Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku

Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku
TMKS 21. Ganti Pakaian Istrimu!



Di balkon kamar hotel yang ia tempati, Hana berdiri sembari menatap langit malam ini. Hamparan langit yang dipenuhi oleh bintang dan rembulan yang terlihat syahdu sekali. Mereka seakan bersenandung dan menari, yang membuat suasana langit terasa ramai sekali.


"Hah .... Andai saja aku bisa terbang ke sana, aku pasti akan sangat bahagia bisa bersama bintang dan bulan. Di sini aku sungguh kesepian. Di kamar ini aku memang tidak sendiri sih, tapi sungguh serasa sepi sekali."


Selepas membersihkan diri, Hana memilih untuk berdiri di balkon. Ia terpaksa masih membungkus tubuhnya dengan bathrobe, mengingat pakaian yang tersedia di kamar ini semua hanya berwujud lingerie saja. Hana sampai bertanya-tanya dalam hati. Mengapa sang mama mertua menyiapkan lingerie sebanyak ini? Memang berapa hari ia akan berada di tempat ini?


"Kalau saja tidak diawasi, akan aku jual lingerie-lingerie yang ada di lemari itu. Lumayan bukan? Hasil jualannya bisa masuk ke kantong?"


Melihat lingerie sebanyak itu, membuat jiwa oportunis Hana meronta. Ia seperti ingin memanfaatkan semua peluang yang ada. Namun semua hanya ada di dalam angan. Ia tidak mau menimbulkan kesan buruk di hadapan mertua.


Hana sedikit berbalik badan. Nampak jelas di matanya, sang suami kontraknya sedang larut dalam obrolannya dengan seseorang melalui sambungan telepon. Siapa lagi jika bukan dengan Nara.


"Ckckckck ... Hampir dua jam mereka berbincang di telepon. Memang apa sih yang mereka bicarakan sampai larut malam seperti ini? Apa tidak bisa disambung besok lagi?"


Rasa kantuk yang mendera, membuat Hana merasa kesal sendiri. Ia sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah dua orang yang tidak tahu waktu itu. Suara Hiro yang terdengar begitu keras sungguh membuatnya terganggu jika ia memilih untuk tidur di sofa yang ada di dalam kamar.


"Pokoknya jangan sedikitpun kamu memegang tubuh Hana, Ro. Aku tidak ikhlas jika kamu sampai melakukan hal itu. Awas saja kamu jika ketahuan memegang tubuh Hana!"


"Tenanglah Ra, aku tahu batasannya. Aku tidak akan pernah sudi memegang itik buruk rupa itu. Kamu tahu sendiri bukan jika aku merasa jengah berada di dekatnya?"


"Aku pegang ucapanmu Ro. Kalau kamu mengingkari, kamu tahu sendiri bukan apa resikonya?"


"Iya Ra, iya. Aku pasti mengingatnya."


Hana mendengus kesal kala mendengar pembicaraan Hiro dan Nara melalui sambungan telepon. Hiro sepertinya sengaja memakai mode loudspeaker agar bisa terdengar sampai balkon. Dengan mode itu, suara Nara terdengar jelas di telinganya.


"Idiiihhhh ... Siapa juga yang sudi disentuh oleh kodok kurapan? Aku juga ogah kali!"


Kali ini Hana sengaja mengeraskan suaranya untuk membalas hinaan yang dilontarkan oleh Hiro. Dengan cara seperti itu, hatinya terasa jauh lebih lega dari sebelumnya.


Hiro menoleh ke arah Hana. Lelaki itu hanya bisa melotot saja dan tak mengucapkan apa-apa. Sepersekian detik, Hito kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Haduuhhh melebihi kaum emak-emak berdaster yang sedang ghibah di tukang sayur saja mereka itu. Masa hampir dua jam tidak selesai-selesai."


Pada akhirnya Hana memilih untuk duduk di sebuah sofa panjang dengan desain minimalis yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Tubuhnya terasa begitu lelah karena seharian ini ia disibukkan dengan acara pernikahan. Rasa kantuk pun semakin terasa memeluk raga.


"Aku sumpahin suara mereka serak atau habis sekalian karena sudah mengganggu ketenangan dan kenyamananku."


Hana menaikkan kakinya di atas sofa. Ia mengambil posisi meringkuk layaknya janin yang masih berada di dalam rahim. Tak membutuhkan waktu lama, wanita itu mulai terlelap menyelami lautan mimpi masih dengan suasana hati yang begitu kesal kepada sosok Hiro dan juga Nara.


Hiro memutus sambungan teleponnya saat rasa kantuk dan lelah juga menyerangnya. Berkali-kali lelaki itu menguap yang semakin menegaskan bahwa ia mengantuk berat. Sekilas, ia menoleh ke arah balkon yang hanya bersekat pintu kaca dan ia pun sedikit keheranan karena tidak ia dapati bayangan tubuh Hana.


"Kemana itik buruk rupa itu? Jangan-jangan ia bunuh diri dengan lompat dari balkon karena merasa terganggu dengan obrolanku bersama Nara?"


Hiro bermonolog lirih sembari bangkit dari posisi duduknya. Ia melangkahkan kaki menuju balkon di mana sebelumnya ia melihat Hana berdiri di sana. Sampai di sana, Hiro mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Terlihat Hana tengah tertidur pulas sembari meringkuk di atas sofa.


