SWEET REVENGE

SWEET REVENGE
Chapter 2 : Little Break


Gaea sudah sampai di pintu apartemen miliknya, mata hijaunya ngantuk berat, namun ia takut masuk ke dalam, ia yakin Lola dan Ava cemas sekali setelah ia mengecek ponsel begitu banyak panggilan dari kedua sahabatnya.


'Dasar, obat bius.' keluh Gaea dalam hatinya.


Kemarin benar-benar kejadian terburuk yang dialaminya setelah menulis tugas skripsi semester terakhirnya.


Menjadi penari seksi, lalu dibius, besoknya diancam oleh bosnya untuk tidak menceritakan kejadian kepada siapa pun.


Bisakah harinya ini menjadi lebih buruk... ?


Gaea mengembuskan napasnya; tidak ada yang patut untuk dipikirkan, yang sudah terjadi biarlah terjadi, nasi sudah menjadi bubur, namun satu hal yang pasti dari masalah ini yaitu ia memutuskan mencari pekerjaan baru.


Gaea tahu Eryk tidak berkata apa-apa soal pekerjaan hanya menyuruhnya pulang, namun ia merasa rahasia Eryk lebih dalam dari yang dikiranya jadi ia tidak mau terlibat lebih jauh; ia akan merindukan wajah tampan bosnya itu—mata hijaunya berputar; merindukan? Pria sombong seperti itu mana mungkin ia rindukan.


Gambaran Eryk yang seorang pendiam namun manis telah hancur juga semalam, Eryk tak lebih dari lelaki yang mencintai diri sendiri.


Dan sekarang pun Eryk tidak pantas menghabiskan waktunya, Gaea mengembuskan napas lagi, barulah dengan perlahan ia memutar kenop pintu hati-hati, meredam suara pintu agar tak terlalu bersuara keras, berharap kedua sahabatnya masih tertidur, mengingat sekarang jam sembilan pagi namun harapannya sirna ketika matanya melihat Lola dan Ava berdiri tidak jauh darinya sambil melipat tangan mereka, ekspresi wajah mereka juga sama yaitu berkerut kesal.


Nampaknya Dewi Fortuna tidak sedang berpihak padanya.


"Kau dari mana saja?" tanya Ava jengkel.


"Apa kau tahu gunanya ponsel, woman?" kali ini Lola yang bertanya.


Tentu saja mereka masih marah, apa yang diharapkan olehnya? Pelukan?


Ini salahnya juga tidak hati-hati.


Gaea bimbang apakah harus jujur atau berbohong, tadi memang ia berkata dengan berani bak singa bahwa tak ada yang bisa memerintahnya, di sisi lain ia mengetahui betapa hebatnya Eryk, dan ucapan yang mengintimidasi menunjukan jika Eryk tidak main-main.


"Halo~" Lola melambai-lambaikan tangan di depan wajah Gaea. "Aku menunggu." katanya. "Apa kau begitu bersenang-senang melihat lelaki-lelaki tampan di ruang VIP?"


Mendengar kata bersenang-senang, membangkitkan memori Gaea seutuhnya, dan membuatnya jengkel; bagaimana bisa Lola bersikap polos sementara wanita muda itu menyembunyikan rahasia besar darinya? Sahabat macam apa yang seperti itu? Meski itu demi dirinya tetap saja salah.


Gaea menemukan alasan untuk mengalihkan pembicaraan mereka. "Ya, aku begitu bersenang-senang," katanya dengan seringai kecil di bibirnya. "Maksudnya kenapa tidak? Orang yang menyewaku kan Tuan Eryk."


Mata biru Lola membulat. "Eryk?"


Gaea mengangguk sebagai jawaban, dan ia melihat Lola menggaruk lengannya, ia tahu kebiasaan itu, yang berarti Lola tengah gugup, yang menandakan ucapannya benar; Gaea berusaha untuk tidak merasa kecewa. "Sudah puas? Aku mau tidur." katanya.


"Kau mau tidur jam segini?" tanya Ava tidak percaya; sehebat itu kah menari di depan Eryk? Ava berpikir-pikir apa Gaea mendapat tip.


