Takdir Berkata Lain

Takdir Berkata Lain
(TBL Season 2) Bertemu Baim lagi


Jangan lupa Like dan komen ya,,,


Terimakasih dan Happy Reading 😘


***___***


Alex melihat Lusi masuk ke ruangan pantry sesaat sebelum Alin dan Ulan masuk, meletakkan bungkusan hitam dengan tulisan 'untuk Alin' kemudian pergi. Tak lama seperti yang diceritakan Alin di rumah sakit.


Alin masuk dan segera ke toilet sementara Ulan duduk dan melihat bungkusan hitam itu. Sekilas Ulan seperti bicara, lalu membuka plastik dan isinya makanan dan minuman. Terlihat lagi Ulan berbicara dan langsung memakan dan menyeruput minuman. Beberapa menit kemudian Ulan batuk-batuk dan teriak kesakitan.


Alin keluar kaget dan panik, melihat Ulan terbatuk muntah-muntah dan akhirnya pingsan, bersamaan dengan mas Riko masuk kedalam pantry yang jadi kaget melihat Alin mencoba menyadarkan Ulan, dia memberikan Ulan susu beruang yang sempat dia beli dan masih tersisa di meja.


"kurang ajar, bener-bener di Lusi pelakunya, hasil lab baru akan keluar besok. Tapi apa benar Lusi ke rumah sakit?" ucap Alex.


Alex kembali melihat cctv beberapa menita yang lalu terlihat Lusi masuk kedalam lift belakang naik dan masuk ke ruangan nya mengambil tas dengan mengendap-endap lalu keluar dan masuk ke lift uang tadi turun ke lift belakang dan pamit pada satpam.


Alex mencoba menghubungi Lusi, tak ada jawaban sampai panggilan beberapa kali. Dan beralih menghubungi Alin yang masih menemani Ulan di rumah sakit.


"assalamualaikum, Alin kamu masih di rumah sakit kan?" (Alex)


"iya lah pak, kenapa?" (Alin)


"ini waktu saya kembali ke kantor, kata satpam si Lusi pamit pergi ke rumah sakit. Dia udah disana atau belum?" (Alex)


"siapa pak? mbak Lusi? gak ada tuh, mungkin masih dalam perjalanan kali pak." (Alin)


"Alin jarak kantor dan rumah sakit gak jauh kali, seberapa lama sih?" (Alex)


"ya kali gitu, oiya bapak udah liat cctv?" (Alin)


"justru itu saya udah liat cctv dan memang benar kalau makanan yang dimakan Ulan itu dibawa sama Lusi, tapi kita gak bisa banyak menuduh karena hasil lab belum keluar, cuma kalau liat dari gerak gerik nya udah pasti kalau makanan itu beracun dan ini sudah masuk tindak kriminal. Tadi dia naik keatas pakai lift yang di belakang, lalu turun dan pergi. Kan aneh?" (Alex)


"hemm,,, iya juga ngapain mbak Lusi harus pakai lift barang yang di belakang kalau mau ke ruangannya?" (Alin)


"ya sudah, kalau Lusi ada disana kabari saya. kamu sudah menghubungi orang tua Ulan?" (Alex)


"sudah pak, mereka dalam perjalanan kesini, begitu mereka datang saya kembali ke kantor." (Alin)


"oke lah kalau begitu, kamu hati-hati ya." (Alex)


"makasih pak. assalamualaikum" (Alin)


"waalaikumsalam" (Alex) menutup telepon nya.


**


Di mini market Lusi memesan mobil online dan dia pergi dengan mobil itu ke bandara.


"gue harus cepet pergi jauh sebelum mereka semua laporin gue ke polisi, dan gue di tangkap"


**


"Sebaiknya gue laporin kejadian ini kepolisi aja dulu kali ya? supaya keberadaan Lusi terpantau jadi dia gak bisa kabur." pikir Alex.


Dia menelepon teman nya yang bekerja di kepolisian dan menceritakan kejadian dugaan keracunan yang terjadi pada karyawan nya. Alex mengirimkan foto Lusi.


"untung bukan kamu Alin yang harus mengalami nasib ini, meskipun aku sedih karena ada seorang karyawan ku yang keracunan tapi aku tetap bersyukur kalau itu bukan kamu Alin." gumam Alex.


