
Setelah mendengar kabar dari Rainer, mereka segera kembali ke ruang tamu untuk berkumpul membuat ide baru.
Alex dan Ferdinand yang tadinya sedang menonton film menyudahi menontonnya, merapatkan duduk mereka agar yang lain bisa duduk.
"Coba katakan lebih detail Rainer." kata Eryk setelah duduk di sofa.
"Aku menaruh alat penyadap di ruangan khusus Gaea kemarin dan ketika aku mencoba menganalisa sisa rekaman, aku mendapatkan percakapan menarik Aizawa. Dia bilang akan menghadiri pesta sekaligus lelang di kapal pesiar dua hari ke depan."
Eryk berpikir. "Aku tidak tahu ada lelang di sana." katanya, rekan kerjanya yang suka mengoleksi barang antik juga tidak bilang.
"Karena itu pesta dan lelangnya ilegal," sahut Rainer.
Mata Gaea membulat. "Ilegal!?"
Jika lelang ilegal berarti barangnya ilegal juga kan? Dan keamanan lelang itu juga bukan Polisi yang menjaga seperti lelang yang Eryk laksanakan kemarin malam.
"Apakah kita mendaftar pada seseorang atau diundang?" Eryk bertanya.
"Itulah permasalahannya, lelang ini hanya orang tertentu yang mendapat undangan." kata Rainer.
"Itu yang dikatakan Aizawa?" tanya Eryk.
Rainer mengangguk.
"Dia menyebut nama orang yang bertugas mengundang para peserta?" tanya Eryk lagi.
Rainer mengangguk lagi. "Aneh, kan?" tanyanya.
"Hm," Eryk berpikir sebelum kemudian mengangguk. "Ada kemungkinan Aizawa menyadari adanya alat sadap di ruangan Gaea."
"Eh?" Gaea tidak mengerti.
"Perhatikan baik-baik. Aizawa dengan detail mengucapkan masalah lelang itu, sementara lelang itu lelang ilegal, orang seperti dia pasti akan berhati-hati berbicara di tempat umum yang tidak dikenalnya," Eryk menjelaskan. "Kecuali tujuan utama dia memang ingin ada orang yang mengetahuinya."
"Dan itu kita." kata Rainer.
Eryk memukul tangannya di pahanya. "Pak Tua itu tidak heran dia tidak ikut pesta tadi, bahkan tidak bisa aku hubungi." umpatnya.
"Yang masih tidak aku mengerti dengan alasan apa dia memberitahu kita, seharusnya ketika dia tahu dia tidak aman pasti akan memutuskan kembali ke Negaranya tetapi dia malah tetap di sini, memberitahu kegiatan dia berikutnya... seakan menantang kita..." kata Rainer.
"Kervyn." kata Eryk pelan.
"Eh?"
"Aku yakin Kervyn di belakang ini," Eryk melanjutkan serius.
Gaea melirik Eryk, di sana ia dapat melihat mata biru Eryk terlihat menakutkan tidak seperti biasanya. "Kervyn itu... kenapa sih memangnya?"
Hening...
Rainer, Alex dan Ferdinand melirik Eryk seakan meminta ijin pada pria muda itu.
Eryk bangkit berdiri. "Dia tidak kenapa-kenapa, kau tidak usah ikut campur, tugasmu menjadi tunanganku saja,"
Gaea mengepalkan tangannya. "Kau selalu saja begitu! Kau menutup aku padahal aku sudah tinggal bersamamu! Jadi aku berhak mengetahui masalah ini—"
"Kervyn yang membunuh Ayahku!" Eryk memotong dengan emosi.
Gaea terperanjat mendengarnya, lalu tertunduk.
Membunuh?
Ia memang dengar berita bahwa Ayah Eryk, Xander meninggal karena dibunuh, tetapi pelakunya sampai kin tidak tertangkap, yang ternyata pelakunya Kervyn, anak kandung Xander.
Sekarang Gaea mengerti dengan ucapan Eryk di ruangan latihan menembak.
Orang yang berharga telah diambil seseorang, maksudnya Kervyn telah mengambil nyawa Xander, Ayah mereka—orang yang berharga bagi Eryk.
Dan perasaan yang membara di hati Eryk adalah dendamnya pada Kervyn.
Gaea kehilangan kata-katanya untuk melawan.
Eryk mengembuskan napasnya. "Aku akan bersiap-siap, mau mendapat undangan ke lelang itu." katanya dingin, berjalan pergi naik ke lantai atas.
"Eryk!" Gaea memanggil, tetapi tidak dijawab, ia menghela napas. "Kalian tidak pernah ada keinginan untuk mencegah Eryk?" tanyanya pada tiga lelaki jantan di depannya, jengkel.
Mereka semua menurut sama perintah Eryk.
Apakah hanya dirinya saja yang cemas pada keselamatan Eryk?
"Percayalah padaku, aku sudah berusaha selama setahun belakangan ini, babe," sahut Alex.
