Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku

Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku
TMKS 20. Punggung nan Menggoda



Pesta telah usai. Ruangan yang sebelumnya dipenuhi oleh para tamu undangan, kini sudah nampak lengang. Hanya tersisa para crew WO yang mulai membereskan dan membersihkan area ballroom. Meskipun wajah-wajah mereka nampak lelah, namun tak sedikitpun mereka mengeluh. Mereka masih berusaha tetap semangat untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.


Ichiro, Ayumi, Kenji, Ndaru, Yokohama dan sepasang pengantin baru itu masih berada di dalam ballroom. Sepertinya masih ada sesuatu yang belum usai untuk mereka bahas. Hal itu nampak jelas di raut wajah Ichiro.


"Dari mana saja kamu Ro? Mengapa tadi kamu malah meninggalkan pesta ini? Kamu hanya mengatakan ingin ke kamar mandi bukan? Tapi mengapa tidak lekas kembali?"


Ichiro masih dibuat kebingungan oleh polah tingkah sang cucu. Bisa-bisanya Hiro pamit ke kamar mandi namun tak kunjung kembali. Itulah yang membuat beberapa pertanyaan muncul di benak lelaki berusia senja itu.


"Maafkan aku Kek. Perutku benar-benar mulas sekali. Jadi membuatku lebih lama lagi berada di kamar mandi."


Hiro menjawab sembari memegang perutnya. Entah apa maksud lelaki itu, namun sepertinya dengan memegangi perutnya begitu, akan membuat Ichiro semakin percaya bahwa perutnya memang sedang bermasalah. Sedangkan Yokohama yang mengetahui kejadian sebenarnya, ia hanya bisa menatap tajam wajah Hiro. Ia sungguh tidak menyangka jika Hiro berani membohongi sang kakek.


"Ckkckkckk .... Tapi sungguh tidak masuk akal Ro. Setengah jam lebih kamu meninggalkan acara. Apa iya selama setengah jam itu kamu tidak juga selesai dengan buang hajatmu?"


Ichiro tidak serta merta percaya begitu saja. Apa yang diucapkan oleh Hiro sungguh di luar nalar. Lelaki berusia senja itu seperti menangkap sinyal kebohongan dari apa yang diucapkan oleh sang cucu.


"Kakek ... kalau seperti ini mau tidak mau Hana harus jujur kepada Kakek," timpal Hana tiba-tiba yang membuat Hiro dan Yokohama membelalakkan mata.


Hah, Apa maksud si itik buruk rupa ini? Apa dia akan mengatakan yang sebenarnya bahwa aku bertemu dengan Nara dan berciuman di rooftop? Benar-benar meresahkan.


Nona Hana ingin berkata jujur? Apakah mungkin nona Hana akan mengatakan apa yang dilakukan oleh tuan Hiro bersama mantan kekasihnya? Apakah mungkin dengan cara seperti itu nona Hana bisa menghentikan hubungan tuan Hiro dengan Nara yang diam-diam masih terjadi?


Ichiro mengernyitkan dahi, tidak begitu paham dengan apa yang Hana ucapkan ini. "Maksud kamu apa Hana? Jujur perihal apa?"


Hana tergelak pelan untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang. Ia harus benar-benar pandai berperan untuk menutupi perbuatan Hiro dengan Hana. Meskipun rasanya begitu berat, namun ia harus tetap totalitas dalam memainkan lakonnya.


"Kakek, sebenarnya Hana tidak ingin mengatakan hal ini karena malu. Tapi Hana tidak ingin membuat Kakek dan yang lainnya berpikiran buruk terhadap Hiro, jadi Hana memilih untuk jujur kepada Kakek dan yang lainnya."


"Maksudmu apa Nak? Jangan membuat kami kebingungan seperti ini," ucap Ndaru yang juga turut keheranan akan maksud dari perkataan sang anak.


Hana tersenyum simpul. Ia menggeser tubuhnya untuk merapat di tubuh Hiro. Tanpa basa-basi ia menggamitkan lengan tangannya di lengan tangan sang suami. Tak lupa, ia letakkan kepalanya di pundak Hiro untuk menimbulkan kesan romantis.


Hiro semakin terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh Hana. Ia masih belum mengerti akan maksud dari sikap Hana yang tiba-tiba romantis seperti ini.


"Tidak perlu bertanya-tanya akan apa yang aku lakukan. Aku hanya sedang berupaya untuk menutupi semua yang kamu lakukan bersama Nara di kolam renang tadi," bisik Hana lirih di telinga Hiro.


Hana kembali menautkan pandangannya ke arah anggota keluarganya. Wanita itu tersenyum lebar seakan ada hal membahagiakan yang terjadi.


"Hana dan Hiro mencuri-curi waktu untuk bisa bermesraan di rooftop hotel ini, Kek. Kakek tahu sendiri bukan jika suasana rooftop hotel ini terasa begitu romantis sekali? Hana dan Hiro ingin menikmati suasana romantis di sana. Itulah yang membuat kami kembali ke acara pesta sedikit lebih lambat."


Ichiro mencoba untuk mencerna apa yang diucapkan oleh Hana. Sejenak kemudian, lelaki berusia senja itu terbahak seketika.