"Aku lelah," kata Gaea.


"Aku benci mengatakan ini, tapi kita harus berbelanja." kata Ava.


Belanja? Gaea sedang tidak mood. "Kan ada Lola."


"Sepertinya kau lupa ya," kata Ava; yikes, pengaruh Eryk sungguh-sungguh membuat Gaea menjadi pelupa, sehebat apa memang? "Kita kan mau ke Shanghai siang ini."


Hening...


"Aaahhh... !!!"


Gaea lupa.


.#.#.#.#.#.


Setelah diberitahu, Gaea buru-buru membereskan perlengkapan miliknya dari pakaian hingga perlengkapan untuk mandi.


Gaea tidak percaya ia akan ke Shanghai, ia selalu mengira takkan bisa berpergian keluar negeri sebelum mendapat pekerjaan yang menjanjikan, ia begitu berterima kasih akan kebaikan kedua orang tua Ava yang memberi tiket gratis ke Shanghai.


Gaea awalnya menolak karena tidak enak hati, dan juga tak mau dianggap berteman dengan Ava karena dari keluarga yang kaya raya, tapi Ava terus membujuknya serta Lola agar mau, sekaligus merayakan tahun baru cina di sana, ia dan Lola akhirnya luluh karena tidak tahan dengan 'puppy eyes' Ava yang dahsyat.


Meskipun setuju, ia dan Lola memberikan syarat jika uang jajan atau yang lain mereka yang bayar sendiri, mengingat biaya tiket yang cukup mahal walaupun sedang diskon.


Tentu Ava menolak beberapa kali, meski akhirnya mau juga.


Setelah memastikan semuanya perlengkapan beres, tidak ada yang tertinggal, mereka memutuskan untuk pergi keluar membeli pakaian untuk Ava dan Lola sementara Gaea cuma menemani.


Gaea tidak memiliki alasan untuk membeli baju baru dan berbelanja mungkin bisa membuatnya mengalihkan pikirannya akan kenyataan bahwa Eryk bukanlah 'cool'.


"Lihat,"


Gaea mengangkat kepalanya sedikit, dan ternganga melihat Lola mengenakan gaun hitam panjang selutut, yang membuatnya ternganga bukan karena betapa indahnya ataupun gliter di gaunnya tapi belahan dada Lola yang terlihat jelas, itu berbentuk V.


"Bagaimana?" tanya Lola sambil memutar tubuhnya riang.


"Bagus..." kata Gaea.


Ava menyetujui dengan menganggukan kepalanya.


"Wajahmu tidak berkata begitu." kata Lola.


"Aku jujur kok," kata Gaea. "Aku hanya tidak terlalu suka karena begitu terbuka."


Lola memutar bola matanya; tipikal Gaea, lebih suka pakaian yang elegan, berbeda dengannya yang seksi. "Aku mau mencoba yang lain." katanya, lalu kembali menarik tirai pintu ruang ganti.


"Dear God," Lola masih mau mencoba yang lain? Hanya mencari bajunya saja sampai dua jam, apakah sudah Lola lupa jika mereka akan berangkat dua jam lagi? Tetapi mengenal Lola yang begitu gila shopping, Gaea memutuskan tidak memprotes namun ia lelah hanya duduk di ruang ganti, selama berkeliling di Mall tidak ada baju atau apapun yang menarik perhatian matanya. Ia bangkit berdiri. "Kalau begitu aku mau membeli minum." katanya. "Kalian mau?"


"Aku baik-baik saja," Ava menolak.


Gaea mengerti dan berjalan pergi keluar, melangkah mencari minuman favoritnya, sesekali matanya melirik toko di sisinya; semua toko berhiaskan tema natal sebab malam ini christmas eve, bahkan lantunan lagu di Mall adalah All I Want For Christmas Is You.


Gaea akhirnya tiba di tempat penjual minuman favoritnya, dan beruntung baginya kali ini tidak sedang antre panjang. Mungkin ini luck karena patah hati semalam.


Tidak butuh waktu yang lama, Gaea sampai di kasir, ia memesan green tea baru setelahnya mengeluarkan beberapa lembaran uang dari dompetnya barulah memberikannya kepada petugas kasir.


