
Setelah hari yang panjang, Gaea keluar dari kamarnya, mengintip di balik pintu kamar melihat situasi.
Keadaan sepi sesuai dugaan, maklum
Gaea keluar jam sepuluh malam.
Gaea membawa selimut di tangannya, film yang belum selesai ditonton olehnya tadi itu film aksi, sesuka apa pun ia akan genre itu, ia suka takut melihat adegan berdarah-darah sadis, jadi ia membawa selimut jaga-jaga jika ada adegan sadis dan juga menghangatkan tubuhnya.
Gaea menuruni tangga masih melirik ke sana ke mari.
Ia masih tidak percaya keluarga Enzo tidak merayakan natal malam ini bahkan tidak ada pohon cemara hanya sekedar memeriahkan.
Tahun ini, natal yang paling buruk baginya.
Ketika Gaea sampai di lantai bawah, tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata biru Lola.
Mereka berdua membeku di tempat mereka berdiri.
Hening...
Gaea sudah sukses menghindar sampai bela-belain menahan lapar, nyatanya itu semua gagal sekarang.
Lola yang baru dari dapur habis mengambil minum, mengerutkan keningnya. "Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" tanyanya dingin.
Gaea terhenyak masih belum terbiasa dengan sikap baru Lola yang dingin padanya. "Aku mau nonton film di ruang tamu belum makan juga," sahutnya sedih.
Lola jadi teringat ada makanan cepat saji di kulkas, ia tahu Gaea suka makanan tersebut. "Aku kagum denganmu bisa memaksa Eryk menyimpan junk food, kau memang memiliki kekuatan membujuk seseorang..."
Gaea tersentuh mendengarnya; mungkin benar kata Rainer bahwa Lola hanya marah saja, tidak benar-benar benci padanya, dan mungkin sifat Lola selama bersamanya tidak sepenuhnya palsu. Tanpa sadar bibirnya mengulas senyum. "Eryk melawan, tapi aku bisa menang tanpa perlu mengancamnya pakai Bintang..." katanya dengan penuh rasa bangga.
"Apakah aku sedang bermimpi? Eryk mengijinkanmu memelihara kucing di rumah ini? Ya aku pasti sedang bermimpi sekarang." Lola bertanya-tanya heran, sejak dulu musuh abadi Eryk adalah kucing tepatnya bulunya.
Gaea mencubit pipi Lola.
"Aww... apa yang kau lakukan!?" seru Lola sambil memegangi pipinya yang habis dicubit tadi.
"Memastikan kau tidak sedang bermimpi?" Gaea menjawab polos, sebelum tertunduk sedikit. "Aku tahu kita tidak sejalan kali ini, tetapi aku ingin mengucapkan terima kasih sudah menjadi sahabatku, menjagaku. Lola, meskipun yang kau lakukan palsu, aku tetap bersyukur bisa bertemu denganmu dan Ava. Kalian berdua membuatku bahagia dari yang kalian kira..."
Lola terhanyut mendengarnya sebelum kemudian membuang mukanya. "Aku juga merasakan yang sama. Kau juga aku anggap temanku Gaea, hanya saja aku butuh waktu agar bisa menerima ini." ia mengakui dengan suara pelan.
Gaea mengangguk. "Aku akan menunggumu, Lola." katanya lembut. "Sekarang aku mau nonton film!" serunya mengangkat tangannya penuh semangat. "Makan juga!"
"Kau bisa nonton lebih bagus di ruang home theater kami," Lola menyarankan.
"Woa... kalian punya bioskop pribadi sendiri?" Gaea bertanya terkagum-kagum.
Kenapa Alex tidak mengajak nonton di sana tadi?
Lola mengangguk. "Ruangannya ada di bawah tangga, aku bisa membantumu menyalakan filmnya kalau mau."
Gaea menggelengkan kepalanya. "Kau pasti masih lelah sehabis naik pesawat tanpa istirahat, jadi tidak usah." katanya. "Walau aku heran juga sih, jarak ke sini dan Shanghai takkan cukup hanya dua hari..." pikirnya. "Kau tidak naik jet pribadi kan?"
Mengingat keluarga Enzo kaya raya, kemungkinan mereka memiliki setidaknya satu jet pribadi sangat mungkin.
"Tidak, sejujurnya aku tidak ke Shanghai! Aku sudah mau pergi, tetapi setelah berpikir cukup lama, aku membatalkan itu, aku yang sudah di pesawat jelas membuat kegaduhan hingga tanpa sadar menyerang Pramugari, karena kejadian itulah keberangkat pesawat ditunda sebentar, aku berhasil turun tetapi harus berurusan dengan Polisi mengenai tindakanku. Sebastian yang mengurus semua ini..." jelas Lola panjang lebar.
Gaea mengangguk paham, pantas saja tadi pagi ia tidak melihat Sebastian, baru ada saat Lola pulang ternyata pelayan Eryk itu sedang mengurus masalah Lola. "Kalau begitu tetap kau butuh istirahat, aku bisa mengatasinya."
"Kalau begitu maunya, iya sudah." kata Lola, dan kembali ke kamar.
Gaea pun melanjutkan lagi, mengambil pizza di kulkas sisa tadi pagi serta minuman soda beserta gelas baru ke tempat yang tadi Lola sarankan.
"Oh," Gaea teringat belum mengambil kaset film di ruang tamu, ia yakin masih di sana, jadi ia kembali dan mengambilnya, dan lanjut ke home theater di bawah tangga. "Wah..." ia tidak perlu bersusah payah mencari sebab ada tulisan 'home theater' di atas pintu, dan ketika masuk ke dalam, terkagum lagi melihat ruangan ini sungguh-sungguh seperti bioskop kecil.
