
"Nara!"
Dengan lirih, Hiro menyebut satu nama yang terdengar di telinga Hana. Hal itulah yang membuat Hana sedikit berbalik punggung dan melabuhkan pandangannya di satu titik di mana manik mata Hiro berlabuh. Nampak Nara sedang berdiri mematung sembari menatap lekat ke arahnya dengan ekspresi yang sukar untuk diartikan. Tak selang lama, wanita itu tiba-tiba berlari dan meninggalkan tempat ini.
"Aku kejar Nara dulu. Dia pasti sudah salah paham dengan apa yang kita lakukan. Kamu tetap di sini. Temani Kakek dan lainnya!"
Hiro berbisik lirih di telinga Hana agar jangan sampai yang ia katakan terdengar oleh Ichiro. Belum sempat Hana memberi jawaban, Hiro sudah mengambil langkah untuk mengejar Nara. Terlihat, di wajah lelaki itu raut kekhawatiran yang begitu kentara.
"Loh, Hiro mau kemana Nak?" tanya Ichiro yang sedikit kebingungan karena sang cucu tiba-tiba meninggalkan ballroom.
Dada Hana berdesir, takut jika sampai ia salah bicara. Namun sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa takut itu. Ia harus pandai berakting agar tidak muncul kecurigaan oleh orang-orang yang berada di sekelilingnya.
"Oh, itu Hiro mau ke toilet, Kek. Katanya sejak sore tadi perutnya mulas dan berkali-kali keluar masuk kamar mandi. Seperti diare, Kek."
Haduuhhh .... Kenapa aku bilang diare? Kalau sampai benar-benar terjadi bagaimana? Ah sudahlah. Bodo amat. Katapun dia diare beneran tinggal minum diapet saja pasti beres.
Dahi Ichiro sedikit berkerut. "Diare? Perasaan dari tadi dia baik-baik saja. Bahkan sepanjang acara ini berlangsung dia tidak bolak-balik ke toilet. Kok tiba-tiba dia diare?"
Matilah kau Hana! Sekarang kamu harus menjawab apa? Kakek sepertinya tidak mudah untuk percaya begitu saja.
Hana hanya bisa tersenyum kikuk sembari mencari jawaban yang logis. Namun tetap saja tidak bisa ia temukan jawabannya.
"Ah sudah Kek, biarkan saja. Oh iya Kek, setelah ini acara makan-makan dan santai bukan? Ayo segera dilakukan saja. Perut Hana sudah keroncongan tahu Kek!"
Ichiro terkekeh geli melihat wajah sang cucu menantu yang sudah seperti kelaparan itu. Hingga ia pun mengangguk. "Baiklah. Kakek juga tidak ingin jika sampai cucu menantu Kakek ini tiba-tiba pingsan karena kelaparan."
Ichiro mengayunkan tungkai kaki ke arah MC yang berdiri tak jauh darinya. Lelaki berusia senja itu berbisik di telinga sang Master of Ceremony untuk menyampaikan maksudnya. Tak selang lama para tamu undangan dipandu untuk menikmati sajian makanan yang sudah tersedia.
Hana menghembuskan napas penuh kelegaan. Akhirnya perhatian sang kakek dapat teralihkan dan tidak lagi membahas perihal Hiro. Wanita itu juga turut menikmati hidangan yang ada di sini.
***
Setengah jam lebih Hiro belum kembali juga yang membuat Ichiro semakin curiga. Untuk meredam rasa curiga itu, Hana memutuskan untuk menyusul Hiro. Dan kini, wanita itu celingak-celinguk mencari keberadaan sang suami.
"Kemana perginya Hiro? Apa mungkin dia pulang? Ataukah ke apartement Nara?"
Hana justru sibuk bermonolog lirih sembari mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Saat ini ia sudah tiba di depan resepsionis namun tetap saja tidak ia temukan keberadaan Hiro.
Seorang pegawai hotel terlihat berjalan di depan Hana. Wanita itupun memilih untuk bertanya kepada pegawai hotel ini. Barangkali, ia bisa mendapatkan satu informasi.
"Permisi Kak, aku mau tanya!"
Pegawai hotel itu menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Hana. "Iya Kak. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Begini Kak. Apakah di hotel ini ada tempat favorit? Maksud saya tempat yang menjadi alasan para pengunjung menginap hotel ini, selain karena fasilitas dan pelayanan?"
