekarang terserah kepadamu saja. Jika kamu ingin melihat Kakek sembuh, maka turutilah permintaan Kakek. Tapi jika kamu menginginkan Kakekmu ini mati sia-sia, silakan lanjutkan niatanmu untuk menikah dengan Nara!" ucap Ichiro sedikit mengintimidasi.
"Tapi Kek..."
Ayumi memegang pundak Hiro seraya memberikan isyarat agar sang putra tidak lagi membantah perkataan Ichiro. Hingga lelaki itu hanya menunduk pasrah dan memilih untuk terdiam.
"Sebelum Kakek pergi dari dunia ini, Kakek hanya ingin melihatmu hidup bahagia bersama wanita baik-baik Ro. Dan kebahagiaan itu tidak akan pernah kamu dapatkan jika kamu tetap memilih untuk menikah dengan Nara!" sambung Ichiro dengan nada serius.
Kini, ucapan pria berusia senja itu sepertinya mampu untuk menembus kokohnya dinding hati Hiro yang sebelumnya sungguh tidak bisa ditembus oleh apapun.
Mengapa Kakek bersikukuh melarangku untuk tidak menikahi Nara? Apa mungkin Nara memang bukan wanita baik-baik?
Drrrtttt ... Ddrrtt .. . Drrrttt...
Getaran ponsel yang berada di dalam saku celana milik Hiro membuyarkan lelaki itu dari lamunann. Ia merogoh saku celana dan melihat layar ponselnya. Nama Nara terpampang jelas di sana.
"Hiro angkat telepon dulu Kek, Ma!" pamit Hiro sembari mengayunkan tungkai kakinya keluar ruangan.
Hiro memilih berdiri di depan pintu ruang rawat dan bergegas mengangkat telepon dari sang kekasih.
"Hallo Ra, ada apa? Tumben kamu menelfonku siang-siang seperti ini?"
"Sayang, temui aku di restoran Orchid. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Apa itu?"
"Sudahlah Sayang. Segeralah kemari. Kita harus cepat melangkah agar semua bisa berjalan sesuai dengan mimpi dan cita-cita kita."
Dahi Hiro semakin berkerut dalam. Tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Nara. "Jangan bertele-tele seperti itu Ra! Maksudmu apa?"
"Aku sudah menemukan calon istri kontrak untukmu, Sayang!"
.
.
.