
Hiro duduk di kursi kebesarannya seraya menatap lekat layar gawai di tangannya. Di layar itu nampak jelas wajahnya yang berbahagia saat berfoto bersama Nara. Sebuah foto yang ia ambil ketika keduanya berlibur ke Rusia. Entah apa yang ada di dalam benak mereka ketika memilih Rusia sebagai negara tujuan. Ah, mungkin saja mereka bermaksud untuk sekalian membantu tentara-tentara Vladimir Puttin untuk menyerang Ukraina.
"Saya perhatikan sudah setengah jam lebih Anda menatap lekat layar ponsel itu, Tuan. Apakah ada sesuatu yang terjadi?"
Yokohama, yang sering dipanggil dengan panggilan Yoko (jangan panggil dengan panggilan Hama ya semua, takutnya seperti hama wereng yang sering menyerang tanaman padi) sungguh keheranan karena tidak seperti biasanya Hiro larut dalam pikirannya sendiri seperti ini. Ia khawatir jika sedang terjadi sesuatu terhadap bos nya ini.
"Ah, tidak apa-apa, Pak. Aku hanya sedang merindukan Nara. Sudah satu minggu lebih dia ke Afrika untuk sesi pemotretan. Jadi, hanya dengan melihat foto di layar handphone seperti inilah yang bisa mengikis rasa rinduku."
Yoko sedikit terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Hiro, pasalnya ia mendengar kabar jika bos nya ini sudah putus dengan sang kekasih. Namun mengapa Hiro masih terlihat begitu mencintai Nara?
"Mohon maaf Tuan, saya dengar Tuan sudah tidak lagi menjalani hubungan dengan nona Nara. Tapi mengapa Tuan masih merindukannya?" tanya Yoko sedikit keheranan.
Hiro sedikit tersentak. Ia sadar jika rumor ia putus dari Nara sudah terdengar sampai ke telinga orang-orang yang berada di kantor. Hiro mencoba bergegas mencari jawaban yang masuk akal.
"Betul Pak, aku memang sudah putus dari Nara. Namun aku masih sulit untuk melupakannya. Tapi pelan-pelan aku akan mencoba untuk melupakannya."
"Oh seperti itu ya Tuan? Baiklah kalau seperti itu." Yoko kembali menatap layar tablet yang ia bawa. Setelah makan siang, Tuan ada janji bertemu dengan salah satu relasi dari Singapura di restoran Banyu Bening."
"Oke Ko. Akan aku persiapkan semua."
Yoko sedikit menundukkan punggungnya. Ia melenggang pergi meninggalkan ruang bos nya ini. Baru sebentar Yoko keluar dari ruangan, tiba-tiba pintu kembali dibuka dari arah luar.
"Hiro!"
"Kakek!"
Ichiro masuk ke ruangan sang cucu dan ia daratkan bokongnya di sofa. "Ini sudah dua minggu lebih setelah kamu putus dari Nara. Bagaimana? Apakah kamu sudah menemukan calon pendamping hidupmu?"
Hiro mengurut pelipisnya. Ingin rasanya ia tidak terkungkung dalam keadaan seperti ini. Tapi sudah terlanjur ia mainkan peran seperti ini.
"Kek ... sebenarnya aku sudah menemukan perempuan yang aku rasa seperti kriteria kakek. Aku bertemu dengannya saat berada di rumah sakit. Bahkan sebelum aku putus dengan Nara."
Wajah Ichiro sedikit berbinar. Ada rona kebahagiaan yang terpancar jelas di sorot mata lelaki berusia senja itu.
"Benarkah seperti itu Ro? Siapa namanya? Bagaimana sifatnya?'
"Namanya Hana Makaira, Kek. Untuk sifat, sejauh ini yang aku lihat dia wanita yang baik."
Beruntung Hiro sempat bertanya perihal nama lengkap, alamat, pekerjaan wanita gila itu kepada Nara. Dengan begitu ia sedikit tahu perihal kehidupan Hana. Dalam keadaan seperti ini, informasi-informasi tentang Hana sungguh sangat ia perlukan.
"Hana Makaira, nama yang sangat bagus. Yang memiliki arti bunga dan seseorang yang membawa kebahagiaan. Perasaan Kakek mengatakan jika kehadiran wanita itu akan membawa kebahagiaan untukmu, Ro!"
Issshhhh ... Issshhh .... Issshhhh ... Bunga apa? Bunga bangkai? Wajahnya saja culun dan kulitnya sangat kusam. Pakaiannya pun murahan. Dan apa yang kakek katakan? Wanita pembawa kebahagiaan? Kebahagiaan dari mana? Yang ada wanita pembawa sial.
Hiro justru sibuk bermonolog dalam hati. Bertubi-tubi ia mencaci maki calon istri kontraknya itu. Sungguh ia tidak terima jika nama yang memiliki arti secantik itu diberikan kepada wanita itu. Hingga Hiro pun tesadar dari lamunannya.