***
Eryk kembali terbangun syok dari tidurnya, napasnya kembali memburu. "Kenapa aku ini?" gumamnya.
Mimpi buruk lagi, sudah kedua kalinya, ia berpikir berendam air hangat akan membuat tubuhnya rileks dan bermimpi indah, tetapi tidak.
Eryk bangun dari ranjangnya dan keluar hendak mengambil air ketika ia melihat di lantai bawah ada Gaea dan Lola sedang mengobrol, ia penasaran apa yang mereka bicarakan, melihat dari wajah mereka yang serius nampaknya berbicara mengenai pertengkaran mereka tadi.
Eryk memutuskan kembali ke kamarnya lalu, merebahkan tubuhnya lagi di ranjangnya dan mengerang pelan. "Itu hanya mimpi, mimpi takkan menyakitimu, Eryk." gumamnya. "Tak mungkin..." gumamnya perlahan menutup matanya.
***
Tubuhnya kembali dipenuhi keringat meskipun ia tidak mengenakan pakaian atasan, serta kerongkongannya terasa kering.
Eryk bangun kali ini ia benar-benar keluar kamar mengambil minum di kulkas, ia agak berpikir sebentar, dan meminum susu juga mengingat katanya bisa merangsang tidur?
Eryk keluar dari dapur hendak naik ke atas terhenti mendengar suara tembakan dari arah ruang teater?
Siapa sih malam-malam begini menonton film?
"Alex?" Eryk menebak-nebak mengingat tadi Alex memang menonton film, mungkin Alex ketagihan? Penasaran ia menghampiri ruang teater, dan menghela napas kecewa itu cuma Gaea. "Malam-malam begini nonton film, kau sesuatu sekali, iya?"
Gaea menghentikan laju film dan menoleh. "Eryk? Iya, aku penasaran sama filmnya, asyik sekali,"
"Hm," Eryk melirik layar lebar yang menampilkan adegan tembak-menembak, di luar dugaan Gaea senang film aksi? Ia kira perempuan akan suka film romantis. Ia pun tertarik dan duduk di samping wanita muda itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Gaea.
"Menonton," Eryk menjawab singkat, lalu menepuk tangannya yang seketika itu juga lampu redup perlahan.
Gaea takjub melihat lampu ruangan padam tanpa perlu menekan tombol saklar. "Apakah ini keajaiban atau semacamnya!?"
Eryk memutar bola matanya. "Itu dinamakan teknologi Gaea, lanjutkan saja filmnya."
Gaea mengangguk dan menekan tombol play, melanjutkan film yang tadi dihentikannya.
Eryk yang menonton tidak dari awal mencoba mencerna alur dari film tersebut. "Jadi dia ini dikhianati sama saudaranya, huh?" tanyanya.
Seperti seseorang yang dikenal oleh Eryk. Tepatnya hidupnya...
Gaea mengangguk, masih terpaku pada layar. "Dia tampan sekali kan~"
Eryk melirik lagi kali ini pemeran utamanya yang sedang bersama pemeran utama wanita ke sebuah pesta mencoba mendapatkan informasi mengenai saudara yang mengkhinati pemeran utama lelakinya, membuatnya tertawa sinis apakah film ini sedang mencemooh hidupnya.
Hingga akhirnya di adegan berikutnya mata Eryk dan Gaea melebar syok melihat kedua pemeran utama berciuman di atas balkon.
"Aku..." Eryk kehilangan kata-katanya, ia bukanlah penggemar film, tetapi teman artisnya memang pernah bilang suka ada adegan romantisnya di film aksi agar tidak terlalu membuat penonton bosan. Ia melirik ke arah Gaeaβwanita muda itu wajahnya merona merah hingga ke lehernya. "Mau sampai kapan mereka ciuman?" Eryk mengumpat, muak akan adegan tersebut membuatnya tak nyaman.
Umpatan Eryk menjadi kenyataan, kali ini adegan berubah kembali ke aksi, yang membuat Gaea mengembuskan napas lega.
Eryk segera menutupi mata Gaea menggunakan tangannya. "Kau tidak perlu melihat ini." katanya.
Gaea mengangguk, mendekatkan dirinya ke Eryk.
Eryk tentu terkejut, lalu kebingungan apakah Gaea sedang mengetesnya ataukah itu hanya refleks saja, otomatis matanya turun ke bibir wanita muda itu, dan membuang mukanya.
"Apakah sudah selesai?" bahkan ucapan Gaea terdengar begitu menggoda di telinga Eryk.
Pikiran Eryk yang berkeliaran ataukah Gaea sedang merayunya? Ia lantas melepaskan tangannya yang berada di mata wanita muda itu. "Apa kau mencoba menggodaku?"
"Eh?" Gaea jelas kebingungan; siapa yang menggoda? Ia lagi malu begini dibilang menggoda.
"Karena itu berhasil..." Eryk mendekatkan wajahnya ke Gaea.
"Eh... ?" Gaea otomatis menjauhkan wajahnya serta tubuhnya hingga akhirnya menyentuh lengan sofa. "Eryk..." apa yang dilakukan Eryk?
Eryk meletakan kedua tangan di sisi kepala Gaea. "Gaea..." panggilnya pelan.
Gaea yang melihat Eryk mendekatkan wajahnya merasa terhipnotis akan mata biru Eryk, ia pun perlahan menutup matanya...
***
Note :
Sambil nunggu ini up silakan mampir ke novelku yang lain π
The Lovely One
Menikah Kontrak
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan vote ya π
πππ