
Tubuh Hana sejenak terpaku dan membeku kala melihat sosok Yokohama yang sudah berdiri di belakang punggungnya. Sorot mata lelaki itu tidak lepas dari dua orang yang sedang larut dalam ciuman dalam di tepian kolam renang. Dengan ditemani oleh remang cahaya rembulan yang semakin membuat suasana intim semakin terasa.
"Apa bisa Anda jelaskan mengapa tuan Hiro bisa bersama wanita itu Nona? Dan apakah Anda tahu siapa wanita itu?"
Yokohama masih menatap intens adegan intim yang terjadi antara Hiro dan Nara. Lelaki itu seakan menemukan gelagat aneh yang berada di luar akal sehatnya. Tidak mungkin sepasang manusia yang sudah menjadi mantan namun masih terlihat mesra dengan berciuman bibir.
Hana sedikit kebingungan harus mengatakan apa. Namun sebisa mungkin ia tetap tenang dalam menghadapi Yokohama. Dia tidak ingin jika sampai Yokohama semakin curiga akan pernikahan settingan dan kontrak yang ada di antara Hiro dengan dirinya.
"Saya tahu siapa wanita itu Tuan. Dia adalah mantan kekasih suami saya."
"Lantas mengapa Anda hanya diam saja melihat mereka berciuman seperti itu? Mengapa Anda tidak mencoba untuk menghentikannya?"
Hana tetap bersikap tenang. Permainan yang ia mainkan baru saja dimulai. Ia tidak ingin ini semua menjadi berantakan hanya karena ia tidak pandai dalam menyembunyikan perasaan.
"Tuan, Anda pasti tahu bukan sudah berapa lama Hiro menjalin hubungan dengan Nara? Mungkin tidaklah mudah bagi mereka untuk bisa saling melepaskan dan merelakan. Hingga terjadi apa yang kita lihat saat ini."
Dahi Yokohama berkerut. Mencoba memahami apa yang diucapkan oleh Hana. "Apakah Anda tidak cemburu? Apakah Anda tetap membiarkan tuan Hiro melakukan hal itu di saat posisinya sudah menjadi suami Anda?"
Mengapa harus cemburu? Ini semua hanya permainan, Tuan. Permainan, di mana enam bulan mendatang semua akan berakhir.
Hana terkekeh lirih. "Saya sama sekali tidak cemburu Tuan. Bagaimanapun juga Nara hanyalah masa lalu Hiro. Sedangkan saya adalah istrinya dan secara otomatis menjadi masa depannya. Sampai kapanpun roda belakang itu tidak akan pernah mendahului roda depan, bukan?"
"Tapi, saya melihat ada kejanggalan di sini. Saya merasa...."
"Sudahlah Tuan, Anda tidak perlu berpikir yang macam-macam. Saya hanya sedang memberikan ruang bagi mereka untuk saling merelakan. Merelakan untuk berpisah."
Yokohama kembali menatap intens wajah Hana. Ia masih saja mencoba mencari sesuatu yang mungkin tersembunyi di balik raut wajah wanita ini. Namun, ia merasa tidak ada yang harus ia khawatirkan.
"Baiklah kalau begitu Nona. Saya percaya kepada Anda. Tapi saya harap Anda bisa bersikap lebih tegas karena bagaimanapun juga tuan Hiro sudah tidak lagi memiliki hubungan apapun dengan Nara dan apa yang mereka lakukan memang tidak pantas."
Hana menganggukkan kepala. "Baik Tuan!"
Yokohama membawa tubuhnya pergi dari hadapan Hana masih dengan sejuta tanya di dalam hati. Di matanya, apa yang terjadi diantara Hiro, Nara dan Hana memang bukan sebuah kewajaran. Seperti ada sesuatu yang terjadi di balik pernikahan ini.
Sepertinya aku memang harus mencari tahu. Apa yang ada di balik pernikahan tuan Hiro ini.
Hana menghela napas lega setelah bayangan Yokohama tidak lagi nampak di depan mata. Ia kembali menatap dua orang yang masih larut dalam pagutan bibir itu yang semakin lama justru terlihat semakin dalam saja.
"Apakah kamu masih lama berada di sini? Kakek mencarimu!"
Gelombang suara yang tiba-tiba terdengar di indera pendengaran, membuat Hiro dan Nara terkesiap. Seketika itu, mereka menghentikan ciuman dalam yang sedang mereka lakukan.
"Hana? Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Hiro sedikit kikuk. Meskipun mereka sama-sama tahu bahwa semua ini hanya sebuah permainan, namun ia merasa kikuk jika sampai Hana melihat keintiman yang terjadi diantara dirinya dengan Nara.
Hana hanya tersenyum kecil. Ia menatap lekat wajah sahabatnya yang tengah tersipu itu. Sampai ia sedikit terperangah dengan beberapa tanda merah yang ada di leher Nara.
