SWEET REVENGE

SWEET REVENGE
Chapter 33 : Nightmare


Eryk yang melihat Gaea menutup matanya terkesan menunggunya, menyeringai kecil.


Berani sekali Gaea bersikap seperti ini setelah ketahuan berbohong semalam mengenai rayuan Aizawa yang meminta untuk dicium.


Eryk jadi ingin mengetes perasaan Gaea sedikit padanya lagi pula suara-suara penuh cinta dari kedua pemeran utama di film membuatnya semakin tidak nyaman jadi ia mau fokus saja pada Gaea.


Eryk pun memulai permainannya, memiringkan sedikit kepalanya dan perlahan mendekati wajah Gaea hingga akhirnya bibir mereka bersentuhan, ia tidak menutup mata birunya untuk melihat ekspresi wajah wanita muda itu.


Imut bisa Eryk bilang, dengan rona merah di kedua pipi Gaea yang merupakan sesuatu yang jarang ditemui ataukah ia yang memang selama ini tidak memperhatikan?


Sampai...


Sebuah gambaran Gaea sedang berdiri bersama Katherine seketika muncul di kepala Eryk, membuat Eryk terpaksa mengakhiri ciuman mereka tiba-tiba, dan duduk sambil memegangi kepalanya.


Gaea ikut bangun, duduk juga, bertanya-tanya apakah ia salah tadi? Apakah Eryk tidak menikmatinya? Namun, wajah Eryk yang tampak menahan rasa sakit membuat ia cemas, "Kau baik-baik saja?"


Eryk menurunkan tangannya dari kepalanya, "Iya."


"Mau minum obat?" Gaea menawarkan.


Eryk menggelengkan kepalanya.


"Kau sungguh-sungguh baik-baik saja?" Gaea memastikan sekali lagi, cemas melihat Eryk wajahnya kian pucat.


Eryk tidak menjawab memilih merebahkan kepalanya di paha Gaea, "Aku baik-baik saja," ia mengulanginya pelan dengan mata yang tertutup, "Bisa kita di sini sebentar?" pintanya lemah.


Gaea tanpa basa-basi segera menarik selimut punyanya untuk menutupi tubuh Eryk, lalu ia meletakan telapak tangannya di kening Eryk memeriksa apakah pria muda itu sakit, yang ternyata suhunya normal-normal saja.


Tak lama, terdengar dengkuran halus dari bibir Eryk.


Gaea tersenyum kecil, dan menatap layar lebar yang mulai menampilkan adegan aksi lagi segera ia mematikan filmnya, kemudian menutup matanya berusaha tidur juga meskipun posisi tubuhnya tidaklah nyaman, tak apa.


***


Mimpi


***


Eryk kembali menyadari dirinya berada di rumahnya dulu. Langkah kakinya bergerak melangkah ke lorong pelan, sayup-sayup ia mendengar suara pertengkaran seseorang.


"Serahkan Gaea padaku, Pak Tua..."


Eryk berlari mendekati ke arah pertengkaran tersebut yang ternyata kamar Ayahnya, ia menarik kenop pintunya bersamaan dengan bunyi letusan pistol dari arah dalam.


Dor!


Pintu kamar Ayahnya terbuka otomatis, memperlihatkan Ayahnya Xander jatuh ke lantai tepat di depan mata Eryk, di sana berdiri sosok Kervyn dengan tangan masih memegang pistol yang baru melepaskan pelurunya.


Kervyn melirik ke arah pintu, siapa yang berani mengganggunya, dan menyeringai mengetahui itu Eryk, "Kau muncul Tuan Eryk? Bicara terlambat." katanya sambil mengarahkan pistolnya pada Eryk.


Eryk yang masih membeku melihat sendiri Ayahnya tergeletak di lantai berkata, "Apa?"


Dor!


Kervyn melepaskan tembakan yang sayangnya meleset, anehnya bibirnya mengulas senyum kepuasan di sana, "Kau sungguh-sungguh menyedihkan, untunglah tanganku masih belum terbiasa memegang pistol jadi tembakan tadi tidak mengenaimu."


"Tapi kenapa?"


Kervyn menguap bosan, "Tipikal korban, selalu banyak bertanya, kenapa kita tidak bermain sambil menjawab pertanyaanmu?" ia mengarahkan lagi pistolnya pada Eryk.


Eryk langsung lari sekencang-kencangnya entah kemana, ketika mendengar letusan pistol, ia melindungi kepalanya memakai tangannya, segera ia menutup pintu utama rumahnya dan menguncinya dari luar. Ia beristirahat sejenak mengatur napasnya.


Dor!


Tembakan di arahkan ke jendela di samping pintu, membuat kacanya menjadi retak.


Memaksa Eryk berlari lagi ke arah hutan sambil berusaha menghindari tembakan yang lain dari Kervyn. Ia bersembunyi di balik pohon, menggigit tangannya agar ia tenang.


Kervyn mengisi ulang peluru di pistolnya dan menarik pelatuknya, mulai mencari di mana Eryk bersembunyi, "Pilihan yang bagus Eryk, bersembunyi di tempat luas, hahaha... !"


Eryk melirik di balik pohon, Kervyn tidak jauh darinya dengan pistol


"Kau ingin tahu Eryk?" kata Kervyn sambil menembak pohon, mencoba melihat reaksi Eryk. "Ayahmu tidaklah sebaik yang kau kira hahaha..."


Eryk tidak menjawab.


"Dia dengan sok pahlawan mengadopsi kita semua padahal itu salah dia, hahaha..."