Pegawai hotel itu tersenyum seraya menganggukkan kepala. "Tentu saja ada Kak. Di rooftop ada kolam renang dan juga kafe. Selain itu ada spot khusus untuk melihat pemandangan di bawah sana dari atap gedung. Pastinya tempat ini yang menjadi favorit bagi para pengunjung hotel. Tapi untuk malam ini tempat itu tidak dibuka untuk umum Kak."
"Tidak dibuka untuk umum? Memang kenapa Kak?"
"Ini karena ada permintaan dari tuan Ichiro agar malam ini semua tempat yang ada di hotel ini tidak dibuka untuk umum. Bahkan satu hotel ini sudah di booking oleh tuan Ichiro untuk melaksanakan acaranya."
Bibir Hana menganga lebar. "Apa? Satu hotel ini di booking oleh tuan Ichiro? Itu artinya saat ini tidak ada para tamu selain tamu dari undangan tuan Ichiro?"
Pegawai hotel itu menganggukkan kepala. "Betul Kak. Mungkin ada beberapa khalayak umum, itupun yang melakukan check-out."
"Itu untuk biaya sewanya sampai berapa Kak?" tanya Hana dengan polos. Ia berpikir menyewa ballroom hotel bintang tujuh seperti ini saja bisa sangat mahal apalagi satu hotel.
Pegawai hotel itu justru terkikik geli. Ia memperhatikan dengan lekat Hana dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kakak ini bukankah cucu menantu tuan Ichiro? Kok sampai tidak tahu kalau hotel ini merupakan salah satu hotel milik tuan Ichiro? Jadi tuan Ichiro tidak harus mengeluarkan biaya sewa!"
"Apa? Serius, hotel ini milik tuan Ichiro, Kak?" pekik Hana yang kembali dibuat terkejut.
"Betul Kak. Bahkan semua kamar yang ada di hotel ini sudah dibooking oleh tuan Ichiro untuk beristirahat para tamu undangan setelah acara selesai."
Hana semakin dibuat terperangah. Ternyata acara pernikahan settingannya dengan Hiro ini dilaksanakan besar-besaran dan begitu mewah. Bahkan sang kakek terlihat begitu totalitas dalam mengadakan acara ini.
Ya Tuhan .... Kakek sudah banyak berkorban untuk mengadakan acara ini. Apa pantas jika ini semua aku balas dengan sebuah pernikahan settingan?
Hana semakin larut dalam pikirannya sendiri. Sampai-sampai ia lupa jika harus mencari keberadaan Hiro untuk membawanya kembali ke ballroom. Sampai kesadaran Hana kembali setelah pundaknya ditepuk oleh si pegawai hotel.
"Kak, kok melamun? Kalau Kakak ingin melihat suasana rooftop gedung, Kakak bisa menggunakan lift sampai lantai lima lima belas. Setelah itu Kakak susuri lorong sampai bertemu dengan sebuah tangga. Nah tangga itulah yang akan mengantarkan Kakak sampai ke rooftop."
Hana menganggukkan kepala. Ia rasa tidak ada salahnya mencari Hiro di rooftop. Barangkali saja, dia memang berada di sana.
"Terima kasih banyak ya Kak!"
Pegawai hotel melenggang pergi meninggalkan Hana. Sedangkan Hana mulai mengikuti arahan yang sudah diberikan. Dengan jantung yang berdegup kencang, wanita itu menaiki lift untuk mengantarkannya sampai rooftop gedung.
***
Nara tiada henti berlari untuk bisa menghindar dan menjauh dari Hiro yang sejak tadi mengejarnya. Sampai di rooftop hotel, wanita itu menghentikan langkah kakinya. Ia berdiri di bibir kolam renang di mana suasana di tempat ini nampak begitu remang.
Derai air mata wanita itu tiada henti mengalir menyusuri bingkai wajahnya seakan menunjukkan kepada dunia jika hatinya tengah terluka.
"Ra, Ra, Ra, please. Dengarkan penjelasanku!"
