
"Tapi kenapa tempat pusat perbelanjaan?" Gaea bertanya, tentu ia senang Eryk mau mengerti dirinya tanpa perlu bertengkar, namun di antara tempat bagus, Eryk milih pusat perbelanjaan dan bukankah sudah tutup di hari natal begini?
"Bukankah jelas? Gayamu memalukan," sahut Eryk santai.
"Hey!" Gaea tidak menerimanya begitu saja. "Tidak semua orang bisa membeli pakaian bagus sepertimu, Eryk."
"Karena itu kita berbelanja." kata Eryk. "Kau tunanganku, memakai pakaian sederhana begitu melukai harga diriku, kau tahu?"
"Apa?"
Pakaian yang dikenakannya memang sederhana, hanya celana jeans panjang dan jaket pink tebal serta syal dan topi agar tidak kedinginan, salahkan Eryk juga yang langsung mengajaknya tanpa ganti baju.
"Aku punya sense fashion, jadi bisakah kita ke tempat lain? Taman kota misalnya." kata Gaea merayu.
"Aku tidak tahu dari mana menyenangkannya ke taman kota. Tetapi kita ke sana Ferdinand," kata Eryk.
Gaea bertepuk tangan bahagia mendengarnya.
"Baiklah." kata Ferdinand.
***
Eryk yang lelah berjalan di bawah pohon taman, merebahkan tubuhnya, dan memakai kacamata. "Kalau tahu begini jadinya, aku seharusnya membawa sunblock."
Ferdinand duduk di samping Eryk berkata. "Mana ada orang yang berjemur jam segini, Eryk. Ini musim dingin."
"Fuβ" Eryk baru ingat dan segera pindah ke tempat yang lebih aman tepat di bawah pohon, bersandar di sana. "Kenapa juga aku harus mengikuti kemauan dia?" ia melirik Gaea yang sedang berjalan ke tepi sungai.
Ferdinand mengikuti arah mata Eryk. "Hm, karena kau lemah sama wanita?" tebaknya. "Kau tidak marah mereka berduaan?"
Eryk hanya memandang Gaea dan Rainer yang sedang berjalan beriringan. "Biarkan, aku tidak punya waktu memikirkan hal tak penting begitu."
"Sekarang kau kembali ke Eryk yang aku kenal." kata Ferdinand.
"Aku selalu seperti ini," kata Eryk, dan menggosokkan kedua tangannya. "Dingin sekali, beli kopi hangat, Ferdinand?"
"Beneran jadi Eryk yang dulu lagi." Ferdinand mengulangi, dan bangkit berdiri untuk beli minuman kaleng di mesin seberang jalan.
Eryk melirik Gaea dan Rainer yang kini sedang duduk di kursi panjang memandangi sungai hudson, emosinya perlahan naik lagi sebelum kemudian ia bangkit berdiri untuk mengejar Ferdinand.
***
Gaea memandang sungai yang terlihat bergelombang akibat beberapa kapal lewat.
Inilah yang dimaksud olehnya menenangkan pikiran dari masalahnya, ia bukan kabur dari Lola hanya butuh sedikit waktu menerima.
"Sayang sekali kau tidak bisa merayakan natal bersama keluarga Ava, benar?" tanya Rainer.
Gaea mengangguk. "Aku bertanya-tanya apakah Ava baik-baik saja di sana? Apakah dia marah padaku? Aku sampai sekarang belum bisa menghubungi dia, sepertinya dia sibuk sekali." jelasnya. "Dan yang terpenting apakah dia sungguh-sungguh temanku..."
Rainer melirik Gaea yang tertunduk dalam. "Ava satu-satunya orang yang tak menipumu Gaea, semua sifat, tingkah lakunya padamu murni dari Ava sendiri."
Gaea melirik Rainer. "Dari mana kau tahu?"
Rainer mengulas senyum kecil. "Tentu saja aku mengecek data Ava, kau ini."
"Begitu," kata Gaea. "Aku senang Ava tidak terkait apa pun, untungnya juga dia berada di Shanghai sekarang, dia pasti dalam bahaya jika bersamaku."
"Hm... dia berada di tempat yang aman dari kita semua," Rainer menyetujui.
"Tetapi, sahabat terdekatku adalah Lola, dia yang selalu menjadi penyemangatku ketika kami kesusahan, jadi saat aku tahu dia bukan Lola yang kukenal selama ini, aku..." Gaea tak menyelesaikan kata-katanya, dadanya sudah terasa sesak.
"Lola akan mendekatimu lagi, dia hanya kesal padamu karena mencuri kesempatan dia bersama Eryk." Rainer berusaha menghibur.
Gaea tersenyum pahit, tentu Lola akan mendekat lagi cuma masalahnya itu kapan akan terjadinya? Lola mencintai Eryk sejak masih gadis hingga sekarang sudah menjadi wanita muda.
Gaea kembali teringat akan ejekan Lola padanya, ia berpikir apakah Lola terluka akan ucapan dia sendiri mengingat Lola sering memanggilnya Tuan Enzo.
"Oh ya bagaimana? Sudah mendengarkan lagu klasik rekomendasiku?" Gaea teringat akan tanda pertemanan mereka, ia terlalu fokus pada Eryk dua hari ini.
"Aku sudah mendengarkan sebelum tidur, lagunya enak-enak bahkan memudahkan aku tertidur lebih cepat," kata Rainer dengan senyum kecilnya. "Bagaimana denganmu?"
Gaea tertawa kikuk. "Hahaha... aku baru mendengarkan sedikit saja, kau tahulah masalah Eryk menyita perhatianku, tapi meskipun sedikit, aku setuju lagunya enak didengarkan." jelasnya semangat.
