
Micka meletakkan mangkok yang berisi makanan di atas napan lalu membawanya menuju ke meja Fiqan.
"Silakan di nikmati," ucap Micka meletakkan makan di atas meja.
"Terima kasih Micka," ucap Zacky tersenyum manis.
"Iya," angguk Micka tersenyum.
"Wah, senyuman Micka manis sekali," goda Zacky.
Fiqan menendang kaki Zacky. "Hey! Hey!" ucap Fiqan membulatkan matanya ke arah Zacky.
Zacky langsung memanyunkan muncungnya. Micka kembali ke dapur untuk membuat pesan pengunjung yang lain.
"Kamu ah, nggak bisa lihat aku bahagia," ucap Zacky.
"Dia itu gadis baik-baik, kamu jangan mempermainkan dia donk," jawab Fiqan mengingatkan.
Zacky langsung menyantap makanannya dengan lahap.
Datanglah beberapa pria layaknya seperti preman, 4 orang duduk di kursi.
"Buk pesan bakminyan, 4 mangkuk," ucap pria yang memakai singlet hitam dengan tubuh yang besar.
"Iya sebentar," jawab Ibu Micka.
"Mereka tampak seram, apa mereka preman di sini?" bisik Zacky.
"Kamu jangan berpikir jelek gitu, karena kita tidak bisa menilai dari sampulnya," ucap Fiqan menasehati karena ia tak mau berburuk sangak, Soalnya dia sudah mengalami kejadian waktu di ATM, orang yang terlihat baik-baik belum tentu adalah orang yang baik, dan Orang yang jahat belum tentu orang jahat.
"Tapi aku akan terus memantaunya, siapa tau nanti dia malah menganggu Micka," ucap Zacky.
"Terserah kamulah," jawab Fiqan menseruput mienya.
"Ini kak makanannya," ucap Micka meletakkan makanan di atas meja.
"Terima kasih dek Micka. Oh ya di sana ada kelompok penagih uang, makannya kami ke sini untuk melindungi warung ini," ucap pria yang berbadan besar itu.
"Tapi kak, kalian selama ini sudah banyak membantu dan sampai kalian di pukul oleh mereka, kalian jangan begitu lagi, kami merasa punya hutang budi pada kalian," ucap Micka dengan wajah murung.
"Tapi kami nggak bisa tinggal diam kalau mereka berbuat seperti itu lagi," jawab tannya yang lain.
"Iya, kami sudah mengangap ibu adek Micka sebagai ibu kamu juga," ucap pria itu.
"Tapi kak…"
Tiba-tiba ibu Micka datang.
"Iya nak, kalian jangan sudah cukup membantu kami, lagian kami punya uang kok untuk membayarnya karena hari ini kami sudah cukup banyak pengunjung yang makana di sini," jawab ibu Micka mendekati mereka.
"Ternyata benar, mereka malah ingin membantu melindungi tempat ini dengan segenap jiwa dan raga mereka," ucap Zacky terharu.
"Tuh benerkan," ucap Fiqan.
Ding dong
Anda mendapatkan Box jingga
Apa Anda yakin ingin membukanya?
[Ya]
[Tidak]
Fiqan menyentuh tulisan Ya di layar monitornya.
Ding dong
Misi baru
Status misi: sedang berlangsung.
"Tapi uang itu untuk modal ibu jualam lagi," ucap pria itu.
"Tidak apa-apa nak, ibu sudah menyisihkan untuk uang modalnya kok, kalian tenang saja," ucap ibu Micka tersenyum.
"Aku juga ingin melindungi tempat seperti yang mereka lakukan," ucap Zacky terharu.
"Jika kau ingin melakukannya, kamu lawan para penagih uang itu.
Tak berapa lama selangmereka sedang membicarakannya. Para penagih uang itu datang.
"Cepat! Cepat mana uannya!" ucap salah satu pria memukul meja warung Micka.
"Eh iya sebentar," ucap Ibu Micka balik ke dapurnya.
"Tidak ibu, mereka apa bila jika tidak di beri pelajaran mereka akan terus minta lagi," larang pria yang memakai singlet hitam itu.
"Heh! Mau apa kamu! Mau babak belur seperti waktu itu?" tanya Pria yang memakai jaket kulit berwarna hitam itu.
"Meskipun dengan babak belur, kami akan tetap menjaga warung ini, kamu tak seharusnya meminta-minta uang dengan cara kasar seperti ini, bukannya mereka kasihan, tapi mereka merasa jijik dengan perlakukanmu," ucap pria itu menentangnya.
"Kamu ya sangat berani sekali berkata begitu, sepertinya kamu ingin di hajar lagi," ucap pria jacket kulit itu.
"Kalian lebih baik minta-minta di pinggir jalan sana agar ada yang kasihan," ucap pria itu tak mau kalah
"Lakukan saja," perintah bosnya.
"Baik Bos," angguk pria berjacket kulit itu mencengkam singlet pria itu dan mengangkat tangannya ingin meninju pria tersebut.
"Berhenti!" teriak Fiqan yang berdiri sambil memukul mejanya.
Mereka pun langsung berhenti dan melihat ke arah pemilik suara.
"Kalian sungguh berisik, membuat aku makan saja tidak tenang, kalian pikir kalian siapa yang berani buat keributan di sini," ucap Fiqan berjalan mendekati para pria yang memakai jacket kulit itu.
"Heh! Kamu siapa lagi? Ingin menjadi pahlawan kemalaman seperti mereka juga," ucap teman pria berjacket kulit itu.
"Aku peringatkan! Kalian lebih baik pergi atau kalian rasakan akibatnya," ucap Fiqan mengingatkan.
"Kamu siapa yang berani mengusir kami, apa kamu sudah merasa hebat berani mengatakan itu kepada kami, kamu juga minta di pukul," ucap pria itu.
"Jika berani, marilah ke sini," ucap Fiqan.
"Bener-benar tidak sayang nyawa kamu ya," ucap pria yang berjaket kulit itu mengarahkan tinjunya ke arah Fiqan.
Dengan sigap Fiqan menangkap tangannya dan…
Kraaakk!
Sebuah patahan terdengar.
"Aduuuuhhh!" teriak pria itu kesakitan sambil memegang tanganya yang di patahkan oleh Fiqan.
Bosnya terbelalak tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Beraninya kamu mematahakn tangan anak buahku, hajar dia sampai mati," perintah bos tersebut dengan mata yang berapi-api.
Kedua orang itu mengeluarkan senjata tajamnya lalu mengibas ke arah Fiqan.
Bersambung
Jangan lupa like vote koemn dan hadiah
Terima kasih