
"Mau sampai kapan kamu berdiam diri di dalam mobil. Ayo turun! Keluargaku sudah menunggu!"
Hana, wanita berusia dua puluh delapan tahun itu masih berada di dalam mode terpaku, dan membeku. Kejadian yang baru beberapa saat ia alami sungguh membuat tremor dalam diri. Tiba-tiba saja jantungnya bertalu-talu kencang sekali seakan ingin lepas dari tempatnya bersemayam.
"Astaga Hana!!!!" teriak Hiro yang begitu kesal karena Hana sama sekali tidak memberikan respon. Bahkan wanita itu terlihat semakin larut dalam lamunannya.
Plakkk!!!
"Aadududuhhhh ... Apa-apaan kamu? Mengapa kamu memukul kepalaku!" protes Hiro sembari mengusap-usap kepala. Sungguh, perilaku Hana ini terlampau bar-bar baginya.
"Sssstttt ... Bisa tidak kalau tidak pakai acara teriak-teriak seperti itu? Aku ini tidak tuli. Pendengaranku masih berfungsi dengan baik!" sungut Hana dengan bibir sedikit mencebik.
Bagi wanita itu teriakan Hiro sudah seperti gledek di siang hari yang tak mendung sama sekali sehingga membuatnya terkejut setengah mati. Perasaan yang bermasalah matanya bukan telinganya. Lantas mengapa lekaki ini harus teriak-teriak segala?
Hiro berdecak kesal. "Kalau aku tidak teriak, mana mungkin kamu bisa bangun dari lamunanmu? Sudah berkali-kali aku memintamu untuk keluar dari mobil ini tapi kamu malah tetap bengong seperti itu!"
"Iyakah? Perasaan baru sebentar aku melamun?" cicit Hana.
"Terserah mau percaya atau tidak. Lagipula kenapa kamu sedari tadi melamun seperti itu?" tanya Hiro sedikit penasaran. Namun tiba-tiba ia membelalakkan mata. "Jangan-jangan kamu kesenangan karena bisa mencium pipiku? Benar begitu?"
Mendadak pipi Hana bersemu merah. Hidungnya kembang kempis menahan malu karena Hiro membahas perihal insiden beberapa saat yang lalu.
"Iddiiihhhh ... Maaf, maaf ya. Aku sama sekali tidak kesenangan. Bahkan aku jijik karena bibirku ini bisa mendarat di pipimu. Jangan-jangan kamu yang modus dengan menginjak rem secara mendadak. Kamu ingin mencari kesempatan dalam kesempitan bukan?"
"Iiuuuuhhhh ... siapa juga yang mau mencari kesempatan dalam kesempitan? Wajahmu itu sama sekali tidak membuatku berna*fsu. Jadi untuk apa aku modus dengan menginjak rem secara mendadak?"
"Lalu, apa maksudmu menginjak rem mendadak jika kamu tidak mencari kesempatan dalam kesempitan? Masih ngeles saja kamu, seperti bajaj!"
"Hoooeeekkkk...."
Hiro seperti ingin muntah mendengar ucapan Hana. Ia mencondongkan tubuhnya ke tubuh Hana untuk memangkas jarak yang ada. Hana terkesiap. Ia mencoba untuk menghindar dengan menggeser tubuhnya ke arah belakang. Namun apa hendak dikata, posisinya kini sudah mentok di pintu mobil.
"Katapun di dunia ini tinggal kamu satu-satunya wanita yang tersisa, aku tetap memilih untuk melajang saja. Ogah sekali aku modusin kamu. Lagipula nih ya aku kasih tahu. Jika aku tidak menginjak rem secara mendadak, sudah pasti mobil ini akan menabrak mobil yang ada di depan. Paham?!"
Setelah memberikan sebuah ultimatum, Hiro bergegas menghindar untuk kemudian turun dari mobil. Sedangkan Hana masih merasakan sensasi degup jantung yang semakin tiada terkendali setelah posisinya dengan Hiro sedekat itu, sampai-sampai ia bisa menghirup aroma segar daun mint dari rongga mulutnya.
Dug... Dug.... Dug....
"Ayo turun. Masih saja melamun. Dasar lola!"
Tubuh Hana terperanjat seketika saat mendengar suara kaca mobil yang diketuk-ketuk dari arah luar. Matanya mengerjap untuk bisa bangun dari lamunannya.
"Iya, iya, cerewet sekali!"
Dengan langkah sedikit dongkol, Hana mengekor di belakang punggung Hiro. Ia mengedarkan pandangannya ke arah sekitar di mana berdiri sebuah rumah megah dan super mewah dengan air mancur yang ada di halaman depan.
"Ya Tuhan ... Ini rumah atau istana kerajaan? Persis dengan istana di negeri dongeng. Kira-kira kalau nyapu dan ngepel di rumah ini butuh berapa lama?"
Tanpa sadar Hana bermonolog lirih namun tetap saja terdengar di telinga Hiro. Lelaki itupun hanya bisa berdecak pelan sembari menggeleng-gelengkan kepala.
