
Gaea mengerutkan alisnya. "Maksudmu?"
"Aku ingin berbicara denganmu," kata Eryk. "Penting."
Gaea memutar bola matanya; mulai lagi si Tuan Egois ini, untunglah ini bukan di area kerja jadi ia tidak perlu berbasa-basi. "Aku tidak mau."
"Gaea." panggil Eryk tajam; jangan mencoba mengetesnya.
Namun itu sama sekali tidak berefek pada Gaea; siapa peduli? Lagi pula pesawatnya akan berangkat sebentar lagi. "Aku tetap tak mau," katanya tanpa beban. "Aku akhirnya bisa berlibur jauh darimu Tuan Eryk jadi mana mungkin aku melewatkannya."
Mana mungkin Gaea merelakan berlibur ke Shanghai demi Eryk? Kalau kejadian semalam tidak terjadi mungkin ia akan bersenang hati.
Teringat takkan bertemu wajah sombong Eryk selama seminggu membuat semangat dalam dirinya naik lagi.
"Gaea ini penting." Rainer ikut membujuk setelah sekian lama diam, biasanya ia tak suka ikut campur, namun setelah melihat hubungan Gaea dan Eryk terlihat memanas membuatnya ikut merayu.
Gaea menguap tidak tertarik. "Aku tidak peduli, Rainer." katanya. "Aku sudah cukup dipermainkan." lanjutnya ketus. "Sekarang, bisakah kalian pergi?"
Kenapa begitu sulit mendapatkan ketenangan?
"Kau jangan main-main, Gaea." kata Eryk. "Aku hanya butuh sedikit waktumu, setelahnya kau mau ke ujung dunia pun aku tidak peduli."
Gaea berpikir Eryk tidak sedang buru-buru?
Satu jam lagi Eryk harus bertemu dengan Aizawa, dan tingkah kekanakan Gaea membuatnya naik darah juga.
Karena siapa mereka ada di posisi ini juga? Benar. Gaea.
Dan lagi, kenapa Gaea selalu membuat situasi semakin sulit?
Gaea sungguh marah kali ini, Eryk benar-benar melukai hatinya. "Aku tidak mau, sekarang pergilah atau aku panggil petugas keamanan!?"
Eryk kehilangan kontrol dirinya juga. "Jangan main-main, situasiku ini lebih penting darimu, Gaea." katanya dingin.
Gaea merasa itu sebuah tantangan baginya, jadi ia melirik ke sana kemari mencari-cari petugas keamanan, dan akhirnya menemukan petugas tersebut tengah berbicara dengan seorang turis, mungkin sedang memberikan petunjuk arah. "Tolong, petugas! Dia mencoba melukaiku!"
"Gaea!" panggil Eryk frustasi; wanita muda ini sudah membuatnya gila; ia sudah berbicara setenang mungkin tetapi Gaea menginginkan keributan?
Gaea hanya tertawa bahkan ketika Eryk mulai ditarik petugas, ia melayangkan 'ciuman' cinta kemenangan pada pria muda itu.
Sebuah kenangan yang manis, ia tidak bisa menghentikan senyum di bibirnya.
Di sisi lain Eryk tidak bisa berbuat banyak, tangannya terkunci erat oleh kedua petugas bandara; tidak bisa begini, menginterogasi adalah sesuatu yang dihindarinya, ia yakin kedua petugas itu akan melakukannya, ia harus memutar otak agar bisa keluar dari masalah ini.
Pertemuan dengan Aizawa juga semakin dekat, ia tidak bisa menghabiskan waktu di ruang interogasi hanya untuk menjawab pertanyaan konyol.
Jika satu kesalahan dibuat olehnya, ia yakin akan kehilangan jejak Kervyn lagi.
Eryk harus mencari cara! Cepat!
Sesuatu yang mudah tetapi dipercaya dan tentu menguntungkan baginya.
Kepalanya muncul satu ide—ide yang cukup gila hingga Eryk pun ragu, namun ia tidak memiliki pilihan, ia harus melakukannya jika tidak Gaea akan pergi membawa berlian untuk lelang malam ini.
"Lepaskan aku," kata Eryk. "Aku ini kekasih wanita itu."
"Sungguh? Kau tidak terlihat seperti itu."—tentu saja mereka takkan mudah percaya.
"Aku akan tunjukan, jika aku menunjukan sesuatu yang membahayakan pacarku, kalian bisa melakukan apa saja padaku." kata Eryk mencoba bernegosiasi.