"Oh ... Ternyata dia tidur di sini?" ucap Hiro lirih saat melihat Hana sudah lelap dalam tidurnya. "Hahahaha biarkan saja dia tetap di sini. Dengan begitu, ranjang bisa aku kuasai tanpa adanya gangguan sedikitpun."


Senyum seringai terbit di bibir Hiro. Dengan penuh kemenangan ia berjalan ke arah ranjang. Tanpa basa-basi ia menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang sembari merentangkan kedua tangannya.


"Hah.... Akhirnya aku bisa tidur nyenyak."


Hiro mencoba untuk memejamkan mata. Baru saja kelaki itu berusaha merajut mimpi tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Dahi Hiro mengernyit. Tidak paham siapa yang bertandang ke kamarnya malam-malam seperti ini.


"Hiro, Hana buka pintunya. Ini Mama!"


"Ma, kenapa tidak besok saja kita bertemu dengan mereka? Ini sudah larut malam Ma. Barangkali mereka sedang wik-wik. Jangan sampai kita menjadi hama pengganggu," tutur Kenji dengan suara lirih. Ia sungguh tidak sampai hati jika sampai mengganggu pasangan pengantin baru itu.


Nampak sebuah paper bag kecil berada di genggaman tangan Ayumi. Sepertinya karena paper bag itulah yang membuat Ayumi memaksakan diri untuk bertandang di kamar sang anak malam-malam seperti ini.


"Haisshhh .... Papa ini bagaimana? Papa tahu bukan apa yang Mama bawa ini? Ini adalah ramuan pasak bumi dari Kalimantan dan gingseng asli Korea. Dengan ramuan ini Mama yakin Hiro akan kuat bertempur sampai sepuluh ronde. Dengan begitu kita bisa segera punya cucu Pa!"


Kenji hanya bisa membuang napas kasar, jika sudah seperti ini tidak ada lagi yang bisa menghentikan keinginan istrinya ini.


Ceklek...


Pintu kamar terbuka, dan Hiro keluar dari dalam sana


"Papa, Mama? Ada apa malam-malam seperti ini ke kamar Hiro?"


Tanpa basa-basi Ayumi masuk ke dalam kamar sang putra diikuti oleh Kenji. Hal itulah yang membuat Hiro ketakutan setengah mati.


Matilah kamu Ro. Kamu belum sempat membangunkan Hana untuk kamu minta pindah di atas ranjang. Mama dan Papa pasti akan tahu jika kalian pisah ranjang.


"Bagaimana kamar ini Ro? Kamu menyukainya? Mama sengaja datang kemari untuk me...." Ayumi menjeda ucapannya untuk kemudian berbalik badan. Ia tatap lekat wajah putranya ini. "Hiro, di mana Hana? Mengapa dia tidak ada di atas ranjang? Kalian tidak tidur di ranjang yang sama?" sambung Ayumi sedikit berteriak.


Hiro sedikit kebingungan mencari jawaban. Namun sebisa mungkin ia sembunyikan raut wajah penuh kekhawatiran itu. "Ma, bukan begitu. Tadi Hiro baru akan memindahkan Hana ke ranjang, tapi keduluan Mama datang. Jadi Hiro membukakan pintu untuk Mama dulu."


"Benarkah seperti itu?" tanya Ayumi penuh selidik. "Lalu sekarang di mana Hana?"


"Benar Ma, sumpah," ucap Hiro sembari bersumpah untuk meyakinkan sang mama. "Dia ada di balkon Ma. Sebelumnya kami duduk berduaan menikmati langit malam dari balkon. Eh tiba-tiba saja Hana mengeluh jika mengantuk. Akhirnya dia pun tertidur di sana."


Ayumi masih sedikit ragu dengan jawaban Hiro. Ia mencoba mencari kebohongan di sana namun tidak ia temukan juga. Wanita itupun memilih untuk percaya saja dan melihat sang menantu yang tengah tertidur di balkon.


"Astaga Hiro! Kamu ini tega ya!" pekik Ayumi begitu gemas dengan sang putra.


Hiro yang masih berada di dekat ranjang menatap sang papa untuk mencari tahu apa maksud ucapan mamanya ini. "Ada apa lagi itu Pa?"


"Entahlah. Coba kamu susul mamamu, Ro!"


"Ada apa sih Ma?" tanya Hiro saat sudah berada di belakang tubuh Ayumi.


"Mengapa kamu biarkan istrimu memakai bathrobe seperti ini? Dia pasti kedinginan!"


"Lalu, dia harus memakai pakaian apa Ma? Di almari hanya ada lingerie, bukankah itu jauh lebih membuat Hana kedinginan?"


"Ckkckkkckk.... Kamu ini mengapa belum paham juga Ro? Justru jika memakai lingerie tubuh Hana akan memanas dan pada akhirnya membuat kalian lebih bergairah. Sudah, Mama tidak mau tahu. Sekarang ganti bathrobe Hana ini dengan lingerie!"


Hiro terhenyak dengan kedua bola mata yang membulat sempurna. "Apa? Hiro yang harus mengganti pakaian Hana?"


"Ya memang kamu Ro, mau siapa lagi?"


Ya Tuhan .... Bagaimana caranya aku bisa menolak? Padahal Nara sudah berpesan agar aku tidak sedikitpun menyentuh tubuh Hana.


.


.


.