
Setelah makan, Gaea menyarankan kembali ke tujuan mereka yaitu ke rumah orang tuanya, mereka bergandengan tangan selama di perjalanan, sesekali ia memberitahukan tempat-tempat wisata yang dilewati seperti tempat perawatan hewan yang terluka, kebun binatang serta tak lupa bercerita mengenai kastil satu-satunya di Sitka yaitu kastil Baranof yang terkenal akan hantu wanita yang bergentayangan mencari cinta sejatinya.
Gaea sendiri lebih menilai unsur sejarahnya dibanding mengenai hal berbau mistis, bangunan kastilnya juga masih bagus berada di atas bukit, merupakan saksi sejarah Rusia menyerahkan Alaska ke Amerika.
Gaea berhenti melangkah ketika sampai di sebuah rumah kecil berlantai dua terbuat dari kayu diberi cat warna putih dengan genteng baja berwarna biru langit memberi kesan indah dipandang, ia melirik di Rainer yang berada di sampingnya, "Maaf iya, jika tidak sesuai harapanmu, rumah Ibuku kecil tidak seperti rumah Eryk."
"Apa yang kau katakan? Rumah besar bukan jaminan nyamannya kita, orang yang tinggal di dalamnya lah yang menjadi penentu," kata Rainer kalem. "Aku dari keluarga biasa juga, Gaea."
"Sungguh?"
Rainer mengangguk, "Aku bukanlah Tuan Muda seperti Eryk, aku hanyalah anak dari pasangan suami istri yang bekerja di bagian pengiriman barang di Hikone, Jepang."
Gaea tidak menyangka sama sekali, "Aku kira kau diadopsi dari panti asuhan ternyata kau ingat orang tuamu."
Rainer tertunduk sedih dan berkata lirih, "Aku diadopsi setelah Kaa-san dan Tou-san meninggal karena kecelakaan di New York saat mau menjemput aku di toko buku, saat itu Ayah Eryk yang menangani orang tuaku karena dia berada di tempat kejadian, dia iba padaku mengetahui aku baru berusia 14 tahun ditambah visa tinggal ku juga sudah habis jadi Ayah Eryk menawarkan menetap di sini sebagai anak adopsi dia."
"Kau menerimanya?" tanya Gaea.
"Aku awalnya menolak, Ayah Eryk tidak memaksa, dia justru menawariku juga pulang ke Jepang," kata Rainer, "lalu aku berpikir lagi, aku tidak memiliki siapa-siapa di Jepang lantas untuk apa kembali? Jadi besoknya aku menerima menjadi anak adopsi."
Ditinggal orang tua ketika masih muda, Rainer hampir sama sepertinya, Gaea jadi berpikir apakah sifat panas dan dingin pria itu terbentuk dari kesendirian Rainer? Sama sepertinya dulu yang menutup diri pada dunia setelah kedua orang tuanya tiada.
"Maaf aku lancang, tetapi kau tidak punya saudara di Jepang?" tanya Gaea.
Rainer bilang tidak ada siapa-siapa lagi di Jepang, sesuatu yang mustahil, 'kan? Pasti ada kerabat dari orang tua pria itu.
Rainer memasang senyum pahit sambil berkata, "Keluarga dari Kaa-san merupakan orang yang terpandang, Kaa-san kabur bersama Tou-san karena cinta mereka tidak direstui, mereka kabur ke kota kecil dan menikah tanpa restu. Kau tahu seterusnya."
"Uh ...," Gaea tidak bisa berkata apa-apa, sekarang mengerti kenapa Rainer tidak memiliki siapa-siapa di Jepang, keluarga orang tua Rainer pasti benci pria itu karena dari hasil cinta yang tidak direstui.
"Tapi, akhir-akhir ini keluarga dari Tou-san menghubungiku," kata Rainer, "mereka mau mengadopsi aku setelah mengetahui kabar Tou-san sudah tiada."
"Akhir-akhir ini!?" seru Gaea syok. "Kau tidak memberitahu mereka?"
"Kenapa harus? Mereka tidak ada saat kami kesulitan," kata Rainer dingin. "Aku yakinkan padamu bahwa mereka bahagia mendengar berita kepergian orang tua ku."
"Jangan seperti itu, kali mereka menyesal sudah menelantarkan mu dan orang tuamu," kata Gaea.
Setiap tindakan pasti ada alasan, itulah prinsip Gaea.
"Itulah yang mereka katakan ketika kami mengobrol di telepon," kata Rainer, "aku bilang padamu bukan sewaktu di taman mengenai keinginanku kembali?"
Gaea tentu saja ingat, apalagi ucapan Rainer mengenai alasan masih mau tetap tinggal di New York, "Tawaran itu dari keluargamu?"
Rainer mengangguk.
"Gaea? Kau sedang apa berdiri di depan rumah!?" teriakan suara wanita dari kejauhan mengakhiri percakapan mereka berdua.
Gaea menoleh ke rumahnya mendapati ibunya yang masih mengenakan celemek masak bermotif bunga mawar berjalan menghampirinya, memeluknya erat sekali.