Rainer bangkit berdiri, berjalan dengan kedua tangan di kantung celananya, membiarkan udara dingin menyentuh kulitnya. "Aku senang kau menikmatinya meskipun aku gagal melindungimu."
"Eh?" melindungi dirinya? "Apa maksudmu?"
"Aku ingin kau tetap hidup layaknya orang normal lainnya, tetapi semakin ke sini jadi membuatmu semakin dalam jatuh sehingga aku tidak bisa menggapaimu ke cahaya..."
"Rainer..."
"Tapi itu keputusanmu, aku juga tidak bisa berbuat banyak, aku lemah terhadap Eryk. Aku bahkan tidak bisa mengubah perasaan dia sejauh apa pun aku membantu dia." kata Rainer. "Membuatku terlintas ingin kembali ke Jepang."
Gaea bangkit berdiri. "Kau mau kembali ke Jepang?"
Jika Rainer kembali, mereka takkan bertemu lagi, itu membuat hatinya terluka, sudah cukup ia kehilangan Lola, bila harus Rainer juga, ia tidak tahu apakah dirinya kuat menerima hal tersebut.
Gaea mengembuskan napasnya lega. "Syukurlah, aku masih punya banyak waktu membujukmu untuk tidak pulang."
Rainer menatap Gaea intens. "Selain Eryk, kaulah alasan terbesarku masih di sini..." ia mengakuinya.
Mata Gaea melebar.
Rainer bilang dirinya? Alasan tetap tinggal di New York?
Gaea tersentuh tetapi masih ada yang tidak dimengertinya. "Kita baru berteman baik dua hari yang lalu bagaimana bisa aku menjadi alasanmu, Rainer?"
Rainer memamerkan senyum misterius. "Hubungan kita lebih dalam dari yang kau kira, Gaea," jawabnya. "Aku rasa kau sudah lupa atau aku yang berhasil melakukan tugasku dengan sempurna."
"Tugas?" Gaea memiringkan kepalanya bingung.
Kenapa keluarga Enzo selalu mengatakan tugas padanya?
Apakah keluarga Enzo termasuk bagian dari kepolisian yang menangani kasus orang tuanya? Tidak mungkin kan, Gaea tidak ingat pernah bertemu dengan Rainer dulu, mereka pertama bertemu di klub.
Mungkin Rainer salah orang?
"Wajah kalian serius sekali."
Gaea menoleh, melihat Eryk dan Ferdinand menghampiri mereka dengan dua gelas berisi cairan hitam yang ia yakini kopi.
"Untukmu," Eryk mengulurkan salah satu kopi yang dipegang olehnya.
Gaea menerimanya dengan senang hati, sejujurnya ia tidak begitu suka dengan kopi, namun ia tidak bisa menolak makanan atau minuman gratis. "Terima kasih,"
Eryk mengangguk dan meminum kopi miliknya.
Hening...
"Jadi bagaimana kau dapat undangan itu?" Rainer bertanya.
"Aku dapat,"
"Jadi sudah tahu dengan siapa kau akan pergi?" tanya Rainer lagi.
Eryk mengangguk. "Aku akan ke sana sendirian,"
Gaea hampir saja menjatuhkan gelas kopi miliknya setelah mendengar pengakuan Eryk.
"Kenapa sendiri? Berbahaya Eryk." kata Rainer.
Gaea mengangguk. "Setidaknya ajak kami."
"Sayangnya aku hanya bisa membawa satu orang ke sana, sudah peraturan." kata Eryk.
"Kalau begitu aku ikut!" Gaea menawarkan diri, mana mungkin ia membiarkan Eryk sendirian ke sana mengingat Aizawa begitu mencurigakan.
Eryk menggelengkan kepalanya. "Aku sudah bertekad untuk sendirian, orang sebanyak itu takkan mungkin ada sesuatu yang parah."
"Kita tidak tahu situasi Eryk di sana, aku mengerti akan banyak orang, tetapi aku tetap tidak setuju kau sendirian, jadi ijinkan aku ikut denganmu." kata Rainer, menawarkan diri juga.
Eryk menggelengkan kepalanya lagi, menghampiri Rainer, meletakan tangannya di bahu pria muda itu. "Tugasmu menjaga Gaea, jika terjadi sesuatu padaku, jagalahβ"
Rainer menepis tangan Eryk kasar. "Jangan berkata konyol begitu, kalau kau ingin Gaea ada yang jaga itu adalah tugasmu." katanya dingin. "Kalau kau hanya ingin berkata tidak masuk akal seperti itu, aku pergi."
Eryk mengembuskan napasnya. "Aku mencoba memperkecil kemungkinan di sini."
"Itu tidak lucu." kata Gaea serius. "Keluargamu ada banyak, tapi kau memilih sendiri, kau mau bunuh diri? Aku mengerti kau peduli, setidaknya pikirkan juga dirimu sendiri Eryk."
"Gaea..." kata Eryk.
Gaea menggelengkan kepalanya. "Jangan berbicara. Dinginkan kepalamu, barulah temui aku lagi setelah kau selesai." katanya sedih, dengan lesu menyusul Rainer.
Ferdinand menyentuh bahu Eryk, dan ikut menyusul Gaea dan Rainer.
Eryk mengembuskan napasnya, menatap aliran sungai tenang di depannya...
***
Note :
Sambil nunggu ini up silakan mampir ke novelku yang lain π
The Lovely One
Sweet Revenge
Tinggalkan jejak di sini juga ya berupa like, komentar dan vote π
πππ