Sambil menunggu pesanan miliknya dibuat, mata hijaunya berkelana menyisiri gedung, dan di saat itu juga matanya tanpa sengaja menangkap sesuatu yang tak biasa di area kerumunan orang yang lalu lalang.



'Mataku tidak salah? Atau memang benar itu Rainer?' Gaea bertanya-tanya dalam hatinya.


Gaea tidak yakin sebab Rainer tidak menyapanya apalagi ia yakin mata mereka bertemu meskipun hanya sedetik.


"Ini,"


"Oh," Gaea tersadar, ternyata pesanan green tea miliknya sudah jadi, dengan cepat ia pun mengambilnya dan berjalan ke arah terakhir kali ia melihat sosok Rainer, dan tidak butuh waktu yang cukup lama, ia menemukan pria berambut hitam itu sedang memasuki toko musik? Tanpa disadari, langkah kakinya juga memasuki ke toko tersebut.


Berbeda dari toko yang lain, toko musik tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang saja.


Gaea dengan mudah menemukan sosok Rainer, tubuhnya yang tinggi di antara pengunjung lain terlihat begitu mencolok, Rainer tengah memilih kaset di bagian lagu-lagu klasik.


Gaea terkejut mengetahuinya, ia mengira Rainer akan lebih suka genre rock mengingat pakaian pria muda itu ber-style layaknya anak emo hanya cukup singkirkan kacamata yang membingkai indah di hidung mancung Rainer.


Ingatkan dirinya jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja.


Gaea melihat Rainer bergerak lagi ke rak musik yang lain, ia ingin mengikuti namun ia tersadar bahwa rasa penasaran membuatnya sudah seperti stalker.


'Aku menyedihkan.'


Gaea akhirnya menyerah, memilih tidak ingin mengganggu Rainer, ditambah pria muda itu belum melihatnya, jadi tinggal berbalik badan dan pergi—"Aduh..." wajahnya tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang ketika berbalik, ia mengelus hidungnya yang paling merasakan sakitnya. "Maaf." sesalnya.


Orang yang menabrak Gaea mengeluarkan tawa kecil.


'Suara itu...'


Gaea mengenal suara berat itu, suara tawa yang membuatnya semalam terpana, ia pun menengadahkan kepalanya takut-takut—dan disambut senyum kecil ketika mata mereka akhirnya bertemu, ternyata memang Rainer.


Memalukan.


"Mencariku?" tanya Rainer.


Gaea salah tingkah mendengarnya. "Siapa yang mencarimu?" tanyanya jutek namun pipinya merona merah hebat.


"Aku tidak tahu," sahut Rainer bertopang dagu, berpikir. "Aku hanya melihat seorang wanita mengikutiku dari toko minuman." lanjutnya jahil.


Pipi Gaea semakin merah; jadi memang benar Rainer menyadarinya sejak di toko minuman, sekarang ia kesal. "Kau mempermainkan aku? Kau tahu aku di sana tapi tidak menyapa, kau ingin aku yang mengikutimu?"


"Aku tidak mengatakan itu," kata Rainer.


Gaea mengambil napas; sekarang ia merasa bersalah, tidak seharusnya ia melampiaskan kesalnya karena tertangkap basah mengikuti pria muda itu. "Maaf," sesalnya.


"Tak apa." kata Rainer.


Gaea bersyukur Rainer orang yang pemaaf; ia rasa cukup ia melakukan kesalahan jadi lebih baik ia kembali ke teman-temannya. "Jika kau sibuk—"


"Well," haruskah ia menjawab tidak keduanya? Bukankah tadi jelas percakapan mereka kalau ia hanya mengikuti? Atau... atau... Rainer tidak mau ia pergi—? Ingin ditemani—?


Degub jantung Gaea dengan anehnya berdegub lebih kencang.


"Aku juga baru-baru ini menyukai musik." kata Rainer. "Ferdinand yang memberi kaset-kaset klasik padaku. Aku suka sekali dengan karya Beethoven jadi aku mencarinya."