"Hiro tidak begitu paham Kek. Karena baru sebentar Hiro mengenalnya. Ada baiknya Kakek bertemu secara langsung saja dengan Hana."
Senyum lebar mengembang di bibir Ichiro. Entah apa yang terjadi, ada rasa bahagia yang bergumul dalam hati kala pertama kali ia mendengar nama Hana Makaira. Rasa bahagia itulah yang Ichiro anggap sebagai salah satu firasat jika Hana memang orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidup sang cucu.
"Sudah, tidak perlu ditunda-tunda lagi. Siang ini undang Hana untuk bertemu dengan Kakek di rumah! titah Ichiro seakan sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Hana.
Hiro terhenyak. " Siang ini Kek?"
"Tapi siang ini Hiro ada janji bertemu dengan relasi dari Singapura, Kek. Hiro tidak bisa membatalkannya."
Ichiro hanya tersenyum tipis. "Gitu saja kok pusing. Kamu tinggal meminta Yoko untuk mewakilimu dan kamu ajak Hana untuk datang menemui Kakek!"
"Tapi Kek...."
"Sssstttt .... Tidak ada tapi-tapian. Siang ini, kamu harus bisa mempertemukan Kakek dengan Hana!"
Hiro hanya bisa mengangguk pasrah. Rasa-rasanya ia tidak memiliki power untuk membantah permintaan kakeknya ini. Daripada akan mengakibatkan hal buruk untuk Ichiro sendiri.
***
Mobil sedan berwarna putih mengkilap itu melaju membelah jalanan yang nampak sedikit lebih ramai. Waktu menunjukkan jam makan siang, sehingga tidak mengherankan jika kondisi jalan sedikit ramai dengan kuda-kuda besi yang berlalu lalang.
"Astaga, belum apa-apa tapi keberadaan wanita itu sudah membuatku pusing saja. Terlebih kakek yang memaksaku untuk menjemput wanita gila itu. Memang aku sopirnya?"
Hiro sibuk bermonolog lirih dengan raut wajah yang terlihat begitu kesal. Bagaimana tidak kesal, jika dia dibuat repot seperti ini.
"Iihhh ... Kalau saja, aku tidak terjebak dalam permainan ini, aku tidak sudi untuk menjemput wanita gila itu."
Rasa kesal Hiro terpangkas saat mobilnya memasuki sebuah halaman rumah yang tidak terlalu luas. Bahkan bangunan rumah ini terlihat sangat kecil namun tertata rapi dan terlihat asri. Lelaki itupun keluar dari mobil dan bermaksud untuk menemui pemilik rumah ini.
"Kamu?" pekik Hana kala melihat Hiro sudah berada di beranda rumah.
"Iya, ini aku. Kenapa? Kaget? Sekarang, lekas ganti pakaianmu dan kemudian ikut aku."
Hana semakin dibuat bertanya-tanya. Masih belum hilang dari keterkejutannya karena melihat kedatangan Hiro yang tiba-tiba, kini lelaki itu memintanya untuk ikut degannya.
"M-memang mau kemana?" tanya Hana sedikit ketakutan. Entah apa yang ia takutkan.
"Sudah, jangan banyak bicara dan jangan banyak tanya. Sekarang lekas ganti pakaianmu dan ikut denganku!"
Baru saja Hana ingin kembali ke dalam kamar untuk berganti pakaian, Ichiro datang dengan kursi rodanya. Pria itu sepertinya sedikit penasaran karena ada sayup-sayup suara seseorang dari arah beranda.
"Loh Nak, ada tamu? Kok tidak kamu ajak masuk?"
Hana tersenyum kecut. "Iya Yah. Perkenalkan, ini adalah Hiro. Lelaki yang kemarin Hana ceritakan kepada Ayah."
Tanpa banyak bicara, Hiro mendekat ke arah Ichiro. Ia mengulurkan tangannya dengan tubuh sedikit membungkuk.
"Selamat siang Paman. Saya Hiro. Saya adalah teman dekat Hana, putri Paman."
Bibir Ichiro menganga lebar seakan tidak percaya dengan siapa ia bicara. "Kamu nak Hiro?"
"Betul Paman, saya Hiro."
"Ya Tuhan ... Ternyata kamu tampan dan gagah sekali Nak!"
"Terima kasih banyak atas pujiannya Paman. Tapi saya merasa biasa-biasa saja," ucap Hiro sembari sekilas melirik ke arah Hana. Hana yang merasa dilirik pun hanya tersenyum sinis.
Idiiihhhh ... Bisa besar kepala tuh lelaki mendapatkan pujian dari ayah. Lihatlah, wajahnya sudah menunjukkan gurat-gurat kesombongan dan kecongkakan.