Gaea kini melirik Rainer.
"Jangan melihatku seperti anak kucing minta makan, aku sudah berusaha sampai detik ini, Gaea," kata Rainer. "Keras kepalanya dia itu seperti karang, butuh waktu yang lama untuk memecahkannya."
Gaea mengembuskan napasnya. Ia ingin menghentikan Eryk sebab ia merasa ini seperti jebakan dari Aizawa, seperti saat ia mengobrol kemarin malam.
Gaea segera naik ke atas menyusul Eryk, mengetuk pintu kamar pria muda itu. "Eryk? Aku masuk ya?"
"Hm,"
Gaea membuka pintunya dan syok berat melihat Eryk hanya mengenakan celana tanpa baju. "Apa yang kau lakukan!?" ia memulai mencari barang agar bisa dilempar lagi.
"H-hey! Kau yang minta masuk, jangan melempar sembarangan!" kata Eryk disela-sela gerakannya menghindari barang yang dilempar oleh Gaea.
Gaea menahan serangannya. "Kau seharusnya pakai baju dulu baru mengijinkan aku masuk, Tuan Muda."
'Tidak semua orang biasa saja melihat ototmu,'
Gaea terbatuk dengan pikirannya.
Eryk memutar bola matanya. "Kau sudah dewasa kurasa sudah banyak lelaki yang kau lihat kan? Di majalah contohnya."
Gaea menggaruk lengannya gugup; tentu saja ia suka melihat model di majalah, Lola yang suka menunjukan itu padanya agar niatnya mencari pacar lebih tinggi. Tetapi... ia melirik tubuh Eryk diam-diam melalui bulu matanya.
Tetapi melihat tubuh lelaki yang kau cintai, reaksi tubuhnya berbeda...
Gaea menepuk keningnya. "Ngomong-ngomong, bukan ini yang mau aku bicarakan." ia mengganti topik, meletakan lagi figure mainan di lemari. "Aku mau berbicara soal tadi."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Gaea." kata Eryk sambil mengambil kemeja di ranjang dan mulai memakainya.
Gaea menghampiri, menghentikan tangan Eryk yang sedang memasang kancing kemeja. "Tapi Eryk, aku rasa ini hanya jebakan, kau kenapa tetap ke sana?" tanyanya.
"Aku tidak punya pilihan Gaea," kata Eryk. "Aku tidak bisa menunggu mereka, Katherine sudah diculik, aku tidak bisa—"
Mata Gaea melebar. "Katherine diculik!?"
Gaea tidak mengetahuinya, yang lain bersikap seperti biasa jadi ia tidak curiga sama sekali ada yang tidak beres.
Eryk pasti terguncang sekali, Katherine kan kekasihnya...
"Ya, dan pelakunya Kervyn." kata Eryk dingin. "Aku tidak bisa berdiam diri, jika aku hanya bertahan cepat atau lambat kalian bisa saja terluka karena kelalaianku."
"Tapi berbahaya juga mendatangi orang yang menyelenggarakan lelang itu kan? Bagaimana bila dia bekerja sama dengan Kervyn juga?" kata Gaea cemas. "Aku tidak mau kau terluka, Eryk." ia mengakui dengan wajah tertunduk malu.
Eryk jelas terkejut akan pengakuan Gaea, ia tidak menyadari wanita muda itu akan se-peduli itu padanya. "Aku akan baik-baik saja Gaea, aku sudah biasa di dunia seperti ini. Kau tidak usah cemas."
"Tapi..." Gaea merasa belum puas.
"Jangan cemaskan aku, cemaskan dirimu sendiri." kata Eryk. "Selama aku pergi, kau berlatihlah menembak dengan Alex."
Gaea tidak menjawab; bagaimana bisa ia berlatih menembak jika hatinya sudah dilanda gundah karena Eryk seperti ini?
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, ada Rainer dan Ferdinand di sampingku." kata Eryk.
Gaea mengangguk akhirnya, ia tahu kemampuan kedua pria muda itu terutama Ferdinand kalaupun ia menahan, mereka berdua hanya akan bertengkar lagi, jadi ia hanya bisa berdo'a Eryk, Rainer dan Alex baik-baik saja.
Eryk tersenyum, melanjutkan mengancingkan kemejanya, barulah memakai jasnya. "Ayo."
Gaea mengangguk, dan keluar bersama, bersamaan dengan suara yang tidak asing di telinganya.
"Mana Eryk? Aku mau bicara empat mata sama dia!"
"Dia sebentar lagi akan kemari,"
Gaea segera mengecek ke lantai bawah, di sana ada seorang wanita muda berambut hitam sedang berdebat dengan Alex. "Lola!?"
***
Note :
Sambil nunggu ini up, silakan main ke dua novelku :)
Sweet Revenge
The Lovely One
Tinggalkan like, komentar dan vote ya supaya novel ini maju 😊
💕💕💕