Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku

Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku
Bab 16. Pernikahan



Menikah adalah nasib sedangkan mencintai itu takdir. Manusia bisa berencana menikah dengan siapa namun tak dapat direncanakan cintanya untuk siapa.


Kosong, itulah yang Hana rasakan saat ini. Pada akhirnya, takdir telah membawanya di depan gerbang pintu pernikahan, di mana ini akan menjadi awal baginya untuk hidup bersama orang asing.


Ia yang pernah bermimpi bisa duduk bersanding di pelaminan dengan lelaki yang ia cintai dan juga mencintainya, kini pupus sudah. Pupus karena keadaan yang memaksanya untuk menjalani pernikahan konyol seperti ini. Sungguh, ia tidak mengerti. Harus berbahagia ataukah bersedih untuk hari ini. Namun rasa-rasanya, jiwa wanita itu begitu gersang seperti padang tandus yang tak di aliri air sama sekali.


Hana dengan gaun pengantin warna putih berdiri anggun di samping Hiro. Mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri dan saat ini mereka berdiri di pelaminan sembari menyalami satu persatu tamu yang hadir. Bibirnya dipaksa untuk tetap tersenyum manis, meskipun di salah satu sudut hati wanita itu sedikit teriris. Hampir tiga jam mereka berdiri. Tak ayal, hal itulah yang membuat kaki mereka terasa pegal dan bibir mereka seakan begitu kebas.


Semua mata tertuju pada Hana. Mereka seakan begitu iri melihat posisi Hana saat ini. Di mata mereka Hana merupakan salah satu wanita yang beruntung. Seorang wanita yang berasal dari kalangan biasa-biasa saja dengan paras yang tidak terlalu memesona namun bisa menikah dengan cucu tunggal salah satu konglomerat yang berada di negeri ini dan berparas tampan.


Siapa yang tidak kenal Izanagi Akihiro? Seorang pembisnis muda yang wajah tampannya sering berseliweran di majalah dan juga portal-portal bisnis. Juga seorang pembisnis muda yang cukup diperhitungkan oleh para kompetitor mengingat banyak prestasi yang ia dapatkan. Hal itulah yang membuat pernikahannya kali ini merupakan momen besar dan spesial di tahun ini.


"Ayo senyum ... Jangan cemberut seperti itu. Sedikit saja kamu memasang wajah masam, semua tamu pasti akan curiga. Mereka pasti akan menganggap bahwa kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini."


Hiro berbisik lirih di telinga Hana di sela-sela ia menyalami para tamu. Wajah Hana yang ia lihat lebih sering ditekuk sungguh membuatnya khawatir. Khawatir jika sampai dicurigai oleh para tamu.


Memang aku tidak bahagia. Semewah dan semegah apapun acara pernikahan ini, namun tetap saja membuat hatiku kosong. Karena bukan pernikahan seperti ini yang aku inginkan.


"Sampai kapan tamu-tamu ini akan terus berdatangan? Perasaan dari tadi tidak habis-habis?"


Hana mencoba untuk menutupi kekosongan di dalam hati dengan melontarkan pertanyaan yang terdengar sedikit konyol. Padahal ia tahu, bahwa tamu dari keluarga Hiro akan terus berdatangan. Mungkin sampai nanti malam.


"Untuk kloter ini, mungkin dua jam lagi selesai. Namun nanti malam masih ada acara lagi!"


"Hah? Masih ada acara lagi? Acara apa itu?"


Hiro hanya mengendikkan bahu seraya mengangkat sebelah alisnya. "Jangan banyak bertanya. Tunggu saja nanti malam!"


"Ckkckkckkk ... Gitu aja pakai acara rahasia-rahasiaan segala. Ente kadang-kadang Ente!"


Hana mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Manik matanya berputar kesana kemari. Seakan ada seseorang yang ia cari.


"Sejak tadi mengapa aku tidak melihat Nara? Apakah ia tidak datang?"


Hiro yang ditanyai juga tidak memberikan respon sedikitpun hingga membuat Hana sedikit keheranan karena lelaki ini diam saja. Ia menoleh ke arah Hiro di mana lelaki itu juga terlihat celingak-celinguk seperti mencari seseorang. Sampai di satu titik wajah Hiro nampak berbinar terang dengan senyum lebar menghias bibirnya. Saking penasarannya, Hana ikut menautkan pandangannya ke arah yang dituju oleh Hiro.