Gaea ternganga; ia memang bukanlah ahli musik tetapi lagu sekelas Beethoven di rak musik sekarang? Ia tidak menyangka Rainer pria kuno mengingat pekerjaan pria muda itu seorang Hacker. "Takkan ada kaset itu di sini, Rainer." katanya sehati-hati mungkin agar tak mengecewakan pria malang tersebut.


"Oh,"—jawaban Rainer singkat akan tetapi Gaea bisa merasakan nada kesedihan di kata-kata itu.


Jika saja ia bisa menghibur Rainer, namun Gaea tidak bisa mengambilnya, mereka kan belum dekat. "Kalau begitu—" kata-katanya terhenti ketika Rainer menyentuh tangannya, dan degub jantungnya denhan anehnya naik lagi. "A-apa?" kenapa ia jadi terbata-bata?


"Kalau begitu kau bisa merekomendasikan lagu padaku?" tanya Rainer.


Mata hijau Gaea terbelalak; merekomendasikan? Ia juga tidak tahu soal musik klasik! "Eh—!" sebelum sempat protes, Rainer menariknya menuju rak musik klasik. "Tapi..." ia mencoba memberi penjelasan.


"Kita bisa mencari bersama," kata Rainer.


Gaea hanya bisa tertawa kikuk.


'Jangan putuskan seenaknya dong!'


Gaea menatap deretan kaset-kaset yang bertumpuk miring gugup, kepalanya terasa pusing hanya melihatnya saja.


'Musik apa yang harus aku berikan?'


Gaea melirik Rainer, pria muda itu begitu serius mengecek satu demi satu kaset. Ia tidak bisa berhenti untuk kagum akan mode serius Rainer yang membuat pria muda itu semakin tampan bahkan ia yakin Rainer pria tertampan di toko ini.


Semenjak Rainer masuk ke toko, ada beberapa wanita masuk ke dalam toko, sekedar mengagumi bahkan berusaha meminta nomor ponsel pria muda itu.


Cara Rainer menolak para wanita itu pun patut diacungi jempol, begitu gentle sungguh berbeda dari Eryk.


Eryk dan Rainer... bagaimana bisa mereka berteman dengan sifat yang berbeda jauh seperti itu?


Mata mereka bertemu karena Gaea terlalu lama memandang, Rainer mengulas senyum yang membuat Gaea salah tingkah, ketahuan menatap diam-diam.


'Fokus!'


Tanpa berpikir jauh, Gaea mulai menggerakan jemarinya menelusuri kaset demi kaset, mata hijaunya benar-benar fokus memastikan tidak ada yang terlewat satu pun, "Oh," terlalu fokus, tanpa sadar bahu kirinya bertabrakan dengan bahu Rainer, ia tertawa kikuk. "Maaf ya."


Rainer tidak menjawab.


Gaea merasa aneh tertawa sendiri, jadi ia berhenti tertawa—dan akhirnya menyadari betapa dekat wajah mereka berdua, mata hijaunya terpaku pada mata hitam Rainer.


Jarak mereka yang dekat juga membuat Gaea bisa melihat lebih jelas wajah Rainer; bibir yang kecil, hidung yang mancung, serta tidak lupa tahi lalat kecil di pelipis kanan Rainer, anehnya ia menyukainya...


"Aww..." rintih Gaea merasakan sesuatu mengetuk pelan keningnya, yang ternyata ulah Rainer. "Kenapa kau melakukannya sih?" keluhnya.


Rainer mulai mengecek lagi. "Aku menyelamatkanmu dari perasaan memalukan," katanya.


Gaea menggembungkan pipinya.


Apa maksudnya? Ia tidak mengerti.


Sambil menggerutu, Gaea juga kembali mencari sambil mengelus keningnya, dan seketika itu juga mata hijaunya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya.


Benjamin Grosvenor.


Yang menarik perhatiannya adalah judulnya 'Chopin Piano Concertos'.


Bibir Gaea mengulas senyum lebar. "Aku menemukannya!" serunya riang.


Rainer menghampiri. "Sungguh?"


Gaea mengangguk, menunjukan kaset album di tangannya penuh rasa bangga. "Memang bukan aslinya tetapi ini mengambil lagu dari Chopin, aku yakin pasti bagus."