"Ingat, jaga sikap. Jangan berbuat hal yang norak dan kampungan. Jangan buat malu aku. Mengerti!"
Hana membuang napas kasar. Lagi-lagi lelaki ini memberikan sebuah warning yang justru terdengar merendahkan harga dirinya.
Tubuh Hana dan Hiro sudah berada di depan pintu kembar warna putih dengan ornamen-ornamen gold yang menjulang tinggi. Hana sampai dibuat kagum dengan apa yang lihat ini. Seumur-umur, baru kali ini ia bertandang ke rumah yang super mewah seperti ini.
Tak berselang lama dari Hiro memencet bel, terlihat seorang wanita berusia dua puluh dua tahun membukakan pintu.
"Selamat datang tuan Hiro. Mari silakan masuk. Tuan besar dan Nyonya besar sudah menunggu di dalam!" ucap salah satu asisten rumah tangga di kediamannya Ichiro.
"Terima kasih Nan. Sekarang kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu."
Asisten bernama Nani itu menganggukkan kepala dan bersegera pergi untuk kembali ke dapur. Seperti biasa, ia kerap sekali membantu Suti jika pekerjaannya sudah selesai.
"Psssttt ... Memang yang baru saja membukakan pintu kita itu siapa? Asisten rumah tangga di sini?" tanya Hana sedikit ingin tahu.
"Iya, memang kenapa?"
"Hah serius, itu asisten rumah tangga di sini? Apa tidak kasihan wanita dengan postur tubuh kecil seperti itu mengerjakan seluruh pekerjaan di rumah besar seperti ini?"
Hana sampai tidak habis pikir bagaimana caranya asisten rumah tangga yang baru saja ia temui ini menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Bisa-bisa tubuhnya semakin kurus saja.
"Tugas dia hanya membukakan pintu jika ada tamu. Jadi, tidak terlalu berat!" jawab Hiro dengan datar.
"Apa? Hanya membukakan pintu ketika ada tamu?" pekik Hana semakin dibuat terkejut setengah mati. Baru kali ini ia mengetahui bahwa ada pekerjaan khusus membuka pintu untuk tamu. "Lalu, untuk pekerjaan yang lain dikerjakan oleh siapa?" sambungnya pula.
"Kakek memiliki tujuh belas orang pekerja. Jadi, mereka sudah memegang jobdesk nya masing-masing. Mulai dari memasak, mencuci, menyapu, mengepel, membersihkan taman, membersihkan kolam, memberi makan ikan dan lain sebagainya."
"Apa? Tujuh belas pekerja? Ini rumah atau pabrik?" pekik Hana kembali saking terkejutnya.
"Tidak perlu terkejut seperti itu. Kakekku adalah salah satu konglomerat yang ada di negeri ini. Jadi tidak heran jika banyak orang yang ia pekerjakan di sini."
"Lalu gaji mereka berapa?" tanya Hana lagi yang semakin ingin tahu.
Hiro mengangkat sedikit pundaknya. "Tergantung berat dan tidaknya pekerjaan masing-masing. Tapi untuk pekerjaan paling ringan seperti Nani tadi, digaji oleh kakek dengan nominal tiga juta lima ratus ribu rupiah."
Bibir Hana semakin menganga lebar. "Ya Tuhan ... Banyak sekali. Aku saja yang bekerja di warung tenda sampai larut malam hanya mendapatkan gaji satu juta lima ratus. Ini tiga juta lima ratus hanya membukakan pintu? Ckkckkkk ... Mengapa aku tidak pernah mendengar ada lowongan pekerjaan di rumah ini."
"Memang kenapa kalau kamu tahu ada lowongan di sini? Kamu ingin mendaftarkan diri juga?" tebak Hiro seraya menatap wajah Hana.
Hana tersenyum lebar. Hingga mencetak lesung di tulang pipinya. Lesung pipi itulah yang membuat Hana terlihat begitu manis natural.
"Hehehehe ... Kamu tahu saja. Daripada menjadi istri kontrakmu, mungkin jauh lebih terhormat jika aku menjadi salah satu pekerja di rumah ini."
Hiro tertegun kala melihat lesung pipi di wajah Hana. Beberapa kali bertemu dengan Hana, baru kali ini lesung pipi itu terlihat dengan jelas. Bagaimana tidak terlihat dengan jelas karena biasanya Hana memasang wajah masam sehingga tidak terlihat. Sedangkan kali ini wanita itu tersenyum lebar yang secara otomatis mencetak lesung pipi itu.
"Kalian sudah datang? Mari ke taman belakang. Kakek sudah menunggu kalian di sana!"
Suara Kenji terdengar memenuhi langit-langit ruangan yang membuat keterpakuan Hiro tentang lesung pipi milik Hana, buyar. Ia sedikit mengerjap untuk kembali menetralisasi dari rasa asing yang menyerangnya.
"Baik Pa, kita ke sana!"
.
.
.