SWEET REVENGE

SWEET REVENGE
Chapter 55 : Another Side


"Kau mau tidur denganku?" tanya Rainer.


Gaea mengangguk, "Aku sedang tidak ingin di kamarku. Boleh?"


Rainer menimbang-nimbang sebentar, lalu membukakan pintu untuk Gaea juga, "Silakan masuk."


Gaea mengangguk, masuk ke dalam lesu.


Rainer menutup pintunya tak lupa juga menguncinya, kemudian menyusul Gaea yang sudah duduk di ranjang, "Kau baik-baik saja?"


Gaea membaringkan tubuhnya di ranjang, "Aku tidak mau membicarakannya."


"Kau berada di kamarku setidaknya cerita sedikit, aku cemas padamu." kata Rainer.


Gaea bangkit dari tidurnya, alisnya menyatu kesal, "Kau banyak bicara sih? Bisanya juga kau tak peduli padaku, kenapa sekarang jadi peduli!? Kau mau mempermainkan aku juga Rainer!?"


Mata Rainer terbelalak, ia hanya bertanya sedikit, Gaea malah marah-marah begitu, ia mengakui sudah memperlakukan Gaea tak selalu baik hanya saja hingga membuat Gaea marah begitu, membuatnya syok.


Gaea sadar apa yang dikatakannya sudah kelewatan, "Maafkan aku Rainer, aku tidak bermaksud melampiaskan perasaan aku padamu." katanya sedih.


Rainer menghampiri, duduk di samping Gaea, "Aku akan memaafkanmu jika kau bilang apa yang terjadi."


Gaea menggaruk lengannya gugup.


Bagaimana menjelaskannya, takkan mungkin ia bilang pada Rainer bahwa ia mengundang Eryk tidur bersama, lalu mereka terbawa lagi perasaan dan berciuman, yang diakhiri oleh pertengkaran. Ia lari karena tidak tahan akan sikap plin-plan Eryk ke tempat Rainer.


Intinya Rainer hanyalah tempat pelarian.


Bagaimana Gaea menjelaskan hal tersebut.


Rainer tidak mengetahui ada Eryk di kamarnya juga.


"A ... ku hanya mengalami mimpi buruk." kata Gaea berbohong.


Rainer menatap Gaea intens yang sontak membuat wanita muda itu salah tingkah dibuatnya, "Sampai kau menangis?"


"Iya ...," Gaea menjawab lemah. "Aku lelah dipermainkan ...," ia memberikan petunjuk sedikit mengenai kejadian sebenarnya.


"Eryk?" Rainer menebak.


"Bagaimana kau tahu?" tanya Gaea.


Rainer tertawa kecil, "Kau mencintai dia. Simpel."


Gaea ingat Rainer mengetahui perasaan ia pada Eryk, ia lantas mengangguk, "Iya, dia membuatku pusing."


"Itu hanya mimpi, Gaea, kau ilmuwan, kan? Aku yakin kau lebih paham mengenai logis kenapa kita bisa bermimpi buruk, kan?"


Gaea tidak menjawab.


Lain ceritanya jika itu bukan mimpi melainkan kenyataan.


Rainer mengelus pucuk kepala Gaea lembut, "Tidurlah, kau aman di sini, besok kita akan berangkat pagi-pagi, nanti mengantuk lagi."


Gaea mengangguk, ia merasa tidak ada gunanya juga memikirkan Eryk, ialah yang terlalu berharap hubungan mereka bisa lebih dari sekedar tunangan palsu. Ia menaikan alisnya melihat Rainer tiduran di sofa, "Apa yang kau lakukan?"


"Tidur." Rainer menjawab singkat.


Gaea merasa ini sebuah déjà vu hanya saja Rainer kali ini yang memerankannya bukan Eryk. Ia juga merasa tidak enak, menawarkan diri, "Kau bisa tidur di sampingku, Rainer."


"Sungguh? Kau terlihat tidak nyaman." Gaea memastikan sekali lagi.


"Hm." Rainer menjawab singkat bahkan mengubah posisinya, membelakangi Gaea sebagai bentuk keputusannya.


Gaea terkesima, Rainer memiliki pendirian yang cukup kuat, sungguh berbeda dengan Eryk. Padahal mereka dibesarkan dengan didikan orang tua yang sama, Xander.


Bisa dibilang Eryk tipe lebih berani suka kesenangan, sementara Rainer tipe lembut tidak suka melanggar aturan.


Gaea jadi bertanya-tanya apakah jika dulu bertemu Rainer terlebih dahulu, apakah ia akan jatuh cinta pada pria muda itu sebab Rainer termasuk tipenya.


'Tidak ada gunanya memikirkan masa lalu.' kata Gaea dalam hatinya.


Gaea pun berbaring di ranjang lagi, dan menutup matanya.


***


Gaea terbangun merasakan cahaya matahari menyentuh matanya, dan anehnya tubuhnya terasa begitu berat, tidak bisa digerakan.


Gaea mengira ia sekarang terkena sleep paralysis. Lumpuh sesaat, matanya terbuka, namun tubuhnya lumpuh.


Gaea ternyata bisa menggerakan kepalanya lalu menoleh ke sampingnya—mendapati wajah Rainer hanya beberapa inci saja dari wajahnya.


"What—"


Bagaimana bisa ini terjadi? Bukankah Rainer semalam tidur di sofa?


Gaea melirik bagian bawah tubuhnya, akhirnya mengetahui penyebab kenapa ia tidak bisa menggerakan tubuhnya karena Rainer memeluk erat tubuhnya.


Oh, my ....


Apa yang harus dilakukannya?


Jantungnya berdebar cepat sekali dipeluk Rainer seperti ini ....


Hening ....


Gaea sejujurnya tidak enak membangunkan, tetapi mereka kan harus berangkat, ia pun memanggil pelan, "Rainer? Rainer, bangun."


Rainer tidak menjawab.


"Rainer?" Gaea memanggil lagi dan ia dapat lihat alis pria muda itu bergerak. Semangat, ia mengulanginya. "Rainer?"


Rainer mengerang pelan, merasa terganggu, ia mengeratkan pelukannya hingga membuat wajahnya kini berada di lekukan leher Gaea.


Gaea benar-benar berdebar-debar sekarang. Jika terus begini, tak baik untuk jantungnya, "Rainer ...."


Rainer akhirnya membuka mata hitamnya perlahan, di setengah kesadaraan yang belum sepenuhnya pulih, ia memanggil, "Gaea ...?"


Gaea mengangguk.


"Kau cantik sekali ...."


Eh?


Kenapa tiba-tiba begitu?


Mata Gaea semakin melebar tak kala Rainer memegang pipinya, mengikis jarak di antara wajah mereka ....