
Pegawai tersebut mengajak Eryk dan Rainer ke lantai tiga kapal yang suasananya lebih sepi, di sana mereka di ajak ke sebuah ruangan gelap berukuran kotak kecil, terdapat kursi dan meja panjang tertempel di tembok, "Silakan Tuan masuk ke dalam." katanya sambil membukakan pintu sopan.
Eryk dan Rainer melirik satu sama lain, melempar sinyal apakah ini aman atau jebakan.
"Nyalakan lampunya." kata Eryk.
"Maafkan saya, tetapi tidak bisa Tuan, sudah dirancang seperti ini." kata Pegawai tersebut sopan.
Eryk melirik Rainer yang berada di sampingnya, "Aku masuk terlebih dahulu jika terjadi sesuatu, kau tahu apa yang harus kau lakukan Rainer."
Rainer menatap Eryk, "Lebih baik kita lupakan ini,
"Uh, maaf mengganggu percakapan Tuan, tetapi ini adalah tempat khusus solo lelang, peserta dipisah sebab mereka meminta identitas mereka diketahui. Di meja ada tombol sebagai pemberitahuan jika Tuan ingin menawar," Pegawai itu menjelaskan. "Terkait lampu, sejak dulu kami memang tidak pernah dinyalakan untuk mengecilkan meminimalkan identitas peserta ketahuan oleh peserta lain."
Eryk berpikir sebentar; sejak dulu? "Lelang ini memang sudah berapa kali diadakan?"
"Setahun sekali Tuan," kata Pegawai tersebut. "Ini lelang yang ketiga."
Eryk mengerti jadi jika ia tidak mengambil kesempatan ini, ia harus menunggu setahun lagi untuk ikut, dan tentu saja mana mau ia menunggu selama itu, "Aku ikut."
"Tapi Eryk," kata Rainer tidak setuju. "Lebih baik kita menyusun rencana lain lagi."
Eryk menggelengkan kepalanya, "Semakin aku mengulur waktu semakin aku kehilangan kesempatanku menemukan Katherine dan Kervyn." ia menatap serius Rainer. "Maaf iya, aku mengerti kau cemas, tetapi aku yakin ini benar."
Rainer mengembuskan napasnya, kemudian menatap Pegawai, mencoba bernegosiasi, "Bisa aku masuk belakang? Tidak mungkin, kan pintu ini terkunci setelah kami masuk?"
"Tentu bisa Tuan." kata Pegawai itu masih dengan nada sopan.
Rainer mengangguk, "Baiklah, kau bisa, aku akan di sini melihat situasi terlebih dahulu."
Eryk mengangguk, kemudian masuk ke dalam yang setelah beberapa detik masuk pintunya tertutup membuat cahaya di luar terhalang hingga ruangan semakin gelap, ia duduk di kursi yang telah disediakan dan menyadari bila ada kaca di depannya, ia menyentuhnya untuk memastikan, "Tebal, penghalang kuat cahaya lampu agar tidak tembus ke sini."
Eryk berpikir ini begitu dipersiapkan matang-matang, penyelenggara ini pasti sudah menyewa ini sebelumnya atau dia menyiapkan dalam waktu yang lama.
Lampu di bagian luar kaca menyala, memperlihatkan sebuah ruangan kecil di sana, dan Eryk menyadari ada ruangan kaca lain di sana mengelilingi ruangan kecil tersebut, pastilah itu tempat para penawar lelang ini.
Sesuai ucapan perkiraan Eryk, cahaya luar tidak menembus sepenuhnya ke ruangannya hanya sisa sedikit yang bisa membuatnya melihat tombol berwarna merah di mejanya yang digunakan untuk menawar sesuai apa yang dikatakan Pegawai tadi dan satu buah tablet bergambar kalkulator? Buat mengetik nominal tampaknya
Eryk bertopang dagu sekaligus menyilangkan kakinya, menunggu.