**


Semakin dekat dengan Alin, Alex semakin tau bagaimana sifat dan sikap mandirinya wanita bernama Alin itu. Terlebih disaat dulu dia tepuruk dan kehilangan kendali selalu ada Alin yang menemaninya sampai entah bagaimana awalnya dia merasa menyukai Alin.


Alex semakin yakin dengan hati nya ingin menyampaikan perasaannya ketika mama menyukai Alin bahkan terlihat mama sangat menyayangi Alin. Alex senang karena tidak ada ganjalan lagi jika suatu saat dia menjadikan Alin kekasihnya.


**


"assalamualaikum" ucapnya


"waalaikumsalam, pak Bu" Alin mengangguk kan kepala.


"nak Alin, bagaimana bisa terjadi seperti ini?" tanya wanita setengah baya yang merupakan ibu Ulan.


Pertemanan mereka selama bekerja ditempat yang sama membuat Alin kerap berkunjung kerumah Ulan jadi keluarga Ulan sudah mengetahui dirinya. Bapak dan ibu Ulan juga kakak laki-laki Ulan datang ke rumah sakit begitu Alin mengabari.


Kakak laki-laki Ulan tiga tahun diatas Ulan, sudah bekerja di sebuah swalayan. Menurut Ulan kakaknya selalu menanyakan dirinya, dan menurut Ulan kakaknya ini sepertinya menyukai Alin, sehingga membuat Alin menjaga jarak dengan nya.


Alin menceritakan kejadian yang terjadi sampai Ulan dibawa ke rumah sakit. "kata dokter hasil lab makanan itu baru keluar besok Bu? kita sama-sama berdoa semoga Ulan baik-baik aja."


"terimakasih ya nak, kamu segera membawa Ulan ke rumah sakit." jawab ibu


"iya Bu, sama-sama, kalau begitu Alin pamit ya Bu masih harus kembali ke kantor."


"iya hati-hati dijalan, Im kamu antar nak Alin kembali ke tempat kerja nya ya?" perintah ibu.


"eh gak usah Bu, nanti malah jadi merepotkan kak Baim." cegah Alin


"iya Bu!" jawab Baim


"ayo," Baim menarik tangan Alin keluar dan melepaskan setelah di lorong.


"gak usah dianterin kak, gak pa pa. Aku bisa ko sendiri lagian kan deket juga."


"kamu kenapa seperti menghindari aku Lin, emang aku nakutin ya?"


"bukan gitu kak, aku gak enak aja kak Baim kan baru sampai tapi malah harus nyuruh nganterin aku."


"aku tau kamu jadi jaga jarak dengan ku, dan jarang main ke rumah lagi karena aku pernah nyatain perasaan aku ke kamu kan?"


Alin diam, dia jadi mengingat kembali kejadian sebulan yang lalu ketika sepulang kerja dia main ke rumah Ulan.


Flashback dengan Baim


"assalamualaikum." suara Baim pulang.


"waalaikumsalam, eh kak Baim udah pulang tumben?" tanya Ulan


"iya, kakak ijin pulang gak enak badan. Eh ada Alin."


"iya kak, kak Baim kenapa sakit muka nya pucat."


"paling cuma masuk angin aja deh."


"Lan, kamu bikin air jahe bisa gak? biar aku bantu kak Baim kerokin punggung nya." kata Alin.


"bisa ko Lin,, kamu kerokin aja dulu aku bikin air jahe nya, bentar ya kak."


"makasih ya, kalau gitu minta angin nya di tempat obat ya"


Alin berdiri mengambil minyak urut dan uang logam tipis disebelah minyak, dan kembali ke Baim yang sudah tiduran di sofa.


"kak tengkurap gih"


Baim mengikuti Alin, Alin membuka kemeja Baim ke atas dan mulai mengerik punggungnya sampai merah menandakan benar masuk angin.


Ketika sore hendak pulang sempat menolak diantar Baim, tapi memaksa ingin mengantar akhirnya Alin menyerah. Diperjalanan itulah Baim menyatakan perasaannya bahwa dia menyukai Alin.


***


Like dan Vote nya jangan lupa terimakasih.