Hiro turut menghentikan langkah kakinya dan berdiri di belakang punggung Nara. Sejak melihat Nara keluar dari ballroom, lelaki itu berusaha keras untuk mencari keberadaan sang kekasih. Dan saat Hiro temukan di mana keberadaan Nara, wanita itu malah tidak ingin ia dekati. Dengan susah payah Hiro membujuknya.
"Tidak Ro. Tidak ada yang perlu kamu jelaskan lagi. Entah mengapa saat aku melihatmu berciuman dengan Hana tadi, kamu terlihat begitu menikmati. Seperti ciuman dari seorang suami untuk istrinya."
Suara Nara terdengar sedikit sumbang sebagai pertanda ada tangis yang tertahan. Hal itulah yang membuat hati Hiro berdenyut nyeri. Ia paling tidak bisa jika membuat kekasihnya ini menangis.
Hiro kembali melangkah. Memangkas jarak yang masih ada di antara dirinya dengan Nara. Tanpa basa-basi, lelaki itu memeluk tubuh Nara dari belakang.
"Please Ra, percaya padaku. Apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu paham bukan jika itu semua hanya sandiwara?"
"Seharusnya kamu bisa menolak untuk berciuman dengan Hana di depan para tamu undangan itu Ro. Seharusnya kamu bisa membuat alasan agar hal itu tidak sampai terjadi. Tapi apa yang terjadi? Kamu malah terlihat seperti menikmati."
Nara kembali berteriak lantang. Seperti ada luapan emosi dalam diri yang membuatnya kehilangan kendali. Ia seperti tidak bisa menguasai dirinya sendiri.
Hiro mendekap tubuh Nara lebih erat. Ia tidak ingin semakin melukai hati kekasihnya ini.
"Ra, percayalah. Ini aku lakukan agar sandiwara kita tidak tercium oleh Kakek. Apakah kamu tahu? Aku juga teramat jijik berciuman dengan itik buruk rupa itu. Tapi aku harus menahannya karena rencana kita baru saja berjalan!"
Mendengar Hiro mengucapkan kata itik buruk rupa, membuat hati Nara sedikit lebih tenang. Emosinya pun semakin terkendali dari sebelumnya. Wanita itupun memilih untuk berbalik punggung. Kini sepasang kekasih itu saling berhadapan.
"Apakah benar yang kamu ucapkan itu Ro?"
Hiro menganggukkan kepala. Lelaki itu tersenyum manis seraya membelai lembut pipi sang kekasih. "Tentu saja Ra. Kamu yang jauh lebih tahu bagaimana tipe wanitaku."
"Aku mencoba untuk percaya Ro. Tapi aku sungguh khawatir jika kamu benar-benar jatuh hati kepada Hana."
"Itu tidak mungkin terjadi dan tidak akan pernah terjadi Ra. Aku pastikan itu. Karena bagiku, Hana hanyalah itik buruk rupa yang sama sekali tidak membuatku berselera. Kamu paham kan?"
Nara nampak hening, tak memberikan respon sedikitpun. Ia masih ragu antara percaya atau tidak. Hiro yang melihat keraguan di wajah Nara, gegas ia tarik dagu wanita itu. Tanpa basa-basi Hiro mendaratkan ciumannya di bibir Nara.
Ciuman yang sebelumnya terasa begitu lembut perlahan semakin memanas. Semakin dalam, seperti cinta mereka yang begitu kuat. Bibir Hiro yang sebelumnya hanya menyentuh bibir Nara kini bergeser di bagian leher jenjang wanita itu.
"Aaahhhh ...."
Nara melenguh merasakan sensasi rasa yang muncul akibat perlakuan Hiro. Wanita itu juga terlihat begitu menikmati semua hal yang diberikan oleh sang kekasih.
Sedangkan Hana, yang berdiri di salah satu sudut hanya bisa menatap nanar apa yang tengah terjadi antara sepasang kekasih itu. Seharusnya ia tidak perlu merasa sakit hati mengingat siapa dirinya. Namun entah mengapa hatinya seperti diremas yang menimbulkan sensasi rasa pedih.
"Bisa Anda jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Nona?"
Suara bariton yang tiba-tiba terdengar dari balik punggungnya, membuat Hana terkesiap. Ia menoleh ke arah sumber suara dan kedua bola matanya membulat sempurna.
"T-tuan Yokohama?"
.
.
.