
Hari terus berlalu berjalan seperti biasanya dan sebagainya mestinya, seharusnya memang seperti itu tak ada yang aneh dan berbeda. Sudah tiga bulan berlalu Alin bekerja sebagai cleaning servis di Perusahaan mama nya sendiri tanpa ada orang lain yang tau selain mama dan papa nya, begitu juga dengan Alex tak tau apa yang terjadi sebenarnya dengan keluarganya.
Alin yang meminta status dirinya dirahasiakan sampai waktunya tiba, entah kapan dan entah seperti apa rahasia itu akan terbongkar masih menjadi rahasianya.
Tiga bulan lamanya cukup bagi Alin untuk melupakan perasaan nya pada Bagas sejak tau Bagas menikah dengan Putri. Meski Bagas kadang masih suka mencoba menghubungi nya tapi Alin tak pernah menanggapi, dia bukan pelakor yang ingin merusak rumah tangga mereka.
Sampai akhirnya keyakinan teguh yang dia bangun mulai goyah ketika tidak sengaja di hari Jumat penghujung weekend, sahabatnya Ulan tiba-tiba pingsan di pantry. Dengan panik dia dan mas Riko membantu membawa Ulan ke rumah sakit.
"Lan,, kamu kenapa sih?" tanya Alin panik melihat mulut Ulan mengeluarkan busa.
Sampai di rumah sakit segera Ulan dibawa ke ruang UGD, Alin dan mas Riko duduk menunggu di depan ruangan.
"mas, aku kebelet pipis ke toilet dulu ya."
Riko mengangguk, Alin pergi mencari toilet. Ketika berbelok tak sengaja dia melihat seorang yang dia kenal dengan perut besar nya berjalan menuju poli kandungan.
"itu bukannya Putri ya?" Alin mengikuti sesaat lalu terdiam mulai ragu.
"haruskah aku kepo dengan urusan mereka? Putri sudah hamil Bagas akan segera memiliki anak, aku harus ikhlas." gumamnya.
Tapi hati dan kaki nya tak selaras, pikiran kepo nya memaksa kaki untuk melangkah mendekat. Dengan langkah pelan dan diam-diam, Alin berdiri dengan jarak lumayan dekat dan dapat mendengar apa yang di katakan Putri dan wanita yang terlihat seperti dokter itu bicara.
Alin tak mengerti apa yang menuntunnya mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam obrolan Putri dengan dokter itu, sampai ia terkaget sendiri dan tak menyangka. Lumayan lama Alin merekam suara mereka hingga Putri berpamitan pada dokter dan pergi sementara dokter pun masuk ke ruangan nya. Alin yamg bersandar di tembok masih syok dengan apa yang baru saja dia dengar.
Sampai dia terkaget ponselnya berdering "mas Riko"
"assalamualaikum iya mas, maaf ada apa?"
"kamu dimana Lin? ini Ulan sudah bisa dipindahkan di kamar perawatan, udah ada Bu Siska dan pak Alex juga disini, cepetan."
"oh Alhamdulillah iya mas aku kesana." Alin berlari.
"mas Riko bagaimana keadaan Ulan?" tanya Alin
"kamu dari mana saja?"
"maaf tadi saya habis dari toilet,"
"Alhamdulillah Ulan sudah bisa dipindahkan ke kamar perawatan, untung langsung dibawa kesini, dan untung nya lagi sebelum dibawa kesini sempat di kasih susu kan sama kamu Lin?" tanya Bu Siska.
"iya Bu, tapi kenapa Ulan bu?"
"tadi kata dokter dia keracunan, ibu sudah filling karena mulut nya berbusa. Makanya pas ibu dan pak Alex kesini sekalian bawa sisa makanan dan minuman yang dimakan Ulan untuk diperiksa." kata Bu Siska lagi.
