System Kekayaan Super Box

System Kekayaan Super Box
BAB 57


"Sama-sama," angguk Fiqan. "Kerja yang rajin ya, masalah gaji kalian jangan pikirkan aku akan membayarnya lebih, nanti kamu kirim saja berapa orang dan apa saja kerja bagian mereka," ucap Fiqan.


"Baik Tuan, mohon tinggal kan nomor ponsel Anda," ucap kasir itu.


"Oh iya, baiklah," angguk Fiqan menuliskan nomor ponselnya.


Triring


Triring


Triring


Ponsel milik Fiqan berbunyi, ia pun segera mengangkatnya.


"Halo," jawab Fiqan.


"Halo, kamu di mana?" tanya Stella.


"Aku... di super market, ada apa?" Fiqan balik bertanya.


"Kamu ke kantor polisi sekarang," perintah Stella.


"Kenapa?" tanya Fiqan lagi.


"Pokoknya kamu ke sini sekarang," ucap Stella lagi.


"Kau memerintah ku?" tanya Fiqan mengangkat alisnya.


"Apa aku terlihat seperti memerintah?" Stella balik bertanya.


"Ya kau memerintah ku untuk datang, bukan meminta," jawab Fiqan tegas.


"Huh! Baiklah, baiklah, aku memintamu datang ke kantor polisi, karena ada kasus yang belum terpecahkan. Puasss!" ucap Stella kesal.


"Nah, gini donk, oke! Aku terima," jawab Fiqan tersenyum yang langsung memutuskan panggilannya.


"Hey! Hey!" teriak Stella, namun panggilan itu sudah mati.


"Ya udah, aku pergi dulu ya, jika ada apa-apa langsung hubungi aku ya," ucap Fiqan.


"Baik Tuan," angguk kasir itu.


Fiqan pun langsung menuju mobilnya, ia bergegas menuju kantor polisi.


Sesampainya di sana, Stella sudah menunggunya di depan teras kantor polisi.


"Ada kasus apa? Apa kasus tadi malam?" tanya Fiqan.


"Hm… tentang kasus tadi malam itu sepertinya mereka tahu ada yang mengikuti, jadi mereka pindah haluan lalu para petugas yang mengejar mereka kehilangan jejak," jawab Stella murung.


"Oh begitu ya, lalu? Ini kasus apa lagi?" tanya Fiqan.


"Ini kasus pembunuhan, lebih tepatnya kasus pembunuhan berantai, pelakunya belum di ketahui dan juga tidak ada rekaman cctv juga, tidak ada sidik jari juga, setidaknya ada dua pembunuhan dengan 1 orang yang sama," ucap Stella.


"Oh begitu ya, di mana mayatnya?" tanya Fiqan.


"Ke dua mayat itu ada di ruang otopsi saat ini, mungkin malam ini ada pengintaian di lokasi pembunuhan itu, soalnya jarak TKP satu dengan TKP yang lain tidak jauh, kemungkinan besar jika dia melakukan tempat yang sama," ucap Stella.


"Jadi? Apa kamu ikut malam ini?" tanya Fiqan.


"Tidak," jawab Stella mengeleng.


"Lalu kenapa kau memanggilku?" tanya Fiqan.


"Aku melihat kedua detektif itu sangat tidak berguna, entah bagaimana kerja mereka," ucap Stella melipat tangannya karena kesal.


"Jadi di mulai dari mana aku harus memeriksanya?" tanya Fiqan.


"Mana aku tau, aku bukan detektif," ucap Stella.


"Astaga! Kau saja tidak tau dan kau malah mengatakan jika mereka tidak berguna, lalu kamu apa?" tanya Fiqan mengangkat alisnya sambil tersenyum.


"Tentu saja itu bukan keahlianku, jika mereka tidak bisa memecahkan kasus lalu kenapa mengatakan jika diri mereka detektif, sangat tidak masuk akal," ucap Stella.


"Hm… kamu benar juga, aku yang bukan detektif saja kamu malah memanggilku," ucap Fiqan melirik dari ujung matanya.


Stella mengangguk-angguk. "Kamu melakukannya mulai dari memeriksa tubuh mayat itu, aku akan membawamu nanti malam ke sana, mungkin kamu siang ini mau istirahat dulu," ucap Stella.


"Baiklah, lagian aku ada yang mau ku kerjakan," ucap Fiqan.


"Baiklah," angguk Stella.


Bersambung


Jangan lupa like komen vote Dan hadiah


Terima kasih.