"Sejak tadi. Sejak belum ada kissmark di leher Nara. Sedangkan sekarang sudah ada bekas kemerahan di sana."
Hiro terhenyak. Lelaki itu juga turut menatap lekat bagian leher Nara. Betapa terkejutnya ia karena ternyata apa yang ia lakukan meninggalkan bekas semerah ini. Lelaki itu sampai tidak bisa berkata apa-apa.
Nara mencoba untuk mengingatkan Hana akan hubungan asmara yang masih tercipta diantara dirinya dengan Hiro. Ia tidak ingin jika Hana terlalu membatasi apa yang ingin ia lakukan bersama Hiro.
"Itu betul Ra, tidak ada larangan bagi kalian untuk melakukan apapun. Tapi mulai saat ini kalian harus berhati-hati," ujar Hana yang membuat Hiro dan Nara sedikit kebingungan.
"Hati-hati seperti apa maksudmu? Yang seharusnya bersikap hati-hati itu adalah kamu, Han. Jangan sampai kamu melanggar apa yang sudah menjadi kesepakatan kita!" ucap Nara dengan intonasi yang sedikit lebih tinggi. Wanita itu seakan tidak terima jika terlalu diintimidasi oleh Hana.
Hana tergelak pelan seakan begitu santai berhadapan dengan sahabatnya ini. "Aku pastikan bahwa aku bisa menjaga rahasia ini. Namun aku rasa kalian sendirilah yang tidak bisa menjaga semuanya."
"Maksudmu?" tanya Hiro yang semakin dibuat tidak mengerti.
"Baru saja tuan Yokohama melihat apa yang kalian lakukan di tempat ini. Aku harap jika kalian ingin bermesraan seperti ini harus ditempat tersembunyi agar tidak ada satu orang pun yang memergoki." Hana menjeda ucapannya untuk kemudian berbalik punggung. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk pergi dari tempat ini.
Hiro membelalakkan mata. Hatinya juga mendadak didera oleh rasa takut dan cemas yang luar biasa. Ia khawatir jika Yokohama akan memberitahukan semua yang ia lihat kepada sang kakek.
"Lalu, apa yang ia katakan? Mengapa dia tidak menemuiku?"
Hana menghentikan langkah kakinya. "Kamu tidak perlu khawatir, karena aku sudah menghandle semua. Saat ini aku hanya berpesan kepada Nara dan aku harap Nara bisa melakukannya."
Nara tersentak mendengar perkataan Hana. Ia yang merasa menjadi pengendali dari pernikahan kontrak yang terjadi diantara kekasih dengan sahabatnya justru merasa terintimidasi oleh ucapan Hana ini.
"Apa maksudmu Han? Seharusnya kamulah yang menuruti bagaimana permainan yang harus kamu mainkan bukan malah mengintimidasiku. Di sini aku yang memegang kendali. Kamu harus ingat itu!"
Hana tergelak pelan dan masih bersikap santai. "Tentu aku ingat bahwa kamu yang memegang kendali, Ra!"
"Lantas, mengapa kamu seperti ingin mengambil posisiku dalam memegang kendali?"
Nara bertanya dengan emosi yang sudah mulai meluap di dalam hati. Ia merasa jika Hana akan berbuat semuanya sendiri dan tidak ingin dibatasi.
"Di mata khalayak umum akulah yang menjadi istri sah Hiro meskipun pernikahan ini hanyalah pernikahan kontrak. Jadi, kamu harus bisa menjaga sikap. Jangan sampai orang-orang beranggapan bahwa kamu adalah perusak rumah tangga wanita lain dengan sikapmu yang mungkin tidak terkendali seperti ini!"
Tak ingin berlama-lama lagi di tempat ini, Hana kembali mengayunkan tungkai kaki untuk pergi dari tempat ini. Ia teramat khawatir jika sampai sang kakek kebingungan mencari keberadaannya.
"Aaarrrgggghhhh ... Lihatlah itu Ro! Hana sepertinya sudah mulai berani menentangku. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu kepadaku!"
Nara benar-benar tidak terima dengan ucapan Hana. Wanita itu berteriak lantang, meluapkan amarahnya. Sedangkan Hiro, lelaki itu hanya terdiam dan terpaku. Lelaki itu nampak seperti tengah memikirkan apa yang diucapkan oleh Hana.
"Tapi menurutku, apa yang dikatakan oleh Hana memang benar Ra. Kita, terutama kamu harus berhati-hati dalam bersikap. Jangan sampai justru permainan ini terbongkar karena kesalahan kita sendiri!"
"Kamu membela Hana Ro?" pekik Nara seakan tidak terima.
"Bukan, bukan memebela. Aku hanya berharap kita bisa lebih berhati-hati. Jangan sampai ada orang lain lagi yang mengetahui hubungan kita ini. Beruntung Hana sudah mengkondisikan Yokohama sehingga lelaki itu tidak terlalu curiga dengan apa yang kita lakukan."
.
.
.