
Detik demi detik seakan lamban berjalan. Mengumpulkan rasa bosan dalam satu ikatan. Ingin asa itu hadir untuk mengurainya. Namun apa dikata jika detik masih enggan untuk mempercepat detaknya.
Dua minggu sudah Hana berada di rumah sakit. Dengan telaten wanita itu mengurus segala keperluan sang ayah meskipun rasa lelah kian hari kian menggigit. Bahkan ada satu masa di mana ia juga ikut jatuh sakit.
"Oke, untuk kondisi pak Ndaru secara keseluruhan sudah membaik Mbak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Jika mbak Hana ingin membawa pak Ndaru pulang, saya izinkan."
Seusai memeriksa keadaan sang ayah secara keseluruhan pascaoperasi, dokter muda itu menyimpulkan jika keadaan Ndaru semakin hari semakin membaik. Tidak ada komplikasi pascaoperasi sama sekali, hingga tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Hana tersenyum lebar seraya menggenggam tangan sang ayah. Akhirnya, setelah dikungkung dan dikurung di rumah sakit ini, ia bisa kembali menghirup udara segar di luar sana. Setiap hari yang ia lihat hanya lalu lalang para pasien yang sedang sakit dan aroma obat-obatan, sebentar lagi akan kembali seperti sedia kala. Ia bisa kembali melihat indahnya bunga yang bermekaran di taman dan butiran embun bening yang bergelayut di atas permukaan dedaunan.
"Benarkah seperti itu Dok?"
"Tentu Mbak. Nanti di rumah sering-sering saja melatih pak Ndaru untuk berjalan agar tulang-tulang di tangan maupun kaki tidak kaku dan untuk mempercepat pemulihan, bisa datang ke rumah sakit untuk terapi."
"Baik Dok, akan saya lakukan saran-saran dari dokter."
Sang dokter kembali ke luar ruangan hingga bayangannya pun hilang dari penglihatan Hana.
"Syukurlah, sebentar lagi kita akan pulang ke rumah Yah. Ayah yang semangat untuk pulih ya."
Ndaru tersenyum tipis. Ia memang merasa bahagia dan bersyukur diperbolehkan untuk pulang. Namun ada setitik keganjalan yang ia rasakan.
"Nak, boleh Ayah bertanya satu hal kepadamu?" tanya Ndaru dengan berhati-hati. Ia khawatir jika apa yang ia tanyakan justru membuat hati sang anak terluka.
"Apa itu Yah? Silakan tanyakan."
Hana yang sebelumnya mulai mengemasi pakaian-pakaiannya dan juga Ndaru, sejenak ia hentikan aktivitasnya. Wanita itu dengan intens menatap raut wajah tegas sang ayah.
"Apakah tagihan rumah sakit sudah dibayarkan Nak?"
Hana mengangguk mantap. "Sudah Yah, semua tagihan rumah sakit sudah dibayar."
Jawaban yang keluar dari bibir Hana tidak lantas membuat hati Ndaru merasa lega tapi malah justru menimbulkan beberapa pertanyaan dan rasa heran.
Dari mana biaya rumah sakit didapatkan oleh Hana? Siapa yang menolong Hana untuk membayar tagihan rumah sakit ini? Dan juga apa yang dilakukan oleh sang anak untuk bisa membayar itu semua? Itulah beberapa pertanyaan yang berseliweran di dalam pikiran Ndaru.
"Lantas, darimana kamu mendapatkan biaya rumah sakit itu Nak? Jumlahnya pastinya tidak sedikit bukan? Uang dari mana yang kamu dapatkan sampai bisa membayar pengobatan Ayah ini?"
Deg ... Deg ... Deg....
Tiba-tiba saja jantung Hana berdetak tiada beraturan. Sungguh di luar prediksi jika sang ayah kapanpun bisa menanyakan perihal biaya rumah sakit.
"E ... Anu Yah, itu Hana..."
Netra Ndaru seketika membulat sempurna. Ia ingat jika akhir-akhir ini sedang tren para wanita muda yang menjual harga dirinya untuk menutupi semua kebutuhan mendesak. Ndaru sampai berpikir jika sang putri mengambil langkah itu.
"Kamu tidak menjual diri kepada lelaki-lelaki hidung belang di luar sana kan Han?" tanya Ndaru dengan suara sedikit bergetar.
