SWEET REVENGE

SWEET REVENGE
Episode 23 : Surprise


Bab ini sedikit dark


Selamat membaca πŸ’•


***


"Apa kau meminta bantuan Rainer?" Eryk bertanya setelah cukup memandang foto bergambar Katherine, tepatnya kejadian penangkapan wanita muda itu secara detail di sana, yang sedikit aneh baginya mengingat itu hanya dari kamera pengawas.


Ferdinand mengangguk.


Eryk berpikir; aneh, ia sudah bilang pada Rainer untuk istirahat penuh, apakah Rainer tetap ingin terlibat? Jika begitu sesampainya di rumah nanti, ia akan memberikan nasihat pada Rainer betapa pentingnya tidur. "Kau tidak menemukan siapa yang mengirim surat itu?"


Ferdinand menggelengkan kepalanya. "Sayangnya, pengirim itu jalan kaki saat meletakan suratnya di kotak surat rumah kita, dia berpakaian tertutup tentunya, sulit mengenali sebab dia datangnya malam hari juga."


Eryk menggertakan giginya; licin sekali siapa pun itu yang menculik Katherine, tetapi ada sesuatu yang janggal, pelakunya hanya kirim surat saja tidak meminta tebusan uang atau apa pun, itu yang tidak dimengertinya, tujuan dari penculikan ini apa!? Ingin membuatnya sengsara? Ia bangkit berdiri dari kursinya. "Aku akan... huh?" mata birunya tanpa sadar melihat cahaya berwarna hijau bulat kecil bergerak di meja kerjanya. "Iniβ€”" sebelum sempat diselesaikan satu tembakan mengenai mejanya, mata birunya terbelalak.


"Menyingkir dari pandangan kaca Eryk!" Ferdinand langsung memerintah, yang dengan cepat Eryk melompat ke samping sebanyak sekali; ia segera membalikan meja kerja Eryk untuk melindungi dirinya.


Jantung Eryk memburu, tak menyangka akan ada penyerangan sepagi ini.


Tembakan demi tembakan dimuntahkan mengarah pada meja Eryk tempat Ferdinand bersembunyi hingga membuat dokumen yang susah payah dikerjakan oleh Eryk berhamburan kemana-mana.


Bila terus begini mejanya yang terbuat dari besi akan tembus juga akan membahayakan Ferdinand.


Eryk harus berbuat sesuatu. "Kau bawa pistol?" tanyanya.


"Aku bawa tetapi sulit membidik dengan jarak sejauh itu," sahut Ferdinand.


Eryk mendecak kesal, mencari cara untuk bisa keluar dari ruangan kerjanya atau setidaknya membuat tembakan itu berhenti walaupun sebentar. Ia mendapat ide, segera mengambil pistol glock 22 yang memang sengaja di simpan olehnya di balik rak bukunya, dan kembali ke tempatnya. "Kau tembak saja Ferdinand."


Mata Ferdinand melebar. "Kau sudah kehilangan akalmu, ya? Sudah aku bilang aku tidak bisa membidik dengan benar kalau sejauh itu!"


"Kau hanya mengalihkan perhatian saja! Dia pasti memakai sniper karena tembakannya tidak cepat seperti pistol biasa! Kita kacaukan konsentrasi dia, di saat itu juga aku keluar dari sini." Eryk menjelaskan sambil mengisi peluru ke dalam pistolnya.


"Tapi."


"Lakukan saja, Ferdinand!" seru Eryk, "Tunggu aba-aba dariku." lanjutnya, Eryk meletakan pistol miliknya di balik jasnya, kemudian berjalan menempel di dinding tempat titik buta dari bidikan, ia akhirnya berhenti setelah sampai di dekat pintu. "Ferdinand."


Ferdinand mengangguk, ia mengambil titik yang pas, yaitu di samping kaca, setelah satu tembakan, ia segera berlari ke sana, bagian yang berseberangan dengan Eryk agar bisa meminimalkan kemungkinan Eryk tertembak. Ia menunggu tembakan selanjutnya sambil mengambil pistol miliknya, mengisi dengan peluru penuh, di saat selesai mengisi, di saat itu jugalah peluru ditembakan, dengan cepat ia membidik ke arah tembakan tadi hingga pelurunya habis.


Sesuai dugaan Eryk, orang itu tidak menembak, mungkin menghindar; tanpa menyia-nyiakan kesempatan emas ini, ia berlari keluar ruangan, ia segera menutup pintunya bersamaan dengan tembakan di pintu itu.


"Apa itu?"


Tembakan di pintu menghasilkan bunyi keras hingga terdengar oleh Clara yang kebetulan sedang berjalan menuju ruang kerjanya.


Eryk mengambil napasnya sebelum kemudian memasang wajah kalemnya. "Tidak ada apa-apa, kembalilah bekerja," untunglah ruangannya kedap suara jika tidak, ia tak bisa membayangkan betapa paniknya Clara.


"Tapi," Clara masih penasaran.


"Kembali bekerja Clara, aku membayarmu bukan untuk bersantai-santai." kata Eryk dingin, ia tidak memiliki waktu meladeni ocehan tidak penting sekretarisnya itu, ia harus cepat turun untuk mencari pelaku penembakan dirinya.


Clara menurut tanpa protes lagi, kembali ke ruangan.


Eryk segera berlari menuruni tangga, pikirannya berkeliaran kemana-mana.