"Dia memang kekasih wanita itu Pak." kata Rainer ikut membela setelah sekian lama terdiam. "Mereka sedang bertengkar hebat sampai-sampai Gaea mau ke Shanghai karena muak melihat wajah menyebalkan Eryk." lanjutnya, ia berusaha menahan tawa ketika mengucapkan 'wajah menyebalkan'.
Darah Eryk mendidih, untunglah tangannya terkunci, bila tidak, ia yakin wajah sombong Rainer sudah hilang seketika selesai berkata merendahkan seperti itu padanya.
Kedua petugas itu saling beradu pandang, mengirim sinyal lewat mata mereka apakah harus diberi kesempatan.
"Tolonglah, aku tidak bisa kehilangan dia," kata Eryk sedih—berakting. "Jika aku tidak menghentikan dia ke Shanghai, aku takkan bisa menemukan dia lagi."
Salah satu petugas melepas tangannya dari tangan Eryk. "Man, aku mengerti bagaimana rasanya." katanya sedih, mengingat kenangan bersama istrinya yang berada di luar kota.
"Tentu," kata Eryk tidak bersemangat namun bibirnya menyeringai kecil; bodoh.
"Baiklah kami akan melepaskan tetapi jika kami melihat ada yang tidak-tidak, kau akan tahu akibatnya." kata petugas yang satunya lagi, membebaskan tangan Eryk yang masih terkunci.
"Kau takkan kecewa," kata Eryk dengar seringai lebarnya, kemudian berjalan kembali menuju tempat terakhir kali ia melihat Gaea, dan bernapas lega mengetahui wanita muda itu masih di situ, sudut bibirnya tertarik saat mata hijau Gaea melebar melihatnya kembali kemari.
"Kenapa kau kembali!?" Gaea terheran-heran; memang masih ada dua petugas itu namun mereka berdiri di belakang Eryk tak mengunci tangan pria muda itu ataupun memborgolnya.
Eryk mengambil napas dalam.
'Pikirkan Gaea adalah Katherine. Katherine.'
Mata birunya terbuka. "Aku tahu kau marah padaku, Gaea." katanya pelan.
Gaea memutar bola matanya seakan memberi tahu: baru sadar?
Eryk menyipitkan matanya tidak suka; karena ini di luar kerja, Gaea bisa dengan seenaknya menginjak-injak harga dirinya? Ia ingin sekali menghilangkan wajah sombong wanita muda itu. Ia mengembuskan napasnya.
Tenang.
"Jika kau pergi... hari-hariku akan berbeda tanpamu," Eryk memulai aktingnya lagi. "Bahkan ketika tadi aku terbangun dan kau tidak berada di sisiku, aku menyadari betapa hampanya hatiku saat itu."
Mulut Gaea ternganga; apa yang dibicarakan Eryk?
Terbangun tak berada di sisi pria muda itu?
Apa Eryk sudah kehilangan akal sehatnya?
Eryk menatap lurus mata hijau di depannya begitu serius seakan bisa melihat isi hati Gaea, tatapan mata yang berhasil membuat rona merah muncul di kedua pipi wanita muda itu. "Kita memang sering bertengkar, saling posesif satu sama lain, akan tetapi semuanya bisa kita lewati, yang menandakan perasaan kita lebih kuat dari itu."
Gaea mulai merasa tidak nyaman, tidak cuma tatapan Eryk yang memancarkan penuh cinta padanya seakan ia wanita yang begitu berarti bagi Eryk tetapi kata-kata indah pria muda itu juga meluluhkan hatinya, sekali lagi.
Gaea tahu ini tidaklah masuk akal tetapi ia terlalu terpana hingga tidak melawan hanya mengikuti permainan yang dibuat Eryk.
"Karena itu aku ingin kau tetap berada di sampingku." kata Eryk, lalu ia mengambil sesuatu di balik jaket hitamnya, sebuah box merah kecil.
Gaea speechless—menutupi mulutnya yang terbuka lebar ketika Eryk membuka box merah tersebut memamerkan cincin putih bertahtakan berlian berwarna merah dengan potongan bentuk segitiga.
"Gaea Silva..." panggil Eryk lembut, kemudian berlutut dengan satu kakinya. "Will you marry me... ?"
Gaea tidak bisa berkata apa-apa, suasana bandara menjadi riuh karena lamaran Eryk yang tiba-tiba, semua berhenti beraktifitas untuk melihat keduanya.
