SWEET REVENGE

SWEET REVENGE
Chapter 36 : Before Storm


Eryk menghentikan Gaea dengan menarik tangan wanita muda itu.


"Apa?" tanya Gaea.


"Aku ingin berbicara denganmu, "kata Eryk. "ikuti aku."


Gaea menurut saja melihat wajah Eryk yang begitu serius bukan gurauan, ia lihat Eryk ke kamar dia sendiri, ia tetap mengikuti.


"Kunci." kata Eryk.


"Kenapa?" Gaea kebingungan walaupun tangannya bergerak mengunci pintu kamar Eryk.


Eryk duduk di ranjang sambil menyalakan televisinya, ia menepuk-nepuk tempat di sampingnya memberi isyarat untuk Gaea duduk di sana.


Gaea mengembuskan napasnya lalu duduk sedikit berjauhan dari Eryk berjaga-jaga agar pria muda itu tidak menyerangnya lagi, tahu sendiri ia lemah dengan Eryk.


Eryk yang melihat Gaea begitu menjaga jarak dengannya pun mendekatkan diri sehingga bahu mereka bersentuhan satu sama lain, "Kau ini, sulit tahu jika berjauhan."


Gaea memutar bola matanya; takkan sulit untuk meminta maaf juga, "Apa yang mau kau katakan?" tanyanya dengan pandangan mata ke televisi.


"Aku ingin memberitahu padamu, aku sudah bilang ke yang lain untuk tidak keluar rumah maupun membuat pesanan makanan di luar rumah," Eryk menjelaskan, "dan jika ada yang melanggar, hati-hati dengan orang itu, Gaea."


Gaea menilai paranoid Eryk sudah melebihi batas normal, "Eryk, kau terlalu cemas, kau curiga dengan keluargamu itu berlebihan ... bagaimana jadinya jika mereka mendengar ini?"


Eryk terdiam sesaat, "Aku tidak memberitahu mereka untuk curiga satu sama lain, aku hanya bilang untuk tidak keluar rumah dan memesan makanan dari luar. Jangan juga kau membuka pintu untuk orang asing walau itu suaraku, aku akan menghubungimu jika aku pulang lebih cepat."


"Kau hanya memberitahu tentang ini padaku!?" Gaea terkejut, lalu marah. "Kau mau aku jadi yang jahat begitu maksudmu, hah!?"


"Pelan kan suaramu," Eryk mengeluh. "Iya hanya kau. Gaea, aku punya pendapat kuat mengenai ini. Apartemenmu baru dibobol, wajar aku bilang ini sebab jika tujuan dari semua ini bukan aku kemungkinan besar kau."


Gaea kehilangan kata-katanya; bila benar apa yang dikatakan Eryk, lantas apa yang mereka cari darinya? Apa mungkin komplotan orang yang membunuh orang tuanya?


Eryk bangkit berdiri, lalu menunjuk bawah ranjangnya, "Aku meletakan pistolku dan ponsel di sini, kau bisa memakainya jika kau tidak bisa ke kamarmu untuk mengambil pistolmu. Menelepon layanan polisi atau semacamnya, hanya ada itu di ponsel ini."


Gaea hanya melirik sebentar lalu menatap kosong lagi layar televisi, "Aku sudah bilang aku ikut denganmu."


Eryk menggelengkan kepalanya, "Jauh lebih berisiko, setidaknya di sini jumlahnya lebih banyak."


Gaea mengembuskan napasnya, "Baiklah." sahutnya lemah.


"Perhatikan baik-baik, Gaea." Eryk memperingati sekali lagi.


Gaea mengangguk lemah.


Eryk yang melihat Gaea tampak murung, berusaha menghibur, "Kau tidak usah takut, kau tidak sendirian. Ada Alex, Ferdinand, Alexander bahkan sahabatmu Lola. Kau akan baik-baik saja."


Bukan itu yang Gaea cemaskan; tidak tahukah ia lebih mencemaskan Eryk? "Berjanji padaku kau kembali. Please?"


"Sekarang kau yang cemas berlebihan," Eryk bergurau disertai tawa kecil, namun Gaea sama sekali tidak bergabung tertawa bersama jadi ia kembali serius. "Aku janji."


Gaea tersenyum kecil, dan memberanikan diri memeluk Eryk dengan lembut.


Eryk terkejut tentunya sebelum kemudian membalas pelukan Gaea erat.


Untuk beberapa saat mereka berpelukan.


"Eryk?" panggil Gaea pelan.


"Hm?"


"Kau melukai aku."


Eryk lantas melepaskan pelukannya.


Gaea tertawa kecil, dan berkata malu-malu, "Tidak apa Eryk, hanya lain kali lebih lembut karena aku wanita."


Eryk menghela napas, "Kau selalu merusak suasana, iya?"


Mana mungkin Gaea suka merusak suasana apalagi dengan Eryk, hanya terkadang selalu saja ada hal yang membuat mereka berhenti bermesraan. Ia tersipu memikirkannya, "Aku hanya memberitahu."


"Hm."


***


Eryk memeriksa keperluannya sekali lagi, dompet, uang, dan ponselnya berisi undangan elektronik yang dikirim Johnny buatnya masuk.


