SWEET REVENGE

SWEET REVENGE
Bab 25 : Training? (2)


Eryk akhirnya menurunkan Gaea setelah mereka sampai di tempat biasa ia latihan.


"Dasar tukang paksa." kata Gaea.


Eryk yang sedang mengambil peralatan untuk latihan berhenti, tadi niatnya ingin mengajar menahan setelah mendengar keluhan Gaea, ia mengubah jalurnya. Ia menghampiri lagi wanita muda itu, memasangkan kacamata, serta pelindung telinga, sisanya yaitu sarung tangan, ia memberikannya pada Gaea. "Pakai ini."


Gaea memang bukan ahli tetapi kacamata serta alat penutup telinga membuatnya yakin ini bukan latihan memanah. "Hey setidaknya buat aku memilih dong! Aku mau memanah bukan menembak."


Eryk juga ingin mengajar memanah terlebih dahulu, kejadian tadi pagi akibat ulah Kervyn membuatnya lebih ekstra lagi. "Aku tahu ini tiba-tiba tapi percayalah padaku bahwa ini demi dirimu juga." katanya, sebelum Gaea dapat menjawab, ia menambahkan. "Kau itu tunangan aku sekarang, aku memiliki banyak saingan, skenario terburuknya mereka akan mengincarmu duluan. Kau mengerti kan? Fisikmu fit, kan?"


"Aku..." Gaea kehilangan kata-katanya; menjadi pebisnis banyak resiko tentu saja ia tahu. "Iya,"


"Ini," Eryk mengulurkan sebuah pistol setelah ia selesai memakai pelindung juga.


"Kau yang mengajari aku?" tanya Gaea melihat penampilan Eryk yang hampir sama sepertinya minus sarung tangan.


"Kau hanya melihatku, Gaea," Eryk menyahut dengan ejekan.


Gaea menerimanya dan meneguk air liurnya gugup. "Bagaimana kalau aku meleset? Oh... dan aku menembak orang lain!?" serunya sudah panik duluan mengingat ini pertama kalinya ia memegang pistol, cukup berat juga.


"Ruangan ini aman Gaea takkan tembus keluar." kata Eryk, kemudian ia mengarahkan tangan Gaea ke sebuah papan bulat yang terdapat angka. "Luruskan tanganmu dan lebarkan kakimu, terus fokuskan matamu ke sasaran Gaea."


Gaea menuruti apa yang dikatakan Eryk, tetapi yang membuatnya kesulitan fokus adalah jarak wajah Eryk yang begitu dekat dengannya, frustasi, ia menurunkan lagi pistolnya. "Bagaimana jika aku gagal?"


"Tanganmu hanya patah saja,"


"Apa!?" seru Gaea tak percaya; dengan mudahnya Eryk bilang tangan patah seakan bukan hal yang berarti.


Eryk tertawa kecil. "Tenang Gaea, aku memilih pistol bertenaga kecil bahkan tembakannya juga manual," jelasnya. "Makanya aku ingin kau menurut, ya?"


Gaea mengembuskan napasnya, dan mulai membidik lagi.


"Bagus, sekarang aku ingin kau menarik picunya perlahan, jangan dihentakkan, ya? Nanti pelurunya akan meleset ke bawah."


"Kau sudah mengisi pelurunya?" tanya Gaea; sulit sekali menembak rupanya, padahal di film terlihat mudah.


"Tentu saja tidak, kau pikir aku bodoh?" Eryk bertanya balik mengejek; amatiran seperti Gaea sangatlah berisiko besar akan meleset tanpa percobaan awal.


Gaea menggembungkan pipinya. "Dasar! Kau membuatku takut! Kupikir sudah ada peluru di dalam pistolnya." setelah selesai protes, ia membidik lagi, lebih percaya diri, iya karena tak ada pelurunya. "Seperti ini?"


Eryk mengangguk. "Tenangkan napasmu Gaea, hembuskan secara perlahan."


Gaea menurut, awalnya masih sulit karena jarak Eryk yang dekat, namun akhirnya bisa setelah berpikir Eryk adalah Ferdinand.


Eryk mengangguk. "Sekarang aku ingin kau membidik sasaran yang tengah."


Gaea menggerakan tangannya sedikit agar moncong pistolnya pas dengan sasaran di tengah.


Eryk melipat tangannya. "Ini yang paling sulit, kau harus perlahan menarik picunya, jangan terlalu kasar karena akan meleset." ia meletakan tangannya di atas Gaea memberi tekanan lembut di sana. "Seperti ini, paham?"


Gaea seketika merona, mengangguk kaku, malu.


"Sejujurnya arah angin juga berpengaruh karena kita di dalam ruangan, nanti saja belajar soal itu." kata Eryk. "Cobalah Gaea."


Gaea mengangguk, membidik lagi sasaran lalu perlahan menarik picunya. "Begini?"


Eryk mengangguk. "Pistolnya?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya.


Gaea menurut, di luar dugaan hanya sebentar, tahu begini tadi tak usah protes—"Eh!?" ia terkejut melihat Eryk memasukan satu buah peluru ke dalam pistol. "Eryk—"


Eryk mengangguk seakan mengerti pertanyaan Gaea, ia menyerahkan lagi pistol yang sudah diisi itu pada Gaea. "Kali ini aku mau lihat kau menembak."


Dengan tangan yang gemetaran, Gaea menerimanya.


Eryk jelas dapat melihat ketakutan dari tangan Gaea. "Tenanglah Gaea, tak apa, kau bisa melakukannya."


Gaea melirik Eryk yang berada di sampingnya. "Bagaimana kalau meleset? Aku tidak mau melukaimu..."