Gaea tidak bisa mendengar suara sorak orang-orang yang meneriakan 'jawab' atau 'iya' bahkan temannya Lola dan Ava yang berada di belakangnya pun tidak, otaknya masih blank—tidak percaya Eryk melakukan hal ekstrem seperti ini.
Semua wanita pasti ingin berada di posisinya, siapa yang tak mau dilamar di tempat umum seperti ini?
Gaea sendiri tentu suka namun lamaran ini palsu bukan asli, meskipun ia akui tersentuh akan ucapan Eryk.
Gaea tersadar, sekarang kebingungan, apa yang harus dijawabnya—dilamar di tempat umum memberikan tekanan besar baginya.
'Aku harus jawab iya atau tidak?'
Gaea melirik Eryk yang masih berlutut untuk mencari jawaban, seakan mengerti kebingungan di wajahnya, Eryik menjawab dengan gerakan di mulutnya.
N-O.
Gaea merasa menolak bukanlah jawaban yang tepat, ia yakin orang-orang di sini akan menyorakinya karena mematahkan hati pria muda tampan macam Eryk, atau itu memang rencananya Eryk membuatnya jelek di mata orang-orang... ?
Gaea naik pitam.
Jika Eryk menginginkannya jatuh, ia akan memastikan Eryk juga jatuh bersamanya.
Jadi Gaea melayangkan senyuman semanis mungkin, lalu berkata. "Ya,"
Sorak suara serta tepuk tangan pecah memenuhi bandara setelah mendengar jawaban Gaea.
Gaea menjadi merasa tidak enak karena telah membohongi mereka semua, malah ada yang berteriak 'relationship goals' atau pun 'perfect couple'.
'Perfect couple', apanya?'
Gaea masih menunggu Eryk yang masih syok, lalu mata hijaunya tanpa sadar bertemu mata hitam Rainer yang menatapnya dengan sendu membuatnya bertanya-tanya, tapi mengetahui ditatap olehnya, Rainer membuang mukanya.
'Apa aku melakukan kesalahan?' Gaea bertanya-tanya dalam hatinya.
Mungkin Gaea harus mengobrol dengan Rainer setelah kericuhan ini berakhir.
Eryk tersadar dari syok beratnya setelah merasakan bahunya ditepuk, ia menoleh lewat bahunya untuk melihat siapa, tentu siapa lagi jika bukan Rainer. Lalu ia berdiri, menatap Gaea yang tersenyum manis bak bidadari—membuatnya tersadar jika wanita muda itu sudah melawannya dua kali. Dua kali.
Dia. Eryk Enzo.
Belum ada orang yang berani melawannya seperti Gaea, memang ada Lola tetapi tidak separah itu.
Eryk kembali berakting lagi. "Aku lelaki paling beruntung hari ini," katanya semanis mungkin, mengambil tangan kanan Gaea, kemudian memasangkan cincin tersebut di jari manis wanita muda itu, agak mengejutkan cincinnya ternyata pas di jari Gaea.
Padahal Eryk berharap kekecilan jadi ia bisa membalas dendam dengan memaksa cincin itu terpasang; ternyata jari tangan Gaea sama dengan Katherine.
"Aku tidak sabar bisa melihat lagi kau tidur di sampingku," kata Eryk disertai tawa kecil. "Walaupun kau suka mendengkur keras sih..."
Gaea syok.
Apa... apa barusan Eryk mengejeknya tukang pendengkur? Enak saja! Ia tidak pernah mendengkur, sepengetahuannya, kan selama ini Lola dan Ava tidak protes soal itu.
Gaes tidak mau kalah. "Aku juga tidak sabar bisa melihat kau tidur di sampingku." katanya. "Walau... kau suka buang angin sembarangan ketika tidur, babe."
Kali ini Eryk yang kesal, alisnya mengerut tidak suka; Gaea pikir bisa mengalahkannya lagi? Mimpi.
"Kau begitu manis, babe." kata Eryk seraya tertawa kecil. "Termasuk ketika kau bangun tidur rambut seperti singa pun tetap cantik."
Gaea mengepalkan tangannya menahan emosinya.
Siapa yang rambutnya seperti singa?
"Kau juga manis babe bahkan dengan air liur yang menetes saat kau tidur, kau tetap manis sekali." Gaea tetap tidak mau mengalah.
Eryk juga mengepalkan tangannya; ia tidak pernah seperti itu!
Eryk dan Gaea melemparkan death glare satu sama lain; menandakan tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.