Gedung kerjanya hanya di memiliki tujuh lantai, yang berarti ia harus mencari gedung yang memiliki tinggi yang sama atau kurang dengan gedung miliknya, di sebelahnya merupakan apartemen dengan enam lantai, kemungkinan besar ada di sana, ia hanya perlu mencari dari mana arah tembakan tersebut.


'Seandainya ada Rainer.'


Eryk keluar dari gedungnya, tetapi bersembunyi di balik tembok memastikan keadaan di luar aman, tidak ada mobil yang terparkir atau pun jendela yang terbuka di gedung sebelah. "Tidak mungkin mereka menyerang di tempat keramaian seperti ini." gumamnya memperhatikan banyaknya orang yang lalu-lalang di trotoar, meskipun ramai, tidak ada mobil terparkir di sepanjang blok, ia melirik jendela-jendela, tak ada juga yang mencurigakan seperti senapan laras panjang atau orang di dekat jendela. Ia segera berlari ke gedung sebelahnya yang memang jaraknya berdekatan dengan gedung kerjanya.


Apartemen ini bukanlah apartemen bintang lima jadi Eryk tidak heran jika keamanan di sini kurang, tempat yang strategis menembak ke tempat kerjanya.


Eryk berhenti di pertigaan yang kosong, mengeluarkan kepalanya keluar jendela, membandingkan ruang kerjanya dengan gedungnya. "Dia berada di paling atas." tempat yang mudah jika ia nilai. Ia kembali melanjutkan lagi langkahnya.


"Eryk!"


Eryk berhenti dan menoleh. "Ferdinand?"


Ferdinand berhenti untuk mengatur napasnya. "Syukurlah... huh... terkejar juga..."


"Kau bisa ke sini... ?" tanya Eryk.


"Dia berhenti menembak sesaat setelah kau keluar dari ruangan. Kurasa dia kabur." kata Ferdinand kalem.


"Begitukah," jika benar adanya, pelaku itu masih di dalam sekarang, hanya ada satu cara agar bisa menangkap pelaku itu. "Kau naik lift, Ferdinand."


"Eh?"


"Aku akan menaiki tangga, kemungkinan dia memilih tangga lebih besar karena jika benar dugaanku dia memakai senapan tipe sniper, akan memancing kecurigaan orang-orang kok membopong senjata sebesar dan sepanjang itu kan?" kata Eryk.


"Tapi kau tidak memakai pengaman apa-apa! Bukankah lebih baik kita menunggu di luar saja? Melihat setiap orang keluar dari sini?" Ferdinand menyarankan, ia tidak suka ide berpencar begini apalagi Eryk mengambil jalan yang memiliki kemungkinan terbesar orang itu kabur mengingat Eryk sendiri yang menjadi incaran.


"Aku baik-baik saja, kau tahu kemampuanku, kan?" Eryk bertanya balik. "Sekarang lebih baik kita berpencar, aku cemas bila orang itu melukai orang lain di sini." lanjutnya. "Kau tadi menembak tidak ke arah dalam kamar kan?"


"Tentu saja tidak!" kata Ferdinand. "Celahnya memang kecil tetapi aku tahu tembakanku ke arah mana, orang itu menembak dari atas atap."


Sesuai dugaan Eryk, orang itu menembak di atas atap gedung. "Kalau begitu kita bertemu di atas, Ferdinand." katanya segera menaiki tangga, ia sesekali berhenti untuk mendengar apakah ada langkah kaki selain dirinya, lalu melanjutkan lagi setelah positif tak ada, deru napasnya serta jantungnya begitu cepat, di setiap langkah ia berpikir apakah ini ulah Kervyn? Apakah mereka akan bertemu dan akhirnya mengakhiri segala pertikaian ini? Ataukah saingan kerjanya? Apa malah orang yang menculik Katherine?


Begitu banyak kemungkinan hingga Eryk sudah sampai di lantai paling atas, di sana Ferdinand sudah menunggu dirinya.


"Bagaimana?" tanya Ferdinand.


Eryk menggelengkan kepalanya.


Ferdinand berpikir sebentar. "Berarti ada kemungkinan dia tinggal di sini, Eryk. Aku juga tadi naik lift sendirian, tak ada orang yang naik selain aku."


Eryk termenung sesaat; apa maksud dari semua ini? Matanya tertuju pada pintu cokelat yang terhubung ke atap gedung. "Hanya ada satu kemungkinan Ferdinand," ia mengeluarkan pistol di balik jasnya.


Ferdinand mengangguk, mengambil pistolnya juga, berjalan mendekati pintu tersebut, lalu saling pandang, mengangguk satu sama lain barulah membuka pintu tersebut.


Begitu di luar atas atap, Eryk memeriksa sekelilingnya, dan mendecih kesal tidak ada siapa-siapa, benar adanya jika orang itu mungkin tinggal di sini. "Oh," matanya tanpa sengaja menemukan sebuah kertas yang ditimpa batu sedang agar tidak terhempas oleh udara pagi di pinggir gedung. Ia pun mengambilnya dan membacanya.


You Can't Catch Me, Mister Enzo :)


Begitulah tulisan di kertas tersebut, yang membuat Eryk merobek-robeknya dengan penuh amarah. "Kervyn!"


Note


Ya, full aksi, mulai ke inti masalah.


Kervyn mulai bergerak juga


Romance-nya bab depan


Please, like, komen dan bintang 5 :) jika berkenan silakan vote agar novel ini maju :)


Sambil menunggu ini kenapa ga cek novelku yang lain? The Lovely One cerita anak SMA


Menikah Kontrak cerita ya menikah


Tiga novelku update setiap hari 1 bab :)


πŸ’•πŸ’•πŸ’•