Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku

Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku
TMKS 15. Sambutan Hangat



Sebuah meja makan dipindah ke dekat kolam ikan di mana di atas meja itu sudah terhidang berbagai jenis masakan. Mulai dari masakan tradisional, nasional maupun Western. Sedangkan Hiro, Hana, Ichiro, Kenji dan Ayumi duduk melingkar, sesuai dengan posisi masing-masing.


"Jadi kamu yang bernama Hana Makaira, Nak?"


Suasana yang sebelumnya terasa begitu hening dan hanya terdengar gemericik air di dalam kolam ikan koi, kini dipecah oleh pertanyaan yang keluar dari bibir Ichiro. Sejak pertama bertemu dengan Hana, lelaki berusia senja itu sudah teramat menyukainya. Apa yang ia pikirkan tentang Hana sepertinya akan sesuai dengan ekspektasinya. Namun sebelum ia memberi penilaian yang lebih detail, ia ingin mencoba mengenal Hana lebih dekat lagi.


"Ya Tuhan, kenapa Kakek bisa tahu nama panjang saya? Padahal saya sama sekali belum memperkenalkan diri. Apakah Kakek ini seorang peramal?" tanya Hana tanpa memfilter ucapannya. Hal itulah yang membuat Hiro sedikit terkejut.


Hiro yang duduk di sebelah Hana sedikit merapatkan tubuhnya di tubuh Hana. "Ppsssttt .... Jaga ucapanmu. Jangan asal berucap. Mengerti!"


"Upppsss .... Maaf, maaf, maaf aku keceplosan!" lirih Hana.


Ichiro, Kenji, dan Ayumi yang sebelumnya terbengong mendengarkan celotehan Hana hanya saling bertatap netra. Namun setelah itu mereka tertawa bersama-sama.


"Hahaha hahahaha ... Kakek bukan peramal Nak. Jika Kakek seorang peramal mungkin Kekayaan Kakek bisa jauh lebih banyak daripada ini."


"Oh ya, mengapa bisa seperti itu Kek?" tanya Hana sedikit keheranan.


"Ya, jika Kakek seorang peramal, maka Kakek akan membuka biro ramalan. Lumayan bukan jika banyak pelanggan. Jadi kekayaan Kakek bisa lebih banyak daripada ini. Hahahaha!"


"Hahahaha .... Hahahaha ...."


Semua ikut tertawa setelah mendengarkan Ichiro berbicara.


Baru kali ini aku melihat Kakek tertawa selepas ini -batin Hiro-


Papa yang sudah tidak pernah tertawa lepas setelah Mama meninggal, kini ia kembali tertawa lepas setelah bertemu dengan Hana? Setulus dan sebaik itukah hati calon istri putraku ini? -batin Ayumi-


Raut wajah Papa benar-benar berbeda setelah ia bertemu secara langsung dengan Hana. Apakah ini merupakan pertanda yang baik untuk hubungan Hiro dan Hana selanjutnya? -batin Kenji-


Tiga orang itu justru terlihat larut dalam pikirannya sendiri-sendiri. Satu hal yang menjadi perhatian mereka yakni raut wajah Ichiro yang begitu berbinar terang. Mereka merasa Ichiro benar-benar bahagia berjumpa dengan Hana.


"Oh iya Nak, sekarang ceritakan tentang dirimu. Kami ingin mengenalmu lebih jauh lagi," tutur Kenji. Rupanya lelaki paruh baya itu juga sedikit tertarik tentang bagaimana kehidupan Hana.


"Tapi saya malu, Paman. Karena kehidupan saya tidaklah menarik sama sekali untuk diceritakan," cicit Hana memelas.


Ayumi mengulas senyum di bibirnya. "Bagaimana kami bisa tahu ceritamu itu menarik atau tidak jika tidak kamu ceritakan Nak? Tidak apa-apa, ceritakanlah. Kami juga ingin mengenal lebih dekat calon istri Hiro ini."


Wajah Hana yang sebelumnya menunduk, kini sedikit ia dongakkan. Sebelumnya ia menatap wajah-wajah yang mengitari meja makan ini dan kemudian menatap ke sembarang arah dengan tatapan menerawang.


"Saya berasal dari keluarga sederhana atau bahkan mungkin serba kekurangan. Saya lulusan SMA dan setiap harinya saya bekerja di sebuah warung tenda di pusat kota. Saya tinggal bersama dengan ayah karena ibu sudah meninggal sejak saya dilahirkan. Sedangkan ayah saya sendiri sebelum terkena musibah, ia bekerja sebagai tukang di salah satu proyek perumahan."


Hana membuang napas sedikit kasar dan mencoba untuk menahan sesak di dalam dada. "Mungkin hanya itu saja yang bisa saya ceritakan. Karena sungguh kehidupan saya dan ayah hanya seperti ini yang setiap hari harus bekerja keras untuk bisa tetap bertahan hidup."