"Pasangan yang aneh."
Eryk-lah yang mengakhiri tatapan kebencian mereka berdua.
Seingin apapun Eryk ingin melawan, ia tidak bisa, ia tidak lagi memiliki senjata lain untuk melawan juga, ia rasa cukup, image-nya bisa hancur.
Semakin ini cepat selesai, semakin cepat pula Gaea berada di tangannya.
Tuhan tahu betapa Gaea butuh beberapa pelajaran darinya.
"I love you." kata Eryk lembut.
Gaea sedikit syok. "I-I love you too," sahutnya malu, ia tak menyangka Eryk akan membalas seperti itu, memang ucapan itu palsu namun ucapannya sendiri asli. Ia tidak menyangka ia menyatakan perasaannya walau ia yakin Eryk menganggapnya cuma omong kosong.
"Cium! Cium! Cium!"
Pipi Gaea memanas seketika.
Cium? Cium?
Mencium Eryk? Eryk?
Gaea melirik Eryk malu-malu melalui bulu matanya—dan tertunduk mengetahui mata biru masih Eryk tertuju padanya.
Gaea ingin berkata 'tidak' namun melihat Eryk membuatnya refleks tertuju pada bibir seksi pria muda itu, karena ucapan orang-orang jadi begini.
Apa yang harus dilakukannya?
Eryk yang sejak tadi memerhatikan Gaea yang tertunduk dalam, kebingungan; kenapa Gaea terlihat begitu malu? Bukankah itu sudah biasa? Atau... wanita muda itu belum pernah?
Sebuah ide cemerlang muncul di kepala Eryk, ide untuk membalaskan dendam pada wanita muda itu. "Ayo kita lakukan, babe." katanya dengan seringai kecilnya. "Kita perlihatkan ke mereka betapa 'cintanya' kita."
Gaea syok mendengarnya, sedikit kesal pada Eryk yang seenaknya berkata seperti itu, tidak tahukah ia sejak tadi tidak merasa nyaman? Dan apa Eryk masih belum puas akan chaos yang dibuat mereka berdua?
Untuk apa juga menuruti kata-kata orang asing? Memang mereka siapa?
Gaea hendak memprotes akan tetapi sebelum bisa mengeluarkan perasaannya, Eryk sudah mendekatkan diri kepadanya. "Wha—!" belum selesai ucapannya, bibir mereka bersentuhan membuat jantungnya seketika mau melompat keluar karena sentuhan bibir Eryk.
Ciuman lembut Eryk membuat tubuh Gaea berhenti memberontak, lalu perlahan ia pun menutup mata hijaunya dan mulai membalas ciuman Eryk yang selalu diimpikan olehnya setiap malam.
Ciuman Eryk begitu hati-hati namun begitu agresif bersamaan, mencermin diri Eryk itu sendiri dan persis sama seperti apa yang ia impikan hingga Gea berpikir apakah akting atau bukan; apa pun jawabannya, Gaea tak bisa berhenti, ia benar-benar menikmatinya.
Eryk yang mengakhiri ciuman mereka, yang diikuti tepuk tangan riuh orang-orang serta ucapan 'selamat'.
Gaea tidak peduli sama sekali akan hal tersebut, di kepalanya hanya ada Eryk serta ciuman mereka saat ini, bahkan ketika pria muda itu memegang erat tangannya kemudian berjalan keluar bandara, ia tidak berbuat apa-apa, hanya diam menurut.
Eryk mempersilakan Gaea masuk ke dalam mobil miliknya dengan se-gentle mungkin, ia juga sebisa mungkin menahan seringai lebar di bibirnya muncul.
Gaea duduk tepat di belakang sopir masih tenggelam dalam fantasy di kepalanya hingga tersadar saat Eryk mengurungnya dengan kedua tangan kekarnya di sisi kepalanya, ia mengerjapkan mata hijaunya.
"Kau benar-benar menikmati menjadi Cinderella, ya?" tanya Eryk datar.
Cinderella—what?
"Tapi menyedihkan 'magic' dari Peri itu sudah berakhir." kata Eryk pura-pura bersimpati, ia mengambil helaian rambut cokelat Gaea, dan dengan seringai lebarnya ia berkata. "You're Mine Now."
Tubuh Gaea membeku.
Apakah sudah telat untuk berkata maaf?
Bersambung...
Like, Favorite, and Follow...
Vote juga ya untuk membantu novel ini dan semangat saya~
Vote itu gratis kok...
Thanks for reading...