Seorang pria tinggi memakai topeng di wajahnya masuk ke dalam dengan langkah elegan, ia berdiri di tengah-tengah dan mulai memperkenalkan dirinya, "Selamat malam para peserta, sesuai janjiku tadi, akan ada satu lagi yang akan dilelangkan, sesuatu yang istimewa."
Eryk bangkit dari duduknya sambil memukul meja, wajahnya yang bosan berubah emosi.
Eryk memang tidak bisa melihat wajah pria itu, tetapi struktur tubuh, gestur serta warna rambut pirang membuatnya yakin bahwa itu Kervyn, dan suaranya hampir sama seperti terakhir kali mereka duel di hutan.
Wajah pria bertopeng itu tiba-tiba tertuju pada Eryk, "Lelang istimewa ini aku persembahkan untuk seseorang yang begitu spesial bagiku sudah jauh-jauh ke sini."
Eryk menggertakan giginya, "Kervyn."
Pria bertopeng itu mengulurkan tangan ke arah pintu yang tadi dimasukinya, "Kemari, tidak apa."
Seorang wanita yang mengenai topeng juga masuk ke dalam dengan didorong secara paksa, ia hampir kehilangan keseimbangan jika saja pria itu tidak segera menangkapnya.
Mata biru Eryk melebar, "Tidak mungkin ..."
Pakaian, rambut hitam panjang, hingga struktur tubuh wanita itu cocok dengan Katherine.
Eryk mengepalkan tangannya kuat berusaha menahan emosinya yang hendak meledak.
Pria bertopeng itu menuntun wanita itu ke tengah agar bisa dilihat oleh peserta lelang, "Lelang kali ini adalah wanita cantik ini, dia seorang yang mahir memasak dan menyanyi tentunya seorang wanita yang sempurna."
Wanita itu menengadahkan wajahnya yang sejak tadi hanya tertunduk memandang lantai, mata cokelatnya memancarkan rasa ketakutan yang besar.
"Katherine." panggil Eryk pelan, ia segera menekan tombol untuk menawar.
"Oh tenanglah, aku belum selesai bicara mengenai wanita ini, aku tahu kalian menginginkan dia," kata pria bertopeng itu dengan tawa kecil yang seolah mengejek Eryk.
Eryk tidak peduli tetap menekan tombol.
"My, my, ada yang tidak sabaran rupanya." kata pria bertopeng itu. "Baiklah kita mulai lelang ini, dimulai dari ada Tuan." katanya lalu menunjuk arah ruangan Eryk.
Eryk sejujurnya bimbang mau memasang uang berapa karena ia yang pertama, menawar murah atau langsung mahal, ia tahu Katherine takkan menilai jelek hanya karena tawaran murahan ini, hanya saja ia merasa tawaran ini sebagai perasaannya, "Aku harus beraβ"
"Halo? Apakah ada orang di sana?" tanya pria bertopeng itu. "Waktu Anda habis jadi yang lain bisa memasang penawaran sekarang."
"Lima ribu dollar." kata pria bertopeng itu.
Di luar dugaan angka penawaran sudah tinggi, padahal deskripsi Katherine termasuk biasa saja, apakah mereka membeli karena hal lain?
Eryk dengan segera menekan, lalu mengetik harga di layar sentuh bergambar kalkulator yang tertempel di meja lalu mengirimnya.
"Ah, sepuluh ribu dollar." kata pria bertopeng itu.
Eryk mengepalkan tangannya ketika melihat ruangan di seberangnya menawar lebih tinggi lagi.
"Dua puluh ribu dollar," kata pria bertopeng itu. "Angka yang tinggi, jika begitu sebagai kemeriahannya, aku akan buka topeng dia."
Eryk segera menekan tombol sebelum pria bertopeng itu sempat melepas topeng yang berada di wajah Katherine, "Shβ" sejujurnya ia tidak ingin membuang uang yang banyak, tetapi jika wajah Katherine terbongkar ada kemungkinan menjadi bahan lelucon dari para peserta lain jika mereka tidak bertemu secara sengaja di luar lelang, ia mengetik nominal angka dengan berat hati.