Jantung milik Ndaru seakan ikut berdegup kencang. Seakan meronta-ronta untuk keluar dari pusaranya. Lelaki paruh baya itu seakan takut untuk mendengarkan kenyataan yang mungkin akan terdengar begitu menyayat hatinya.
Hana terhenyak kala Ndaru tiba-tiba berpikiran yang bukan-bukan tentangnya. Meskipun langkah yang ia ambil untuk keluar dari kepelikan hidup ini kurang wajar, namun setidaknya ia tidak sampai menjual diri kepada para lelaki hidung belang.
Gegas, Hana menggelengkan kepala. "Tidak Yah. Hana sama sekali tidak melakukan hal seperti itu."
Ndaru menatap tajam netra milik Hana. Mencoba mencari kebohongan dari sorot matanya. Namun sama sekali tidak ia temukan di sana. Ia merasa bahwa sang anak memang tidak menjual diri kepada para lelaki hidung belang.
"Lalu, uang itu kamu dapatkan darimana Han?"
"H-Hana ditolong oleh seseorang Yah," jawab Hana dengan sedikit menundukkan kepala.
Dahi Ndaru mengernyit. "Seseorang? Siapa Han? Mengapa orang itu tiba-tiba bersedia menolongmu?"
Hana kembali menegakkan wajah. Kali ini mungkin ada baiknya ia mulai menceritakan perihal Hiro kepada sang ayah. Sekaligus untuk sedikit demi sedikit berbicara perihal pernikahan yang akan ia langsungkan dengan Hiro. Pastinya setelah keluarga besar Hiro datang ke kediamannya.
"Namanya Hiro, Yah. Dua minggu yang lalu, di rumah sakit ini kami bertemu karena dia juga sedang menjaga kakeknya yang sedang dirawat. Karena sering mengobrol, kami merasa saling cocok untuk kemudian membawa hubungan kami ke jenjang pernikahan."
Rasa-rasanya Hana ingin menenggelamkan diri ke dalam lautan saat mengatakan jika ia sering mengobrol bersama Hiro dan merasa saling cocok. Karena pada kenyataannya, mereka sama sekali tidak pernah berkomunikasi kecuali melalui perantara Nara. Serta tidak ada kata-kata cocok karena setiap bertemu selalu saja ada hal yang diributkan.
Lagi, Ndaru dibuat terkejut setengah mati oleh cerita yang dibawa oleh sang anak. "Apa? Menikah? K-kamu serius Nak? Mengapa tiba-tiba kamu akan menikah dan mengapa kamu tidak pernah menceritakannya kepada Ayah?"
"Yah, Hana minta maaf karena mungkin semua ini serba tiba-tiba dan Hana juga minta maaf karena belum sempat menceritakannya kepada Ayah."
"Apakah kamu sudah yakin dengan pilihanmu untuk menikah dengan lelaki bernama Hiro itu Nak? Apakah ini tidak terburu-buru mengingat perkenalan kalian baru dua minggu?"
Hana hanya bisa menganggukkan kepala. Saat ini tidak ada yang dapat ia lakukan selain mengikuti sandiwara cinta antara Hiro dan juga Nara. Seandainya saja ada jalan lain, pasti ia akan mengambil jalan itu. Namun tetap saja hanya ada kebuntuan yang ia dapati.
"Hana sudah yakin Yah, mengingat umur Hana yang sudah matang untuk berumah tangga. Dan bukankah Ayah juga ingin jika Hana segera menikah?"
Senyum merekah di bibir lelaki paruh baya itu. Saat ini sungguh tidak ada yang membuatnya bahagia kecuali kabar yang dibawa oleh anaknya ini. Akhirnya, mimpi-mimpinya untuk bisa melihat sang anak menikah, sebentar lagi akan terealisasi.
Ndaru menarik lengan tangan Hana untuk ia bawa ke dalam dekapan. "Ayah sungguh bahagia mendengarnya Nak. Semoga lelaki bernama Hiro itu akan senantiasa membahagiakanmu."
Dalam dekapan sang ayah, Hana tersenyum getir. Ada setitik rasa bersalah karena ia harus berbohong kepada lelaki ini. Rasa itulah yang membuat netra Hana berembun dan sekejap kemudian menetes.
Maafkan aku, Ayah!