Rainer tanpa ragu mengambil kaset tersebut dari tangan Gaea.


Gaea mengembuskan napas lega.


'Akhirnya penderitaan ini berakhir.' kata Gaea dalam hati.


Gaea sungguh lega, sungguh, hingga ia hanya mengikuti Rainer dari belakang untuk membayar kaset tersebut, matanya terbelalak melihat harga kaset tersebut, dan lagi dengan tenangnya Rainer menyerahkan uang itu.


Uang tadi cukup untuk membeli makan selama tiga hari.


Setelah membayar, Gaea dan Rainer keluar dari toko musik.


"Terima kasih, Gaea." kata Rainer dengan senyum kecil di bibirnya.


Gaea ikut membalas tersenyum.


Rainer mengambil sesuatu di dalam kantong plastik yang dibawanya, lalu mengulurkannya pada Gaea. "Ini."


Gaea melihatnya, itu adalah kaset yang dicari mereka tadi, matanya memandang bingung Rainer.


"Anggap saja sebagai tanda pertemanan kita." kata Rainer.


Teman.


Gaea dengan senang hati menerimanya; tanda pertemanan dengan Rainer, hatinya merasa hangat, ia bahagia memiliki teman baru. "Aku akan menjaganya dengan baik." katanya sambil memeluk kaset tersebut di dadanya.


"Aku juga," kata Rainer.


Mereka berdua tertawa bersama.


Bisa melihat Rainer tertawa lepas seperti itu semua rasa frustasi Gaea entah kenapa hilang atau mungkin karena ia juga tertawa membuang perasaan tersebut? Entahlah.


Suara dering ponsel menghentikan tawa mereka berdua.


Rainer mengecek ponselnya; email dari Eryk. Ia tidak membacanya. "Kurasa cukup sampai sini, tugas menunggu."


Gaea mengangguk. "Bye."


"Bye,"


.#.#.#.#.#.


Gaea melepas ear phone di telinganya ketika mereka sampai di bandara, kemudian keluar dari mobil taksi dan mulai berjalan ke dalam bandara.


"Kau begitu fokus dengan pemberian Rainer sampai lupa kopermu." goda Lola.


"Gaea, jatuh cinta. Aku bangga sebagai Ibu." Ava tidak turut absen menggoda.


Sejak pagi Gaea bad mood, Lola dan Ava mencoba menghibur dengan mengajak belanja baju namun belum berhasil, baru setelah pertemuan tanpa sengaja di Mall dengan Rainer membuat senyum di bibir Gaea tidak hilang-hilang.


Lola dan Ava tentu senang, dan juga ada bahan untuk menggoda Gaea.


Gaea berhenti melangkah; benar kopernya, sambil menahan malu, ia berbalik untuk mengambil kopernya, barulah masuk ke dalam bandara tak memedulikan godaan sahabatnya.


Sudah cukup dari Mall hingga apartemen digoda habis-habisan, kalau bukan karena ancaman ia takkan pergi, mungkin Lola dan Ava belum berhenti.


Lola dan Ava mengikuti Gaea dari samping, tidak ada yang mereka bicarakan kecuali betapa antusiasnya mereka akan merayakan malam tahun baru serta natal bersama di Shanghai.


Mereka tiba di bagian pemeriksaan, dan meletakan koper mereka di conveyor belt berjalan di samping mereka, barulah melakukan mereka pemeriksaan tubuh.


Lola dan Ava sudah selesai diperiksa, giliran Gaea.


Gaea membuka jaket pink muda di tubuhnya meletakan jaketnya di conveyor pada saat itu juga ia mendengar suara yang dikenalnya.


"Tunggu!"


Gaea menoleh, dan terkejut bukan main mengetahui itu adalah Eryk, namun ia teringat kejadian tadi pagi dan mulai jengkel lagi. "Apa maumu?" tanyanya ketus.


Eryk mengembuskan napasnya, dengan lantang ia berkata. "Aku ingin kau tetap di sini."


Bersambung...


Please like, favorite and vote... untuk membantu saya lebih semangat menulis


Saya akan meng-update novel ini 1 kali sehari


Thanks For Reading...