"Hahahaha ... Jadi kalian ini sudah tidak sabar untuk bermesra-mesraan? Ya Tuhan ... Mengapa kalian tidak bilang? Kalau kalian bilang sebelumnya, Kakek kan bisa mempercepat acara ini sehingga tidak terlalu lama."


Ayumi dan Kenji juga ikut tergelak sembari menggeleng-gelengkan kepala. Ternyata apa yang pernah mereka rasakan pada saat pertama kali menjadi suami istri juga dirasakan oleh sang putra. Ingin cepat-cepat mencurahkan rasa cinta yang ada di atas ranjang.


"Kamu ini ternyata tidak jauh berbeda dengan Papa, Ro. Sudah-sudah , lebih baik kalian segera kembali ke kamar yang sudah kami siapkan. Kamar istimewa yang ada di lantai paling atas hotel ini," ucap Kenji memberikan intruksi.


"Mama juga sudah menyiapkan pakaian spesial malam pertama untukmu Sayang," timpal Ayumi yang ia tujukan kepada sang menantu.


Ayumi terkekeh pelan. "Yang membuat kalian semakin bergairah untuk melewati malam pertama ini. Dengan begitu kalian bisa segera memberikan Mama dan papa cucu dan memberikan cicit untuk kakek."


Rona merah jambu muncul di wajah Hana. Ia sudah bisa menangkap pakaian seperti apa yang dimaksud oleh sang mertua. Pakaian tipis dan menerawang yang biasa disebut dengan pakaian dinas seorang istri.


***


Gemericik air shower terdengar sampai di telinga Hana yang saat ini masih berdiri terpaku di sudut kamar. Hana mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Ia begitu takjub dengan suasana kamar hotel yang nampak mewah seperti ini.


Pandangannya tertuju pada ranjang king size yang sudah dihiasi oleh kelopak-kelopak mawar merah dan dua handuk putih yang dibentuk menjadi dua ekor angsa. Sungguh terlihat manis dan romantis sekali.


Hana tersenyum getir. Meskipun kamar hotel ini nampak begitu romantis dan manis, namun tetap saja hatinya terasa begitu kosong. Ia sampai tidak tahu akan melakukan apa di kamar ini.


Hiro keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe warna putih. Kemunculan Hito itu pulalah yang membuat Hana terbangun dari lamunannya. Ia menatap lekat sosok lelaki yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi itu.


Rambutnya yang basah dengan bulir-bulir air yang menetes di wajah sungguh membuat lelaki itu terlihat jauh lebih tampan. Hana sampai terkesima dengan sosok lelaki tampan yang berdiri tak jauh dari tempatnya ini.


"Mau sampai kapan kamu berdiri di sana? Kamu tidak ingin membersihkan tubuhmu?" tanya Hiro sembari mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk.


Hana semakin keki. Ia berusaha mati-matian agar suami settingannya ini tidak tahu jika ia sempat memuji ketampanannya dalam hati.


"Ini aku mau mandi!" ucap Hana sedikit kikuk.


"Ya sudah, sana mandi!"


Hana berjalan ke arah kamar mandi. Namun baru beberapa saat, ia teringat akan sesuatu.


Astaga, aku kan masih memakai gaun pengantin. Lalu bagaimana caranya aku membuka resleting gaun ini? Apa aku minta tolong mama saja untuk membuka resleting gaun ini? Tapi jika aku minta tolong mama, bisa-bisa mama curiga. Aduhh .. . Aku harus bagaimana?


Hana sibuk bermonolog dalam hati. Ia kebingungan untuk membuka gaun yang ia kenakan ini. Ia ragu untuk meminta tolong Hiro yang jelas-jelas ada di kamar ini.


Hiro hanya bisa mengernyitkan dahi melihat Hana yang hanya berdiam diri dan tidak lekas masuk ke kamar mandi. Ia sampai keheranan apa gerangan yang dilakukan oleh Hana.


"Hei, mengapa kamu malah diam di sana? Cepat mandi! Nunggu apa lagi kamu?"


Hana membuang napas sedikit kasar. "Bagaimana aku bisa mandi jika gaunku masih melekat seperti ini?"


"Tinggal dilepas bukan? Kok kamu malah bingung sendiri?"


"Bagaimana aku bisa melepaskan gaun ini? Aku tidak bisa membuka resletingnya!"


Pada akhirnya, Hana memilih untuk jujur di depan Hiro. Badannya sungguh gerah dan ingin cepat-cepat terlepas dari gaun ini. Ia tidak peduli respon apa yang akan diberikan oleh Hiro.


Hiro berdecak kesal. Ia berjalan ke arah Hana dan berdiri di belakang punggungnya. "Tinggal bilang minta tolong bukain resleting saja mengapa susah sekali?"


Hana hanya terdiam. Ia mulai merasakan tangan Hiro yang menyentuh resleting gaun yang ia kenakan. Perlahan, resleting itu turun hingga ke bagian bokongnya.


Kini punggung Hana terekspos jelas di depan mata Hiro. Kedua bola mata lelaki itu membulat sempurna kala melihat begitu putih dan mulusnya punggung istri kontraknya ini. Meskipun kulit wajah Hana nampak kusam tapi tidak untuk kulit punggungnya. Punggung wanita ini benar-benar terlihat menggoda dan menggairahkan.


Shiittt.... Ini mengapa si Joni malah berdiri? Tidak mungkin kan kalau aku berhasrat dengan itik buruk rupa ini?