System Kekayaan Super Box

System Kekayaan Super Box
BAB 39


Pembagian materipun selesai.


"Baiklah, sampai di sini pembagian materi kita kita lanjutkan besok lagi," ucap dosen tersebut.


Para mahasiswa berhamburan keluar. Fiqan dan Zacky menuju mobilnya.


"Kita langsung ke kantor polisi nih," ucap Zacky bersemangat.


"Iya," angguk Fiqan memakai sabuk pengamannya lalu ia pun melajukan mobilnya meninggalkan kampus.


Beberapa menit perjalanan akhirnya sampai di kantor polisi. Fiqan mengamati kantor polisi itu dan kemudian Fiqan pun turun dari mobil.


"Ayo masuk," ajak Fiqan kepada Zacky.


"Iya, semoga saja polwan cantik itu ada," ucap Zacky tersenyum berharap.


Fiqan hanya memutar bola matanya dan kemudian masuk ke dalam kantor polisi tersebut.


"Pak, saya ingin ingin mengambil kartu identitas saya yang di tahan oleh salah satu polwan," ucap Fiqan.


"Oh ya, siapa nama saudara?" tanya polisi itu.


"Fiqan dan ini teman saya Zacky," jawab Fiqan.


"Oh saudara Fiqan ya, ya Anda sedangbdi tunggu di ruang, mari saya antar," ucap Polisi itu.


"Terima kasih," ucap Fiqan.


Fiqan dan Zacky mengikuti polisi tersebut dan sampailah mereka di sebuah ruangan yang di sana sudah ada beberapa orang di sana.


"Silakan masuk," ucap polisi itu.


Fiqan dan Zacky masuk ke dalam. Zacky tersenyum karena polwan incarannya ada di dalam ruangan tersebut.


"Silakan duduk," ucap polisi wanita itu memberikan kursinya.


Saat Fiqan mau duduk di kursi tersebut namun Zacky cepat-cepat menduduki kursi tersebut sambil tersenyum.


Fiqan langsung manyun dan ia menarik kursi yang lain.


"Baiklah karena semuanya sudah ada di sini kita langsung saja. Mereka berdua adalah saksi kejadian ini," ucap salah satu polisi tersebut.


"Jadi apa yang kamu lihat saat kejadian itu?" tanya salah satu saudara korban.


Ding dong


Anda mendapatkan sebuah box kuning


Apa Anda ingin membukanya?


[Ya]


[Tidak]


Fiqan menyentuh tulisan Ya.


Ding dong


Misi baru


Temukan pelakunya


Status Misi: sedang berlangsung


"Fiqan, kok kamu diam aja?" bisik Zacky sambil menyenggol pundak Fiqan.


"Oh hm… iya, saat itu mobil korban menabrak mobil saya, dan akhirnya kami turun dan mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dan temanku merasa curiga dan aku pun memecahkan kaca jendela mobilnya dan mendapati si korban sudah tak sadarkan diri, di sana aku melihat jika dia sudah meninggal dan aku cek di kepala bagian belakangnya terluka seperti di pukul dengan benda keras, namun darah itu sudah di bersihkan, namun darah itu masih tersisa dan mengering, aku juga melihat tali sepatunya yang terikat di pedal gas mobilnya, jadi aku berpikir jika itu pastilah pembunuhan dan membiarkan korban kecelakaan di jalanan agar pembunuhan itu tertutup oleh kecelakaan tersebut, namun sayangnya dia malah menabrak mobilku sehingga kematian itu terungkap," ucap Fiqan panjang lebar.


"Pasti kamu yang melakukannya, karena kamu marah karena dia menabrak mobilmu dan kau malah melukainya," tuduh salah satu wanita itu yang nyatakan jika dia adalah kekasih sang pria tersebut.


"Sudah aku katakan jika darah itu sudah mengering, jika aku melakukan saat itu pasti darahnya yang keluar darah segar," jawab Fiqan.


"Bisa saja kamu membohongi kami semua," ucap wanita itu sinis.


"Apa sidik jarinya sudah di bisa di identifikasi?" tanya Fiqan.


"Tidak ada sidik jari, mungkin sang pelaku pasti mengunakan sarung tangan sehingga tidak meninggalkan sidik jarinya," jawab polisi tersebut.