"Kamu tidak malu dan tidak mengeluh dengan kehidupanmu yang seperti itu Nak?" tanya Ichiro mencoba untuk memastikan. Mungkin dari sini ia bisa mengetahui bagaimana karakter Hana ini.


Hana menggeleng pelan. "Untuk apa saya malu Kek? Saya dan ayah saya bekerja halal. Kami tidak mencuri ataupun menipu, jadi untuk apa malu?"


Ichiro mengangguk-anggukkan kepala. Ternyata jawaban dari Hana yang seperti itu yang memang ia harapkan.


Mendadak nyali Hana menciut. Ia sama sekali belum menyiapkan jawaban apabila diberi pertanyaan seperti ini. Ia sedikit melirik ke arah Hiro dengan maksud agar lelaki ini memberikan satu pertolongan namun lelaki itu hanya tersenyum simpul seakan menyerahkan semua jawaban kepada Hana.


"Mungkin baru sebentar kami saling mengenal, namun entah mengapa sejak pertama kali saya berjumpa dengan Hiro, saya merasa ada perasaan asing yang saya rasakan."


Hana menjeda sejenak ucapannya. Ia menghela napas lega seraya melirik ke arah Hiro yang berusaha intens menatapnya. Meskipun tatapan itu sepertinya dipaksakan.


"Ternyata hati saya tidak salah. Selain berparas tampan, cucu Kakek ini memiliki hati yang sangat mulia. Kami dipertemukan di saat kami sedang berada di titik rendah dalam hidup. Hiro putus cinta dengan kekasihnya sedangkan saya sedang mengalami sebuah kebuntuan untuk mencari biaya operasi ayah saya."


Hiro nyengir kuda tatkala kata demi kata yang keluar dari bibir calon istri kontraknya ini terdengar begitu menggelitik telinga. Namun tak dapat diingkari jika ia sedikit lega karena Hana bisa diandalkan meskipun tidak berkompromi terlebih dahulu.


Gila, ternyata wanita ini pandai untuk mengarang cerita. Sungguh tidak sia-sia Nara memilihnya untuk memainkan sandiwara ini.


"Apakah Hiro yang memberikan bantuan itu?" timpal Ichiro.


Hana sedikit tergagap. Ia kebingungan harus menjawab apa. Paham akan situasai Hana yang sedikit sulit, Hiro mencoba untuk berdehem.


"Benar Kek, Hiro yang membantu Hana. Hiro merasa kasihan karena saat itu Hana sudah kesana-kemari mencari bantuan tetapi tidak ia temukan jalan keluar itu," sahut Hiro.


Ichiro mencoba untuk mencerna apa yang diucapkan oleh cucunya ini. "Lantas, apakah pernikahan yang akan kamu jalani bersama Hana ini merupakan pernikahan balas budi?"


Tubuh Hiro dan Hana sama-sama terperanjat seketika. Seakan terkena tremor, tubuh mereka sedikit bergetar. Mereka tidak menyangka jika Ichiro bisa mencium aroma-aroma kebohongan di sini.


Hiro meraup udara dalam-dalam untuk menetralisir degup jantung yang semakin tiada terkendali. Namun, ia mencoba untuk tetap tenang.


"Mungkin Kakek akan berpikiran seperti itu karena ini semua serba mendadak. Tapi bukan karena itu kami memutuskan untuk menikah. Hiro sungguh jatuh hati pada kepribadian Hana, Kek. Hiro menyukai Hana yang merupakan seorang pekerja keras. Dia pantang menyerah dan ia rela melakukan apapun untuk ayahnya yang sedang sakit."


Hana hanya menunduk malu mendengar ucapan Hiro yang terdengar begitu berlebihan. Namun tetap saja di dalam hati wanita itu bercokol rasa benci yang sepertinya sulit untuk dihilangkan.


Iuuhhhh ... benar-benar King of Drama. Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu. Padahal sejak tadi mengataiku dengan hal-hal yang buruk.


Hiro mengakhiri ucapannya. Ia menautkan pandangannya ke arah Ichiro, Ayumi dan Kenji. Ia ingin melihat bagaimana reaksi anggota keluarganya ini.


Mereka saling bertatap netra mencoba untuk mencari kebohongan yang terpancar di sorot mata Hiro. Bukan kebohongan yang mereka temukan, tapi kejujuran yang terpancar. Hingga membuat tiga orang itu sama-sama menganggukkan kepala.


Ichiro tersenyum lebar. Pada akhirnya, apa yang ia harapkan tiba juga. Mendapatkan calon cucu menantu yang sesuai dengan kriterianya.


"Kakek sungguh terharu mendengar bagaimana cara kalian berjumpa. Sudah sepantasnya lah kalian serius dalam menjalani semua ini. Oleh karena hal itu, Kakek berencana akan mengadakan pesta pernikahan untuk kalian satu minggu lagi!"


"Apa? Satu minggu lagi?" teriak Hana dan Hiro bersamaan.


"Ya, minggu depan kalian akan menikah!"


.


.


.