
Dahi Hana berkerut dalam kala membaca dengan seksama sebuah perjanjian yang baru saja dibuat oleh Hiro. Bahkan wanita itu harus berkali-kali menajamkan indera penglihatannya agar dapat memahami dengan baik semua yang tertuang di dalam menu notes ponselnya ini.
Untuk kali ini tidak ada perjanjian hitam di atas putih karena yang ada hanyalah rangkaian kalimat yang ada di dalam ponsel. Sebuah perjanjian baru yang dibuat oleh Hiro bahkan tanpa sepengetahuan Nara.
"Bagaimana? Apa ada yang kurang jelas?" tanya Hiro yang memilih duduk di atas sofa. Niat ingin merebahkan diri dan merajut mimpi harus terpangkas saat ada hal yang lebih penting untuk ia bahas.
"Tidak. Aku sudah cukup mengerti. Jika di dalam perjanjian dengan Nara hanya tertuang batasan-batasan kita dalam berinteraksi, yang kamu tambahkan ini justru hal-hal yang harus kita tampakkan di depan keluarga kita kan?"
Hiro tersenyum lebar. "Pintar. Di depan keluarga, kita justru harus memperlihatkan hal yang sebaliknya. Kita harus menampilkan kemesraan sehingga mereka tidak curiga."
"Baiklah, aku mengerti!"
Hana meletakkan ponselnya di atas nakas. Wanita itu berjalan ke arah sofa. Ia bermaksud untuk kembali memeluk mimpi. Baru saja Hana akan menaikkan kaki, tiba-tiba...
"Hei, mengapa kamu tidur di sana?" seru Hiro.
Hana mendengus kesal. Lagi-lagi niatnya untuk tertidur kembali dihalangi oleh Hiro.
"Di sini hanya ada ranjang dan sofa. Jika ranjang itu sudah menjadi bagianmu, maka bagianku sofa ini bukan?"
"Kita kan bisa tidur di ranjang yang sama," usul Hiro.
Hana memandang sinis wajah lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya ini. "Ingat perjanjian kita. Kita hanya bisa menampakkan layaknya suami istri ketika berada di depan keluarga. Sedangkan saat ini tidak ada mereka. Jadi, saat ini perjanjian dari Nara lah yang kita ikuti."
Tanpa banyak kata, Hana mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ia memejamkan mata untuk memulai merajut mimpi. Sedangkan Hiro hanya bisa dibuat terperangah.
Ternyata tidak mudah membuat itik buruk rupa ini menuruti kemauan ku. Ia benar-benar berpegang teguh pada perjanjian yang ia buat bersama Nara.
Hiro terlihat frustrasi sendiri karena kenyataannya Hana memiliki keteguhan hati. Tidak mudah bagi wanita itu untuk melanggar apa-apa yang sudah menjadi pasal perjanjian.
Merasa tubuhnya begitu lelah dan didera oleh rasa kantuk yang teramat sangat, Hiro pun ikut merebahkan diri di atas ranjang. Ia mulai memejamkan mata untuk bisa menyelami lautan mimpinya.
***
"Lebih rapat lagi! Kalau jauh-jauh seperti itu, kakek dan yang lainnya bisa curiga!"
Entah untuk keberapa kalinya Hiro meminta Hana untuk lebih rapat ke tubuhnya. Hiro merasa masih ada celah diantara keduanya. Oleh karena itu Hiro meminta Hana untuk lebih merapatkan tubuhnya.
"Ckkkcckk.... Mau rapat seperti apa lagi sih? Lihatlah, pinggangku udah teramat rapat kepadamu. Bahkan seperti ditempel dengan lem fox. Mau bagaimana lagi coba?"
Hana justru dibuat pusing tujuh keliling akan tingkah laku Hiro. Perasaannya mengatakan bahwa tubuhnya sudah begitu rapat dengan suami kontraknya ini. Namun untuk kesekian kalinya Hiro mengatakan jika kurang rapat. Hana sampai berpikir apa iya ia harus memakai satu pakaian yang sama dengan Hiro agar benar-benar terlihat merapat dan merekat. Terkadang, sikap dan perilaku Hiro ini sungguh membuatnya tepuk jidat sendiri.
Hiro melihat lekat bagian pinggangnya. Benar saja, saat ini mereka sudah sangat dekat dan rapat. Sepertinya celah yang sempat ia lihat hanya sekedar kamuflase semata.
"Nah, jika begini jauh terlihat lebih sempurna. Dengan seperti ini Kakek dan yang lainnya pasti akan semakin percaya bahwa tidak ada ikatan kontrak di antara kita!"
"Isshhh.... Isshhh... Isshhh... Perasaan dari tadi juga sudah seperti ini."
"Sudah, jangan cerewet! Kita harus menampakkan sikap seromantis mungkin. Jangan sampai membuat mereka curiga."
Sepasang pengantin baru itu berjalan menyusuri lobi hotel. Mereka belokkan sedikit arahnya untuk menuju restoran yang ada di hotel ini. Hana dan Hiro harus memenuhi permintaan sang kakek untuk sarapan bersama.