"Hm… begini, apa mobilnya masih utuh?" tanya Fiqan.


"Iya, mobilnya masih ada di samping dan masih di cari sidik jarinya atau sesuatu benda untuk menemukan pelakunya," jawab polisi tersebut.


"Bagaimana jika aku ikut memeriksa mobil itu, mungkin aku bisa menemukan sesuatu," ucap Fiqan.


"Tidak! Kamu bisa saja menyalahkan semua orang bahwa kamu yang sudah melakukannya," ucap wanita itu.


Fiqan melihat ke arah polisi di sampingnya. "Silakan saja, ini demi untuk mencari tahu keberanannya," ucap polisi itu.


"Iya Lola, biarkan saja, siapa tau dia memang menemukan sesuatu untuk menjadikan buktinya," ucap ibu pria tersebut.


"Mari saya antar," ucap polisi tersebut. Mereka pun keluar dari ruangan tersebut dan menuju mobil tersebut, di sana sudah ada petugas forensik lainnya yang sedang memeriksa.


"Apa sudah menemukan sesuatu?" tanya polisi itu.


"Belum, di dalam mobil ini sangat bersih," jawab petugas tersebut.


"Hm… biarkan aku memeriksanya," ucap Fiqan.


"Silakan," ucap petugas itu memberi kesempatan kepada Fiqan.


Fiqan masuk ke dalam mobil tersebut lalu memeriksanya.


"Apa tidak apa-apa dia yang memeriksanya, bisa jadi dia juga pelaku," bisik petugas itu.


"Tidak apa-apa karena para warga yang menyaksikan kejadian itu jika tidak ada kejanganlan apa, hanya waktu itu dia yang memecahkan kaca jendela mobil untuk membuka pintu mobil, namun tidak ada cekcokan apa pun terdengar," jawab polwan itu.


Fiqan membuka seluruh kain dan tempat duduk mobil itu lalu mencari di semua arah.


Sesuatu mengelinding dari balik pintu mobil yang tersangkut di atas, Fiqan memungutnya lalu memperhatikan benda tersebut, benda itu seperti manik-manik, entah itu manik baju atau sendal wanita.


Fiqan menyimpannya lalu mencari sesuatu lagi.


"Oh begitu ya," ucap Fiqan mengangguk mengerti saat ia melihat sesuatu yang janggal lalu ia pun keluar.


"Apa ada menemukan sesuatu?" tanya Zacky menghampiri Fiqan.


"Tentu saja donk," jawab Fiqan tersenyum.


"Apa yang saudara Fiqan temukan?" tanya polwan itu.


"Aku menemukan ini, mungkin ibu tau jika ini punya siapa," ucap Fiqan memperlihatkan benda di tangannya.


"Ini… bukannya punya kamu?" tanya ibu itu mengambil manik-manik dari tangan Fiqan.


"Eh… itu… itu memang punyaku, tapi itu sudah lama," jawab wanita itu gugup.


"Tidak! Itu punyamu kemarinkan? Meskipun aku tidak tau kenapa kamu melakukannya, yang pasti kamu melakukannya sudah terencana, jika tidak, mana mungkin para petugas tidak menemukan sidik jarimu, pasti di saat itu kamu gugup meskipun sudah di rencanakan, sehingga kamu tidak sadar jika manik-manik ini tersangkut di atas pintu mobil, kamu hanya memperhatikan di bawah saja, tapi kamu tidak meperhatikan di tempat lain," ucap Fiqan.


"Hey! Kamu jangan sembarangan menuduh ya, mana buktinya jika aku pelakunya!" teriak wanita itu dengan tangan yang gemetar.


"Tanganmu gemetaran bukan karena kamu marah, tapi karena kamu ketakutan'kan?" tebak Fiqan.


"Konyol! Manik ini tidak bisa di jadikan barang bukti apa pun, kamu jangan sembarangan menuduhku!" teriak wanita itu mengengam erat tangannya.


"Aku juga menemukan sesuatu di tempat duduknya," ucap Fiqan


"Apa!" wanita itu sangat kaget.


Bersambung


Jangan lupa like vote komen dan hadiah


Terima kasih