Eryk melirik lagi, Kervyn berjalan mendekat padanya, ia harus menghitung waktu yang tepat untuk keluar dari persembunyiannya dan merebut pistol Kervyn, namun sebelum itu, ia harus menghubungi polisi. Tangannya yang gemetaran hebat mengambil ponsel di saku celananya, menyetel ponsel mode diam agar ketika ia mengetik tidak terdengar, ia ingin menelepon tetapi baterainya sudah mau habis.


Eryk mencoba mulai mengetik tetapi jarinya yang juga gemetaran hebat jadi menekan huruf yang salah, ia menggigit tangannya lagi agar bisa berhenti, setelah berhasil ia segera mengirim pesan ke grub keluarganya yang lalu dikirimnya.


Bunyi ponsel memenuhi suasana sunyi hutan.


Kervyn mengambil ponselnya mengecek siapa yang mengirim pesan, apakah Pak Tua itu, menyeringai lebar mengetahui itu dari saudaranya, "Kau benar-benar."


"Eryk!"


Sekarang.


Eryk menekan tombol panggilan, yang membuat nada dering ponsel Kervyn berbunyi, ia melirik lagi, melihat Kervyn mengecek ponselnya, tidak menghilangkan kesempatan emas ini, ia keluar dan memukul pipi kiri Kervyn jatuh ke tanah sementara pistolnya berhasil direbut olehnya walau tadi sempat menembakan ke arah langit malam.


Eryk yang berdiri mengarahkan pistol di tangannya yang sedikit gemetar ke Kervyn.


Kervyn yang terkapar di tanah, tertawa kecil.


"Kau masih sempatnya tertawa padahal nyawamu ada di tanganku sekarang." kata Eryk dingin.


"Tembak aku kalau begitu." kata Kervyn tanpa rasa takut sama sekali.


"Sebelum aku melakukannya aku ingin kau menjawab kenapa kau melakukan ini pada Ayah!?" tanya Eryk memerintah dingin.


"Otakmu yang kecil itu takkan mampu memprosesnya." sahut Kervyn sambil bangkit berdiri perlahan.


"Aku perintahkan kau diam," kata Eryk. "Dan jelaskan kenapa!?"


Masih dengan seringai di bibirnya Kervyn menjawab, "Aku butuh dia sebagai bahan penelitian."


"Dia siapa?" tanya Eryk.


"Ding, sesi jawab selesai." kata Kervyn dan dengan cepat ia menyerang Eryk, memberi pukulan di pipi kiri saudaranya.


Eryk sempat terhuyung ke belakang habis dipukul, ia memfokuskan lagi pistolnya dan menembakan pelurunya. Matanya melebar tidak ada peluru yang dimuntahkan berarti ini sudah kosong sejak awal ia merebutnya. Tidak mau kesulitan ia membuangnya, dan menahan pukulan Kervyn lagi dengan kedua tangannya, ia berhasil namun saudaranya memberi pukulan di perutnya menggunakan lututnya.


Kervyn merapikan rambut pirangnya, ia hendak memberikan pelajaran lagi, tapi terpotong oleh bunyi sirine mobil Polisi, "Bagaimana bisa? Aku sudah menghapus pesanmu."


Eryk yang terbatuk-batuk juga bingung.


Apakah salah satu keluarganya ada yang membacanya sebelum dihapus oleh Kervyn?


Kervyn melihatnya dengan pandangan mata sedingin es, "Saudaraku yang menyedihkan, sampai di sini bermain-mainnya, ada urusan penting yang harus aku kerjakan."


Eryk berusaha menghentikan Kervyn dengan memegang sepatunya, yang sayangnya gagal.


***


Mimpi Selesai


***


"Eryk! Eryk!"


Eryk langsung bangkit dari tidurnya, napasnya kembali memburu.


"Kau baik-baik saja?" tanya Gaea cemas. "Kepalamu bergerak terus sampai-sampai membangunkan aku."


Eryk melirik keliling ruangan, ia masih berada di ruang teater bukan di rumahnya dulu, bersama Gaea bukan Kervyn.


"Kau bermimpi buruk sepertinya," kata Gaea. "Mau aku ambilkan minum?"


Eryk meletakan tangan di wajahnya. "Ukh..."


Mimpi buruk yang nyata, sebuah kejadian yang pernah di alaminya dua belas tahun yang lalu.


Eryk tidak mengerti kenapa itu menghantuinya lagi, apakah efek besok ia akan ke lelang yang diadakan Kervyn jadi tubuhnya memberikan sinyal padanya?


Mimpi buruk ini akan mempengaruhi kesehatannya padahal ia harus fit buat menghadapi pesta besok malam.


Seandainya ada Katherine, pasti kekasihnya itu akan menyanyikan lagu tidur untuknya.


Eryk melirik Gaea yang masih memasang tampang kebingungan, sebelum kemudian ia memeluk wanita muda itu, menenggelamkan wajahnya di lekukan lehernya.


"Eh!? Eryk?" Gaea berusaha melepaskan namun semakin kuat ia berusaha semakin kuat juga pelukan Eryk di membuat napasnya sedikit sesak. Wajahnya seketika merona, "Eryk..." ia merengek minta dilepaskan.


"Bisakah kau bernyanyi untuk aku?"


***


Note :


Sambil nunggu ini up silakan mampir ke novelku yang lain 😊


Menikah Kontrak


The Lovely One


Jangan lupa tinggalkan like, komentar dan vote ya karena itu semangat saya menulis 😊


💕💕💕