Lengkap.


Eryk memeriksa bajunya apakah semua sudah sempurna.


"Kau sudah tampan, man." Alex mengomentari setelah lelah melihat Eryk terus mengecek barangnya.


Eryk mengambil pulpen, menaruhnya di balik jasnya berjaga-jaga bila memerlukannya, "Aku berangkat, ingat kata-kataku pada kalian tadi terutama kau Alex."


"Kau selalu bertindak sesukamu." kata Eryk.


"Aku tidak!" Alex membela dirinya. "Jika ada itu adalah tunanganmu, Tuan Muda Eryk."


Seketika Eryk melirik Gaea yang berada di samping Alex, "Aku lupa ada Alex versi wanita. Apa pun itu ingat ucapanku tadi, Gaea."


Gaea mengangguk entah sudah ke berapa kalinya hari ini; perhatian Eryk yang manis awalnya menjadi menyebalkan, ia segera mendorong punggung Eryk mengarahkan ke mobil, "Kau bisa telat jika terus cemas di sini, Eryk."


Eryk berbalik, "Aku kira kau akan tetap menentang aku ke pesta."


"Kau akan pergi juga takkan ada gunanya aku memprotes habis-habisan." kata Gaea.


"Baiklah." sedikit aneh, tapi Eryk senang dengan sikap Gaea yang dewasa.


Rainer yang memandang keduanya mengobrol akhirnya berbicara, "Apakah kita mau terus mengobrol atau naik ke taksi? Kau harus menghemat karena aku yakin lelang ini akan membakar banyak uangmu."


Eryk lupa dengan itu, tadi ia ke tempat kerja untuk mengambil uangnya, simpanannya tepatnya, ia selalu menaruh kartu debit Swiss miliknya di klub untuk menghindari dirinya memakainya secara tidak sengaja. Ia masuk ke dalam.


Rainer mengeluarkan kepalanya di jendela, "Jangan lupakan janjimu, Gaea." katanya.


"Kalian berjanji apa?" tanya Eryk penasaran melihat Gaea yang pipinya berubah merona, matanya menyipit tidak suka.


Gaea tidak bisa menjawabnya, tidak dengan adanya Eryk. "Pak, jalankan mobilnya!" serunya sambil memasukan kepala Rainer ke dalam kesal mengungkit kencan mereka.


Mata Eryk membulat, "Apa?"—Gaea memilih menghindar? Pastilah janji yang spesial. "Kau berjanji apa dengan Gaea, Rainer?"


"Aku rasa lebih baik kau tidak mengetahuinya Eryk," Rainer membalas kalem. "Lagi pula ada hal yang lebih penting, kan? Seperti mencari tahu Katherine."


Eryk kembali mengingat kekasihnya, dan termenung. Lagi, ia membiarkan emosinya menguasainya.


Eryk sejatinya tidak peduli akan kehidupan pribadi Gaea.


Ingatlah ia sudah memiliki kekasih, Katherine.


Setelah tenang, Eryk memandang kosong keluar jendela.


Rainer hanya tersenyum samar.


***


Gaea menghela napas lega setelah taksi pergi. Memang sikapnya sedikit kekanakan, menghindar begitu hanya saja ia sedang tidak ingin bertengkar lagi.


Di sisi Alex bersorak gembira, "Akhirnya mereka pergi juga! Wohooo ... !"


"Kau kenapa Alex?" tanya Gaea.


"Aku menunggu momen langka ini sudah sejak lama." kata Alex semangat empat lima. "Kau tahu artinya ini apa, babe?"


"Um ..." sayangnya Gaea tidak mengerti.


"Itu artinya kita pesta pizza, Gaea." Lola menjawab yang disambut meriah Alex lagi.


"Eh? Eryk bilang ..." Gaea ragu-ragu.


"Jangan seperti Eryk, Gaea. Dia terlalu cemas pada kita," kata Ferdinand. "Sudah lama sekali tidak pesta malam makanan cepat saji, Eryk selalu di rumah jadi susah."


"Hanya pizza, babe. Hal buruk apa yang akan terjadi?" kata Alex tanpa beban.


Gaea sendiri cemas, apakah ini bagus tidak menuruti nasihat Eryk? Ia ingin protes, namun tiga lawan satu jelas ia pasti kalah.


"Aku yang akan menyiapkan minum." kata Ferdinand.


"Aku menyiapkan tempatnya." kata Lola semangat.


"Aku yang memesan pizza kalau begitu," kata Alex. "Ah, iya, memesan roti tempat Katherine bekerja dulu juga enak nih!


Mereka pun pergi ke dalam meninggalkan Gaea yang masih bimbang, memandang gerbang rumah sendu, "Aku harap tidak terjadi apa-apa dengan mereka berdua ..." setelah mengatakannya, ia masuk ke dalam.


***


Note :


Silakan mampir ke novelku yang lain sambil nunggu up ini 😊


The Lovely One


Sweet Revenge


Jangan lupakan tinggalkan like di setiap babnya ya 🥺 dan komentar 😊 vote sebagai dukungan semangat saya ke saya 😊


💕💕💕