Keduanya berjalan bersisihan. Hana menggamit lengan tangan Hiro dengan erat. Meskipun sedikit kikuk namun keduanya sama-sama berupaya untuk bersikap se natural mungkin.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Hiro saat tiba di meja yang sudah dipesan oleh sang kakek. Terlihat semua anggota keluarganya berkumpul di meja ini.
"Sungguh, aura pengantin baru memang terlihat berbeda ya. Kakek sampai ikut merasakan kebahagiaan kalian. Ayo duduk, kita sarapan bersama!"
Hiro menggeser kursi yang masih kosong untuk Hana. "Silakan duduk Sayang. Tapi tunggu sebentar, aku cek dulu kursi ini. Jangan-jangan ada paku payungnya."
Hiro memperhatikan dengan seksama kursi yang akan diduduki oleh Hana. Ia mencoba mencari paku payung di kursi ini.
Kodok kurapan ini benar-benar tidak tahu caranya bersikap romantis atau pura-pura tidak tahu sih? Masa iya di kursi restoran hotel bintang tujuh seperti ini ada paku payung. Sungguh konyol sekali. Apa paku payung itu tidak bisa diganti dengan debu atau bulu-bulu nyamuk?
Hana justru merasa heran sendiri. Seorang CEO perusahaan tapi buta dengan kata-kata puitis dan romantis. Hana sampai berniat mengajak Hiro untuk membaca novel online untuk mencari kata-kata gombal layaknya CEO yang sedang bucin.
Niat hati ingin bersikap romantis tapi justru membuat gelak tawa orang-orang yang berkumpul di meja ini. Namun meskipun terdengar sedikit konyol tapi perlakuan Hiro ini terlihat manis sekali.
"Aman Sayang. Ayo duduk!" ucap Hiro mempersilahkan.
Hana tersenyum manis seraya menganggukkan kepalanya. "Terima kasih suamiku!"
"Uluuhh... Uluuhhhh... Sikap kalian ini manis sekali. Mama jadi teringat masa-masa pengantin baru Mama dengan papa." Ayumi melirik ke arah Kenji yang duduk di sampingnya. "Betul seperti itu kan Pa?":
"Betul Ma. Mama dulu juga memanggil Papa dengan panggilan suamiku, yang terdengar so sweet sekali!"
Ehemmmm...
Ichiro berdehem untuk terbebas dari rasa seraknya.
"Baiklah, karena sudah berkumpul semua, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan."
Ichiro menghela napas dalam dan kemudian ia hembuskan perlahan. "Yang pertama, untuk Hiro. Mulai hari ini perusahaan yang kamu pegang sudah resmi menjadi milikmu Ro. Ingat, Kakek menggantungkan harapan di pundakmu. Perusahaan harus bisa jauh lebih berkembang daripada sebelumnya."
Wajah Hiro berbinar. Ia menganggukkan kepalanya sebagai pertanda siap dengan tantangan yang ada di depan.
"Itu sudah pasti Kek. Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk membuat perusahaan berkembang."
"Bagus, aku percaya padamu Ro!" Ichiro menjeda sejenak ucapannya untuk menarik napas. "Yang kedua. Rumah mewah yang berada di tepi danau sudah siap untuk ditempati. Jadi Kakek harap kalian bisa segera pindah di sana."
"Apa tidak terlalu cepat Pa? Jika seperti ini kesannya Papa ingin cepat-cepat mengusir Hiro," timpal Ayumi sedikit tidak mengerti karena sang ayah meminta Hiro untuk cepat-cepat pindah.
"Papa tidak mengusir mereka, Yumi. Justru dengan mereka segera pindah, maka akan semakin cepat pula aku mendapatkan cicit. Kamu paham kan?"
Ayumi berpikir sejenak. Sepersekian detik wanita itupun terkekeh. "Hahahaha ... Benar juga ya Pa. Baiklah kalau begitu, Mama setuju jika kamu langsung pindah Ro!"
"Nah, yang ketiga untuk pak Ndaru. Apakah pak Ndaru ingin ikut tinggal bersama Hiro dan Hana?"
Ndaru sekilas menatap wajah sang putri. Rasa-rasanya sangatlah tidak etis jika ia tinggal bersama anak dan menantunya. Anak dan menantunya membutuhkan privasi yang mungkin tidak ingin diketahui oleh orang tua ataupun mertuanya.
Ndaru menggelengkan kepala. "Tidak Pak. Saya akan tetap tinggal di rumah. Biarkan putri saya dan suaminya hidup mandiri."
Hana terhenyak. "Apa Yah? Ayah tidak ingin tinggal bersama Hana? Bagaimana bisa begitu Yah? Saat ini Ayah sedang sakit, siapa yang akan mengurusi semua keperluan Ayah?"
Ndaru tersenyum simpul seolah memberikan sugesti kepada Hana agar putrinya itu tidak terlalu khawatir. "Tenang Nak, Ayah sudah bisa melakukan semuanya sendiri. Sekalian untuk latihan agar Ayah bisa sembuh total."
"Tapi Yah...."
"Hana, kamu tenang saja. Biar Kekek perintahkan dua orang perawat dan pelayan untuk menemani Ayahmu. Dengan begitu kamu bisa jauh lebih tenang," pangkas Ichiro yang diharapkan bisa memupus kekhawatiran yang dirasakan oleh cucu menantunya ini.