"Oh, Ibu begitu merindukanmu, sayang," kata ibu angkat Gaea riang.
Gaea membalas pelukan ibu angkatnya, "Aku juga, Bu."
Ibu Gaea melonggarkan sedikit pelukannya agar bisa melihat wajah anak angkatnya, dibelainya rambut cokelat hingga pipi Gaea penuh kelembutan, "Oh, aku masih tidak percaya kau kembali, sayang. Kau semakin cantik."
Gaea tersipu malu dibuatnya, "Hehehe ... Lola dan Ava memberitahu cara merawat tubuh."
"Oh," ibu Gaea teringat sesuatu, dilepasnya pelukan rindunya, untuk melirik Rainer yang sejak tadi diam memperhatikan.
Rainer membungkukkan tubuhnya penuh hormat, "Senang bertemu dengan Anda."
"Panggil aku Ibu atau Lily, Nak," kata Lily.
"Senang bertemu dengan Anda, Bu Lily," kata Rainer disertai senyuman hangatnya. "Anda jauh lebih cantik dari yang aku kira."
"Oh dear, Ibu jadi mengerti kenapa kau memilih Rainer," kata Lily tersipu malu.
"Sungguh!?" tanya Gaea, ia sendiri bingung dari mana ibunya bisa secepat itu menyukai Rainer.
"Rainer memiliki senyuman yang indah, Ibu yakin kau mulai menyukai Rainer dari senyum manisnya, walaupun kemungkinan besar kau menyukai wajah tampannya dulu, sih," kata Lily mengira-ngira serius sambil bertopang dagu.
Gaea tidak menyahut, menggaruk lengannya gugup. Tidak diragukan lagi, ia juga menilai Rainer memiliki senyum yang indah hingga keinginan merasakan bibir pria itu semakin tinggi.
'Ugh, ini akibat kencan tadi, jadi berpikir aneh-aneh,' kata Gaea dalam hatinya.
"Ayo, masuk Gaea, Rainer," kata Lily lembut. "Ibu sudah memasak hidangan spesial buat kedatangan kalian berdua."
Gaea mengangguk, menuruni anak tangga di halaman rumahnya perlahan agar tidak jatuh dan menghancurkan patung orang-orangan salju berukuran kecil yang berbaris di bawah. Ia tertawa kecil, yakin orang-orangan salju itu buatan anak tetangganya.
Lily membukakan pintu bercat putih itu, "Silakan masuk ke istana kecilku."
"Permisi," kata Rainer sopan.
Gaea masuk belakangan sedikit ragu apakah akan ada kakak angkatnya di dalam, kedua tangannya sedikit gemetaran mengingat kenangan buruknya bersama kakaknya itu. Ia mengambil napas dalam, menyemangati diri sendiri bahwa semua baik-baik saja bahwa ia sudah menjadi wanita yang kuat, barulah ia masuk ke dalam, "Aku pulang," katanya.
"Oh, Gaea sayang."
Mata Gaea melebar mendengar suara berat dan maskulin yang selalu menghantuinya di mimpinya selama bertahun-tahun, di sana, tidak jauh darinya duduk seorang pria muda berambut pirang panjang diikat ke belakang, senyuman penuh arti terukir dibalik kumis hitam tipisnya.
Pria itu bangkit dari duduknya, melebarkan tangannya bersiap memeluk adik angkatnya tercinta yang sudah tidak ditemuinya selama tujuh tahun, "Gaea sayang, selamat datang kembali."
Gaea dengan cepat mengelak pelukan itu, bersembunyi dibalik punggung Rainer agar tidak dapat dijangkau oleh Ethan.
"Kau tidak mau memeluk Kakak Ethan ini?" tanya Ethan dengan nada terluka yang dibuat-buat.
Gaea memutar bola matanya.
Ethan adalah orang terakhir di dunia yang ingin dipeluknya, kebencian di dalam dirinya selama bertahun-tahun mencuat dari sorotan mata hijaunya melihat tingkah kakaknya sok polos seakan tidak memiliki dosa sedikit pun padanya atas segala perbuatannya.
"Senang bertemu denganmu juga," kata Gaea tanpa menyembunyikan nada dingin di suara kecilnya.
Ethan menggelengkan kepalanya tak percaya Gaea masih belum berubah, dilihatnya Rainer yang menjadi pelindung adiknya, matanya berubah menyipit tidak suka, "Siapa kau ini?"
Tanpa mengalihkan pandangan matanya, Rainer berkata, "Namaku Rainer, aku kekasih Gaea."
Ethan melongo sebelum kemudian tertawa nyaring hingga memenuhi ruangan, "Kau? Hahaha ... setidaknya lelaki yang di video itu lebih terlihat pria dari pada dirimu. Kurasa Gaea memiliki selera buruk, huh?"
***
Tou-san : Ayah
Kaa-san : Ibu
Jangan lupa like, dan komentar ya 😊
💕💕💕