Eryk tentu terkejut mendengarnya, ia tak menyangka Gaea akan ketakutan mengenai dirinya, ia justru berpikir wanita muda itu akan membayangkan titik sasaran sebagai dirinya. "Kau takkan melukaiku jika fokus Gaea, ingat, kau wanita kuat, kau tunangan pilihanku bukan tanpa alasan." ia mencoba menghibur sebaik mungkin bahkan selembut mungkin.


Gaea sedikit terhibur akan ucapan Eryk, mengembuskan napasnya dan memulai lagi membidik. "Pelan, kan?" tanyanya serius.


"Ya," sahut Eryk. "Kau bisa—"


Dor!


Eryk terkejut Gaea langsung menarik picunya, ia melirik Gaea yang sudah terengah-engah kemudian ke sasaran; tembakan Gaea tidak mengenai bagian tengah justru sampingnya.


Permulaan yang tidak buruk.


Gaea meletakan pistol itu di sampingnya masih tak percaya sudah memakainya tadi.


Eryk duduk di samping Gaea, meletakan dua botol air di antara mereka. "Kita bisa melanjutkan kalau kau sudah tenang lagi..."


Gaea tidak percaya Eryk masih mau memaksanya berlatih setelah melihatnya tak berdaya seperti ini. "Aku tidak mau, Eryk, aku takut."


"Tadi kau bisa..."


"Aku melakukannya untukmu!" seru Gaea yang membuat Eryk terdiam, ia memeluk lututnya. "Aku tidak mau, ini membuatku teringat kejadian dulu."—di mana kedua orang tuanya terbunuh.


Eryk termenung. Ia juga memiliki reaksi yang sama ketika pertama mencoba latihan, sebab dulu ia juga melihat Ayahnya ditembak oleh Kervyn di depan matanya, tentu ia mengerti perasaan Gaea sekarang ini. "Sini..."


"Eh?" Gaea melirik Eryk yang tengah membentangkan sebelah tangannya. "Maksudmu?"


Eryk berdecak kesal, Gaea selalu saja tidak mengerti sinyal yang diberikan olehnya harus diucapkan dengan kata-kata baru mengerti. Ia membuang muka agar wanita muda itu tak melihat wajahnya yang merona dan berkata. "Aku kan menawarkan pelukan, kau terlihat menyedihkan."


Kata-kata Eryk begitu manis hingga di kata akhirnya membuat suasana kembali dingin.


"Tidak usah," kata Gaea, membuang muka juga. "Siapa yang mau dipeluk—eh?" seketika ia merasakan tangan melingkari tubuhnya yang ternyata Eryk memeluknya. "Kau—"


"Berhentilah protes." kata Eryk dingin. "Jadilah wanita yang aku cintai dulu sekali ini saja..."


Eh?


Gaea tidak dapat mendengarnya. "Kau bilang apa?"


"Jadilah wanita yang normal sekali ini saja, Gaea," Eryk mengulangi dengan senang hati.


Gaea merasa ada yang sedikit beda pun mencoba protes. "Tapi—"


"Sstt..."


Gaea dengan patuh diam, matanya tertuju ke kakinya, ia tak percaya sekarang sedang pelukan dengan Eryk meskipun hanya untuk menghibur, jantungnya berdebar-debar dengan cepatnya, ia yakin wajahnya merona merah sekarang ini.


'Dipeluk Eryk, ketakutanku hilang berubah jantungku tak bisa berdetak normal.'


"Hey, Gaea." panggil Eryk pelan.


"Hm... ?" Gaea menyahut sekenanya.


"Bagaimana kalau aku berhenti berbisnis saja?"


Pertanyaan Eryk membuat Gaea terkejut, yang sukses membuat ia menatap pria muda itu. "Kenapa?"


"Aku selalu mengejar seseorang yang sudah mengambil sesuatu yang berharga dariku, hingga aku tanpa sadar menyeretmu serta yang lain ke masalahku." kata Eryk sedih.


"Eryk..." untuk pertama kalinya Gaea melihat seseorang sekuat Eryk terlihat sedih tidak berdaya seperti ini, mungkin ini sisi yang selama ini disembunyikan oleh Eryk.


"Mungkin, aku harus membiarkan perasaan yang membara di hati ini pergi..." kata Eryk. "Berhenti berbisnis dan pergi keluar negeri, mencari kota terpencil agar tidak ada yang mengganggu kita..."


"Aku..."


Eryk langsung melepaskan pelukannya, bangkit berdiri. "Maaf aku berkata yang tidak-tidak padamu Gaea." ia jadi terbawa perasaan begini melihat Gaea begitu takut. "Latihan hari ini selesai."


"Tunggu."


Eryk berhenti.


Gaea sesungguhnya masih bingung apa yang dimaksud Eryk tadi tapi ia tetap memberikan pendapatnya. "Kurasa kau harus membiarkan apa pun itu pergi jika kau ingin bersama kami tentunya."


Eryk melanjutkan langkahnya tanpa berkata apa-apa.


Gaea termenung.


Mungkin ucapannya tadi salah.


Ketika di luar, Eryk terkejut melihat Rainer di luar. "Apa yang kau lakukan di sini? Aku kan memintamu istirahat, Rainer."


"Aku tahu," sahut Rainer kalem. "Tapi aku mau memberi kabar soal adanya pesta di kapal pesiar dan di sana ada Aizawa..."


Note :


Double up ya 😊 silakan tinggalkan like, komentar, dan vote ya biar novel ini maju 😊


Sambil nunggu novel ini, silakan mampir kedua novelku yang lain, The Lovely One dan Menikah Kontrak 😊


💕💕💕