"Wow, seratus ribu dollar." kata pria bertopeng itu tersanjung.
Eryk memicingkan matanya, "Kau sungguh licik." umpatnya.
Eryk memang bisa mendapatkan Katherine, tapi ditukar dengan uang simpanannya, ia rasa memang sejak awal Kervyn mengincar uangnya. Yang menjadi bingung kenapa di acara lelang bukan seperti pencurian biasa yang hanya minta tebusan.
Apakah ada yang lain?
"Jadi ada yang mau menawar lebih tinggi?" tanya pria bertopeng itu.
Eryk berharap-harap cemas agar peserta lain tidak menawar lebih tinggi, jika tidak sisa uang simpanannya akan benar-benar habis, dan terpaksa memakai uang warisan ayahnya yang disimpan di bank Swiss.
"Deal. Kita sudah mendapat penawarnya."
Eryk mengembuskan napasnya lega, namun ia terkejut tanpa bicara apa-apa, pria bertopeng itu membawa Katherine keluar ruangan, "Hey!" ia langsung keluar dari ruangan tersebut yang ditahan oleh pegawai tadi.
"Tuan."
Eryk menaikan alisnya; kenapa pegawai ini tidak kembali bertugas malah menunggunya di luar? Pasti ini ulah Kervyn, amarahnya naik lagi, "Minggir."
"Maaf tidak bisa Tuan, anda harus membayar uang yang sudah disepakati saat lelang tadi." kata pegawai itu. "Silakan ikuti saya ke tempat pelunasan."
Eryk mengembuskan napasnya, dan mengikuti pegawai itu.
***
Setelah membayar uang lelang yang telah disepakati, Eryk diminta menunggu di ruangan tengah di lantai empat, sebelum itu ia bertanya kemana Rainer, namun dijawab tidak tahu oleh pegawai tadi. Ia tahu Rainer suka menyendiri, tetapi pergi selama ini tak wajar sekali.
Apakah ada sesuatu?
Eryk mengecek jam di tangannya, sudah lebih dari tiga puluh menit ia menunggu di sini layaknya orang bodoh, ia mulai berpikir apa ini tipuan Kervyn lagi, saudaranya itu sungguh tahu bagaimana membuatnya kesal.
Tadi saja ia harus membayar menggunakan bank Swiss miliknya yang membuatnya terpaksa sekali menggunakan uang warisan Ayahnya.
"Oh," Eryk melihat dua orang pegawai berjalan ke arahnya sambil memegang seorang wanita yang ia tahu siapa, tanpa basa-basi ia menghampiri, "Lepaskan dia."
Mereka menurut, melepaskan cengkeraman tangan mereka di lengan atas wanita itu.
Wanita itu mengelus pelan tempat cengkeraman orang tadi yang kini memerah sebelum kemudian menatap Eryk sendu, "Eryk ... kau datang ..."
Eryk tidak menjawab, lebih milih berlari dan memeluk wanita itu erat, menumpahkan semua perasaannya yang ditahannya selama ini, "Syukurlah kau baik-baik saja, Katherine."
Katherine membalas memeluk Eryk erat juga, "Aku begitu takut tidak bisa bertemu kau lagi, Eryk."
Eryk membelai rambut hitam Katherine lembut, "Kau selamat sekarang."
"Aku tahu." kata Katherine.
Sebuah tepuk tangan, menghentikan percakapan mereka berdua, mencari dari mana asalnya.
"Aww ... reuni yang mengharukan ..." kata Kervyn sambil menyentuh dadanya 'terharu'.
Note :
Maaf atas keterlambatan ini, saya sibuk revisi bab terus terang aja π₯Ί
Silakan like, komentar, dan vote ya π
πππ