Hana tersenyum tipis. Ia baru paham jika Nara baru saja memasuki area ini. Wanita itu terlihat begitu anggun dan memesona dengan dress panjang dengan? model V-neck warna merah di mana belahan bagian dada itu terlihat begitu rendah. Tak mengherankan jika sesuatu yang sedikit menonjol di sana, bisa dinikmati oleh beberapa orang.


"Woooaaahhh .... Pantas saja tidak ada respon ternyata bidadarinya datang!" lirih Hana.


"Selamat atas pernikahanmu ya Ro. Semoga kamu selalu berbahagia dan langgeng bersama Hana!"


Hiro hanya bisa mendengus kesal mendengarkan perkataan Nara. Meskipun mereka sama-sama tahu bahwa ini adalah pernikahan pura-pura, namun seharusnya Nara tidak mendoakan hal semacam itu.


"Ganti doamu Ra. Jangan sampai di ammiinkan oleh malaikat. Kamu mau jika aku terus langeng bersama Hana?" ucap Hiro seraya berbisik. Ia khawatir jika sampai terdengar yang lain.


Nara terkekeh geli seraya menutupi bibirnya menggunakan telapak tangan. "Jangan khawatir Ro. Bahkan malaikat pun tahu jika ini semua hanyalah sandiwara jadi para malaikat tidak akan mendoakanmu langgeng bersama Hana."


Hiro berdecak. Jika sudah seperti ini, ia tidak mau berdebat lagi dengan Nara. Karena wanita itu pasti akan selalu mendominasi.


Nara menggeser tubuhnya. Kini ia berdiri tepat di depan Hana. Wanita itu terlihat begitu takjub dengan riasan wajah sahabatnya ini.


"Waaoowww .. You look so beautifull, Hana! Selamat atas pernikahanmu ya. Semoga kamu selalu bahagia!"


Hana tersenyum kikuk. Entah ekspresi apa yang akan ia tampakkan di depan Nara. Hingga ia pun hanya bisa tersenyum kecil.


"Terima kasih Nara. Semoga kamu juga selalu bahagia!"


Nara mencondongkan wajahnya di telinga Hana. Dari gestur wanita itu, sepertinya ia ingin berbisik sesuatu.


"Masih ingat akan kontrak yang kita buat kan Han? Silakan diingat dengan baik apa saja yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan. Terlebih tentang sentuhan fisik dengan Hiro. Kamu harus benar-benar menjaga agar tidak terjadi sentuhan fisik sedikitpun dengan Hiro!"


Hana tersenyum sumbang. Seperti inilah yang ia benci dari pernikahan yang ia jalani ini. Seharusnya ia bisa bermanja-manja dan mencurahkan rasa cinta bersama pasangannya setelah menikah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ia terkungkung dan terpenjara karena ada klausul-klausul yang mengikat.


"Kamu tenang saja Ra. Aku akan mengingat semua perjanjian yang sudah kita sepakati. Lagipula, kamu jangan khawatir. Aku dan Hiro tidak akan pernah melakukan sentuhan fisik. Bukankah bagi Hiro aku ini hanyalah itik buruk rupa? Dia pasti bisa menjaga jarak!"


Nara tersenyum simpul dan membuang napas lega. Sejatinya ia juga sempat khawatir jika sampai Hiro lemah dan tergoda dengan keberadaan Hana mengingat mereka adalah sepasang suami-istri meskipun hanya sekedar hitam di atas putih. Namun perkataan Hana kembali membuat Nara yakin jika Hiro tidak akan pernah menyentuh Hana karena wanita itu bukanlah kriteria sang kekasih.


"Baiklah, aku percaya padamu Han. Karena aku mengenalmu bukan sebagai seorang penipu."


Nara melenggang pergi meninggalkan area pelaminan. Ia mendatangi meja prasmanan di mana sudah berjajar puluhan jenis makanan. Sesekali Nara mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Wanita itu terlihat begitu takjub dengan konsep pernikahan kekasihnya ini.


Konsep pernikahan ini benar-benar mewah. Ketika masa kontrak Hiro dan Hana habis, aku ingin dinikahi Hiro dengan konsep yang jauh lebih mewah daripada ini. Masa pesta Cinderella kalah dengan pesta itik buruk rupa!


.


.


.