"siapa ya yang tega ngelakuin itu?" tanya Riko
"itu bisa di lihat dari cctv nanti setelah kita tau hasil dari makanan dan minuman itu benar mengandung racun atau tidak." jawab pak Alex.
"tapi saya heran, di plastik ada tulisan 'untuk Alin' berati ada orang yang sengaja ingin meracuni kamu tapi malah salah sasaran kena ke Ulan." ucap Bu Siska
"Astagfirullah pantesan Bu, waktu Alin di toilet tadi Alin denger Ulan bilang 'Lin da palstik buat kamu nih, aku buka ya, wah Lin isinya kue aku bagi kue nya ya kayanya enak nih' Gitu Bu dan sepertinya kue itu langsung dimakan sama Ulan." cerita Alin.
"saya akan cari tau masalah ini, dan akan saya berikan peringatan keras kepada pelakunya.!" jawab pak Alex.
Pintu terbuka Ulan masih pucat dan lemas, di dorong menuju kamar perawatan, tapi sudah tidak pingsan lagi. Kami bersama mengikuti brankar Ulan di dorong.
**
"kasian ya si Ulan, kalau benar makanan itu beracun harusnya yang kena Alin, tapi malah jadi Ulan. Wah siapa ya yang nekat gitu?"
"iya bener, bisa langsung di pecat ini mah kalau ketauan?"
"iya kamu bener, ini namanya udah tindak kriminal, membahayakan nyawa orang. Aku yakin abis dipecat dia juga di penjara."
"jadi penasaran deh, siapa ya. Kamu punya filling gak siapa gitu?"
"yang keliatan jelas gak suka sama Alin kan si Lusi, aku sih yakin dia"
"iya bener juga bisa jadi tuh, tadi aja waktu kejadian berlangsung dia gak keliatan kan. Tapi begitu Ulan dibawa kerumah sakit dia baru nanya sama cleaning servis siapa yang pingsan, inget gak?"
"iya kamu bener, aku gak inget tau. Mending kabur aja deh yang jauh dari pada ketauan terus ketangkep dibawa ke polisi."
"udah yuk, balik ke ruangan."
Wanita didalam bilik itu pun semakin ketakutan, Tak berani keluar Lusi memilih bersembunyi di dalam toilet begitu dia tau bahwa sudah salah sasaran.
"gue gak boleh tetap disini, gue gak mau sampai dibawa polisi dan di penjara. gue harus kabur dari sini sebelum pak Alex dan yamg lain kembali membawa polisi."
Lusi berjongkok memastikan tak ada seorangpun di toilet, dia membuka pintu lalu keluar dengan mengendap-endap menuju lift belakang dan segera naik ke lantai 4 mengambil tas nya dengan cepat dan segera turun ke bawah.
"mbak Lusi mau kemana?" tanya satpam
"ehmmm saya itu saya mau ke rumah sakit nengok yang tadi pingsan." jawabnya cepat
"oke mba hati-hati."
Lusi berlari keluar, tak jauh dari kantor ada pangkalan ojek.
"bang anterin saya ke minimarket depan ya." ucapnya
"oke neng."
**
Mobil memasuki halaman parkir kantor, turunlah pak Alex dan juga bu Siska serta Riko.
"loh ko udah pada pulang?" tanya satpam
"emangnya kenapa pak?"
"tadi mbak Lusi pamit mau ke rumah sakit katanya,"
Pak Alex dan Bu Siska saling pandang, "aku harus segera periksa cctv." Alex segera masuk kedalam, untuk memeriksa CCTV melalui laptopnya karena dia belum sempat mengaplikasikan cctv ke ponselnya.
"kalau benar kamu pelakunya jangan harap bisa kabur dari saya Lusi"
Alex melihat Lusi masuk ke ruangan pantry sesaat sebelum Alin dan Ulan masuk, meletakkan bungkusan hitam dengan tulisan 'untuk Alin' kemudian pergi. Tak lama seperti yang diceritakan Alin di rumah sakit.
**